5 Prisoner (Part-4)

Author : Park Jihoon

Main Cast :

Onew SHINee  as Prince Onew (North Kingdom)

Minho SHINee as Prince Miho (West Kingdom)

Key SHINee as Prince Key (South Kingdom)

Taemin SHINee as Prince Taemin (East Kingdom)

Jonghyun SHINee as Peramal Jonghyun

Other Cast : Seungren, Jihoon (ikut eksis), Jisoon dan Dark Sooman.

Genre : Fiksi Fantasy

Lenght : Chapter

Rating : PG-15 (Siapa aja yang udah bisa membedakan mana yang sungguhan dan mana yang bohongan…kekekeke)

Disclaimer : Semuanya punyaku (kecuali SHINee) >>> Maruk.com

Note : Nama – nama naga

1.       Dark Sooman : *Ra’zac, tergolong Black Dragon.

2.       Peramal Jonghyun : *Eragon, Naga jantan dengan sisik berwarna hitam (Bukan Black Dragon)

3.       Prince Onew : Dubu, naga jantan dengan sisik-sisik putih seperti salju.

4.       Price Key : Lucifer, sering dipanggil Luci. Naga betina dengan warna sisik biru safir.

5.       Prince Taemin : Mushoo, naga jantan dengan sisik warna merah ruby.

6.       Prince Minho : Flacha, naga betina dengan sisik merah ruby.

Selamat Membaca….

$$$

“Eragon, kamu membawa pedang-pedangku?”

“Iya.”

Peramal Jonghyun mengambil sebuah tas kulit seukuran dengan pedang yang tergantung di samping tubuh Eragon. Dia sempat menyunggingkan senyumnya setelah melihat isi tas tersebut.

“Bagus Eragon, kamu memang naga yang luar biasanya.” Pujinya.

Peramal Jonghyun mengeluarkan dua buah pedang. Bentuknya seperti pedang pada biasanya, tidak ada yang spesial. Hanya saja pedang tersebut berwarna biru safir, mirip dengan warna sisik Lucifer.

“Prince Onew, Prince Key pakai pedang ini!” Peramal Jonhyung melemparkan pedang tersebut pada Prince Key dan Prince Onew.

Kedua prince menangkap dan memeriksa pedang biru tersebut. Kemudian mengayun-ngayunkannya di udara untuk menyesuaikan dengan genggaman tangannya.

“Itu adalah pedang naga kembar, bisa meningkatkan kekuatan penggunanya hingga dua kali lipat.” Peramal Jonghyun menjelaskannya.

“Bagus,” gumam Prince Key.

“Pedangnya ringan banget,” Prince Onew kembali mengayunkan pedangnya.

Peramal Jonghyun kemudian kembali mengeluarkan sebuah pedang yang bergagang sisik naga. Mata pedang itu berwarna silver dengan gagang berwarna biru safir dan diujung gagangnya terdapat sebuah bola kecil yang berwarna merah, menyerupai bola mata. Mata pedangnya lebih lebar dari ukuran pedang biasanya dan di bagian ujungnya terdapat sebuah lekukan yang terlihat begitu mengagumkan.

“Blingers, akhirnya kita bertemu kembali.” Peramal Jonghyun mengeluarkan pedang itu dari sarungnya.

Tidak diperlukan waktu yang lama, Seungren dan ke sepuluh prajurit tingkat atas telah berada di hadapan Prince Key. Tatapan Seungren tertuju pada peramal Jonghyun penuh dengan menyelidik, berusaha menganalisa kekuatannya. Prince Key yang menyadari hal tersebut membuat peringatan pada peramal Jonghyun untuk tidak mengganggu pertarungannya dengan Seungren.

Kepakan sayap naga-naga yang kokoh membuat angin terasa berhembus sangat kencang. Dan mata para naga tersebut terlihat begitu waspada.

“Meyerahlah!”

“Apa?  Menyerah? Jangan harap.” Kata Prince Key penuh dengan emosi.

“Jangan salahkan aku jika kali ini guru terbunuh.”

Ucapan Seungren membuat Prince Key dan Prince Onew terkejut. Mereka memandang ke arah peramal Jonghyung, tapi yang di lihat malah tersenyum kecut.

