The Last Beautifull Night

Author : Park Jihoon

Main Cast : Adam Couple (Jokwon & Gain)

Genre : Romance

Lenght : OneShot

NB : FF ini hanya untuk mengenang AdamCouple. Sebenarnya aku ikut sedih karena pasangan ini telah pisah, namun disisi lain aku juga senang karena Gain -nuna tidak akan lengket-lengketan lagi ama Jokwon, hehehe…#PLAK Namun tetep aja, kesedihan selalu hadir tatkala perpisahan itu datang.

Selamat membaca…

Malam terus menggelayut di langit kota seoul, menebarkan selimut kegelapannya. Kesunyian mulai menyeruak di beberapa sudut kota. Udara di malam musim dingin memang susah untuk diajak bersahabat, sehingga kebanyakan orang lebih memilih untuk berdiam di dalam rumah yang begitu hangat. Langit malam begitu cerah, setelah sehari sebelumnya di landa badai salju, bintang bersama rasinya ikut menghias malam tak terpengaruh oleh polusi cahaya.

Kebahagian dan kesedihan selalu datang silih berganti, tak terpengaruh dengan adanya musim. Ada kalanya orang selalu riang menyambut musim dingin, ada juga yang begitu muram ketika manatap salju. Begitulah kehidupan, selalu seperti dua sisi mata koin yag bersebrangan.

Tak terkecuali dengan Adam Couple, yaitu pasangan suami istri palsu yang diperankan oleh Jokwon 2AM dan Gain BEG. Mereka telah melewati satu tahun tiga bulan sebagai pasangan palsu tersebut, dan kali ini mereka memutuskan untuk berpisah dengan alasan kesibukannya masing-masing. Banyak yang menyayangkan keputusan tersebut, tapi itulah kehidupan. Dimana ada pertemuan, disitu pasti akan ada perpisahan.

Di ruang tengah, terlihat Gain dan Jokwon duduk dengan raut muka sedih, tak seperti biasanya yang selalu dilaluinya dengan banyolan. Sikap mereka seperti tak saling mengenal satu sama lain, mereka diam membisu. Mereka hanya tenggelam dalam lamunan masing-masing sambil menatap ke arah amplop misi yang diberikan oleh PD WGM tadi siang. Misi yang mengharuskan mereka untuk mengumumkan berakhirnya hubungan mereka secara Live di MBC radio.

Udara hangat dalam ruangan tersebut seakan tidak bisa menyentuh hati Jokwon dan Gain yang telanjur dingin, sedingin udara di luar. Waktu seakan berjalan dengan begitu lambat, bahkan sangat lambat.

“Yeobo, besok kita akan malakukan syuting terakhir.” Suara Gain yang lemah memecah kebisuan.

“Ne…,” Jokwon menggeser kepalanya hingga rebah di pundak Gain. “Kenapa waktu terasa berjalan begitu cepat ya? Rasanya baru kemaren kita dipertemukan.”

“Ne…,” Gain hanya menganggukan kepalanya.

Kemudian, kebisuan kembali menyelimuti mereka. Tak ada satupun kata yang terucap, hanya hembusan dan tarikan nafas panjang yang sesekali terdengar.

“Yoebo, bisakah kita menyelesaikan misi terakhir ini?” Suara Gain terdengar begitu pesimis.

“Entahlah, aku juga tidak yakin. Setiap memikirkan kata-kata yang akan aku ucapkan untuk perpisahan kita besok, jantungku seakan tidak mau berdetak lagi.”

“Yoebo, jangan katakan kamu benar-benar mencintaiku?” Gain begitu terkejut ketika melihat kedewasaan di setiap kata yang Jokwon lontarkan.

“Kalau iya, kenapa?”

Gain hanya bisa diam membisu mendengar kalimat terakhir Jokwon. Wajahnya terasa ada aliran panas yang begitu deras mengalir kesetiap lekuk wajahnya. Tidak hanya itu, kehangatan juga menjalar ke dalam dadanya. Begitu hangat dan membuatnya nyaman.

“Apakah ini yang namanya cinta?” Bisik Gain dalam hatinya.

“Oh yah, kita ke atap yuk! Malam ini cuacanya cerah, pasti langit bertaburan dengan bintang.” Jokwon bangkit dari sofa dan mengulurkan tangannya pada Gain.

“Anio…, malam ini udaranya begitu dingin. Mendingan disini, hangat.” Gain berusaha untuk menolak.

“Ayolah yeobo!!! Aku ingin malam ini menjadi malam terakhir yang indah. Please!!!” Jokwon berjongkok di depan Gain.

Gain sempat memikirkan ulang ajakan suaminya. Meskipun udara di luar sangat dingin, namun akhirnya Gain meyetujui permintaan Jokwon. Mungkin malam ini akan menjadi malam terakhir bagi mereka sebagai pasangan.

