You and I

Author : Park Jihoon

Cast : Choi Minho, Shin Mishun (Punya Shin Dini)

Lenght : OneShot

Genre : Romance, Agst.

Note : FF terinspirasi dari MV dan lagunya Park Bom, You and I. Mungkin ada beberapa scene yang sama dengan MVnya, namun secara keseluruhan ini hasil olahan otak Jihoon.

Selamat Membaca…

$$$

Angin musim semi berhembus kencang, membuat rumput-rumput bergoyang serempak. Biji-biji rumput beterbangan dibawa sang nasib, dan jatuh di tempat dimana nasib itu akan merawatnya dengan penuh kasih. Dedaunan bergemerisik tak berirama saat begesekan. Cahaya matahari yang bersinar terang membuat udara begitu hangat dan nyaman. Langit biru begitu cerah, dihias gumpalan awan seperti kapas putih yang suci.

“Oppa, bagaimana keadaan mu sekarang. Apakah oppa sekarang bahagia di sana?”

Shin Mishun membiarkan tubuhnya diterpa oleh hangatnya angin musim semi. Dia kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memejamkan kedua matanya, berusaha menghayati setiap pesan yang ingin disampaikan oleh alam. Bisikan angin lembut terdengar di telinganya dan suara riuh rerumputan yang bergoyang diterpa angin membuat hati Mishun terasa damai.

“Oppa, sekarang aku ada di padang rumput kita. Tempat yang selalu kita kunjungin saat musim semi tiba. Oppa… udara di sini begitu hangat, nyaman, dan bener-bener damai. Ingat kah oppa! Saat dulu oppa memberiku bunga rumput? Bunga yang paling indah dari semua bunga yang ada di dunia ini. Oppa, aku sangat merindukanmu.”

$$$

FLASH BACK

Tok.. tok..tok…

“Selamat pagi.”

Kepala seorang yeoja muncul dari balik pintu, wajahnya terlihat begitu ceria. Yeoja itu berambut panjang, berwana coklat dan berponi, sangat serasi dengan kulit wajahnya yang putih. Sebuah lesung pipinya terbentuk saat senyum manisnya mengembang. Membuatnya terlihat begitu cantik.

“Selamat pagi, Mishun-ah.”

Seorang namja dengan paras menawan menjawab salam Shin Mishun. Namja itu hanya bisa menyunggingkan senyumannya tanpa bisa beranjak dari tempat tidurnya yang dibalut dengan seprai berwarna putih. Di ujung tempat tidurnya tertulis sebuah nama, Choi Minho dan beberapa identitas lainnya termasuk tanggal ia masuk ke rumah sakit ini. Dia menutup sebuah buku yang berada dipangkuannya dan meletakkannya di atas meja di samping tempat tidurya.  Shin Mishun kemudian masuk dan duduk di samping namja itu.

“Bagaimana keadaan Oppa? Pasti suster-suster di sini senang merawat oppa ku yang ganteng ini. Aku lihat mereka selalu menggoda oppa, membuatku ingin membunuhnya.” Ujar Mishun sambil mengerutkan hidungnya.

“Chagi…, kamu bisa aja. Bukannya hatiku ini sudah di penuhin oleh mu.” Minho mencubit hidung Mishun.

“Yeee…, oppa akhirnya memanggilku chagi.”

“Ralat ah…, tadi aku…”

“Waahh… enggak bisa. Sesuatu yang telah keluar dari mulut oppa nggak boleh ditarik lagi. Chagi…, wah aku suka panggilan itu.” Senyum Shin Mishun mengembang lebar.

Minho juga ikut menyunggingkan senyumannya. Dulu dia berjanji untuk menjaga agar senyum itu selalu menghias wajah yeojachingunya. Namun sejak kangker tulang membuatnya harus mendekam di rumah sakit, ia pesimis untuk memenuhi janji yang dibuatnya sendiri itu. Bahkan bukan senyuman yang ia berikan melainkan sebuah kesedihan, meskipun Mishun selalu bilang dia akan menerima apapun kondisi Minho.

“Semalaman aku enggak bisa tidur,” ujar Minho dengan suara lemah.

Mishun kaget, dia baru menyadari lingkaran hitam di mata namjachingunya itu semakin membesar. Mata yang dulu terlihat begitu berkharisma, sekarang terlihat begitu lelah. Kemudian Mishun mendekatkan posisi duduknya dan menggenggam tangan minho.

“Wae oppa?”

“Aku takut…,” Minho tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku takut kalo aku memejamkan mataku, aku tidak akan bisa bangun lagi.” Minho tertunduk, berusaha menyembunyikan buliran air matanya yang berusaha keluar.