“Tak ku sangka kamu masih sudi memanggilku guru. Bukannya dulu kamu berusaha untuk membunuhku dengan cara yang licik.”

Peramal Jonghyun memandang bekas muridnya dengan tatapan muak. Sikap liciknya yang tak pernah berubah membuat dirinya selalu merasa gagal menjadi seorang guru.

“Hahaha…, Jonghyun… kamu dari dulu memang tidak pantas untuk disebut guru. Dasar manusia lemah.”

Raut muka prince Key dan prince Onew berubah drastis, dari kaget menjadi emosi saat mendengar kata hinaan yang keluar dari mulut Seungren. Prince Key memegang pedangnya erat-erat, siap untuk diayunkan ke leher Seungren. Namun peramal Jonghyun seakan acuh terhadap hinaan tersebut, air mukanya masih begitu tenang.

“SERANG…!!!”

Seungren memerintahkan pada anak buahnya untuk menyerang. Semburan api dari Beckon dan naga-naga yang berada di barisan depan langsung mengarah pada prince Key, Prince Onew dan peramal Jonghyun. Jarak yang terlalu dekat membuat Prince Key dan Prince Onew tidak siap menerima serangan mendadak seperti itu.

BBRUARRRR…

Semburan api itu tiba-tiba pecah hanya beberapa centi meter di depan moncong lucifer, seperti membentur sebuah dinding yang tak kasat mata. Ini adalah salah satu sihir pelindung peramal Jonghyun. Meskipun semburan tersebut tidak terlalu kuat namun bisa dipastikan bisa membuat cedera ringan jika terkena serangan itu.

“Terimakasih peramal Jonghyun.” Ujar Prince Onew

Prince Onew, Prince Key dan Peramal Jonghyu langsung menyebar ke penjuru yang berbeda untuk memecah kekuatan lawan. Seungren bersama empat prajurit lainnya mengejar peramal Jonghyun, sedangkan sisanya mengejar Prince Key dan Prince Onew.

“Ck, mereka meremehkan kita.” Kata prince Key pada Lucifer.

Prince key memerintahkan Lucifer untuk kembali dan mengejar Seungren, namun tiga orang prajurit menghadang di depannya. Ketiga prajurit tersebut langsung melancarkan serangannya dengan semburan api naganya. Lucifer hanya menghindarinya, tanpa melakukan serangan balik.

“Minggir kalian!” Prince key mulai geram.

Prince Key mengayunkan pedang biru safirnya hingga mengeluarkan api berbentuk sayatan pedang mengarah pada ketiga prajurit tersebut. Api yang dikeluarkannya tersebut berupa api padat tipis yang memiliki daya potong seratus kali dibandingkan dengan pedang biasa.

TRANG…

Ketiga prajurit tersebut bisa menangkis serangan dari Prince Key meskipun tubuh mereka harus terpental dari naganya. Tubuh mereka terlempar ke udara beberapa meter, namun naga-naga mereka dengan cekatan langsung begerak dan menyelamatkan tubuh mereka.

Kesempatan tersebut digunakan prince Key untuk mengejar Seungren. Lucifer, mengerahkan seluruh kecepatannya.

Seungren dan keempat prajurit lainnya terus menyerang peramal Jonghyun dari arah belakang dengan semburan api. Peramal Jonghyun meminta Eragon untuk terus menghindar dari setiap serangan tanpa harus melakukan serang balik apapun.

“Bukan saatnya Eragon,” kata peramal Jonghyun.

“Dasar manusia lemah, bisanya hanya menghindar.” Umpat Seungren.

Eragon dan Peramal Jonghyun tetap tidak terpengaruh dengan umpatan Seungren.

Lucifer mendekat,” lapor Eragon.

“Hehehe…, ini yang aku tunggu.” Peramal Jonghyun tersenyum.

“BOLA API…!!!”

Peramal Jonghyun melakukan serangan balasan. Namun Seungren juga membalas dengan jurus yang sama sehingga timbul ledakan api yang besar saat kedua bola api bertumbukan. Eragon berhenti dari kejar-kejarannya. Sekarang dia berhadap-hadapan dengan posisi Seungren dan keempat prajuritnya.

