The Rival

Title : THE RIVAL

Author : Park Jihoon (Fauzi Zoo)

Main Cast : Onew SHINee dan Choi Minho SHINee

Support Cast : Jihoon, Jisoon dan Leera

Genre : Friendship, Comedy

Lenght : OneShot

Rating : G

Selamat Membaca….

$$$

Onew POV

Suasana jam istirahat kini sudah tak asyik lagi , bahkan bagiku terasa sangat buruk. Hampir setiap jam istirahat aku lalui hanya dengan malamun di atap sekolah ini, suasana disini lebih bersahabat denganku dibandingkan dengan tempat yang lain. Kecuali hari senin dan rabu, karena aku harus tampil perform secara live di kantin sekolah untuk menghibur teman-teman dengan suara merduku.

Sebagai seorang bintang di sekolah, biasanya aku selalu sibuk setiap jam istirahat. Aku bukan bintang sekolah dalam hal pelajaran, karena nillaiku selalu berada di urutan paling bontot. Aku adalah bintang sekolah dalam hal entertain spesial menyanyi, karena itulah bakatku. Tidak sedikit dari siswi-siwi yang menemaniku untuk menghabiskan jam istirahat dengan makan bareng atau hanya mengobrol bareng. Namun tidak untuk satu bulan terakhir ini, setelah namja sialan itu datang.

Semenjak namja itu datang, bahkan dia jadi teman sekelasku, popularitasku di kalangan sekolah menurun drastis bahkan bisa dibilang nyungsep mendadak. Apa lagi dikalangan yoeja dan juga di kalangan para guru. Hal ini bukan hanya berdsarkan perasaanku saja, tapi berdasarkan data statistik yang diperoleh dari polling mingguan.

Aku sudah merasakan bahwa dia akan menjadi saingan terbesar bagiku, saat pertama kali dia menginjakkan kaki di sekolah ini. Bukan hanya karena wajahnya, tapi… entahlah aku tidak bisa mengungkapkannya. Yang pasti aku merasakan bahwa dia memiliki sesuatu yang bisa menyaingi popularitasku di sekolah ini.

“Aish…. kenapa aku harus mengingat namja sialan itu lagi.”

Kemudian aku membaringkan tubuhku di atas kursi panjang yang ada di atas atap gedung ini. Angin berhembus sedikit kencang membawa hawa panas yang membuat kulitku sedikit mengeluarkan butiran keringat. Hari ini cuaca sangat cerah, langit biru terbentang kesegala penjuru tanpa noda sedikitpun.

Ku arahkan pandanganku hingga menembus ke langit biru, melewati segerombolan burung mingrasi yang sempat melintas. Tiba-tiba kenangan saat pertama kali namja sialan itu datang muncul kembali dalam benakku meskipun aku ingin menguburnya dalam-dalam.

Saat itu suasana ruang kelas sedikit tegang karena yang mengajar adalah Park seonsengnim yang terkenal sadis. Sedikit saja mengeluarkan suara tanpa seizinnya, bisa-bisa kapur melayang sempurna menuju jidat. Susana kelas benar-benar sunyi-senyap seperti kuburan kalau beliau mengajar.

Tiba-tiba kepala sekolah datang dengan membawa seorang namja masuk ke ruang kelas. Pertama kali melihat namja itu, aku dan teman-teman namja lainnya sudah tidak suka. Tapi beda dengan teman-teman yoeja, mereka seperti melihat semangkok eskrim yang begitu mengundang selera untuk diemut. Semua yoeja di kelasku seperti langsung terkena hipnotis mendadak. Mereka memandang si namja baru itu hingga tanpa sadar meneteskan cairan zat asam dari ujung bibirnya, cceeessss.

“Choi Minho imnida.” Kata namja itu saat memperkenalkan dirinya.  Sikapnya begitu dingin.

Gubraaakkk… braaakkkk…braaaakkk…..

Tiba-tiba beberapa yoeja jatuh pingsan. Entah apa yang ada dibenak mereka hingga membuatnya pingsan. Tapi buatku, itu berarti sebagai petanda buruk.

Dan satu hal lagi, ketika dia diberi soal oleh park soensengnim dia menyelesaikannya dengan sempurna. Padahal soal yang diberikannya tergolong sulit. Sedangkan nasibku, berdiri di depan kelas karena gagal dengan soal yang diberikan park soensengnim.