“Oppa…, apa yang oppa takutkan. Aku yakin oppa akan sembuh kok. Tolong jangan katakan itu lagi.”

Mishun merangkul kepala Minho dan merebahkan di pundaknnya. Ia berusaha untuk menjadi seseorang yang kuat agar namjachingunya itu bisa bersandar dibahunya saat ini. Minho berusaha agar air matanya tidak tumpah di depan yeoja yang ia cintai.

“Kalau oppa tidak istirahat, hal itu akan semakin memperburuk kondisi oppa. Kalo begitu entar malam aku akan menemani oppa disini, agar oppa bisa tidur dengan nyenyak. Tidak takut tentang apapun lagi.”

Minho hanya bisa diam. Dia merasa telah menambah beban untuk yeojachingunya. Ingin menolaknya, tapi dia benar-benar katakutan tidur di rumah sakit sendirian.

“Oppa, bagaimana kalo kita main game. Aku ingin balas dendam sama oppa karena telah mempermalukanku di depan suster-suster genit kemaren.” Misun berusaha mengalihkan suasana.

“Kamu yakin bisa mengalahkanku?” Minho mengangkat kepalanya dari bahu Mishun.

“Pasti.”

Kemudian mereka pun larut dalam permainan game. Mishun memindahkan PS dan LCD TV 20inch dari kamar minho ke ruang VIP rumah sakit tempat minho dirawat, atas izin dokter yang menanganinya agar Minho tidak terlalu jenuh menjalani kehidupannya di dalam kamar yang serba putih itu. Sesekali senyuman mengembang di bibir keduanya. Bahkan teriakan “yeah” kemenangan membuat ruangan itu gaduh. Mishun sesekali mengganggu konsentrasi Minho dengan menendangkan kakinya.

“Yeah…, aku menang lagi. Mishun-ah, kau memang tidak berbakat main game.”

“Yahh, bukannya aku tidak berbakat. Tapi oppa terlalu pintar.” Mishun membela diri.

“Sama aja. Hehehe.”

“Udah ah, aku enggak mau main lagi,” rajuk Mishun. “Kenapa sih oppa enggak mau ngalah satu kali aja? kan biar aku senang.”

“Hahaha…, aku enggak mau jadi orang yang kalah. Bukannya dalam setiap permainan itu harus sungguh-sunggu. Kalo aku mengalah berarti aku meremehkan mu.” Miho mengacak-ngacak rambut Mishun.

Mishun hanya mengembungkan kedua pipinya.

“Oh ya, oppa. Kita jalan-jalan yuk, cuaca di luar sangat bagus.” Misun berdiri dari tempat duduknya.

“Tapi sebentar lagi dokter akan datang.”

“Tenang aja, cuman sebentar kok. Kita cuma pergi ke atap rumah sakit ini dan melihat langit.”

Misun kemudian menyiapkan sebuah kursi roda dan selimut yang tidak terlalu tebal untuk melindungi tubuh Minho dari terpaan angin.  Kanker tulang membuat kaki Minho dari waktu ke waktu semakin lemah, sehingga membuatnya semakin susah untuk berjalan. Mishun membantu Minho untuk duduk di kursi roda itu dan melilitkan selimut itu sebelum mendorongnya ke luar ruangannya.

“Ahhhh… oppa lihatlah! Langitnya begitu bersih, biru. Anginnya…. heeemmmmm aroma musim seminya terasa hangat.” Ujar Mishun dengan memejamkan matanya saat tiba di atas atap gedung itu.

Mishun terus mendorong kursi roda itu hingga sampai di pembatas pinggir gedung yang tidak terlalu tinggi. Sehingga mereka bisa melihat kebawah dengan sangat jelas.

Minho mendongakkan kepalanya, melihat langit yang begitu biru. Sesekali segumpalan awan putih melintas dibawa sang angin. Segerombolan burung juga ikut melintas. Minho dan Mishun terlihat larut dalam pikirannya masing-masing.

“Mishun-ah, suasana di padang rumput kita pasti jauh lebih indah ya?” Tanya Minho memecah kebisuan.

“Yah…, pasti.” Jawab Minshun. “Tahun depan, aku yakin kita bisa ke sana berdua. Dan aku minta oppa mau ngasih aku bunga rumput lagi seperti saat kita pertama kali kesana.”

“Hahaha… kamu masih mengingat saat itu.” Pandangan Minho tertuju ke sekumpulan orang di bawah.

“Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kejadian itu. Oppa membawaku ke padang rumput yang paling indah yang pernah aku lihat. Dan oppa menembakku dengan sebatang bunga rumput…,” ujar Mishun mengenang kejadian beberapa tahun silam.

“Yah… bunga rumput. Bunga yang memiliki keindahan yang sangat luar biasa, tapi sayang kebanyakan orang tidak bisa melihat keindahan itu. Namun rumput akan tetap menampakkan bunganya meskipun seluruh orang di dunia ini mengacuhkan keberadaannya.”

Kini mereka kembali dengan pikirannya masing-masing. Mishun berusaha kembali mengumpulkan beberapa potongan kenangannya di masa lalunya, kenangan yang begitu indah. Ketenangan langit biru membantu Mishun merangkai kenangan demi kenangan. Sedangkan Minho, melihat ke sekumpulan orang-orang yang berdiri di depan sebuah gereja yang terletak tepat di depan rumah sakit. Pikirannya jauh melambung ke masa depan.

“Mishun-ah, bisakah kita menikah?” Tanya Minho lirih.

Mishun tersentak kaget saat mendengar pertanyaan yang keluar tiba-tiba dari mulut namjachingunya. Mishun tidak bisa menjawabnya langsung, meskipun hatinya langsung bilang “bisa” namun kata itu hanya sampai di kerongkongannya. Mishun kemudian menyadari darimana pertanyaan itu muncul saat dia melihat ke sekumpulan orang di depan gereja yang sedang menghadiri upacara pernikahan.

“Oppa, kita pasti akan menikah.” Ujar Mishun lirih.

Tangan Minho begitu erat menggenggam tangan yoejachingunya. Misun kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah minho sehingga ia bisa melihat apa yang sedang diperhatikan Minho. Pipi keduanya saling bersentuhan. Dan Mishun melingkarkan tangan yang satunya di pundak Minho, berusaha memberikan sebuah kehangatan dan kelembutannya.

“Mishun-ah, seandainya kamu meninggalkanku…”

“Oppa…,” Mishun menyela perkataan Minho. “Oppa, tolong jangan katakan itu lagi. Udah aku katakan  beberapa kali bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan oppa.”

Chu…, Mishun mendekatkan bibirnya ke pipi Minho. Berusaha untuk meyakinkan dan menguatkkan perasaan namjachingunya. Minho terdiam, tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya yang tadi.

“Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan oppa. Arasseo!” Mishun kembali mengingatkan. “Sepertinya dokter telah menunggu kita kelamaan, sebaiknya kita kembali ke dalam.”

“Ne…,” Minho mengangguk.

Angin musim semi berhembus hangat dan kencang, membawa setiap kenangan menjadi sebuah rahasia di masa depan. Cahaya hangat matahari akan selalu memberikan sebuah nyawa kehidupan. Dan cinta, akan selalu terjaga dengan adanya kepercayaan dan saling pengertian dari sang pencinta.

$$$

“Yeoboseo…,” Mishun menyapa seseorang di seberang telepon.

Tidak lama kemudian orang yang berada di sebarang telepon itu pun menjawab.

“Oppa, miahe besok aku tidak bisa ke rumah sakit. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Mungkin aku akan menjenguk oppa malam harinya. Oppa harus jaga kesehatan dan memetahui semua perkataan dokter, arasseo!”

“Ne, arasseo,” jawab Minho dari seberang telepon.

Kemudian Mishun memutus teleponnya. Dia kemudian merebahkan tubunya di tempat tidurnya.

“Besok ulang tahu Minho oppa. Aku akan memberikan sebuah kejutan yang tidak pernah disangkanya.” Mishun tersenyum sendirian memikirkan rencananya.

Mishun berusaha memejamkan matanya, untuk mengembalikan staminanya agar besok bisa menyiapkan semuanya dengan baik. Namun kantuk yang ditunggunya pun tak kunjung datang meskipun dia telah menutup matanya dengan selimutnya.

“Kenapa jantungku berdetak kencang? Perasaanku tidak enak. Atau ini hanya perasaanku yang terlalu bahagia untuk memberikan kejutan besok buat oppa.”

$$$

“Ne, arasseo,” jawab Minho sebelum Mishun memutus teleponnya.

Minho meletakkan gagang teleponnya kembali. Dia kemudian menatap ke arah buku yang ada di pangkuannya. Di dalam buku itu ada sesosok gambar wajah seseorang yang sedang tersenyum, wajah Mishun.

“Chagi, mungkin seharusnya aku memang tidak ada di dunia ini. Dan seharusnya kamu memiliki sebuah kebahagiaan yang sejati dengan namja lainnya.” Minho membelai gambar itu.