Seungren kembali berusaha menyerang peramal Jonghyun, namun tiba-tiba sebuah semburan api dari arah belakang mengarah padanya. Seungren dan naganya, Beckon, terkejut namun masih bisa menghindarinya.

“Seungren!!! Musuhmu adalah aku.”

“Ck, sialan pengganggu datang.” Umpat Seungren.

“Prince Key, sudah dari tadi aku menunggu mu,” kata Peramal Jonghyun. “Aku serahkan Seungren pada mu. Biar prajurit yang lainnya aku yang ngurus.”

Prince Key mengangguk, setuju. Kemudian peramal Jonghyun dan Eragon pergi meninggalkan mereka.

“Mau kemana kau peramal busuk.”

Seungren berusaha mengejar Peramal Jonghyun, tapi Prince Key menghadang. Prince Key memberikan serangan bertubi-tubi hingga membuat Seungren kewalahan. Prajurit yang lainnya hanya terlihat menonton dari kejauhan, menunggu perintah.

“Kenapa kalian diam saja, cepat kejar Peramal sialan itu. Biar prince yang nggak tahu diuntung ini aku yang bereskan.” Kata Seungren pada prajuritnya.

Ketujuh prajurit tingkat atas itu pun mengejar peramal Jonghyun. Bibir peramal Jonghyung terangkat, tersenyum, saat ketujuh prajurit itu mengejarnya dan membiarkan Seungren sendirian melawan Prince Key.

“Kamu siap melawan tujuh naga, Eragon?”

“Hahaha… ini benar-benar bisa membuatku bersenang-senang setelah lama tidak melakukan apa-apa.” Jawab Eragon.

$$$

Flacha membawa Prince Minho yang masih tidak sadarkan diri ke sebuah gua besar yang tersembunyi di balik gunung besar. Di depan mulut gua tertutup oleh rimbunnya hutan, membuat gua tersebut benar-benar sempurna untuk dijadikan tempat persembunyian.

Tubuh Prince Minho masih terbaring di atas punggung Flacha. Sedangkan stamina Flacha juga sudah mencapai batasnya. Flacha menekuk lehernya ke belakang dan berusaha menyangga tubuh Prince Minho dengan kepalanya supaya tidak terjatuh. Kelelahan membuat Flacha jatuh tidak sadarkan diri dalam tidurnya.

Prince Taemin dan Mushoo tiba di depan mulut gua setelah menerima petunjuk dari Flacha. Mereka mengamati sekeliling gua sebelum turun untuk memastikan tidak ada ancaman yang mengintai.

“Flacha memang naga betina yang cerdik,” puji Prince Taemin saat melihat gua yang begitu sempurna untuk persembunyian.

Mushoo cemburu saat mendengar pujian dari penunggangnya terhadap naga selain dirinya. Dia melenguhkan nafasnya sehingga mengeluarkan asap dari cuping hidungnya.

“Sepertinya dia naga yang cocok untuk menjadi pasangan betinamu.” Prince Taemin tersenyum ke arah Mushoo.

Mushoo merasa di permainkan oleh Prince Taemin. Namun perkataan penunggangnya itu membuat dirinya salah tingkah.

“Sebaiknya Prince cepat memeriksa keadaan penunggangnya Flacha, Prince Minho.” Mushoo berusaha mengalihkan pembicaraan. “Aku akan berjaga-jaga di mulut gua.”

“Tidak, kamu harus ikut aku. Apa kamu malu dengan Flacha?”

Mushoo semakin salah tingkah. Dia memalingkan wajahnya dari prince Taemin.

“Hahaha… ada apa dengan mu? Aku hanya bercanda. Aku mengajakmu masuk karena aku tidak bisa berbicara dengan Flacha karena aku bukan penunggangnya. Flacha bisa dengan mudah mendengar ucapanku tapi aku tidak akan bisa mendengarkan pembicaraannya. Tapi Flacha bisa berbicara dengan sesama naga kan?”

Mushoo merasa salah paham atas ucapan penunggangnya. Kemudian dia mengikuti Prince Taemin ke dalam gua. Langkah kakinya membuat tanah disekitarnya ikut bergetar dan membuat suara berisik di dalam gua.

