Save SHINee – Part3

Auhtor : Park Jihoon

Cast :

SHINee : Onew, Key, Jonghyung, Minho dan Taemin

MANJA : KA-Jjong(bias), Inu-Key, Giga-Taemin, Dhini-Minho dan Rani-Onew

Shailov : Berlian-Key, Niku-Jonghyun, Hana-Onew, Hanna-Onew, Joanna-Key, dan Fefe-Minho

Angkel Ji (Siapa coba???)

Lenght : Part

Genre : Komedi, Mistery, Action dikit (bukan di part ini).

Disclaimer : Aku hanya punya cerita ini dan duit yang banyak *mimpi >>> semoga jadi kenyataan, AMIN*, sedangkan semua cast punya orang lain. Yang punya nama, silahkan kenalin nama kalian masing-masing ya… hehehehe.

MAAF JIKA PART INI KEPANJANGAN….MIAN

Selamat membaca….

$$$

Sore hari, saat matahari telah tergelincir di ufuk barat dan sinarnya tak lagi menyengat kulit, semua member MANJA dan Shailov telah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Inu yang akan dijadikan tempat singgah dalam Ekspedisi SHINee kali ini. Untuk keperluan kuliah, mereka telah menyelesaikannya dengan sempurna, mulai dari nitip tanda tangan kehadiran sampai  menyiapkan surat keterangan sakit palsu. Mereka mempersiapkannya dengan matang dan profesional. Ketika persiapan telah lengkap, mereka berpamitan pada ibu kos, Ahjumma. Masing-masing orang membawa tas ransel sendiri-sendiri yang berisi perlengkapan mereka selama Ekspedisi SHINee berlangsung. Sedangkan perlengkapan untuk penyambutan SHINee dan hadiah-hadiah lainnya dibawa dengan tas tersendiri dan digotong bareng-bareng.

“Ahjumma, kami pergi dulu, doakan kami agar sampai di tempat tujuan dengan selamat dan berhasil bertemu dengan SHINee.” Kata KA saat mencium tangan Ahjumma, tanda pamitan. “Jaga kesehatan Ahjumma baik-baik.”

“Hiks… hiks…,” Ahjumma tak mampu berkata apapun karena air matanya terus mengalir.

“Ahjumma jangan nangis, kami jadi tidak tega untuk meninggalkan Ahjumma di sini,” ujar Giga sebelum berpamitan.

“Jiaaahhh, kayak nonton sinetron aja. Padahal kita hanya pergi ke Jakarta doang, dasar lebay,” bisik Inu di telinga Dhini.

Kemudian mereka pamitan pada Ahjumma satu persatu. Air mata yang mengahlir di pelupuk mata Ahjumma membuat beberapa member juga menitikkan air mata, diantaranya KA, Giga, Rani, serta si kembar Hana dan Hanna. Sedangkan yang lainnya senyum-senyum tidak jelas seperti mengharapkan sesuatu.

“Ahjumma…, kita enggak dikasih ongkos jalan nih?” ujar Fefe to the point.

“Kamu mau minta ongkos? Uang kosan aja sering telat.”

Hahahaha…, semua member sontak tertawa ringan. Member yang tadinya nangis pun raut mukanya langsung berubah, tersenyum.

“Niku…, kalo kamu ketemu SHINee jangan menyalakan petasan ya nak!” kata Ahjumma saat Niku mencium tangannya.

“Tenang Ahjumma, petasan untuk acara penyambutan SHINee telah aku siapkan dengan baik.” Ujar Niku seolah tidak mendengarkan nasehat yang barusan Ahjumma katakan.

“Apa…? kamu bawa… petasan?” tanya KA dan Berlian shock.

“Iya… nih di kantong tas,” ujar Niku sambil menunjukkan tempat petasannya.

Giga, Rani dan Dhini langsung ambil jarak. Mereka selalu parno jika ada petasan, apa lagi semenjak kenal dengan yang namanya Niku.

“Kamu mau mengagalkan Ekspedisi ini ya?” KA mulai emosi.

“Niku…, kamu jangan bawa petasan. Entar bahaya,” ujar Fefe berusaha menasehati secara halus.

“Enggak mau, ini aku udah siapin sejak lama khusus buat SHINee.”

“Kalo kamu bawa petasan, kita tidak bakalan bisa menyambut SHINee. Malahan kita bisa mendekam di penjara karena kamu membawa barang yang berbahaya itu. Kamu mau kita semuanya dipenjara?” kata Inu mulai gerah dengan sikap Niku.

“Bener kata Inu, kalo kamu bawa petasan itu bisa-bisa kita di tahan di penjara.” Ujar Joanna yang berada di dekat Niku.

“Aku enggak mau masuk penjara, aku mau menyambut SHINee,” kata Hana yang diamini oleh saudara kembarnya Hanna, “Amin.”

