My Imagination – My Prince

Author : Park Jihoon

Cast : Lee Kikwang (AJ), Han Seunghi

Genre : Romace Komedi

Lenght : OneShot

Note : Ini adalah bagian dari My Imagination, tapi Foto dikirim oleh reader dengan namkor Han Seunghi (yang merasa punya nama itu silahkan mengacungkan tangan dan kirim magnum OK!).

Selamat Membaca…

$$$

“Tuan muda, nyonya barusan telepon katanya beliau sekarang sedang berada di Pusan, mungkin besok pagi beliau kembali ke Seoul.”

“Huh…, anak selalu jadi nomer dua dibandingkan dengan pekerjaan,” gumam sang tuan muda kesal, Lee Kikwang.

Kemudian dia berlalu meninggalkan si kepala pelayan yang masih berdiri di depan pintu. Namun tak berselang lama si kepala pelayan itu berjalan di belakangnya.

“Ada urusan apa umma di Pusan? Biasanya dia langsung ke Seoul setelah pulang dari Amerika.”

“Beliau bilang ada teman dekatnya yang mengalami kecelakaan dan meninggal, jadi beliau ingin melayat ke sana,” jawab kepala pelayan.

“Oh ya Ahjussi,” Lee Kikwang menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah si kepala pelayan. “Tolong siapkan air hangat ya. Aku mau berendam, tubuhku rasanya capek banget habis latihan.”

“Baik tuan muda.”

“Satu lagi, tolong yang kemaren itu jangan dilaporkan ke umma. Aku enggak mau dia mencarikanku asisten lagi.”

“Ne… arasso.” Kepala pelayan itu membungkuk sebelum meninggalkan Kikwang.

Senja jingga merekah di langit sore kota Seoul, membuat gedung-gedung tinggi yang bercat putih berubah jingga diterpa cahaya sore. Dan membuat kota Seoul mejadi kota jingga dalam waktu singkat. Angin awal musim semi masih menyisakan aroma musim dingin, sehingga membuat orang-orang enggan untuk menanggalkan baju hangatnya.

$$$

Pagi-pagi semua penghuni rumah mewah itu berkumpul di ruang tamu. Cahaya matahari yang masuk melalui kisi-kisi jendela membuat suasana di ruangan itu hangat dan nyaman. Semua pelayan, dengan seragam rapi, berdiri sigap menghadap pada nyonya sang pemilik rumah yang sedang duduk di atas sofa, sangat elegan. Dan di sampingnya duduk seorang yeoja dengan rambut panjang dikepang dua dan baju hangatnya masih menempel di badannya. Dia menundukkan kepalanya dan sesekali mengedarkan pandangannya ke para pelayan di depannya.

“Nyonya, sebentar lagi tuan muda akan turun.” Sang kepala pelayan memberi laporan setelah tadi sempat disuruh untuk membangunkan Lee Kikwang, sang tuan muda.

“Aish…, anak bandel itu selalu bangun siang,” gumam sang nyonya. “Terimakasih kapala pelayan Kim.”

Kepala pelayan itu kembali membungkuk sebelum bergabung dengan pelayan yang lainnya. Nyonya Lee, kembali mengambil gelas tehnya dan menyeruputnya dalam-dalam. Dan kehangatan tehnya langsung menyebar dalam tubuhnya.

“Dunia ini benar-benar indah… hehehe. Bukan kah begitu Seunghi-ah?” Tanya sang nyonya pada yoeja yang duduk di sampingnya dengan mempertahankan cara duduknya yang elegan.

“Ne…,” jawab Han Seunghi dengan suara malu-malu.

Beberapa saat kemudian sang tuan muda, Kikwang, turun dengan menggunakan baju yang telah rapi. Bekas air yang masih menempel di kulitnya membuat namja yang satu itu terlihat begitu segar. Namun air mukanya berubah kaget saat melihat ada seorang yoeja dengan pakaian yang menurutnya ‘enggak banget’ duduk tepat di samping ummanya.

“Siapa dia?”

Nyoya Lee kemudian bangkit dari duduknya dan menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat anak semata wayangnya. Kemudian Nyonya Lee mendekati Kikwang yang masih tertegun melihat keberadaan gadis asing itu, dan memeluk anaknya penuh dengan kasih sayang.

“AJ, kamu tambah cakep aja, umma jadi naksir ama kamu… hehehe,” ujar Nyonya Lee sambil mencubit kedua pipi anaknya itu.