“Tapi jika kamu benar-benar menyukainya pun tidak apa-apa. Aku tidak keberatan,” ujar Prince Taemin lirih.

Mushoo tidak menanggapi, lebih tepatnya pura-pura tidak mendengarnya.

Suara berisik langkah Mushoo membuat Flacha terbangun dari tidurnya. Matanya langsung waspada penuh. Namun hal tersebut berubah saat ia melihat keberadaan Prince Taemin dan Mushoo.

Prince Taemin langsung memindahkan tubuh Prince Minho dari punggung Flacha dan membaringkannya di atas sebuah batu besar yang datar. Prince Taemin kemudian membuat api unggun untuk menghangatkan udara di dalam gua yang dingin dan lembab.

Kemudian prince Taemin memeriksa seluruh tubuh Prince Minho, menerapkan apa yang pernah diajari oleh appanya saat latihan dulu. Setelah dipastikan tidak ada luka yang serius, prince Taemin menyalurkan tenaganya ke dalam tubuh prince Minho.

“Bagaimana keadaannya?” Flacha terlihat begitu khawatir.

“Jangan khawatir, dia haya kehabisan tenaga. Tapi jika dia mengulangi lagi hal seperti ini, kemungkinan nyawanya akan susah untuk ditolong.” Ujar Prince Taemin setelah dikasih tahu oleh Mushoo kalo Flacha menanyakan keadaan penunggangnya.

Kini Flacha jauh lebih tenang. Ketegangan yang tadi menyerangnya sirna ketika mendengar Prince Minho baik-baik saja.

“Gamsahamnida…, Prince Taemin.” Ucap Flacha sopan.

Prince Taemin beranjak dari duduknya setelah merapikan posisi Prince Minho.

“Mushoo, aku butuh bantuanmu. Staminamu masih cukup kan untuk berburu? Tolong carikan aku daging yang segar. Aku ingin masak soup untuk Prince Minho supaya tenaganya cepat kembali. Dan aku akan mencari tumbuhan dan obat-obatan yang bisa meningkatkan stamina di dalam hutan.”

“Baik prince.”

“Sekalian untuk Flacha, dia kelihatannya kehabisan tenaga juga. Berhati-hatilah! Jangan sampai ketahuan oleh prajurit dark Sooman.”

Mushoo langsung pergi sebelum prince Taemin menggodanya kembali.

“Flacha, kamu jaga Prince Minho. Tolong jaga apinya supaya udara disini tetap hangat.”

Flacha menganggukkan kepalanya. Pandanganya kembali menatap penunggangnya yang terbaring tak berdaya setelah Prince Taemin hilang dari mulut gua. Perutnya diserang rasa lapar namun ditahannya mati-matian.

Tak berselang lama, prince Taemin kembali dengan beberapa dedaunan dan umbi-umbian memenuhi tangannya. Selain itu Prince Taemin juga membawa sebuah mangkok dari bahan metal, alat masak yang kemungkinan ditinggalkan oleh pemburu di dalam hutan. Flacha hanya melihatnya sebentar dan kembali meringkukkan kepalanya supaya bisa menahan rasa laparnya.

Ketika Prince Taemin sedang meramu masakannya, Mushoo datang membawa tiga ekor sapi yang gemuk. Flacha kembali mengangkat kepalanya saat mencium bau daging segar. Prince Taemin segera menghampiri hasil buruan Mushoo dan mengambil secukupnya.

“Flacha, sisanya ini bagianmu dan juga Mushoo.”

Flacha bergerak menuju ke tempat daging segar itu. Nafsu makannya semakin tidak bisa di bendung. Tetesan air liurnya sesekali jatuh di tanah.

“Perutku sudah penuh. Silahkan dihabiskan supaya tenaga mu bisa cepat pulih.” Ujar Mushoo.

Prince Taemin melirik ke arah Mushoo. Telinganya terasa gatal saat mendengar perkataan naganya, Mushoo, yang begitu formal dan sopan. Ingin rasanya Prince Taemin kembali menggoda Mushoo tapi ditahannya, takut menghilangkan nafsu makan Flacha.