Dengan terpaksa akhirnya Niku meletakkan kembali petasannya yang telah didedikasikan untuk penyambutan SHINee. Wajah Niku terlihat masam setelah meninggalkan benda kesayangannya. Namun Fefe dan Berlian berhasil meyakinkan bahwa penyambutan SHINee akan lebih menarik meskipun tanpa petasan. Member MANJA yang tadi menjauh dari Niku, kini berani untuk mendekatinya.

Akhirnya merekapun pamitan. Ahjumma melepas keberangkatan mereka dengan linangan air mata, layaknya perpisahan di sinetron-sinetron. Semangat untuk bertemu dengan Idola mereka, SHINee, begitu menggebu-gebu di dada mereka, hingga membuat mereka bisa melakukan apapun, termasuk bolos kuliah.

Di ujung gang kosan mereka langsung memberhentikan sebuah angkot kosong, KA dan Fefe bertugas sebagai negosiator untuk menyewa angkot sampai ke stasiun kereta. Tak perlu waktu lama, angkot pun langsung membawa mereka ke stasiun. Dari statiun mereka berangkat naik kereta ke jakarta. Mereka terlihat sepeti gerombolan pengungsi dengan membawa banyak barang bawaan dan sempat menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.

“Kita terlihat seperti pengungsi Libiya,” ujar Joanna lirih.

“Tidak apa-apa ini demi SHINee,” jawab Giga mantap.

Sekitar jam sembilan malam mereka tiba di rumah Inu, rumah yang tidak terlalu besar tapi juga tidak tergolong sederhana dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Di sana, mereka telah di tunggu oleh kedua orang tua Inu dengan menyiapkan berbagai macam hidangan makanan.

“Selamat datang di rumahku,” ujar Inu.

Kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan langsung dipandu ke kamarnya masing-masing. Ibu Inu ikut menyertai mereka.

“Maaf ya, kalian harus tidur berdempet-dempetan malam ini karena kamar yang kosong cuma tiga kamar dengan kamarnya Inu.” Kata Ibunya Inu.

“Enggak apa-apa tante, malah kami merepotkan tante,” ujar KA.

Setelah mereka mandi dan menyantap hidangan, mereka mengadakan pertemuan sebentar di kamar Inu. Mereka seperti ingin cepat-cepat matahari muncul dan bertemu dengan SHINee.

“Besok kita akan berangkat dari sini jam 9 pagi, dan perjalanan dari sini ke bandara sekitar 2 jam. Itupun aku perkirakan jika ada kemacetan sedikit.” Kata Inu membuka percakapan.

“Oke, kalo begitu Joanna dan Inu besok harus bisa masuk ke dalam bandara dengan menggunakan tiket palsu yang kita udah buat. Sedangkan Berlian akan memburu gambar SHINee dari luar. Kalian sanggup?” tanya KA.

Inu dan Joanna mengangguk mantap. Sebelumnya mereka talah mempersiapkan tiket masuk Bandara untuk membuntuti kedatangan SHINee dari dalam. Entahlah apa yang terjadi dengan otak mereka, SHINee telah membuat mereka rela untuk menjadi seorang penjahat.

“Sedangkan Team penyambutan yang berada di luar, harus bertidak yang aneh-aneh untuk mendapatkan perhatian mereka. Meskipun orang-orang akan berpikir kalo kita sudah gila. Setelah dari Badara, kita akan membuntuti mereka sampai ke Hotel dan di sana kita harus melakukan ritual yang telah kita sepakati.”

“Kita tidak nginap di depan Hotel?” Tanya Hanna.

“Padahal aku ingin menginap di kamar hotel bareng Onew-oppa,” Hana menimpali. Hanna langsung mengamininya, “Amin.”

“Ibu Inu melarang kita, tapi itu tidak jadi masalah. Pada hari selanjutnya kita akan langsung menuju ke tempat konser di senayan pagi-pagi. Di sana kan paginya akan diadakan jumpa pers dilanjutkan dengan latihan. Dan sorenya gladiresik.”

Sebagai ketua ekspedisi, KA mengkoordinir semua membernya dengan baik supaya target kali ini bisa berjalan dengan baik. Dan berharap bisa bertemu dengan SHINee secara langsung dan menyampaikan perasaan yang selama ini terpendam jauh di dalam hati masing-masing.

“Semoga besok, SHINee tiba dengan selamat dan kita bertemu dengan mereka. AMIN.”

$$$

Di asrama SHINee

“Minho-ah, cepetan kita sudah telat nih.”

Semua member SHINee telah bersiap untuk berangkat ke bandara internasional Incheon. Semua perlengkapan konser dan semua barang-barang pribadi mereka telah ditangani oleh manajernya. Dan sekarang mereka sedang menunggu Minho, yang sedang bersiap karena tadi dia sempat ketiduran.