Minho kemudian turun dari tempat tidurnya dan mengambil kursi rodanya. Dia kemudian keluar ruangannya meskipun tanpa sehelai selimut yang melindungi tubuhnya. Minho terus melajukan kursi rodanya hingga ke atap gedung rumah sakit. Angin musim semi masih terasa hangat dan bintang bertaburan memenuhi langit.

Minho menatap jauh ke depan, ke pembatas gedung yang tidak terlalu tinggi. Benaknya langsung di penuhi ajakan iblis.

“Jika aku mati, maka Mishun tidak akan lagi terbebani dengan keberadaanku. Dan dia akan bahagia dengan kehidupannya. Seharusnya aku memang tidak ada.” Minho menguatkan hatinya untuk mengikuti hasutan sang iblis.

Tidak diperlukan waktu yang cukup lama untuk meyakinkan hatinya atas hasutan iblis. Bayangan Mishun sempat membuatnya ragu, namun bayangan penyakitnya kembali membuatnya memilih untuk mengikuti hasutan sang iblis. Sebuah bulir hangat meleleh dari ujung mata Minho dan jatuh dipangkuannya.

“Chagi…, Minahe.”

Minho kemudian melajukan kursi rodanya dengan kencang ke arah pinggir gedung. Angin malam menerpa tubuh Minho semakin kencang. Airmatanya semakin deras mengalir dan berhamburan diterbangkan angin. Dan,

BRAAAKKKK…

Terdengar suara kursi roda jatuh menghantam tanah, memecah kesunyian malam. Beberapa saat kemudian terdengar suara histeris dari bawah yang mengundang keramaian.

“Hiks…Mishun-ah, kenapa aku begitu lemah. Keberanian untuk mengakhiri hidupku pun aku tidak punya, bayangan mu membuatku tidak memiliki keberanian. Mishun-ah…mianhe.” Tangis Minho pun pecah.

Minho berhasil menjatuhkan badannya saat kursi rodanya hampir jatuh dari atas gedung. Bayangan Mishun membuatnya mengurungkan niatnya. Senyuman Mishun yang selalu ingin dijaganya mengalahkan hasutan sang iblis di detik-detik terakhir.

$$$

“Selamat malam oppa,” sapa Mishun saat memasuki kamar rawat Minho.

“Hehehe…, selamat malam.” Jawab Minho dengan senyuman.

“Ada apa dengan oppa yang ganteng ini. Tumben hari ini terlihat bahagia?” Mishun meletakkan setangkai mawar di vas bunga di samping tempat tidur Minho.

“Enggak ada apa-apa, tapi hatiku sekarang merasakan ada kebahagiaan yang aneh. Tidak tahu penyebabnya.”

“Baguslah kalau begitu. Gimana kalo kita ke atap gedung, menikmati langit malam.” Ajak Mishun.

“Ayo…!”

Beberapa saat kemudian mereka tiba di atap gedung. Saat membuka pintu, Minho terperanjat kaget. Atap kedung telah disulap mejadi sebuat tempat yang romantis untuk candlelight diner. Beberapa lilin menyala di sekitar meja makan yang telah dihias begitu cantiknya. Semilir angin malam membuat api lilin bergoyang begitu gemulainya.

“Minho oppa, SaengIl chukahamnida!!!” Kata Mishun.

Tanpa terasa air mata Minho kembali meleleh. Dadanya terasa di penuhi dengan kebahagiaan yang tiada tara.

“Gumawo… chagiya.” Miho menundukkan kepalnya, berusaha menyembuyikan airmatanya.

“Oppa kenapa menangis?”

Mishun mengangkat kepala Minho dan berusaha menghapus air mata Minho dengan kedua ibu jarinya.

“Air mata ini tidak boleh keluar di hari bahagia oppa.” Ujar Mishun.

“Mianhe, ini karena aku terlalu bahagia. Gumawo chagiya.”

“Ne, Oppa tidak biasanya memanggilku dengan chagiya. Malam ini aja udah beberapa kali, aku hampir lupa untuk menghitungnya.” Mishun berusaha mencairkan suasana.

“Hehehe…,” sebuah senyuman mengembang di wajah Minho.

Kemudian mereka mendekati meja yang telah dihias oleh Mishun. Di atas meja telah terpajang sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya yang menyala. Kemudian Mishun menyanyikan lagu ulang tahun.

“Oppa, make a wish dulu sebelum meniupnya.”