“Aiiissshhh… kenapa bayangan si namja sialan itu datang lagi. Kalo terus-terusan seperti ini bisa-bisa aku malah jatuh cinta. Ooohhh….  tidak itu aib, jangan sampe itu terjadi.”

Aku kembali melambungkan pandanganku, tidak ingin banyangan namja itu menghantui pikiranku. Aku merangkai sesuatu di kepalaku agar aku bisa melupakan semua masalah yang terjadi. Selain itu, aku juga mencari cara agar popularitasku kembali melambung.

“BOSSS…..!!!”

GEDEBUUUKKKK…, Suara cempreng itu berhasil membuatku nyungsep dari bangku.

“Awww…,” seruku saat berusaha untuk bangun. “Bisa enggak  kalian sekaliiii… aja nggak ngagetin!”

“Hehehehe…” mereka hanya nyengir kuda.

Di depanku telah berdiri dua orang dengan memasang tampang cengengesan. Mereka adalah anak buahku yang loyalitasnya bisa di andalkan, Jihoon dan Jisoon. Mereka mengaku sebagai orang kembar, tapi dari bapak dan ibu yang berbeda. Bahkan wajahnya saja nggak ada mirip-miripnya sama sekali.

“Bos, ada berita penting.” Ujar Jihoon.

Jisoon menyerahkan sebuah buku kecil yang berisi catatan hasil penyelidikannya pada Jihoon untuk dilaporkan pada ku. Yup, mereka juga bertidak sebagai intelejen buatku. Segala data dan informasi yang aku perlukan, aku dapat dari mereka. Dan keakuratan data mereka tidak usah dipertanyakan lagi.

“Berita apaa?”

“Berdasarkan data terupdate, popularitas bos semakin nyungsep. Sekarang malah berada di bawah Choi Minho.” Kata Jihoon.

“Benar bos, Choi Minho itu keren ya. Dalam waktu dekat saja popularitasnya dah naik tajam, apalagi di kalangan yoeja.” Jisoon menimpali.

Pletaakkk…, tanganku nemplok di jidat Jisoon. “Kamu mendukung aku apa choi Minho?”

“hihihi… pastinya bos lah.”

“Jihoon-ah, kamu punya ide nggak untuk menaikkan kembali popularitasku kembali?” tanya ku.

“hehehe…, mian hyung.” aku mulai mengerti kemana arahnya senyumannya najis itu. “Aku belum bisa berpikir secara jernih, maklum perutku lagi lapar.”

“Iya hyung aku juga lapar.” Jisoon ikut-ikutan.

“Yah, lagu lama. Nih…,” aku menyerahkan beberapa won ke mereka. “Habis pulang sekolah kamu harus mencari informasi mengenai cara untuk menaikkan popularitas ku kembali. Dan aku akan membuntutin si namja sialan itu ntar waktu pulang sekolah untuk mengorek informasi dan mencari kelemahannya.”

“Siap boss.” Ujar Jihoon dan Jisoon kompak.

***

Author POV

Waktu sudah sore ketika bel pulang berdering. Onew bersiap-siap untuk mengintai mangsanya, rencana dan strategi benar-benar telah terancang di dalam otaknya. Sepintas Onew sempat melihat ke arah Choi Minho, sang mangsa, yang masih membereskan bukunya dengan tatapan seekor harimau yang siap menerkam memangsanya.

“Kali ini aku tidak boleh gagal.” Kata Onew pada dirinya sendiri.

Ketika Minho melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas, Onew membuntutinnya beberapa meter di belakang. Berusaha sealamiah mungkin untuk menghindari kecurigaan dari semua pihak, baik Minho maupun teman-teman yang lainnya.

Namun bukan hanya Onew yang mengikuti Minho, para yoeja sesekolahan pun ikut mengantar Minho hingga ke gerbang sekolah. Tidak jarang teriakan histeris terlontar dari para yoeja itu ketika Minho melihat kearah mereka.

“Minho-ssi…, saranghe.” Teriak seorang yoeja.

Minho menoleh ke arah datangnya suara dan melemparkan sebuah senyumannya, “Annyeong…!”

Gedebuuukkk…., si yoeja langsung pingsan.

YYYAAAAAAAA….., Yoeja yang lainya ikut histeris.

Kaum hawa memang aneh…,” Onew membatin.