“Seperti biasa, Minho selalu telat,” gerutu Jjong.

Tak ada yang mengomentari, karena hal itu telah menjadi kebiasaan yang telah ditolerir. Beberapa saat kemudian Minho keluar dari kamarnya dengan senyum tanpa dosanya.

“Hehehe…, minahe aku telat.”

PRANGGGG…..

Tiba-tiba jam dinding di kamar tengah jatuh tanpa ada sebab. Suara keras tersebut membuat semua member SHINee kaget setengah mati, dan saling pandang penuh tanda tanya. Onew menghampiri jam dinding yang telah hancur berantakan tersebut, kemudian dia melihat bagian belakang jamnya, mengira pengaitnya rusak.

“Aneh…, pengaitnya masih bagus. Tapi kenapa jam ini bisa jatuh? Padahal tidak ada getaran gempa maupun hembusan angin,” gumam Onew.

“Kenapa hyung?” tanya Key.

“Anu… sepertinya pengaitnya rusak,” ujar Onew berbohong. “Apakah ini suatu pertanda buruk? Ah… aku tidak boleh menceritakan hal ini pada yang lainnya, mungkin juga ini hanya kebetulan saja.” Onew berusaha membuang prasangka buruknya dan mencoba untuk berpikir secara realistis.

“Onew-hyung, ayo cepatan mobilnya sudah nunggu kelamaan,” kata Taemin.

“Ne.. Arasso.”

$$$

Matahari pagi bersinar dengan terangnya, mengusir dingin yang telah ditinggalkan sang malam. Udara pagi telah bercampur dengan gas karbondioksida dan gas buangan lainnya yang berasal dari kendaraan yang berlalu lalang di pagi buta. Suara-suara kicauan burung tak lagi terdengar dan tergantikan oleh suara deru mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Pagi yang benar-benar sibuk di kota metropolitan.

Para Shawol Indonesia meyambut pagi ini dengan begitu antusias, karena di hari ini mereka akan menyambut kedatangan SHINee di bandara Soekarno-Hatta. Begitu juga dengan semua member Shailov dan member MANJA, semangat yang bergemuruh di dalam dada mereka telah memberikan semangat yang luar biasa untuk bangun pagi. Tidak seperti biasanya, yang selalu kesiangan saat berangkat kuliah. Setelah mandi dan sarapan, mereka kembali mempersiapkan barang-barang seperlunya untuk penyambutan di bandara. Seperti kamera, spanduk dan beberapa poster.

“Bagaimana semua persiapannya?” Tanya KA.

“Beres, semuanya telah siap,” jawab Rani.

“Hai… kalian mau menjemput SHINee ya? Bukannya mereka akan tiba di Jakarta sore nanti.”

Tiba-tiba ada sebuah suara dari depan pintu. Semua langsung melihat ke arah datangnya suara, dan mereka melihat sesosok pria muda dengan pakaian seragam polisi lengkap tersenyum ke arah mereka.

“Siapa dia?” tanya Fefe ke Inu.

“Dia adalah adik ibuku yang paling muda, angkel Ji.”

“Angkel Ji?”tanya Berlian karena merasa aneh dengan panggilan tersebut.

“Iya… angkel Ji, panggilan yang aku berikan sejak kecil dan terbawa sampai sekarang.” Jawab Inu.

Kemudian lelaki tersebut mendekati Inu dan teman-temannya yang sedang mempersiapkan barang-barangnya dan duduk di dekat Inu. Semua member menatap aneh ke arah lelaki tersebut, karena dengan wajah muda seperti itu seharusnya dia lebih cocok jadi kakak daripada seorang paman.

“Tumben angkel pagi-pagi kesini?” tanya Inu.

“Aku datang kesini karena mendapatkan tugas dari ibumu untuk mengantarkan kalian ke bandara.”

“Benarkah?” tanya Inu sumringah

“Yup,” angkel Ji mengangguk mantap. “Tapi hanya sekedar mengantarkan dan menjemput kalian.”

“Yah… aku kirain angkel Ji juga mau ikut menyambut SHINee.”

“Hahahaha… ogah ah, kalo BEG yang kesini baru aku ikutan.”

“Jadi…, angkel Ji tahu tentang BEG, Brown Eyed Girl?” Dhini ikut menyela.

“Angkel ini K-pop lover sejati loh, biasnya BEG. Bahkan dulu dia sempat nonton konsernya BEG di Singapur. Tapi kemaren sempat nangis darah waktu Gain jadi istrinya Jo Kwon di WGM.” Jawab Inu.

“Enggak usah sejalas gitu dong…, kamu mau menghancurkan reputasi angkelmu sendiri.”