Han Seunghi yang sempat melihat momen itu hanya bisa menyunggingkan senyumannya. Dia terlihat geli dengan kelakuan Nyonya Lee terhadap anaknya.

“Umma…, aku sudah gede. Kenapa umma selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Aku kan malu, apa lagi di depan orang banyak begini.” Kikwang menurunkan tangan ummanya dari ke dua pipinya. “Siapa dia?”

“Ya ampun, umma hampir lupa,” Nyoya Lee langsung melihat ke arah Han Seunghi duduk. Kemudian Nyonya Lee kembali melihat anaknya, “ini pasti gara-gara ketampanan mu melebihi mendiang ayahmu yang dulu membuat umma kelepek-kelepek, hahahaha.”

Kikwang tak menanggapi perkataan ummanya, dia hanya mengembungkan kedua pipinya. Nyoya Lee kemudian mendekati Han Seunghi dan memintannya untuk berdiri.

“Perkenalkan… ini adalah calon istri anakku Lee Kikwang, namanya Han Seunghi.”

“Mwo…?”

Kikwang sangat kaget mendengar perkataan ummanya, dia seperti mendengar suara petir di siang bolong. Han Seunghi pun tak kalah kagetnya, dia hanya tertegun tanpa bisa protes. Para pelayan wanita saling tatap, kaget dengan berita mendadak yang diterima dari nyonya besarnya.

“Hahahaha… kenapa kalian pada kaget begitu? Seperti melihat hantu saja. Mian… yang tadi itu hanya bercanda, hehehe.” Nyoya Lee terlihat puas saat melihat wajah anaknya yang super kaget. “Sebenarnya Han Seunghi ini adalah anak dari sahabat baikku yang meninggal dalam kecelakaan pesawat kemaren. Dia tidak memiliki sanak saudara, sehingga aku memutuskan untuk merawatnya sebelum dia mengambil alih kembali perusahaan orang tuanya. Untuk saat ini perusahaan orang tuanya akan ditangani oleh orang yang sangat loyal dan layak untuk dipercaya. Tapi aku akan tetap mengawasinya.”

Kikwang masih kaget dengan berita aneh yang dibawa ummanya. Enggak ada pemberitahuan apapun sebelumnya, tahu-tahu dia membawa orang asing untuk tinggal seatap dengannya.

“Berhubung Han Seunghi tidak mau tinggal di rumah ini dengan gratis, maka aku memutuskan bahwa dia akan menjadi asisten Lee Kikwang mulai besok. Dan mengenai tugasnya aku minta pada kepala pelayan Kim untuk mengajari Han Seunghi.”

“Baik Nyonya,” jawab kepala pelayan Kim.

“Anio…, aku tidak mau.” Kata Kikwang setelah sadar dari kekagetannya. “Aku tidak mau menerima dia menjadi asistenku, apa lagi dia seorang yeoja yang selera berpakaiannya enggak banget.”

Kikwang melihat ke arah Han Seunghi dengan tatapan meremehkan.

“Tenang…, meskipun dia yeoja tapi dia jago taekwondo loh,” kata Nyonya Lee lirih. “Aku juga tidak akan mencarikan kamu asisten namja lagi karena ujung-ujungnya kamu akan mengajaknya berkelahi dan membuatnya babak belur lagi seperti yang sebelumnya.”

“Siapa yang bilang mau minta asisten? Aku tidak mau…, aku lebih suka hidup bebas.”

“Ayolah sayang… dia juga gadis cantikkan, Hehehe.”

“Umma…”

“Nggak ada protes lagi, pokoknya dia akan menjadi asisten kamu mulai besok. Oh ya, menurut kesepakatan ku dengan Han Seunghi, dia akan menjadi asisten mu kecuali di sekolah, Ok. Dan aku telah meminta asistenku untuk memindahkan sekolah Han Seunghi ke sekolahmu. Jadi umma harap kamu bisa membantunya entar di sekolah.”

Kikwang semakin terlihat tidak senang dengan keberadaan yeoja di depannya itu. “Lihat saja entar, kamu tidak akan betah hidup di rumah ini,” batin Kikwang.

“Seunghi-ah…, kamu sudah tahu kan kalo anakku ini nakalnya minta ampun? Jadi kamu harus sabar ya…,” ujar nyonya Lee.