Onew hampir saja kehilangan jejak Minho karena harus berjuang untuk menerobos segerombolan yoeja yang mengelu-elukan Minho. Namun setelah keluar dari gerbang sekolah, para yoeja itu tidak ada lagi yang mengikutinya. Dan Onew merasa lebih nyaman dalam pengintaiannya dan mengharuskan dirinya untuk lebih hati-hati supaya tidak diketahui oleh Minho.

Minho yang tidak menyadari dirinya diikuti terus berjalan sesuai dengan rute seperti biasanya. Setelah melewati jembatan penyebarangan dia langsung belok kiri. Di depan sebuah mini market dia sempat berhenti dan mengambil sebuah kaleng minuman ringan yang tergeletak di tengah jalan dan melemparkannya ke tempat sampah.

Aihh…, namja ini benar-benar membuatku iri.” Gumam Onew.

Kemudian Minho terus berjalan melewati sebuah perempatan jalan menuju ke sebuah jalan yang agak sempit. Ketika Minho lewat di bawah sebuah jalan layang, terlihat segerombolan siswa, tepatnya tiga orang siswa, yang sedang asyik bersenda gurau. Dari pakaian mereka, Minho sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka bukan siswa yang baik-baik. Namun Minho tetap berjalan seperti biasanya, tidak menampilkan ekspresi takut sama sekali. Kemudian tiga namja itu mendekati Minho dan mengelilinginya.

“Hey… mau jalan lewat sini ya? Bayar uang jalan dulu.” Pinta salah seorang namja yang celananya sedikit melorot.

“Mianhe… izinkan aku lewat.” Ujar Minho.

“Kamu nggak dengar apa yang hyung kami katakan tadi. Kalo mau lewat sini kamu harus bayar.” Kata salah satu temannya yang sedikit pendek dengan sedikit membentak.

Minho tidak menanggapinya.

“Kamu tuli apa?” kata yang satunya lagi.

Melihat kejadian itu, Onew langsung menyembunyikan dirinya di balik tiang tembok penyangga jalan layang.  Onew melihat Minho sedang di intimidasi oleh ketiga namja tersebut tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena selama hidupnya dia tidak pernah berkelahi.

“Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menolongnya ataukah membiarkannya di keroyok oleh ketiga brandalan itu?” Onew mulai bingung. “Kalo aku membiarkan ketiga brandalan itu mengeroyok Minho, mungkin dia akan babak belur dan ketampanan serta karimasnya akan hilang. Benar juga. Tapi… kalo aku menolongnya mungkin dia akan lebih menghormatiku dan popularitasku juga akan naik kembali.”

Saat Onew masih bingung menetukan sikapnya, Minho telah berada posisi yang terjepit. Ketiga namja brandalan itu telah memegang kerah Minho.

“HEY… KALIAN, BERANINYA MAIN KEROYOKAN.” Ujar Onew dengan suara lantang.

Ketiga brandalan itu sedikit kaget dan melepaskan tangannya dari kerah Minho. Namun setelah melihat ke arah sumber suara, mereka hanya menyunggingkan sebuah senyuman sinis.

“Emangnya kenapa? Kamu tidak terima.” Ujar si namja yang celanaya sedikit melorot itu.

“Onew-ssi…” kata Minho lirih.

“Iya…, aku nggak terima.” Balas Onew.

Kemudian Onew menghampiri ketiga brandalan itu. Dan terjadilah perkelahian tiga lawan satu. Minho hanya memeperhatikan saja.

BAK… BUK…. BAK….BUK…..

Akhirnya Onew jatuh tersungkur menerima pukulan telak dari ketiga namja itu. Sedangkan Onew tidak satupun berhasil menyarangkan pukulannya.

“Masih mau jadi pahlawan?” kata si celana melorot. “Nih makan kakiku.”

Namun sebelum kaki itu mengenai wajah Onew, sebuah kaki telah berhasil menghadangnya. “Onew-ssi, terimakasih telah mau menolongku.” Minho berusaha membantu Onew untuk bangkit.

Onew hanya melirik ke arah Minho. “Awww….,” seru Onew menahan rasa sakit.

“Cepatlah kalian pergi, aku tidak ingin menghajar wajah kalian!!!” ujar Minho dengan suara dalam dan mengerikan

Onew sedikit terkejut mendengar suara Minho. Suara Minho itu terdengar sangat mengerikan di telinga Onew, tidak seperti biasanya.