“Hehehe…”

“Ya udah, kalo kalian siap, ayo kita berangkat! Jangan sampai kalian tidak mendapat tempat yang paling strategis.”

“Ayo…!!!”

Kemudian mereka masuk ke sebuah mobil innova hitam dan langsung menuju ke bandara Soekarno-Hatta. Mereka duduk saling berdesakan di dalam mobil, tapi tak mengurangi kebahagiaan yang telah bercokol di hati mereka sejak mendapatkan tiket konser SHINee.

Selama perjalanan angkel Ji dihujani beberapa pertanyaan oleh member yang lainnya. Mereka masih penasaran dengan wajah mudanya.

“Angkel umur berapa sih?” tanya Giga.

“Yah.. seangkatan dengan Suju lah.”

“30…?” tebak Joanna.

“Hahaha.. kamu pintar juga menebaknya.”

“Angkel di kepolisian, dibagian mananya?” Niku ikut bertanya.

“Dia yang berurusan dengan kriminal,” jawab Inu mewakili angkel Ji.

“Angkel, tangkap saja tuh si Niku…, dia suka main petasan. Bukannya memiliki petasan itu termasuk kriminal,” ujar

Niku langsung memasang muka masam.

“Baiklah…, tapi kalian harus menyerahkan barang buktinya.”

“Kalau itu gampang,” ujar Fefe dan disambut dengan tawa yang lainnya. Muka Niku makin mengkerut.

Tidak sampai dua jam mereka tiba di bandara, dan langsung menuju ke tempat yang diperkirakan menjadi tempat keluarnya SHINee dan rombongannya. Di sana ternyata beberapa Shawol telah berkumpul dengan membawa spanduk masing-masing. KA dan yang lainnya langsung menurunkan semua barang-barangnya dari dalam mobil.

“Inu…, entar kalo udah selesai kamu tinggal telepon angkel saja, Ok!”

“Beres,” jawab Inu.

Kemudian mobil yang dikendarai angkel Ji melaju meninggalkan bandara. KA dan member lainnya langsung berbaur dengan beberapa Shawol yang telah datang. Mereka saling berkenalan satu sama lain. Mereka seperti saudara yang baru ketemu, perbincangan terus mengalir diantara mereka dengan topik utama SHINee. Bahkan KA dengan cerdikanya mengorek informasi mengenai cara masuk ke dalam bandara dari seorang Shawol yang dulu pernah lolos masuk ke dalam bandara saat SHINee datang ke Indonesia pertama kalinya.

Matahari semakin condong kearah barat dan para Shawol yang datang semakin banyak. Semua member shailov dan MANJA kemudian berkumpul sebelum melakukan aksinya, karena SHINee diperkirakan akan tiba dibandara 3jam lagi.

“Sekitar tiga jam lagi, SHINee akan tiba di bandara ini,” ujar KA. Semua member mendekatkan kepala mereka hingga membentuk sebuah lingkaran. “Inu dan Joanna, apakah kalian sudah siap? Kita jalankan sesuai dengan rencana kita. Kalian juga tahukan bagaimana caranya untuk menemukan tempat keluar SHINee, dan di dalam katanya sudah ada Shawol yang berhasil menyelinap, ini nomernya. Kalian bisa menghubungi mereka jika telah berada di dalam.”

“Oke kami telah siap,” ujar Inu dan Joanna mantap.

Kemudian Inu, Joanna dan KA langsung menuju ke pintu masuk bandara. Jantung mereka berdetak kencang, khawatir jika rencanya gagal total. Keringat dingin mulai keluar dari pelipis Inu dan Joanna.

“Joanna… tenang kita pasti berhasil,” ujar Inu lirih.

“Ehm…,”angguk Joanna.

Setibanya mereka di pintu masuk, antrian panjang telah terbentuk dan dua orang petugas mengecek tiket mereka satu persatu untuk masing-masing antrian. Petugas tersebut tidak begitu ketat melihat tiket masing-masing calon penumpang, bahkan mereka terlihat tergesa-gesa. Melihat hal itu, KA tersenyum lebar karena hal tersebut akan memperlancar aksinya.

Inu dan Joanna pun langsung bergabung dengan antrian tersebut. Joanna berjalan pas di belakang Inu. Kekhawatiran masih menyelimuti hati mereka berdua.

“Inu…, hati-hati di jalan. Kalo sudah nyampek, jangan lupa ngasih kabar,” teriak KA sambil melambaikan tangannya.

“Ya,” Jawab Inu dan Joanna dengan lambaian tangan juga.

Mereka sedang berakting seolah-olah ingin bepergian beneran. Percakapan mereka secara otomatis terdengar oleh para petugas tersebut dan mengira mereka benar-benar calon penumpang. Sehingga saat Joanna dan Inu menyodorkan tiket palsunya, para petugas tersebut tak melihatnya secara teliti dan membiarkan keduanya masuk.