“Gamsahamnida.”

Flacha melahap hasil buruan Mushoo. Tidak diperlukan waktu yang lama untuk menghabiskan tiga ekor sapi gemuk itu.

“Kalian beristirahtlah, supaya tenaga kalian cepat pulih. Biar Prince Minho aku yang jaga.” Kata Prince Taemin pada dua naga yang berada di hadapannya.

Flacha kemudian kembali ke tempat sebelumnya sedangkan Mushoo mencari tempat yang agak luas untuk tempat istirahat. Dan suasana gua kembali sunyi.

Aroma daging panggang dan soup buatan Prince Taemin membangunkan Prince Minho. Awalnya dia kaget karena tanpa di sadarinya dia berada di tempat yang mirip dengan penjara di castil naga.

“Kamu sudah sadar,” sapa Prince Taemin.

Prince Minho berusaha menggerakkan tubuhnya dan duduk disamping Prince Taemin di dekat perapian. Seluruh tubuhnya terasa tidak memiliki tenaga sama sekali. Flacha dan Mushoo telah terlelap karena kekenyangan.

“Di mana ini?”

Pandangan tatapan Prince Minho menyapu ke seluruh bagian gua.

“Flacha yang membawamu ke sini. Dia memang naga betina yang cerdik.” Jawab Prince Taemin. “Makanlah ini, untuk mengembalikan tenagamu.”

Prince Taemin senyodorkan soup buatannya yang di wadahi dengan daun. Prince Minho menerimanya dan tanpa banyak tanya langsung menghabiskannya. Dia terlihat seperti Flacha yang begitu besar nafsu makannya.

“Enak.” Ujarnya.

Setelah habis melahap soupnya, Prince Minho beralih ke daging panggang yang aromanya begitu menusuk hidung.

“Besok, kita akan menyusul peramal Jonghyun?” Tanya Prince Minho sambil mengunyah dagingnya.

“Pasti.” Jawab Prince Taemin mantap. “Kita harus menemukan pedang SHINee untuk membunuh Dark Sooman.”

Prince Minho mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesunyian kembali menyelimuti mereka. Hanya suara percikan kayu bakar dilahap api yang terdengar.

“Prince…,” ujar Flacha dan Mushoo berbarengan.

“Kalian memang kompak, sampe bangun tidur aja kompak. Sepertinya kalian itu memang berjodoh.” Prince Taemin kembali menggoda Mushoo.

Flacha terlihat senang saat melihat Prince Minho telah sadar dan duduk disamping prince Taemin sambil menyantap daging bakar. Sedangkan Mushoo langsung diam dan pura-pura tidur kembali.

“Bagaimana kalo mereka kita Jodohkan? Hahaha,” usul Prince Minho.

Tawa meraka langsung menggaung di seluruh ruang gua, mengganggu nyanyian serangga malam. Tidak hanya Mushoo yang salah tingkah, Flacha pun di buat tak berkutik oleh ucapan penunggangnya sendiri, Prince Minho.

$$$

Sang pemimpin prajurit tingkat atas dan dua prajurit lainnya terus mengejar prince Onew dan Dubu. Mereka tidak segan-segan melontarkan semburan api dan anak panah api. Namun hal itu semuanya bisa dihindari dengan mudah oleh gerakan Dubu yang begitu lincah.

“Dubu, saatnya kita habisi mereka,”

“Oke Bozu.”

Tiba-tiba Dubu langsung terbang secara vertikal ke atas, menunjukkan keahlian akrobatnya. Kemudian langsung menukik tajam saat ketiga prajurit tingkat atas itu berda persis di bawahnya.

“SNOW FLAMES…!!!”

Bola-bola api kecil jatuh melayang mengarah ke prajurit tingkat atas itu dengan kecepatan tinggi. Bola-bola api itu seperti salju yang berpijar yang melayang di udara dan akan meledak saat menyentuh sesuatu seperti ranjau.

DUARRRR

Ledakan hebat benar-benar memukul telak ketiga prajurit tinggat atas tersebut. Namun tidak ada satupun dari mereka yang tumbang. Ledakan api itu hanya membuat kulit mereka menghitam dan terkelupas. Mereka benar-benar terlihat seperti mayat hidup.

