My Beautiful Namja

Author : Park Jihoon

Main Cast : Kim Chaerin, Karam

Other Cast : Jihoon (Numpang Eksis)

Genre : Romance, Sedikit Humor.

Lenght : OneShot

NB : FF ini spesial (pake telor) buat seseorang yang sedag berulang tahun (21/12) yaitu Kim Chaerin a.k.a Loly… SAENGIL CHUKKAE….

“Chagi yaaa…, Selamat pagi!”

Ketika aku sampai di depan gerbang sekolah, terdengar suara seseorang berteriak membuat telingaku mendengung, ngiiinnggg. Dan ketika aku melihat ke arah datangnya suara, aku melihat sesosok cowok dengan wajah cantik yang tak asing lagi, karena setiap hari dan setiap waktu dia selalu menempeliku seperti kutu tempel. Dia terlihat berlari-lari kecil menghampiriku.

“Aish…, kenapa pagi-pagi gini aku harus bertemu dengan si kutu tempel. Jangan-jangan ini firasat buruk.” Aku langsung balik badan dan berusaha untuk kabur.

Tapi apa daya, tiba-tiba tangannya sudah melingkar di pundakku. Darahku langsung naik ke ubun-ubun karena melihat tatapan aneh dari teman-teman yang berpapasan denganku. Mukaku mungkin sudah mirip kepiting rebus karena malu tingkat tinggi.

“Chagiya, kenapa kamu tidak menjawab salamku?” tanyanya dengan nada normal seperti tidak terjadi apa-apa.

Nada suaranya membuatku semakin naik darah, mungkin kepalaku sudah mengeluarkan wedhus gembel yang siap menerjang mangsanya. Tatapan teman-temanku semakin membuatku malu setengah mati. Tanpa aku menanggapi omongannya, aku langsung memegang pergelangan tangannya  kemudian memutarnya kedepan. Dan,

BUUUUKKKK…

Tumbuhnya bertumbukan tidak lenting sempurna dengan tanah. Namun emosiku masih belum mereda secara keseluruhan.

“KARAM-SSI…, AKU BUKAN YOEJACHINGU KAMU. JADI JANGAN PERNAH MEMANGGILKU DENGAN CHAGIYA DI DEPAN UMUM. APALAGI SAMPAI MEMELUKKU SEPERTI TADI. JIKA KAMU LAKUKAN LAGI… JANGAN HARAP KAU AKAN SELAMAT.” Ujarku dengan meluapkan seluruh emosiku hingga tak tersisa sambil menunjukkan kepalan tanganku. Puas rasanya.

Aku lihat Karam hanya meringis kesakitan sambil memegang punggungnya. Kemudian aku langsung meninggalkannya sebelum dia sempat bangkit dan nempel kembali.

“Chagiya… awww…!!!” aku dengar Karam memanggilku, tapi aku abaikan.

Setelah agak jauh darinya aku membalikkan badan untuk melihat keadaannya, entahlah meskipun dia selalu membuatku marah namun di dalam hatiku yang paling dalam aku juga selalu menghawatirkannya. Aku sungguh tidak pernah mengerti dengan perasaanku ini, padahal aku telah mencitai seseorang. Dan syukurlah ternyata dia baik-baik saja. Aku lihat dia sudah berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor dengan mengibas-ngibaskan tangannya.

BRAAAKKKKK….

Tiba-tiba sebuah sepeda menabrakku dari arah belakang, aku jatuh tersungkur di atas tanah. Aku merasakan nyeri dibagian lutut dan bagian tangan. Setelah aku lihat ternyata darah segar telah mengalir keluar dari daging yang telah robek.

“Awwww…,” seruku sambil berusaha untuk bangkit.

“Chagi ya kamu tidak apa-apa?” tiba-tiba Karam telah berada di sampingku dan berusaha membantuku untuk berdiri.

Tadinya aku ingin menjitak kepalanya karena dia kembali memanggilku chagi, tapi apa boleh buat aku tak bisa. Mungkin karena lukaku yang terus mengeluarkan darah atau karena aku merasa senang karena dia telah membantuku.