“Ok…, tapi jangan lama-lama. Udara di luar begitu dingin, aku enggak mau menjadi manusia es.” Gain beranjak dari sofa dan mengikuti langkah Jokwon.

Akhirnya mereka berjalan menuju ke atap gedung setelah mengenakan pakaian hangatnya. Jokwon menggandeng tangan Gain, mereka terlihat seperti pasangan yang sebenarnya. Ada perasaan yang janggal di hati Gain karena malam ini Jokwon bersikap lebih dewasa dari biasanya, bahkan sangat dewasa.

Saat tiba diatas, cuaca benar-benar cerah dan susananya begitu sunyi. Langit bertaburan dengan berjuta-juta bintang lengkap dengan rasi masing-masing. Udara dingin begitu kuat menyapa kulit, hingga terasa sampai ke tulang.

Jokwon dan Gain duduk di sebuah bangku panjang yeng terbuat dari beton. Mereka saling menyenderkan punggungnya satu sama lain dengan pandangannya jauh menembus angkasa malam.

“Yeobo, malam ini begitu indah ya.” Ucap Jokwon memecah kesunyian.

“Ne, tapi udaranya dingin banget.” Gain memasukkan tangannya ke dalam saku baju hangatnya.

Beberapa saat kemudian mereka kembali begulat dalam kebisuan. Banyak perkataan yang ingin mereka sampaikan, tapi seakan semua kata tersebut hanya tersendat sampai di kerongkongannya.

“Yeobo,” Gain berusaha menghangatkan suasana.

“Geerrrr…grrrggggg…ggrrrrr…,” Jokwon ngorok.

PLETAK

“Yaaaa.. yeobo, kenapa malah tidur. Bukannya tadi kamu yang ngajak kesini.”

“Hehehehe… mianhe. Berada di sisimu membuatku terasa hangat meskipun udara disini sangat dingin.” Jokwon memulai kegombalannya.

“Yoebo, kamu ingat pertama kali kita dipertemukan sebagai pasangan?” Tanya Gain, wajahnya menerawang jauh ke gugusan bintang.

“Ne…,” tatapan Jokwon juga melambung berasama galaksi bima sakti. “Saat menunggumu dulu aku merasakan kegugupan yang sangat luar biasa, sampe mau pipis dicelana. Kostum manggus itu malah membuatku sangat kepanasan. Tapi kamu malah menyangka ku sebagai Boom-hyung.” Suara Jokwon terdengar sedikit kecewa.

“Mianhe, soalnya aku enggak nyangka akan dipasangkan dengan pasangan yang jauh lebih muda.” Jawab Gain berusaha untuk jujur.

“Tapi kamu senangkan dipasangkan denganku?”

“Yah, kalo aku enggak senang enggak mungkin bisa bertahan sampai satu tahun.”

“Yeobo, selama kebersamaan kita sebagai pasangan kenangan apa yang sangat berkesan buatmu?”

“Kenangan apa ya?” Gain sempat berpikir sejenak. “Kenangan yang begitu melekat di benakku yaitu rumah mobil kontainer, mejalani latihan militer, Belajar bahasa inggris, ikut festival Internasional di Hongkong, pergi ke bali dan masih banyak lagi. Semua kebersamaan kita aku merasa itu sebuah kenangan yang tidak mungkin aku lupakan. Oh ya satu lagi, saat aku medapatkan tas dari mu karena laguku, irrevresible, jadi juara di salah satu live chart.”

“Yah… karena itu aku jadi tekor.” Gumam Jokwon.

“Mwo…???”

“Anio…, just kidding.” Sifat asli Jokwon mulai kembali.

“Dan yang membuatku kesal, setiap nama Bangshil keluar dari mulutmu.”

“Hehehe… mianhe. Itu aku lakukan karena hanya ingin membuatmu cemburu. Nama Bangshil itu hanya rekaan aku kok.” Jokwon mulai membongkan kebohongannya.

“Kalo Yeobo, kenangan yang paling berkesan buatmu apa?” Kini giliran Gain yang bertanya.

“Semuanya…,” Jokwon merentangkan kedua tangannya.

“Shiro…, harus ada yang paling berkesan.” Gain tidak terima.

“Hemmm… oh ya, saat-saat aku berusaha mendapatkan ciuman pertama dari mu. Hehehehe.”

“Yaaaa…. dasar mesum. Kenapa yeobo selalu mengingat-ngingat yang itu.” Gain mulai merasa ada sebagian wajahnya yang mulai memerah.

“Terutama saat ciuman kita yang di bali. Aku ingin masa-masa itu terulang kembali.”

“Yaaaa…, kamu ingin mengulang ciuman itu, jangan harap!!!” Gain mulai mencium ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ucapan Jokwon.

“Ada satu lagi yang membuatku berkesan, saat bertemu dengan Fahim.” Jokwon mulai menerawang ke masa lalu.