“Ah…, akhirnya kita berhasil. Sumpah, tadi jantungku seakan mau copot.” Ujar Joanna saat selesai melakukan pemeriksaan barang-barangnya.

“Jantungku juga hampir mau copot,” kata Inu sambil mengelus-ngelus dadanya.

Tiba-tiba hape Inu berdering.

“Iya, kami berhasil. Sekarang aku mau menghubungi shawol yang berada di dalam bandara.” Ujar Inu pada KA yang berada di seberang telepon.

“Oke…, hati-hati semoga berhasil.”

KA kemudian menutup teleponnya dan kembali ke tempat member yang lainnya sedang menunggu di luar bandara. Inu dan Joanna langsung menuju tempat tujuan tanpa banyak membuang waktu. Mereka tanpa kesulitan sedikit pun menuju tempat tujuan, karena dipandu penuh oleh salah satu shawol yang telah masuk duluan.

Waktu  terus berlalu, detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam, seakan berlalu begitu lambatnya. Joanna dan Inu menunggu kedatangan SHINee di dalam bandara bersama beberapa Shawol lainnya dengan gelisah. Terkadang berdiri dan terkadang duduk. Bahkan semakin dekat waktu kedatangan SHINee membuat Inu dan Joanna merasakan perasaan yang aneh, gelisah, gerogi, bahagia, dan bingung bercampur jadi satu. Sedangkan di luar, member yang lainnya mereka saling berdesak-desakkan dengan shawol lainnya demi memperoleh tempat yang strategis, tampat yang paling depan.

“Nu…, perasaanku sekarang kacau banget. Aku takut entar kalo melihat SHINee aku malah histeris dan jatuh pingsan,” kata Joanna lirih.

“Aku juga…,” ujar Inu.

“Terus bagaimana ini?”

“Enggak tahu lah, pokoknya kita harus tegar dan jangan sampai kita pingsan karena ini juga amanah dari teman-teman yang telah memberikan kepercayaannya pada kita.”

Inu dan Joanna berusaha saling menguatkan, karena tidak bisa dipungkiri kebahagiaan yang berlebihan bisa-bisa membuat semua rancana mereka bisa berantakan, karena mereka berdua jatuh pingsan. Detak jantung mereka kembali mulai teratur. Tiba-tiba salah satu shawol melihat kedatangan SHINee.

“Itu SHINee.”

Inu dan Joanna kontan langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung melihat kearah yang dimaksud. Dan beberapa Shawol lainnya yang berada di dekatnya pun melakukan hal yang sama. Mereka melihat beberapa laki-laki dikawal oleh beberapa orang yang berpakaian hitam dan bertubuh kekar. Inu dan Joanna mengenal siapa cowok yang dikawal tersebut, karena mereka selalu hadir dalam mimpinya, terutama pria yang berkulit putih susu dengan sorot mata yang tajam meskipun terhalang oleh kacamata hitamnya.

“KEY… OPPA!!!” tariak Joanna dan Inu kompak.

Mereka berdua langsung berlari menuju ke gerombolan cowok yang dijaga ketat tersebut. Para Shawol yang lainnya juga berlari dengan kecepatan penuh, seperti segerombolan lebah yang melihat kumpulan bunga penuh dengan nektar manis yang mengundang selera.

“SHINee… Saranghe,” ujar salah satu Shawol.

“Minho Oppa…. look at me!” kata seorang gadis dengan kamera siap dijepret.

“Taemin oppa… soo CUTE.”

“Jjong oppa…Jjong oppa…saranghe.”

“Onew oppa… welcome to Indonesia… I love you.”

“Key…. Key….I love you.”

Suasana di dalam bandara langsung ramai mendadak. Teriakan demi teriakan untuk SHINee maupun untuk masing-masing member terus mengalir bagai aliran sungai yang tak pernah putus.

Klik… Klik… Klik….

Beberapa shawol langsung menghujani SHINee dengan blitz kamera, sedangkan yang lainnya berusaha untuk mendekat. Sayang, usaha mereka tidak mudah karena harus melawan beberapa lelaki kekar yang disewa sebagai pengawal. Sesekali anak-anak SHINee melihat ke arah para Shawol dan memamerkan senyumannya. Namun terkadang mereka menyambunyikan wajah mereka di balik tudung jaket maupun topi dengan kacamata hitamnya.

Inu dan Joanna terus merangsek semakin dalam sampai mereka berhadapan langsung dengan para lelaki berotot kekar tersebut. Dan akhirnya mereka bisa melihat kelima cowok korea tersebut dengan sangat jelas.

“Yaaa tuhan, mereka benar-benar cakep…,” gumam Joanna.