Namja yang menabrakku langsung minta maaf dengan membungkukkan badannya. Dan anehnya aku langsung memaafkannya begitu saja, padahal tadinya aku ingin membentaknya seperti yang aku lakukan tadi pada Karam. Kemudian si namja itu langsung pamit dan pergi bersama sepedanya.

“Gumawo…,” kalimat yang tak ingin aku ucapkan tiba-tiba keluar dari bibirku.

“Kamu masih bisa jalan? Kita ke ruang kesehatan.” Suara Karam terdengar seperti cowok yang sangat perhatian.

“Bisa…,” jawabku lirih.

“Kalau tidak bisa, biar aku gendong aja. Aku kuat kok ngegendong kamu sampai ke ruang kesehatan.”

PLETAK…

Tanganku secara otomatis nemplok di jidatnya. Mau menggendongku? Enak saja. Entar malah teman-teman nyangka aku telah jadian sama cowok cantik ini. Apalagi kalo oppa tahu masalah ini, bisa-bisa aku dicoret dari daftar cewek yang masuk dalam kriterianya.

Akhirnya Karam memapahku jalan hingga ke ruang kesehatan, meskipun bibirnya dimanyunkan dua centi karena tidak berhasil menggendongku.

“Chagiya…, kapan-kapan aku boleh menggendongmu ya?” ujarnya dengan menyunggingkan senyum nakalnya.

***

“Ikut aku…!!!” Ujar Karam sambil menarik pergelangan tanganku.

Waktu pulang sekolah Karam telah menungguku di depan gerbang sekolah. Dia hanya tersenyum manis saat melihatku dan tanpa penjelasan apapun dia langsung menarik tanganku. Aku berusaha berontak, namun genggaman tangannya malah semakin kuat.

“Lepaskan!!! Mau kemana sih?” tanyaku sambil berusaha melepaskan genggemannya.

“Ikut aja nggak usah banyak nanyak.” Jawabnya sok misteri.

Ketika sampai di halte bus, Karam melepaskan tanganku. Rasanya sakit sekali, aku hanya bisa meringis sambil mengusap-ngusap pergelangan tangaku. Aku nggak nyangka ternyata tenaganya kuat juga, padahal wajanya terlihat bagitu cantik. Bahkan dibandingkan dengan wajahku, wajah Karam jauh lebih cantik.

“Aku nggak mau naik, sebelum kamu menjalaskan kita mau kemana.” Rajukku saat bus datang.

Karam yang telah masuk ke dalam bus, kambali membalikkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya. Aku menggeleng.

“Ayolah!!!” Pintanya dan kembali menyunggingkan senyumannya.

Aku kembali menggeleng.

“Baiklah, aku hanya ingin jalan-jalan bersamamu menikmati waktu kosong ku. Hari ini aku enggak ada jadwal apapun. Jadi, kita jalan-jalan kemana saja, ketempat yang kamu sukai juga boleh.” Akhirnya Karam menyerah dan menjelaskan tujuannya.

Yah, Karam adalah salah satu member dari salah satu grup penyanyi yang terkenal di korea. Tapi sifatnya yang lowprofile membuatnya begitu dekat dengan teman-teman di sekolah. Selain itu, saat bersamaku tak pernah sedikitpun dia membicarakan masalah pekerjaannya. Meskipun kadang-kadang aku pancing, dia tetap tidak mau membicarakannya. Bahkan dia selalu bilang, “Waktu bersamamu itu terlalu berhaga, jadi aku nggak mau membicarakan hal-hal yang bisa merusaknya.”

“Jinja…? Aku mau ke kedai eskrim favoritku.” Ujarku sambil mengulurkan tanganku. “Tapi dengan syarat, kamu tidak boleh memanggilku dengan panggilan chagi.”

“Permintaan pertama aku akan kabulkan. Tapi permintaan yang kedua itu terlalu sulit bagiku untuk mengabulkannya…, Chagi.” Ujarnya saat membimbingku ke tempat duduk.