“Sepertinya mereka tidak akan mati sebelum kepala mereka terlepas dari tubuhnya.”

Prince Onew memegang kuat-kuat gagang pedang biru safirnya. Kekuatannya benar-benar meningkat dua kali lipat. Bahkan dengan mudahnya dia memusatkan tenaganya dan mengalirkan ke pedangnya, sehingga pedang itu menyala terang seperti berlapis api.

Ketua prajurit tingkat atas itu memerintahkan kedua prajuritnya untuk menyerang Prince Onew. Sehingga terjadilah kontak fisik, pedang beradu dengan pedang dan semburan api naga dibalas dengan semburan api naga lainnya. Sedangkan sang ketua, dari jarak yang cukup jauh membidikkan panah apinya.

“Dubu, rasanya sulit untuk memenggal kepala mereka jika bertarung seperti ini. Aku harus melakukan pertarungan jarak dekat.”

Baik Bozu, akan aku usahakan.”

Kedua prajurit tingkat atas itu terus menyerang Prince Onew membabi buta. Mereka seperti memiliki stamina yang tidak ada habisnya. Mereka bertarung dengan kekuatan seratus persen dari awal sampai akhir.

Pertarungan jarak jauh membuat Prince Onew menguras banyak staminanya. Saat Dubu dan kedua naga itu saling berhadapan dan saling menyerang dengan semburan api, Prince Onew melompat ke salah satu naga dari prajurit tingkat atas itu ketika posisinya berada di bawah dubu.

Pertarungan pedang pun dimulai, Prince Onew yang terkenal dengan sebutan si raja pedang dengan mudah menghabisinya. Hanya dengan beberapa kali gerakan, kepala prajurit itu pun terbang menuju tanah. Naganya juga mengalami hal yang sama saat urat nadinya di putus.

Tubuh Prince Onew juga ikut terjun, namun Dubu dengan cepat menyambar tubuh Prince Onew sehingga mendarat di punggung Dubu dengan sempurna.

“Gerakan yang bagus, Bozu.”

Prince Onew kembali mengulangi aksinya. Pertarungan satu lawan satu membuat lebih mudah untuk melompat ke punggung naga lawannya. Namun prajurit yang satu ini memberikan sedikit perlawanan yang cukup sengit. Sepertinya dia juga jago dalam memainkan pedang. Tapi pada akhirnya si raja pedanglah yang menang, kepala prajurit tersebut kembali terjun ke tanah diikuti oleh jasad naganya.

Tubuh Prince Onew kembali melayang bebas di udara, menjadi sasaran empuk dari bidikan sang ketua prajurit tingkat atas. Prince Onew bagaikan buah apel yang jatuh dan dipanah dengan begitu mudahnya tanpa perlawanan. Kejadian ini sebetulnya telah ditunggu oleh sang ketua prajurit tingkat atas saat melihat kejadian yang pertama tadi.

Wuuuuusssss….

Panah api melesat menembus udara dengan kecepatan tinggi, terlepas dari busurnya. Sang ketua prajurit tingkat atas tersenyum puas saat anak panah itu melesat menuju tubuh Prince Onew yang melayang tak berdaya.

Jleb

Panah itu bersarang di sayap Dubu yang berusaha melindungi Prince Onew. Darah segar muncrat dari sobekan daging tempat menempelnya selaput sayap. Warna merah itu kontras dengan warna sisik Dubu yang seputih salju.

“DUBUUUUUUU…,” teriak Prince Onew dengan tubuh masih melayang di udara.

Anak panah kedua melesat dan kembali bersarang di sayap dubu yang berusaha melindungi Prince Onew. Darah kembali mucrat dan membuat sayap kanan dubu berwarna merah segar.

“DUUBBBUUUUUUU…,” air mata Prince Onew berhamburan di udara.

Dubu masih memaksakan untuk menyepakkan sayapnya untuk menolong Prince Onew. Panah ketiga kembali melesat, tapi Prince Onew bisa menangkisnya dengan ayunan pedangnya.