“Ne…, Nyonya Lee.”

“Aduhhh… jangan panggil nyonya dong, panggil aja Miss Lee arasseo!”

“Miss Lee??? Sekalian aja dipanggil miss univers, panggillan miss itu tidak cocok buat orang yang sudah berumur apa lagi sudah berkeriput,” sulut Kikwang.

“Aish… kamu ini,” Nyonya Lee memonyongkan bibir ke arah anaknya. Kemudian dia kembali menatap ke wajah Seunghi, “aku harap kamu akan betah di sini.”

Kapala pelayan Kim langsung memandu Han Seunghi ke kamarnya. Dan para pelayan yang lainnya langsung bubar setelah mereka saling berkenalan dengan Han seunghi. Mata Kikwang mengikuti langkah Han Seunghi bersama kepala pelayan Kim sampai hilang di ujung tangga lantai dua.

“Gimana? Dia cantik kan?” bisik nyonya Lee di telinga Kikwang.

“Anio… dia jelek banget,” jawab Kikwang ketus.

“Aaahhh… kamu malu-malu ya, hehehe. Wajahmu merah tuh,” Nyonya Lee semakin gencar menggoda anaknya. “Oh ya, entar malam aku akan berangkat lagi ke Amerika hingga akhir bulan ini, jadi umma minta kamu jaga dia baik-baik ya!”

“Enggak mau.”

“Mencintainya juga enggak apa-apa, umma akan mengijinkannya kok.”

“Jangan harap.”

“Aihhh… kalo kamu ngambek umma makin gemes, hahahaha.”

Nyonya Lee meninggalkan Kikwang yang masih diam terpaku, dia makin kesal dengan keberadaan Han Seunghi. Dan dia telah bertekat untuk membuat gadis asing itu secepat mungkin hilang dari kehidupannya.

“Oh ya…, kalo kamu mau menjadikannya istri juga enggak apa-apa kok,” ujar Nyonya Lee dari lantai dua.

“TIDAK AKAN PERNAH.”

$$$

Malam harinya

Tok…Tok…Tok…

“Asisten…, kamu udah tidur?”

Kikwang mengetok pintu kamar Seunghi. Dan beberapa saat kemudian muncul wajah seorang yeoja yang bagitu polos hingga membuat Kikwang tercengang sejenak.

“Ada apa? Malam-malam ngetok pintu orang, ngantuk tahu.” Ujar Seunghi kesal.

“Aku belum ngantuk, buatin susu!”

Mendengar nada suara Seunghi, nada bicara Kikwang kembali naik. Seunghi menatap wajah Kikwang sebelum berkata, “maaf tuan muda, sekarang sudah malam. Dan menurut kesepakatan, kerjaku dimulai hari esok bukan malam ini.”

“Terserah aku dong, kamu kan asisten ku.” Nada Kikwang semakin meninggi.

“Iya… tapi mulai besok.”

“Mulai sekarang!”

“Besok…,” Seunghi mulai merasa biacara dengan tembok.

“Kalo aku bilang sekarang ya sekarang.”

KLEK…, Seunghi menutup pintu tepat di depan wajah Kikwang yang sedang merah padam karena permintaannya ditolak.

“Maaf tuan muda yang terhormat, sekarang sudah malam dan aku juga ngantuk. Aku kerja sebagai asistenmu itu mulai besok pagi. Selamat malam,” ujar Seunghi dari balik pintu.

“Yah… kamu berani. Kamu akan rasakan balasannya besok.”

Tidak ada jawaban dari Seunghi. Kemudian Kikwang meninggalkan kamar Seunghi dengan amarah yang memuncak. Baru sekarang dia bertemu dengan orang yang pertama kali menolak permintaannya. Dan dia seorang yeoja.

$$$

Matahari sudah tinggi ketika Kikwang bangun dari tidurnya. Semalam dia sulit untuk tidur karena merasa kesal pada seorang yeoja yang dengan beraninya menolak permintaannya. Kepala pelayan Kim saja tak pernah sekalipun menolak permintaannnya. Kikwang masih merasa matanya perih seperti ada yang mengganjal.

“Sialan, ini gara-gara yeoja asing itu. Hari ini kamu akan membalas semua perlakuanmu yang tadi malam,” gumam Kikwang sebelum beranjak dari tempat tidurnya.