Terlambat, aku mau turun tapi bus sudah berjalan. Karam hanya tersenyum penuh kemenangan.

“Sekali lagi kau memangilku chagi, lihat saja pembalasanku entar.” Kataku setengah berbisik di telinganya karena aku tidak mau di dengar oleh semua orang di dalam bus.

Bus terus berjalan menyusuri kota seoul, dan menghampiri setiap halte bus yang ada, menurunkan dan menaikkan penumpang. Kota seoul di sore hari memang terlihat sibuk, tidak kalah sibuknya jika dibandingkan dengan pagi hari. Namun sinar lembut mata hari sore membuat kota seoul begitu romantis.

“Chagi, apa yang sedang kamu pikirkan?” Karam mendekatkan mulutnya ke telingaku hingga membuat aliran nafasnya menyentuh daun telingaku.

“Anio…,” jawabku.

Entah apa yang aku pikirkan, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Kehangatan tubuh Karam seakan mengalir kedalam dadaku melalui lengan kami yang saling bersentuhan. Namun aku tepis semua perasaan itu. Aku meyakinkan pada diriku bahwa aku hanya mencintai oppa seorang.

Kemudian aku memikirkan Jihoon-oppa, seandainya dia yang mengajakku jalan-jalan seperti ini alangkah indahnya dunia ini. Aku pasti tak akan bisa tidur malam ini. Namun ketika aku melihat kesamping yang terlihat bukan wajah oppa, yang terlihat hanya wajah namja yang begitu cantik.

“Chagi…, sudah sampe.” Kata Karam membuatku kembali dari dunia lamunan.

Bus berhenti di halte yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan. Tempat ini sering aku kunjungin dulu bersama Karam dan teman-teman lainnya sebelum Karam menjadi seoarang artis. Kami sering melepaskan penat dari tugas sekolah dengan menyantap eskrim. Ah, aku jadi kembali teringat dengan kenangan masa SMP dulu.

Karam langsung mengajakku ke salah satu butiq favoritnya, namun anehnya dia hanya menanyakan baju mana yang aku sukai. Setelah itu kami keluar dari butiq tadi.

“Kok kamu nggak beli sesuatu?” tanyaku penasaran.

“Enggak, aku hanya pengen lihat model-modelnya saja kok.” Ujarnya dan kembali menarik tanganku.

Satu jam berlalu, kami hanya masuk dan keluar toko tanpa niat untuk membeli sebuah benda apapun. Dan hal itu membuat kakiku terasa pegal.

“Makan eskrim yuk!” ajakku. “Kaki sudah pegal nih, butuh istirahat sebentar.”

“Ayuk…,” Karam setuju. “Chagi, kalo kakimu pegal aku rela kok mijitinnya. Hehehe,” kata Karam dan langsung menghindar dari tangaku yang telah terangkat, siap memukulnya.

“Yaaa…, dasar otak mesum.”

Akhirnya aku tiba di kedai eskrim tempat favoritku, tampatnya tidak banyak perubahan sejak dari dulu. Suasananya yang begitu tenang membuatku dan teman-temanku dulu betah berlama-lama di sini.

Kemudian aku dan Karam mengambil tempat yang dulu sering kami tempatin. Tempat yang paling strategis, itu sih pendapatku. Aku langsung memesan eskrim favoritku, begitu juga dengan Karam. Aku suka eskrim strowberi dengan potongan buah strowberi plus saos strowberinya yang begitu kental. Hemmm, pasti enak.

Sebelum pesananku datang, kami berbicara tanpa arah tujuan. Mulai dari masa lalu, masa sekarang hingga cita-cita untuk masa depan yang belum jelas arahnya. Kemudian kami juga membicarakan masalah gosip-gosip yang beredar di sekolah.

Tidak lama kemudian, eskrim pesanan kami datang.