“Oh… my god, kenapa aku bisa lupa dengan kamera.” Inu langsung sadar saat hujan blitz kamera shawol yang lainnya menghujani SHINee. “Joanna… tolong panggil SHINee kearah kita biar aku bisa mendapatkan gambar yang bagus,” pinta Inu.

Inu dan Joanna terus mengejar rombongan SHINee yang terus berjalan ke luar badara dengan langkah cepat. Inu terus menekan tombol kameranya, berharap ada momen yang benar-benar bagus tertangkap kameranya.

“SHINee… LOOK AT ME PLEASE!!!” teriak Joanna.

Tak ada tanggapan dari kelima cowok tersebut. Karena teriakan Joanna bersaing ketat dengan teriakan shawol lainnya yang tak kalah lantangnya. Joanna terus berusaha namun tak mendapatkan hasil.

“KEY YANG TAMPAN… TOLONG LIHAT KESINI DONG, JEBAL!!!!” teriak Joanna dengan bahasa koreanya.

Key melihat ke arah Joanna dan Inu.

“AAAAAAA…..,” Joanna berteriak histeris saat tatapan mata keduanya saling beradu.

Klik…

Seluruh persendian tulang inu tiba-tiba merasa lemas, karena dari lensa kameranya dia benar-benar bisa melihat tatapan Key yang begitu tajam. Bahkan senyuman yang sempat terlukis sebentar di bibirnya terekam jelas di otak Inu dan membuatnya hampir jatuh pingsan.

“Hyung, lihat tuh… yeoja yang pake baju merah! Lucu ya…,” bisik Key ke telinga Onew.

Onew melihat ke arah Joanna dan Inu, kemudian menyunggingkan senyuman geli. Namun gerakan para pengawal pribadinya membuat Onew hanya bisa melihat sepintas.

“Hehehe… lucu ya,” ujar Onew singkat.

Rombongan SHINee terus melaju keluar bandara dengan pengawalan ketat. Joanna dan Inu serta beberapa shawol yang berada di dalam bandara terus mengejar rombongan tersebut, berusaha untuk mendapatkan sepatah kata dari SHINee dan juga gambarnya.

Saat tiba di pintu keluar, suara jeritan para shawol terdengar begitu kencang hingga membuat gendang telinga rasanya mau pecah. Bahkan ada juga yang berteriak histeris dan jatuh pingsan saat melihat SHINee secara langsung. Di pinggir jalan telah diparkir sebuah Bus yang bertuliskan SHINee disampingnya. Dan jalan menuju pintu bus tersebut terbuka lebar dengan dijaga beberapa petugas keamanan di samping kanan dan kirinya.

LEE JINGKI… KIM JONGHYUN… KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee..

Teriakan ‘lagu wajib’ SHINee terdengar menggema di seantero badara Soekarno-Hatta. Bahkan bebarapa turis asing juga ikut menyaksikan pemandangan yang mungkin menurut mereka ‘aneh’, tapi mereka menikmatinya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang ikut meneriakkan ‘lagu wajib’ SHINee.

Para member Shailov dan MANJA tak henti-hentinya meneriakkan nama SHINee hingga tenggorokan mereka panas. Bahkan mereka pun bertingkah yang aneh-aneh, mulai loncat-loncat, menjambak-jambak rambut sendiri sampai goyang ngebor dan ngecor di tempat, hanya untuk memperoleh perhatian SHINee. Dan usaha mereka pun berhasil, Onew dan yang lainnya sempat melihat kearah mereka diikuti dengan senyum yang terkembang dibibir mereka.

“Berlian… cepat ambil gambarnya!!! SHINee melihat ke arah kita,” pinta Dhini dengan suara lantang. “Ohhh… Minho Oppa….,” gumamnya kemudian.

“ONEW OPPA… ONEWWWWWW…OPPPPAAAAAA…,” teriak Hanna, Hana dan Rani kompak sambil loncat-loncat ala ikan lumba-lumba.

“JONGHYUN… JJONG OPPA… JJONG BLING-BLING,” teriak KA dan Niku bergandingan pundak sambil goyang ngebor.

“TAEMIN…. TAEMIN…. SOO CUTEEEE…,” Giga menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“KEYYYY…. SARANGHE,” Berlian ikut menjambak rambutnya sendiri biar botak sebelah mirip Key. “Aduh… aku lupa…foto.”

“AAAAHHHHH…. MINHO OPPA… GANTHENG,” Fefe dan Dhini ikut goyang ngecor.

Semua Shawol benar-benar dibuat gila dengan kedatangan SHINee. Mereka seperti orang yang sakau berat akan SHINee atau lebih tepatnya seperti para penghuni RSJ yang kabur. Bahkan teriakan mereka semakin kencang saat SHINee melintasi mereka ketika menuju ke busnya. Sedangkan Joanna dan Inu semakin terdorong jauh kebelakang oleh para shawol yang lainnya, mereka sulit untuk menerobos kerumunan shawol di luar bandara, tidak seperti saat di dalam bandara.