Kikwang langsung bangun dan menuju ke kamar mandi. Dan seperti biasa, semua kebutuhannya untuk mandi sudah tersedia di tempat biasanya bahkan seragam sekolahnya pun sudah tersedia dengan rapi. Setelah selesai mandi dia kemudian langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan. Di sana telah menunggu Han Seunghi yang telah rapi duduk sambil menyantap sarapannya.

“Hei… asisten! Suruh siapa kamu sarapan duluan?” Ujar Kikwang

Han Seunghi menatap tepat di mata Kikwang, seolah-olah ingin menantangnya. Kikwang semakin tidak senang melihat tingkahnya.

“Silakan tuan muda duduk terlabih dahulu,” Seunghi mengulurkan tangannya, menuggu Kikwang duduk. Setelah Kikwang duduk dengan raut muka ditekuk aneh, dia melanjutkan ucapannya, “semua pekerjaan sebagai asisten di pagi hari telah aku lakukan, mulai dari menyiapkan peralatan mandi, baju seragam dan sarapan. Dan tidak ada peraturannya kalo seorang asisten itu makan belakangan setelah tuan mudanya sarapan.”

“Jadi yang menyiapkan seragamku bukan kepala pelayan Kim?”

Kikwang menoleh ke arah pelayan Kim. Dan pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Oke, ada dua peraturan baru yang perlu kamu ketahui,” ujar Kikwang setelah sempat beberapa saat memutar otaknya. “Pertama, jangan panggil aku tuan muda tapi panggil aku prince! Kedua, mulai besok kamu sarapan tidak boleh mendahuluiku.”

Han Seunghi langsung membuka sebuah buku kecil dan mencatat apa yang dikatakan Kikwang barusan, meskipun dalam hatinya sempat ngedumel. Tapi dia kuatkan bahwa dia harus bisa melalui semua ini dengan baik.

“Oh ya satu lagi, kamu bisa nyupir?”

“Tidak,” Seunghi menggeleng.

“Mulai besok kamu harus belajar nyupir pada kepala pelayan Kim dan minggu depan kamu yang menyupir ke sekolah.”

“Tapi aku tidak punya SIM.”

“Hal itu gampang, bisa diurus oleh kepala pelayan Kim. Jika kamu gagal, kamu akan aku pecat.”

Han Seunghi kembali menuliskan sesuatu di dalam catatannya. Sedangkan Kikwang langsung menyantap sarapannya sambil sesekali mencuri pandang pada Seunghi. Dia merasa aneh, karena asisten sebelumya tak ada seorangpun yang menulis apa yang diperintahkannya. Mereka kemudian menikmati sarapannya tanpa ada satu katapun yang terucap.

$$$

Di sekolah…

Han Seunghi ditempatkan satu kelas dengan Kikwang, hingga membuat Kikwang kesal pada awalnya. Tapi pada akhirnya dia bisa menerima karena dengan begitu dia bisa membuat pembalasan pada Han Seunghi dengan mudah. Sedangkan Han Seunghi merasa kelas yang ditempati jauh dari nuansa kelas yang diharapkannya. Hampir semua siswa di kelas itu terlihat individualis, tidak akrab satu sama lainnya. Dan kelas itu diisi oleh siswa yang berasal dari kalangan elit.

Han Seunghi duduk di samping Kikwang, dan selama pelajaran dia tidak bisa berkonsentrasi penuh. Pengajarnya pun tak kalah seriusnya, tak ada candaan yang menyelingi pelajaran seperti yang dialaminya dulu dengan guru Lee yang menjadi guru favoritnya.

“Asisten…, temenin aku makan di kantin!” ujar Kikwang saat jam istirahat.

“Mianhe Kikwang-ssi, aku harus ke perpustakaan karena aku ingin mencari informasi tentang sekolah ini.”

“Mwo… kamu panggil aku Kikwang-ssi? Prince…. ingat sekali lagi PRINCE!”

Kikwang menekankan ucapannya pada kata ‘prince’. Dia merasa diremehkan oleh yeoja yang berada di hadapannya itu.

“Kesepakatannya, aku bukanlah asistenmu saat berada di sekolah. Arasseo!” Han Seunghi meninggalkan Kikwang dengan keterbengongannya.

“Ciiihh, Yaa…,” kata Kikwang kesal.