“Chagi…, maukah kamu menjadi yoejachinguku?” tanya Karam, membuat pelayan yang berada di samping kami tersenyum-senyum penuh arti.

Aku tak menjawabnya, hanya memperlihatkan ekspresi wajah yang seperti biasanya, ekspresi seperti ingin memakannya hidup-hidup. Kalimat itu memang sering Karam lontarkan padaku, mungkin kalimat yang barusan itu adalah kalimat yang ke sekian ratus kalinya.

“Aish… chagi, kenapa kamu selalu memperlihatkan ekpresi menakutkan seperti itu?”

“Kalo tidak ingin melihatnya, jangan mengatakan dan bertingkah yang aneh-aneh.” Jawabku dengan memasang ekspresi super judes.

“Hehehehe… iya, aku mengerti.” Karam malah tersenyum.

Dan kami pun langsung mencicipi eskrim yang kami pesan. Hemmm… aroma strowberinya bergitu segar di hidung membuatku begitu nafsu ingin segera memakannya. Karam pun juga demikian, dia langsung terbuai dengan eksrim blue berinya.

“Chagiya…, kamu kalo makan eksrim nggak pernah berubah, selalu blepotan.” Ujar Karam sambil menunjuk ke arah bibirku.

“Biarin…,” kataku sambil memonyongkan bibirku.

Dan secara spontan tanganku langsung menuju ke bibirku untuk menghapus bekas eskrim. Tiba-tiba Karam berdiri di hadapanku. Tangan kanannya menghentikan pergerakan tanganku, sedangkan tangan kirinya memegang daguku.

“Chagiya… izinkan aku yang membersihkannya.” Ucapnya dengan suara yang begitu lembut.

Tiba-tiba…,

CHUP…

Aku merasakan bibir Karam menyentuk bibirku. Bibirnya terasa lembut dan hangat. Aku terlena dalam hitungan detik.

Namun setelah kesadaranku mulai menguasai ku kembali, aku langsung mendorong tubuhnya menjahuiku. “Yaaa… apa yang telah kau lakukan?”

“Aku hanya…”

“Karam PABO…,” teriakku sebelum dia sempat mengatakan sesuatu. Tiba-tiba air hangat aku rasakan keluar dari kedua ujung mataku.

“Chagi ya, mianhe aku hanya…” aku melihat penyesalan dalam nada suaranya.

“PABO…!!!” teriakku kembali dan langsung pergi meninggalkannya.

Karam terlihat kaget dengan reaksi yang aku tunjukkan. Tapi aku sudah tidak perduli, dia telah mencuri sesuatu yang berharga yang aku miliki, yaitu ciuman pertamaku.

Aku terus berlari dengan air mata yang terus keluar, aku sudah tidak perduli dengan orang yang melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya. Yang ada dibenakku hanyalah ingin cepat sampai ke rumah.

Sesampainya dirumah, aku langsung mengurung diri di kamar. Bayangan kejadian tersebut terus membayang dalam benakku, sangat jelas. Bahkan kehangatan bibirnya masih terasa di bibirku. “Karam pabo…,” ucapku sambil memukul bantal yang ada disampingku. Semalam suntuk bayangan itu terus menghantuiku membuatku tidak bisa tidur.

***

Semalaman aku juga berpikir bagaimana agar si kutu tempel itu bisa menjauh dariku. Akhirnya saat fajar menjelang aku menemukan caranya yang aku pikir sangat ampuh. Dan saat itu juga aku menghubungi Jihoon-oppa dan mengajaknya untuk bicara dari hati ke hati setelah jam pulang sekolah.

Aku menunggu Jihoon-oppa di tempat biasa yang enak untuk mengobrol dari hati ke hati tanpa harus khawatir ada yang menguping. Tak lama setalah aku tiba ditempat itu, Jihoon-oppa juga datang. Dia terlihat terkejut dengan keadaan wajah ku yang mungkin sedikit kusut.

“Chaerin-ah ada apa?” tanya oppa saat duduk disampingku.