SHINee… SHINee… SHINee….

Teriakan ‘SHINee’ terus menggema hingga kelima cowok tersebut tiba di depan pintu Bus. Semua member MANJA dan Shailov terus berusaha mendekat ke bus SHINee meskipun harus dorong-dorongan dengan para petugas. Para shawol yang berada di belakang mereka pun terus mendesak maju. Tiba-tiba,

BUGH…

KA terdorong kedepan dan jatuh tepat di kaki salah satu pengawal SHINee saat member SHINee hendak mau masuk ke dalam Bus. Rasa perih tiba-tiba terasa dari lutut, sebagian kulit lutut KA sobek sedikit dan mengeluarkan darah. Kemudian salah satu pengawal tersebut berusaha untuk membantu KA berdiri, namun ada sepasang tangan yang terlebih dahulu membantunya.

“Gwaenchana…? Hati-hati, jangan sampai terluka.” Kata Jjong dengan bahasa koreanya saat membantu KA berdiri diikuti senyuamnnya yang selebar danau toba.

KA tak bisa berkata satu kata pun meskipun dia mengerti apa yang diucapkan Jjong. KA hanya mengangguk ringan, mulutnya langsung mendadak bisu. Cowok yang selalu dimimpikannya kini benar-benar berada di hadapannya. Berlian langsung beraksi dengan kameranya saat melihat adegan tersebut. Setelah KA berdiri, Jjong langsung bergabung dengan keempat member SHINee lainnya dan masuk ke dalam Bus. Jjong sempat melambaikan tangan pada KA yang masih mematung sebelum benar-benar menghilang di dalam Bus.

Seluruh petugas mengendurkan penjagaannya saat SHINee telah masuk ke dalam Bus, dan kontan seluruh shawol langsung menyerbu bus SHINee. Di dalam Bus, terlihat semua member SHINee melihat ke kerumunan shawol dari kaca bus sambil melambaikan tangannya. Secara otomatis para shawol ikut melambaikan tangan.

“Jjong oppa…Jjong oppa… kamu benar-benar ada di hadapanku tadi,” gumam KA lirih dengan kondisi masih mematung, tak bisa bergerak.

Semua member MANJA dan Shailov yang lainnya tidak ada yang memperhatikan kondisi KA. Mereka masih sibuk mengejar bus SHINee yang mulai merangsek menuju ke luar bandara bersama beberapa Shawol lainnya. Dan tidak berselang lama, bus itu hilang ditelan jalanan.

Satu jam berlalu, beberapa shawol telah meninggalkan bandara namun ada beberapa yang masih tetap tinggal, termasuk member MANJA dan Shailov. Mereka masih ingin mengenang setiap detik saat mereka melihat SHINee secara langsung, terutama KA yang secara kebetulan mendapatkan ‘durian runtuh’ yaitu Jjong telah membantunya berdiri saat jatuh tadi.

“Aku tidak mengira kalau Onew oppa benar-benar tampan,” ujar Hanna dengan pikirannya melayang ke beberapa jam yang lalu.

“Iya…,” ujar Hanna dan Rani kompak.

“KA…, bagaimana rasanya disentuh oleh Jjong-oppa?” tanya Niku antusias. “Padahal, seharusnya aku yang jatuh tadi.”

“Aku enggak tahu, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, aku merasa tubuhku melayang…”

“WAAHHHHH… KA, kamu beruntung banget,” seru yang lainnya dengan mengoncang-goncangkan tubuh KA.

“Enggak apa-apa, masih ada kesempatan besok…, aku mau minta dicium sama my beib, Minho-oppa,” kata Dhini sambil menghayal wajah Minho.

“Enak aja…, besok aku yang akan dicium Minho Oppa,” Fefe tidak terima.

“Terus sekarang gimana nih? Bukannya kita mau ngejar SHINee ke hotel?” tanya Giga.

“Santai aja, paling Sekarang SHINee masih istirahat,” jawab KA.

“Yahh.., kita belum makan nih,” kata Joanna sambil memegang perutnya.

“Pantesan aku merasa lapar,” kata Niku.

“Tenang, aku akan telepon angkel Ji untuk menjemput kita. Dan sekalian kita todong dia untuk mentraktir kita, setelah itu mengantarkan kita ke hotel tempat SHINee menginap.” Kata Inu.

“SETUJU…,” yang lainnya sepakat.

Tak berselang waktu lama, angkel Ji pun datang dan membawa semua member MANJA dan shailov pergi dari bandara. Sesuai rencana, Inu berhasil memaksa angkelnya untuk mentraktir mereka makan di sebuah restoran ayam. Semua member melahap mekanannya dengan bringas, karena semuanya telah kehabisan tenaga setelah heboh menyambut kedatangan SHINee tadi di bandara. Setelah selesai makan, mereka berangkat ke hotel SHINee.