Namun Han Seunghi sudah meninggalkan ruang kelas. Kikwang semakin kesal hingga memukulkan tinjunya ke atas bangku dan menimbulkan bunyi keras yang mengagetkan siswa yang masih berada di dalam ruang kelas itu. Mereka hanya sepintas melihat ke arah Kikwang karena tidak mau berurusan dengannya. Berurusan dengan Kikwang sama saja dengan mendaftarkan diri untuk keluar dari sekolah itu.

$$$

Sesuai dengan perintah Kikwang, Han Seunghi menjalani latihan belajar mengemudi di sore hari bersama kepala pelayan Kim. Selain itu Kikwang juga selalu mencari alasan untuk membuat Seunghi melakukan sesuatu untuknya meskipun itu selalu dibuat-buatnya. Misalnya minta dibelikan makanan dan hal itu harus dilakukan Han Seunghi sendirian. Namun semuanya bisa dilakukan oleh Han Seunghi dengan baik, hingga membuat Kikwang memutar otak untuk mecari suatu pekerjaan yang tidak bisa di lakukan oleh Han Seunghi.

Pada hari ke tiga, Han Seunghi mengalami kecelakaan saat belajar mengemudi namun tidak menimbulkan cedera berat, hanya luka lecet. Kepala pelayan Kim memberi tahu Kikwang, yang pada saat itu sedang latihan Taekwondo melalui pesan singkat. Malam harinya, Kikwang langsung menuju ke kamar Han Seunghi untuk melihat keadaannya setelah pulang dari latihan. Terlihat sedikit gurat kehawatiran di wajahnya.

Tok… tok… tok…

“Ne…, sebentar.” Terdengar suara Seunghi dari dalam.

Beberapa saat kemudian muncul wajah seorang yeoja yang terlihat polos, membuat Kikwang kembali tercengang sejenak. Wajah yeoja itu menggunakan bando berbunga orange, hampir mirip dengan wajahnya yang terlihat kemerahan. Di pipi, tepatnya di bawah matanya terdapat sebuah luka gores yang telihat merah dan bagian pinggirnya lebam kebiruan.

“Ada apa?”

“Katanya kamu kecelakaan?”

“Kenapa? Tumben prince yang satu ini khawatir,” sindir Seunghi.

“Wajar dong, kamu kan asisten ku. Kalo kamu sakit, terus siapa yang mau menyiapkan semua yang aku butuhkan? Siapa yang akan membelikan aku makanan?”

“Ohh…, tenang aja aku enggak apa-apa kok. Semua tugas ku masih bisa aku jalankan dengan baik.”

“Tidak, aku harus memastikannya sendiri.” Kikwang menerobos masuk ke kamar Han Seunghi.

“Yah… siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamar yeoja.”

Han Seunghi berusaha melarang Kikwang, tapi dia seperti ngomong dengan batu. Kikwang kemudian duduk di tepi tepat tidur Han Seunghi.

“Yah… prince harus keluar dari kamar ku.”

“Kamar mu? Ini adalah rumahku, dan ini juga adalah kamarku. Ingat itu! Jadi aku berhak untuk masuk ke kamar ini.”

Kikwang tidak mau kalah dengan gertakan Seunghi. Tiba-tiba Kikwang berusaha menahan tawanya saat melihat baju tidur yang dikenakan Han Seunghi, baju berwarna orange dengan motif bunga. Dan akhirnya, tawa Kikwang pecah,

WKWKWKWKWKWKWKWK…

“Wae…?”

Han Seunghi terasa aneh dengan sikap Kikwang. Dia merasa kalau namja yang berada di depannya itu sedang menertawakan dirinya. Namun namja itu terus tertawa dan tidak menghiraukan pertanyaanya.

“Asisten…, ternyata baju tidurmu itu kampungan banget, persis dengan muka kamu. Hahahaha.”

“Yaaaahhh, kalo prince mau menertawakanku lebih baik keluar aja dari kamarku.” Han Seunghi berusaha menarik tangan Kikwang.

“Oke… aku tidak akan tertawa lagi,” Kikwang berusaha untuk menahan tawanya. “Aku ke sini untuk memastikan kondisi kamu. Duduk sini!”

Kikwang meminta Seunghi untuk duduk di sampingnya. Dia kemudian memerikasa setiap luka gores yang menempel di kulit Seunghi.

“Besok kita ke dokter dan kamu jangan latihan mengemudi dulu,” ujarnya saat melihat luka lebam di lengan Han Seunghi.