Namun ketiga brandalan itu tidak menghiraukannya dan tetap berusaha menghajar Minho. Mereka bertiga maju secara bersamaan.

BAK…. BUK….BUK….BAK…BUK…BUK….

“Kalian masih mau merasakannya lagi?” Kata Minho sebelum menyarangkan tendangannya ke si celana melorot. BUK….

“Ampun… ampun…ampun…,” seru ketiga brandalan itu.

Ketiga brandalan itu langsung lari terbirit-birit. Tidak peduli lagi dengan uang jalan yang dimintanya.

“Onew-ssi, kamu tidak apa-apa?” tanya Minho saat mendekat ke arah Onew berdiri.

Onew sedikit kaget bercampur kagum pada Minho. “Kenapa aku harus membuat babak belur diri-sendiri untuk menolong namja yang jago berantem ini, dan jelas-jelas dia adalah rivalku.” Gumam Onew menyesali tindakannya.

Kemudian Onew meninggalkan Minho tanpa menjawab pertanyaannya. Minho hanya terbengong heran melihat sikap Onew.

“Onew-ssi…,” panggil Minho saat Onew mulai menjauh.

Onew hanya mengankat sebelah tangannya tanpa menoleh ke arah Minho. Dan pergi meninggalkan Minho yang masih tertegun dengan sikap Onew.

***

Minho POV.

“Yoeboseo…,” jawabku saat menerima sebuah panggilan telepon.

“Minho-ah, bagaimana rencana kita?”

“Leera-ssi..”

“Aigoo… kenapa kamu masih terlalu formal. Panggil aja namaku seperti yang lainnya memanggilku atau kalau perlu panggil chagi aja…hehehe. Ah… jangan, aku nggak ingin menyakiti hati seseorang.” Ujar Leera dari seberang telepon.

“Leera-ah…,” ujar Minho dengan sedikit canggung.

“Nah begitu dong. Oh ya bagaimana rencana kita?” Tanya Leera.

“Kalau menurutku sih tidak akan lama lagi dia akan menyatakan cintanya padamu.”

“Jinjja…?”

“Ne…, meskipun dia orangnnya pura-pura tidak perduli tapi kalo dia mengetahui kamu jadian denganku pasti dia kebakaran jenggot. Dan berusaha merebutmu dari ku.”

“Yah… semoga aja. Aku hanya ingin kepastian hubungan kita, karena aku tidak ingin hanya jadi teman masa kecilnya saja. Oh ya, katanya tadi kamu berkelahi?”

“Iya, tapi aku nggak apa-apa kok. Sebenarnya O…,” Minho mengurungkan untuk menceritakah kejadian yang sebenarnya.

“Oke deh kalo begitu, sampai besok disekolah ya… bye.”

Kemudian aku meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Ku jatuhkan kembali tubuhku ke kasur dan melambungkan lamunanku kembali setelah tadi sempat terganggu suara dering telepon. Kejadian tadi sore kembali terbayang dalam benakku.

Onew-ssi, dia memang namja yang beda dari yang lainnya. Entahlah, meskipun aku lihat sebuah permusuhan dimatanya tapi sikapnya tadi seolah aku telah menjadi temannya. Beda dengan namja yang lainnya yang selalu menganggapku musuh meskipun aku tidak pernah menggaggu mereka.

Mungkin di sekolah ini aku akan menemukan sebuah tali persahabatan, seperti yang selalu diceritakan mendiang Appa. Aku jadi teringat dengan pesan Appa, “Carilah sahabat sejatimu, janganlah kau cari musuh sejatimu.”

“Appa…, aku meridukanmu.” Tiba-tiba kantukku menelanku dalam kegelapan.

***

Onew POV

“WAKAKAKAKAKA…., bos kenapa mukamu bengkak kayak bakpao gitu.” Kata Jihoon.

“Iya bos, mirip bakpao dipakein lipstik. Wakakakaka…” Jisoon ikut nimbrung.

Pletak…pletak…, tangganku gatel untuk menjitak kepala mereka.

“Aigoo…, kalian bukannya prihatin melihat wajahku babak belur begini. Malah diketawain.”

“Mianhe, bos.” Kata Jihoon dan Jisoon barengan.

“Tapi sumpah dech bos, wajah bos kalo kayak gitu jadi lucu, hehehe.” Ujar Jisoon.

“Aihh…,” hampir saja aku kembali menjitak kapala Jisoon namun aku urungkan. “Kalian sudah mendapatkan idenya?”