“Minahe oppa, aku mau membicarakan menganai perasanku pada oppa.” Ujar ku langsung pada permasalahan yang ingin aku sampaikan. Jihoon-oppa tak berkomentar apapun dia terlihat menunggu kelanjutan dari ucapanku. “Sejak lama aku sudah menyukai oppa. Aku ingin oppa menjadi namja chinguku.”

“Hehehe… kamu lagi ada masalah ya dengan Karam-ssi?” tanya oppa sambil mengacak-ngacak rambutku.

“Mwo…,” aku benar kaget dengan perkataan oppa.

“Chaerin-ah…, aku tahu cintamu itu hanya untuk Karam kan? Dulu setiap kamu cerita tentang Karam kamu selalu heboh meskipun kamu menceritakan suatu hal yang kamu tidak sukai darinya. Selain itu sikap kamu saat bersama Karam juga menunjukkan hal itu. Mungkin sekarang kamu lagi ada masalah dengan Karam dan menutup mata atas perasaan yang kamu miliki. Ini hanya dugaanku loh. Kamu selalu membohongi perasaanmu dengan mengatakan bahwa kamu mencitaiku, bahkan kamu selalu mengatakan kalo kamu mencintaiku.

“Chaerin-ah…, cobalah sesekali kamu jujur dengan apa yang kamu rasakan. Dan dengarkan kata hati kamu. Aku yakin jika kamu mau besikap jujur, kamu akan mengetahui siapa orang yang kamu cintai sebenarnya.  Dan bukannya aku sudah sering mengatakan padamu bahwa aku selalu menganggapmu sebagai dongsaengku.”

Aku hanya terdiam mendengar ucapan Jihoon-oppa. Mungkin apa yang dikatakan oppa itu ada benarnya, karena setiap bayangan Karam datang aku selalu membunuhnya dengan membayangkan wajah oppa yang aku rangkai sendiri dalam pikiranku. Padahal sebelumnya aku berpikir jika Jihoon-oppa mau jadi namja chingukumaka si kutu tempel itu pasti akan menjauh dariku.

“Mianhe oppa…,” ujarku.

“Enggak apa-apa. Mungkin saat ini kamu perlu sendirian dulu agar bisa berpikir secara jernih.”

Kemudian oppa meninggalkanku sendirian yang masih mencerna setiap perkataanya. Mungkin ini semua karena keegoisanku yang tak mau mendengarkan apa kata hatiku. Setelah aku pikirkan berkali-kali semua perkataan oppa itu, rasanya detik ini juga aku ingin bertemu dengan Karam.

Tapai sejak kejadian itu dia tidak pernah menelepon ataupun mengirimkan sms sebagai permintaan maafnya. Bahkan tadi di sekolahpun aku tidak pernah melihat batang hidungnya. Apa mungkin dia sedang keluar kota, atau ke luar negeri. Tiba-tiba ada semacam penyesalan yang mulai menyelusup ke dalam hatiku.

***

Sudah seminggu aku tidak pernah melihat keberadaan Karam disekolah maupun ditempat biasanya. Bahkan ponselnya tidak aktif. Aku juga berusaha menghubungi manajernya, juga tidak aktif. Dan aku hanya bisa berpikir positif, mungkin dia lagi ada tour ke luar negeri yang memakan waktu cukup lama. Tapi biasanya dia selalu memberikan kabar kalau dia mau pergi jauh. Bahkan sering menanyakan padaku oleh-oleh apa yang aku inginkan.

Aku membaringkan tubuhku dia atas tempat tidur, dan semua kenangan tentang Karam kembali beraksi dalam benakku. Mulai dari kita kenalan pertama kali bahkan sampai kejadian di kedai eksrim seminggu yang lalu. Dan perasaan rindu di dadaku kembali membuncah, membuat linangan air mataku kembali jatuh berderai.