“Aku enggak apa-apa kok, aku akan tetap latihan besok karena minggu ini aku harus bisa mengemudi.”

“Yah… kamu emang yeoja yang enggak pernah bisa diomongin ya. Kalo aku bilang jangan latihan ya jangan. Aku yakin kamu tidak akan bisa mengemudi hanya dengan latihan seminggu.”

“Bisa…, aku pasti bisa.”

“Mau taruhan!”

“Boleh,” Han Seunghi merasa tertantang dan tanpa pikir panjang langsung menyetujuinnya.

“Oke…,” nada suara Kikwang kembali meninggi. “Kalo kamu bisa mengemudi sampai hari minggu aku akan mengabulkan tiga permintaamu. Tapi jika tidak, kamu juga jadi asistenku meskipun di sekolah. Deal!!!”

Kikwang menyodorkan tangannya.

“Oke…, deal.” Han Seunghi menerima tantangan Kikwang.

Kemudian Kikwang keluar dari kamar Han Seunghi. Dia merasa semakin banyak bicara dengan Han Seunghi maka emosinya juga semakin banyak terkuras. Baru kali ini dia memiliki asisten yang sering menolak permintaannya dan banyak maunya.

$$$

Keesokan harinya Kikwang membawa Han Seunghi ke dokter untuk memeriksakan luka-lukanya, meskipun harus menyeret paksa. Han Seunghi terus melakukan latihannya dengan kepala pelayan Kim. Dan kepala pelayan Kim selalu memberitahukan perkembangannya pada Kikwang tanpa sepengetahuan Seunghi. Perkembangan latihan mengemudi Han Seunghi membuat Kikwang kagum dengan semangatnya yang gigih dan juga membuatnya khawatir dengan taruhannya. Sehingga dia beberapa kali berusaha menggagalkan acara latihan Han Seunghi dengan meminta untuk melakukan sesuatu, namun Seunghi bisa melakukannya dengan baik. Bahkan dia menolak pekerjaan yang menurutnya tidak sesuai dengan hatinya, misalnya disuruh untuk mengerjakan PR Kikwang.

“Aku tidak mau mengerjakan PR milik Pince,” ujar Seunghi saat menolak permintaan Kikwang.

“Kamu berani menolak?”

“Ya…, karena aku tidak mau prince berotak udang.”

“Berotak udang? Apaan itu?” tanya Kikwang.

“Tuh kan, kata kiasan aja Prince enggak tahu. Cari aja sendiri artinya!” Kata Han seunghi sebelum meninggalkan Kikwang.

Pada hari yang telah di tentukan, hari Minggu, Kikwang membawa Han Seunghi dan kepala pelayan Kim ke tempat latihan mobil. Di sana telah menunggu seorang yang berkompeten dan netral untuk menilai hasil latihan Han Seunghi, apakah dia layak untuk bisa dikatakan bisa mengemudi atau tidak. Kikwang terlihat senang saat melihat wajah gugup Han Seunghi.

Sesampainya di tempat latihan, Han Senghi langsung dipandu oleh sang penilai. Dan mereka memasuki sebuah mobil yang di bagian belakangnya bertuliskan ‘Latihan Mengemudi.’

“Han Seunghi, kamu pasti bisa. Hwaiting!!!”

Kikwang memberi semangat Han Seunghi secara sepontan, tanpa menyadarinya kalo mereka sedang taruhan. Namun setelah menyadarinya, Kikwang langsung diam seribu bahasa. Dan untungnya Seunghi tidak mendengar ucapan Kikwang karena dia telah berada di dalam mobil bersama sang penilai.

Kemudian penilaian pun dimulai, mobil yang dikemudikan Seunghi bejalan dengan mulus. Mobil itu memutar-mutar trek latihan dengan baik. Kikwang yang melihatnya terlihat menyunggingkan sebuah senyuman, meskipun dia tahu dia akan kalah telak. Dan setelah dua puluh menit berlalu, latihan penilaian pun selesai.

“Hasil dari latihan tadi…,” kata sang penilai. “Hang Seunghi-ssi layak untuk dikatakan sebagai bisa mengemudi mobil dengan baik.”

“YES….!!!” teriak Han Seunghi, Kikwang dan kepala pelayan Kim berbarengan.