Aku lihat Jihoon dan Jisoon saling pandang. Apa mungkin mereka gagal dalam misi ini?

“Mianhe bos, tapi bos jangan tersinggung ya!” Pinta Jihoon.

“Emangnya kenapa?”

“Setalah kami mendapatkan seluruh data dan kami analisa. Cara untuk menaikkan kembali popularitas bos hanya satu…,” Jihoon mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali. “Yaitu menjadi sekutu Minho atau dengan kata lain menjadi temannya Minho.”

“Apa? Kalian sudah gila. Kalian pasti salah menganalisa datanya.” Ujarku kaget dengan apa yang aku dengar.

“Tapi bos…,” Jisoon berusaha untuk meyakinkanku.

“Mana catatan kalian!”

Kemudian aku melihat semua data yang mereka peroleh satu-persatu dan berusaha untuk menganalisanya sendiri. Aku sedikit tidak percaya dengan pikiranku sendiri karena kesimpulannya sama dengan mereka berdua. Namun setelah tiga kali aku mencoba untuk memikirkannya dan hasilnya sama, akupun menyerah.

“Aku akan coba.” Ujarku sambil mengembalikan catatannya pada Jihoon. “Demi untuk menaikkan popularitas ku kembali.

“Oh ya bos, ada satu lagi. Tapi yang ini bos harus jaga emosi, jangan marah dulu.” Kata Jihoon.

“Apa lagi?”

“Bos kan tahu, sejak Minho pindah ke sekolah ini yang paling dekat dengan Minho siapa?”

“Leera…” jawab ku.

“Benar…, Entah dari mana datangnya gosip ini tapi ada yang mengatakan bahwa mereka berdua telah jadian.”

“APAAAA?” aku kaget setengah mati.

“Tenang Bos… Bos harus tenang, mungkin ini hanya gosip belaka.”Pinta Jisoon.

“Bagaimana aku tenang mendengar gosip seperti ini. Aku sudah cukup tenang melihat popularitasku direbut Minho, aku juga tenang melihat dia dekat dengan Leera. Tapi aku enggak bisa terima kalau Minho juga merebut Leera dariku. Aku harus menanyakan ini langsung pada Leera.”

Karena terlalu dibakar api emosi, lebih tepatnya api cemburu aku langsung meninggalkan Jisoon dan Jihoon. Mereka tidak berani menghalangiku.

Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di otaknya Leera hingga mau jadian sama Minho. Apakah dia seperti yoeja yang lainnya yang langsung pingsan ketika melihat senyum Minho. Tidak kah Leera menyadari tentang perasaanku selama ini, selama kita bersama. Aku benar-benar tidak mengerti.

Aku mendapati Leera di dalam kelas sedang mengobrol dengan Minho. Melihat hal tersebut hatiku mendadak panas membara. Bahkan senyum yang terpasang di wajah Leera semakin membuatku panas.

“Aku ingin bicara denganmu.” Aku menarik tangan Leera.

“Onew-ah…,” kata Leera terkejut. Tapi dia tidak berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggemanku.

Kulihat Minho hanya melemparkan sebuah senyuman, seperti senyuman kemenangan. “Aiiish sialan, kamu boleh merebut semuanya dariku tapi tidak untuk Leera.” Umpatku dalam hati.

Setelah tiba di atap gedung, tempat yang selalu sepi dan enak untuk mengobrol dari hati ke hati, aku pun melepaskan tangan Leera dari genggamanku. Leera menatapku heran dan seolah ingin menyemburku dengan berjuta pertanyaan.

“Kenapa kamu pacaran dengan Minho?” Tanyaku to the point.

“Mwoo…???”

“Kenapa kamu pacaran dengan Minho?” Aku mengulangi pertanyaanku.

“Apa hubungannya denganmu? Bukannya kita hanya teman masa kecil biasa.” Ujar Leera enteng.

“Teman masa kecil biasa?” aku sungguh kaget mendengar ucapan Leera. “Tidakkah kamu menyadari bahwa selama ini perasaan dan hatiku selalu aku berikan padamu. Aku selalu ada saat kamu senang maupun sedih. Aku selalu berusaha untuk membuatmu tersenyum. Tidak kamu tahu kalau aku mencintaimu lebih dari apapun.”