“Dubu kamu tidak apa-apa.”

“Panah seperti itu tidak akan bisa membunuhku.” Ujar Dubu, berusaha menahan rasa sakit setiap sayapnya dikepakkan.

Sang ketua prajurit tingkat atas itu mulai menyerang, melihat kondisi Dubu yang tidak menguntungkan. Adu pedang dari jarak jauh dan semburan api kembali terjadi. Prince Onew merasakan sakit yang sangat luar biasa saat melihat semangat Dubu untuk terus bertarung, meskipun ia tahu sakit yang dialami Dubu tidak main-main.

“Dubu, bisa kamu membawa tubuhku ke atasnya?”

“Baik.” Jawab dubu tegas.

Dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, Dubu kembali melakukan terbang akrobatnya seperti tadi. Namun kondisi sekarang jauh berbeda, semakin keras sayap dubu dikepakkan semakin banyak darah yang muncrat ke udara.

“Heh, Jurus yang kedua kalinya tidak akan mempan buatku.”

“FIRESTORM…!!!”

Tubuh Prince Onew terjun di atas sang ketua prajurit tingkat atas tersebut diikuti Dubu. Badai api yang sangat besar langsung menyeruak dari atas, tidak seperti tadi yang berupa salju. Api yang dihasilkan dari Firestorm  berupa silinder-silinder kecil seperti sinar laser dalam jumlah yang besar.

Firestorm langsung menerpa tubuh sang ketua prajurit tingkat atas dan naganya. Tubuh mereka langsung menghitam karena seluruh sel-sel tubuhnya rusak seketika dan tubuhnya mengering seperti jasad yang telah diawetkan bertahun-tahun. Firestorm dengan cepat membuat sel-sel tubuh mengering, kehilangan cairannya. Dan jasad sang ketua prajurit tingkat atas itu pun terjun bebas menuju tanah.

Tubuh Prince Onew langsung diterima oleh Dubu, meskipun luka di sayap Dubu semakin parah.

“Dubu, turun! Aku akan mengobati lukamu.” Perintah Prince Onew.

Dubu mengikuti perintah dari penunggangnya. Dia mencari tempat yang aman. Dubu mendarat di sebuah tepian danau. Prince Onew langsung memeriksa keadaan luka Dubu. Dua buah anak panah bersarang di sayap kanannya. Darah yang sejak dari tadi terus keluar kini mulai mengering.

“Dubu, aku akan menarik keluar anak panahnya. Tolong ditahan ya!”

Dubu mengangguk.

Pertama prince Onew berusaha menghentikan pendarahannya dan menutup pembuluh-pembuluh darah yang sobek dengan kekuatan api penyembuhnya. Api itu keluar dari tangan Prince Onew dengan cahaya yang lembut. Kemudian Prince Onew mematahkan ekor dari kedua anak panah itu.

“Aku akan mulai menariknya,” Prince Onew memegang anak panah itu kuat-kuat.

“1… 2… 3…”

SREETTTT..

Satu anak panah berhasil di keluarkan, namun pendarahan kembali terjadi. Darah segar muncrat dari pembuluh darah yang pecah kembali. Dubu pun meraung kesakitan, bahkan semburan api sempat keluar dari mulutnya.

Prince Onew kembali mengulangi dan berhasil mencabut anak panah yang kedua. Setelah anak panah itu tercabut, prince Onew kembali menyalurkan api penyembuhnya untuk menutup luka Dubu. Dan luka itu perlahan-lahan mulai menutup.

“Maaf…, karena aku kurang waspada tadi.” Sesal Prince Onew saat menyeka buliran keringat di dahinya.

$$$

To Be Continued >>> PART-5

*Ra’zac, Eragon : Nama itu diambil dari buku ERAGON

45 responses to “5 Prisoner (Part-4)

  1. huaahh.. mkin kren aj ni FF…

    mau komen tpi apa y??
    smua komenku udah kduluan ama yg d ats..
    bcany telat sihhh..
    appa y………?????????
    aaaaa……….
    mmmm………….
    zzzzzzzzzzzz…….. *plak

    dah ahh klamaan mkir aku bca part slanjutnya ajh..
    hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s