“Yakin nih, kita enggak mau langsung pulang?” tanya angkel Ji.

“Ada satu ritual yang belum kami selesaikan,” ujar Inu.

“Ritual apaan?”

“Rahasia dong, angkel lihat saja nanti,” sergah Dhini.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di depan hotel, tempat SHINee menginap. Di depan Hotel, beberapa shawol duduk berkerumun berharap SHINee keluar dan menyapa mereka. Dan sepertinya harapan hanya tinggal harapan, SHINee tak kunjung keluar. Petugas keamanan hotel pun menjaga mereka dengan ketat, dan mereka hanya diperbolehkan berdiri sepuluh meter dari pintu masuk Hotel.

Semua member MANJA dan shailov langsung turun dari mobil dengan membawa spanduk yang sempat dibentangkan tadi di bandara. Semua member berbaris rapi di belakang spanduk. Meraka menjadi pusat perhatian diantara shawol yang hadir.

LEE JINGKI… KIM JONGHYUN… KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee..

Mereka meneriakkan ‘lagu wajib’ SHINee dengan lantang, dan membuat petugas keamana hotel tertawa kacil saat melihat gaya mereka yang aneh. Angkel Ji ikut memperhatikan mereka dengan perasaan malu, dia berharap tidak kenal dengan cewek yang bertingkah aneh tersebut. Kemudian KA, sebagai leader ekspedisi SHINee maju satu langkah.

“WE ARE SHAWOL INDONESIA, SHINee… WELCOME TO INDONESIA,” ujar KA lantang.

Kemudian member yang lainnya mengkuti kata-kata KA.

“WE ARE SHAWOL INDONESIA, SHINee… WELCOME TO INDONESIA.”

Mereka bersemangat setiap mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan beberapa shawol yang lainnya pun ikut-ikutan. Suasana yang tadinya sepi berubah menjadi heboh. Dan beberapa penghuni hotel sempat melihat ke arah mereka, dan pastinya mereka langsung menahan tawa saat melihat aksi sebelas cewek yang terlanjur somplak itu.

“JONGHYUN-OPPA… SARANGHE….,” kata KA tak kalah lantang dari yang tadi.

“ONEW OPPA… SARANGHE…,” sambung Hanna.

“ONEW OPPA… AKU SARANGHE JUGA…,” Hana tak mau kalah.

HAHAHAHA… yang lainnya langsung ngakak mendengar kalimat Hana. Padahal perjanjiannya cuma menyebutkan nama bias ditambah dengan kata ‘saranghe’ tanpa ada embel-embel apapun. Kemudian disambung lagi oleh Giga, Inu, Dhini, Rani, Berlian, Fefe, Niku dan terakhir Joanna.

“TAEMIN OPPA… SARANGHE…,”

“KEY OPPA… SARANGHE…,”

“MINHO OPPA… SARANGHE…,”

“ONEW OPPA… SARANGHE…,”

“KEY OPPA… SARANGHE…,”

“MINHO OPPA… SARANGHE…,”

“JONGHYUN-OPPA… SARANGHE….,”

“KEY OPPA… SARANGHE…,”

Setelah selesai dengan ritualnya, semua member langsung menuju mobil dan pulang. Perasaan mereka hari ini benar-benar diliputi kebahagiaan yang tiada tara, meskipun kerongkongannya terasa panas.

“SHINee benar-benar membuat kalian somplak tingkat akut,” ujar angkel Ji saat di mobil.

“Biarin…, angkel juga dibuat somplak sama Gain Onnie,” ujar Inu.

HAHAHAHAHAHAHAHA…

Semuanya tertawa melihat ekspresi wajah angkel Ji yang berubah merah seperti udang rebus. Angkel Ji tidak berkutik, satu lawan sebelas, sudah pasti dia tidak akan menang.

“Besok, kita pasti akan bertemu dengan SHINee lagi,” ujar KA.

“YEEEAAAAHHHHHH…,” triak yang lainnya penuh semangat.

“Ya ampun… benar-benar somplak,” batin angkel Ji.

>>> Bersambung

42 responses to “Save SHINee – Part3

  1. Akhrny s4 juga baca kelanjutanny..
    Hehe..
    Ad cast baru, angkel ji pasti oppa ji hoon..

    Manja n shailov sungguh beruntung, ada yg d tolong sm jjong.. Ada yg d lirik sm key..
    Kelakuan mereka biar bisa d perhatikan shinee jg aneh2.. Sampe2 jd tren center bagi shawol yg laen(baca:lagu wajib ciptaan mereka)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s