Sebentar lagi jam dua puluh empat tanggal dua puluh Desembar, atau dengan kata lain jam kosong kosong untuk tanggal dua puluh satu desember, hari ulang tahunku.  Biasanya Karamlah orang pertama yang akan mengucapkan selamat ulang tahun. Bahkan dia juga sering menyanyikan lagu ulang tahunku dan menyuruhku untuk selalu berdoa di hari yang spesial itu.

Dan sekarang sudah jam satu malam tapi ponsel yang berada di sampingku tak juga berdering. Perasaanku mulai berpikir yang bukan-bukan. Apa mungkin Karam tidak lagi mencintaiku dan lupa dengan semua kenangan manis yang pernah kita lalui bersama. Bahkan ulang tahunku saja dia telah melupakannya. Akhirnya aku memutuskan untuk memejamkan mataku.

Tok.. tok.. tok…

“Chaerin-ah… Bangun!!!” terdengar suara umma menggilku.

Saat itu aku sudah berada di antara dua dunia. Jadi suara umma seperti mimpi bagiku.

“Ya… umma aku bangun, sebantar.” Kemudian aku membuka pintu kamarku sampil mengucek-ngucek mataku yang terasa mulai berat. “Ada apa umma?” tanyaku kemudian.

“Ada yang mau bertemu denganmu tuh.” Jawab umma dengan sedikit senyuman. Sedangkan appaku telihat melungker di depan tipi, mungkin ketiduran saat nonton bola.

“Siapa?” tanyaku kembali.

“Enggak usah banyak tanya, cepat temui sana.” Umma mendorong tubuhku.

“Siapa sih malam-malam begini datang kerumah orang lain. Benar-benar tidak sopan tuh orang.” Gerutu ku.

Ketika aku membuka pintu depan, tiba-tiba…

“SAENGIL CHUKKAHAMNIDA…. SAENGIL CHUKKAHAMNIDA… SARANGHANEUN KIM CHAERIN-AH… SAENGIL CHUKKAHAMNIDA.”

Aku lihat sesosok namja dengan wajah cantiknya tersenyum ke arahku sambil membawa sebuah kue ulang tahun. Meskipun tampilah sedikit kusut, tidak seperti biasanya, namun hatiku sangat senang melihat wajahnya hingga membuat mulutku seakan terkunci.

“Mianhe… chagi, aku baru pulang dari tour  dan langsung kesini. Jadi aku hanya bisa membawa kue ini aja.” Ujarnya saat melihat wajahku yang tercenung.

Tiba-tiba tubuhku langsung menhambur dan memelukanya kuat kuat. “Karam.. pabo… pabo…pabo.” Air mataku kembali mengalir tak kuasa aku tahan.

“Chagiya kamu kenapa? Lilinya ditiup dulu dong…,” ujarnya kaget saat melihat tingkahku yang aneh.

Kemudian aku melapaskan pelukanku dan mengusap air mataku. Karam terlihat kaget, namun dia menunggu ku untuk meniup lilinnya.

“Jangan lupa! Make a wish dulu.” Ujarnya mengingatkanku.

Dan, wuuussss…. lilinya langsung padam.

Aku kembali menghambur dalam pelukannya setelah tangannya tidak lagi memegang kue ulang tahun. Karam juga melingkarkan tangannya ke tubuhku, rasanya begitu hangat. Entahlah ini terasa seperti mimpi bagiku, namun anehnya rasanya jauh melebihi dari sekedar mimpi.

“Karam-ah… Saranghe.” Ucapku lirih dalam pelukan Karam.

“Nado saranghe chagiya…”

END.

25 responses to “My Beautiful Namja

  1. Huaaa critanya so(k) sweat bgt, nggak kbyang jdi chaerin psti enk#plak,ngarep..
    Mian ru kmen,sbner.a aku dach p’nah bca dlu, mslh.a aku mntan siders*bkaib..
    Bnar bgt di ff nie oppa bjksna, tp wktu byangin crta xl0 oppa bjksna mlah ngakak,bnting stir prilaku y??
    Karem tu siapa y?aku lom tw, tp aku byngin Karem tu Taemin oppa,mian
    –>moga g kpt0ng^_~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s