Seunghi langsung melihat pada Kikwang dengan tatapan aneh, kenapa dia ikut berteriak kesenangan padahal dia kan kalah dalam taruhan. Kikwang yang mendapatkan sorotan langsung menurunkan ekspresi wajahnya.

“Aku menang,” ujar Han Seunghi pada Kikwang. “Permintaan pertama ku…”

Han Seunghi berusaha memikirkan sesuatu.

“Apa?” tanya Kikwang tidak sabar.

“Aku ingin Prince memakai baju tidurku yang berwana orange itu saat tidur, hehehe.”

“APA? TIDAK MAU…, apa kamu sudah gila? Aku tidak mau terlihat bodoh dengan baju culun itu.”

“Yahhh, kamu udah janjikan akan memenuhi tiga permintaanku. Kepala pelayan Kim, ternyata tuan mudamu ini suka ingkar janji ya,” Han Seunghi mengedipkan matanya ke arah kepala pelayan Kim.

“Iya… aku akan memakainya, tapi hanya satu malam,” ujar Kikwang setelah merasa tersindir.

“Nah bagitu dong, itu baru namanya namja, hehehe.”

“Terus permintaan yang lainnya?”

“Wahhh…, aku belum kepikiran tuh.”

“Dasar otak lemot, enggak bisa mikir. Mikirnya jangan kelamaan,” ujar Kikwang.

$$$

Malam harinya…

“Ini bajunya…,” Seunghi menyodorkan sebuah baju tidur yang berwana orange dan bermotif bunga, dilengkapi dengan sebuah bando kembang berwana orange.

“Yah.. ini bando apaan. Kan tidak masuk dalam permintaan.”

“Ini satu paket.”

“Ah sialan…,”gerutu Kikwang. “Oke aku akan ganti baju dulu.”

Kikwang kemudian menutup pintu kamarnya. Han Seunghi menunggu di luar kamar. Beberapa saat kemudian pintu kamar itu di buka dan Kikwang bediri di hadapan Han Seunghi dengan baju tidurnya. Dan sebuah bando juga menempel sempurna di kepalanya.

“Hahaha, price… kamu benar-benar telihat cantik,” ujar Seunghi.

“PUAS…!!!”

“Belum, kan belum di dokumentasikan,” Seunghi mengeluarkan ponselnya.

“Yah… apa yang kamu lakukan.”

Kikwang langsung dari ke dalam kamarnya sebelum kamera itu mengambil gambarnya. Apa kata dunia jika foto itu beredar di sekolahnya. Namun Han Seunghi juga tidak mau kalah, dia mengejar Kikwang hingga ke dalam dan mendapati Kikwan berlindung di balik selimutnya.

“YAH… INI TIDAK TERMASUK DALAM PERMINTAAN.”

“Ini sebagai bukti kalo Prince benar-benar menjalankan permintaaku,” kilah Seunghi.

“Kamu mau menyebarkannya di sekolah ya?”

“Enggak. Ayolah… cuman sebentar kok. Habis itu aku akan keluar dari kamar ini.”

“Oke tapi tidak foto seluruh badan. Segini aja ya…!!!” ujar Kikwang menyerah.

Kikwang kemudian menurunkan selimutnya hingga baju tidurnya kelihatan hingga ke bagian dadanya. Wajah Kikwang sangat tidak sedap di pandang mata.

“Senyum dong!!!”

Klik

Kemudian Kikwang kembali menaikkan selimutnya sebelum ponsel Han Seunghi mengambil gambarnya kembali.

“Oke, baju itu harus Prince pakai sampai besok pagi. Aku akan mengeceknya besok, jika Prince ganti maka kesepakatan gagal dan Prince harus memakainya lagi besok.”

“Oke, cerewet. Cepat keluar sana! Aku mau tidur.”

“Selamat malam my beauty Prince, hehehe.”

END

Be A Good Reader!!!

51 responses to “My Imagination – My Prince

  1. halooo, saya reader baru *bow
    nanggung niiiih >./\<

  2. my dearest yeobo .. kiki kok kau jahat sih ?? *dikemplang*
    eum nanggung SANGAT nih oppa !! bikin sequel doong … siapa tau si kiki bukannya naksir seunghi malah naksir aku #plak
    bikin ya jihoon oppa ..

  3. annyeong, reader baru nih… aku lanjutin donk, mau yang smakin kompleks yah thor… gomawo ^^

  4. sequelnya belum ada ya pa ???
    masih nunggu nih >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s