“Ne…,” bayangan Fahim juga kembali ke dalam benak Gain.

“Seharian kita menemain Fahim dan melayaninya dengan bahasa inggris, membuatku sangat frustasi. Tahunya, dia malah fasih berbahasa korea. Setiap mengingat hal itu ingin rasanya aku menendang Fahim-ssi kembali lagi ke negara asalnya, Afganistan.”

“Hahahaha… benar. Aku juga shock saat dia pertamakali ngomong dalam bahasa korea. Benar-benar seperti mimpi.”

Kembali, kebisuan bergabung bersama mereka. Kenangan yang begitu banyak di benak mereka seakan tidak mau bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kesunyian membuat kebisuan itu benar-benar merasa nyaman.

“Yeobo, masuk yuk!!! Aku mulai kedinginan.” Ajak Gain.

“Ne…,” Jokwon mulai beranjak dari tempat duduknya.

Saat mereka berdiri, Jokwon memegang pundak Gain sehingga mereka saling berhadapan. Tatapan mereka saling beradu, saling memancarkan sesuatu kahangatan.

“Yeobo…,” ucap Jokwon.

“Ne…”

“Mulai besok, mungkin kita tidak akan menjadi pasangan lagi. Mianhe, kalo selama kebersamaan kita ada suatu kata dan perbuatan yang menyinggung perasaanmu. Aku melakukan hal itu semuanya karena aku ingin dilihat sebagai lelaki yang seutuhnya meskipun aku lebih muda dari diri mu. Aku juga ingin berterima kasih karena cinta yang kamu berikan selama ini. Cinta itu membuatku berusaha untuk mengubah sikapku yang kekanak-kanakan menjadi sesosok yang lebih dewasa. Dan aku merasakan kedewasaan itu mulai merasuk dalam diriku. Jeongmal gumawo. Saranghe.”

Jokwon merangkul tubuh mungil gain ke dalam pelukannya. Seketika itu tubuh Gain dilanda kehangatan yang begitu nyaman, kehangatan seorang laki-laki.

“Gumawo, karena kamu telah membuat hari-hariku dipenuhi dengah canda dan tawa. Saranghe.” Bisik Gain.

Pelukan mereka semakin erat. Udara dingin seakan tak terasa.

“Aku ingin mengakhiri hubungan ini karena aku ingin menjadi pasanganmu yang sesungguhnya. Pasangan di dunia nyata.” Ujar Jokwon lirih di telinga Gain.

“Mwo…?”

“Ayo kita masuk, udara di luar semakin dingin.” Jokwon melepaskan dekapannya.

“Tadi apa yang kamu katakan?” Tanya Gain, masih penasaran.

“Anio…, ayo kita masuk.” Jokwon merangkul pundak Gain dan mengajaknya untuk masuk kembali ke apartemennya.

Kesunyian kembali menyelimuti kota seoul. Udara malam yang begitu dingin membuat setiap orang berusaha berlindung dibalik selimut hangatnya.

Mungkin sebuah perpisahan akan menghilangkan sebuah kebahagiaan dan keceriaan. Tapi yakinlah kalo sebuah perpisahan itu hanyalah sebuah batasan untuk memperoleh kebahagiaan yang jauh lebih besar, sebuah kebahagiaan dan keceriaan yang telah menunggu kita di masa depan. Jangan berputus asa untuk meraih kebahagiaan. Keep spirit, HWAITING!!!!

END.

BE A GOOD READER…

34 responses to “The Last Beautifull Night

  1. Gumawo oppa..

    GUBRAK
    PLETAK PLETUK

    oppa, klu d kshny keset n kain pel, aq
    dk jd berenti nangis.. Malah nangisny lbh keras.. Hahaha.. (?)

    Aq jd bisa ngelamar jd tukang bersih2 d rumah oppa.. Udh d modali lap meja n kain pel.. Wkwkwk..

  2. Kasian penduduk kecamatan sn oppa..
    Kgk gendang telinganya pecah gara2 aq nangis lbh keras n pke toa lg..
    Hahaha..

  3. Keren~~!!
    Bikin nangis TT_TT
    Aku inget adam couple
    HUWEEE !!

  4. Meskipun waktu pertama kali jadi ngga kurestuin.. Tp nyesek juga pas mereka pisah!! Aigoo~ kwonnie-ya!! Yang sabar yaaaaaaaa kan masih ada aku *curcol* /PLETAK

  5. minho saranghae

    wah2.. thor, ga daftar jadi penulis novel aja nih? ckckck.. yg lucu udah, yg fantasi udah, yg romance juga udah. bagus2 smua! b>_<d

  6. Cool~~~~!! Daebak! #KasihJempolOnew

  7. Ahjusshi.. Jarang-jarang kok bikin ff romance?😀
    Tapi aku tetap senang kok baca ff karya Jihoon ahjusshi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s