Entah aku ngomong apa barusan, kosa kataku seakan tidak pernah tersusun dengan baik saat aku berbicara denga Leera dari hati ke hati. Bahkan dulu aku pernah di tegur sama guru bahasa karena tidak menggunakan ejaan yang benar saat pentas drama. Namun untuk saat ini aku benar-benar tidak peduli.

“Aku sudah menyadarinya dari dulu, saat kamu mulai menatapku secara sembunyi-sembunyi ketika pertama kali kita bertemu. Tapi aku belum pernah mendengarkan langsung dari mulutmu.” Ujar Leera dengan seutas senyum indahnya.

“Mwooo…???” aku semakin bingung.

“Yah, gosip ini memang aku buat untuk memancingmu. Apakah kamu benar-benar mencintaiku atau hanya perasaanku saja yang berlebihan. Dan untungnya Minho juga ikut membantu.”

“Ah…, memancingku? Emang aku ikan?” kataku melontarkan guyonon karena aku telah salah sangka.

“Emang kamu benar-benar mencintaiku lebih dari apa pun?” tanya Leera

“Ya… kenapa kamu tanyakan lagi? Apa kamu belum lihat wajahku dah merah kayak kepiting rebus nich.”

“Hehehe…,” tawanya benar-benar renyah di telingaku.

Syukurlah gosip itu hanya gosip, tidak jadi kenyataan. Kalo memang itu sebuah kenyataan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mengajak Minho berantem? pasti aku yang babak belur. Mau ngajak Minho adu kepintaran? Pasti aku yang paling dongo. Kalo adu menyanyi? Emang lomba pencarian bakat?.

***

Sejak kejadian itu, aku dan Leera semakin lengket saja kayak perangko. Kemanapun Leera pergi, aku juga ikut kecuali ke kamar mandi. Tapi kalo aku pergi kemanapun Leera nggak pernah ikut, ah dasar curang.

Hubungan aku dan Minho juga semakin baik, akhirnya kita berteman. Minho banyak mengajariku soal pelajaran, jadi nilaiku lumayan naik dua strip dari standar. Dan setiap aku pentas di kantin Minho juga kadang-kadang ikut walaupun hanya sebagai pajangan. Ini sebenarnya usul si Jihoon, karena menurut datanya kalo ada Minho maka penontonnya akan membludak. Dan benar saja, setiap ada Minho ruang kantin pasti akan selalu penuh hingga harus menyediakan layar tancap di lapangan basket.

Yah, hanya sebatas itulah hubunganku dengan Minho. Masalah popularitas, dia adalah rival abadiku. Aku tak akan sudi untuk mengalah darinya. Sumpah aku tak akan mengalah.

“Bos, lapor.” Kata Jihoon. Jisoon hanya cengengesan disampingnya.

“Apa yang mau dipalorkan lagi.”

“Untuk polling minggu ini posisi bos tidak beranjak dari minggu kemaren. Masih di bawah Choi Minho. Laporan selesai.” Kata Jihoon diakhiri dengan hormat grak.

“APA? Masih di bawah Choi Minho? Bukannya semua saran yang kamu ajukan sudah aku jalanin.”

Jihoon hanya diam, biasanya kalo seperti itu dia lagi menganalisa dimana letak kesalahannya. Sedangkan Jisoon masih aja cengengesan.

“POKOKNYA AKU TIDAK MAU TAHU, CEPAT CARI CARA UNTUK MENGALAHKAN POPULARITAS CHOI MINHO. SEKARANG !!!” Ujarku dengan suara lantang.

“SIAP BOS !!!” Jawab Jisoon nggak kalah lantang.

“Bos, jangan kencang-kencang.” Kata Jihoon dengan suara direndahkan. “Tuh, Leera-ssi dan Minho-ssi lagi memperhatikan kita.”

“MWWWOOO….”

$$$ END $$$

P.S : Buat Minho dan Onew… Seng il Chukkae… terimakasih kau telah lahir ke dunia ini dan telah menghibur K-Pop Lover di seluruh dunia terutama di Indonesia …Gumawo.

3 responses to “The Rival

  1. minho saranghae

    Thor, ini lho, yg kubilang minta izin share:

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=500060736068

    banyak yg suka lho ^^

  2. nggak bisa dibuka…. belum pren kan kita… add dong..
    fauzi_zoo@yahoo.co.id

  3. Ckck…
    Bang onyu bner2 kalah telak

    tp d htiku te2p no 1 ko
    keke~ :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s