Minho menangkupkan kedua tangan di dadanya dan memejamkan matanya. Sunyi sejenak. Dan,

Fuuuhhh…

Sebuah kejutan kecil dari sang kekasih akan selalu memberikan kebahagian yang tak akan ternilai. Kebahagian yang hanya bisa tersimpan dalam sebuah kenangan untuk masa depan. Dan waktu pun tak akan mampu untuk menghapusnya. Meskipun jasad telah lapuk ditelan bumi.

Beberapa minggu setelah itu, penyakit Minho semakin parah dan merenggut nyawanya. Namun keradaan Mishun di sisinya membuatnya bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Senyuman yang tak akan bisa dimengerti oleh siapa pun.

FLASH BACK END

$$$

Mishun kembali menghirup udara musim semi dalam-dalam hingga mengisi seluruh paru-parunya. Kedua bola matanya ia buka perlahan, pemandangan padang rumput hijau membuat perasaannya begitu damai. Ia merasakan kehadiran Minho di sampingnya.

“Oppa pasti bahagia di sana.” Batin Mishun dan senyuman terlukis di wajahnya.

Kemudian Mishun bangkit dan menyusuri padang rumput, mengumpulkan setiap kenangan yang sempat dilaluinya bersama Minho. Dia sempat berhenti dan memetik sebuah bunga rumput yang sama dengan yang diberikan Minho dulu. Dan saat tiba di sebuah pohon yang tak berdaun, dia memutuskan untuk duduk istirahat. Mishun menyandarkan tubuhnya di batang pohon dan memandang jauh ke angkasa luas.

“Oppa saranghe…”

END.

Be A Good Reader

NB : Miahe jika banyak typos coz belum terlalu di cek ulang, semoga tidak mengurangi kenyamanan untuk membaca. Setelah publish akan di cek ulang lagi, jika ada kesalahan akan di edit ulang… Dasar author aneh. Mian…

57 responses to “You and I

  1. uhuhuhuu… tiap ending kalo ada yg mati pasti bawaannya cediih😦

    bahasamu bagus skali, oppa. aku nya tergiring buat dpt feel crita ini. walopun udah ada visualisasinya di mv mba bom, tapi tetep aja lebih asik kalo baca ^^

  2. hiks hiks, baca ff ini sama sedihnya kayak nonton mv you and i

    nonton mv-nya aku sampe nangis lho *pamer😛
    kanker tulang ada ya ?? baru tau sayah😀

    nice ff, abaaaaang
    buat lagi yang lebih menyedihkan ^^

    • Kanker tulang… ada… kemaren aku juga baru tahu…kekekekeke
      kalo aku ngelihat MVnya malah makin jatuh cinta ama park Bom… coz di situ dia nggak pake make up tebal kan??? membuat kecantikannya terpancar…. kekekekekeke
      gumawo

  3. T^T
    sesek oppa sesek T^T
    aku ga mau klo Minho meninggal karna sakit ga mau T^T
    oppa
    aku beneran nangis T^T
    walo hanya cerita fiksi
    tp aku ngerasa kyk beneran
    apa terlalu kebawa feel ya
    apa aku terlalu cengeng
    apa aku terlalu berlebihan
    tp aku emang kek gini
    nnton apa gt yg sedih atau bikin iba jg bisa nangis
    *malah curcol /plak

    5star buat cerita yg ini oppa!
    sukses buat aku nangis T^T

    • hahahaha… nangis ya…
      aku juga gitu … apa lagi lihat film India yang bercerita ttg ibu sprt kabikushi…itu… udah deh… jadi nangis bombay…kekekekeeke tapi sekarang dah enggak pernah nonton flm india lagi… #PLAK

  4. film india
    yg trakhir aku suka tuh Slumdog Millionaire (sukses buat aku nangis)
    3idiot (sukses buat aku ngakak guling2)
    ama yg di maenin ama Sahrul Khan *entah apa judulnya aku lupa tp smpet tayang di SCT* waktu ini
    kkk~

  5. aku suka smua film dr negara mananapun oppa
    yg ptg genrenya aku suka
    trus ada engsubnya minimal *klo film luar
    klo genrenya ga sesuai ama selera hati
    ya ga bakal ku tonton😄 /plak

  6. hiks hiks..
    aku suka banget sma ni lagu..
    MVnya juga..
    apalagi park bom cantik banget disitu <– ga nyambung

    nice FF..

  7. huaaaa…,
    oppa kamu harus tanggung jawab, aku udah ngabisin sekotak tisu *lebay* gara2 baca ni FF.
    ayo oppa tanggung jawab!!

  8. wow lumayan nyesek nih#kebohongan publik
    heheheh bagus oppa lanjuttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s