Save SHINee – Part4

Auhtor : Park Jihoon

Cast :

SHINee : Onew, Key, Jonghyung, Minho dan Taemin

MANJA : KA-Jjong(bias), Inu-Key, Giga-Taemin, Dhini-Minho dan Rani-Onew

Shailov : Berlian-Key, Niku-Jonghyun, Hana-Onew, Hanna-Onew, Joanna-Key, dan Fefe-Minho

Angkel Ji (a.k.a Jihoon)

Lenght : Part

Genre : Komedi, Mistery.

Disclaimer : Aku hanya punya cerita ini dan duit yang banyak *mimpi >>> semoga jadi kenyataan, AMIN*, sedangkan semua cast punya orang lain. Yang punya nama, silahkan kenalin nama kalian masing-masing ya… hehehehe.

Selamat membaca….

$$$

Di Hotel

Setelah sampai di hotel, semua member SHINee istirahat sebentar sebelum mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Dan setelah memenuhi nafsu makannya, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk memulihkan stamina. Karena kegiatan besok dijamin akan sangat padat, mulai dari jumpa pers, latihan dan malamnya konser akan digelar.

“Hyung, kedua gadis yang berbaju merah di bandara tadi lucu kan?” tanya Key pada Onew yang sedang membaringkan tubuhnya.

“Ne… lucu dan aneh, hehehe.”

“Semoga besok aku bisa melihatnya lagi.”

“Jjong kenapa kamu melamun gitu, mirip ayam yang mau disembelih?” tanya Onew.

“Enggak apa-apa kok hyung,” jawab Jjong.

“Jangan-jangan Jjong hyung teringat dengan gadis yang tadi jatuh itu ya? Hehehe,” ujar Taemin.

“Sok tahu aja loh, dasar anak kecil.”

“Jiah… kenapa wajahmu merah?” Taemin semakin gencar menggoda Jjong.

“Ya ampun, kamu mau menghianati couple kita untuk yang kedua kalinya?” Wajah Key dibuat mirip seperti orang ‘kaget yang hampir mati kena serangan jantung’ di sinetron Indo.

“Untungnya Minho-hyung tidak pernah menghianati 2min couple, hehehe.” Kata Taemin sambil memasang aegyonya.

“Aiiihhh, kalian pada asyik membicarakan couple masing-masing. Aku sama siapa dong?” ujar Onew yang merasa diacuhkan.

“Sama aku aja dong,” jawab Key.

“Andwae…, aku enggak mau bekas Jjong.”

PLETAK

“Sialan… emang aku apaan, dikatain bekas.” Key bersungut-sungut.

“Aku mau sama Taemin aja,” ujar Onew.

“Sorry ya…, aku tidak akan menghianati 2min couple.”

“Ya udah kalo gitu aku pulang lagi ke Korea.”

“Jiah, malah ngambek. Konser kita besok gimana?” tanya Jjong.

“Oh ya, kita ke sini mau konser ya.” Onew sangtae kembali kumat.

“Hyung, kalian dengar enggak tadi pas kita makan ada yang teriak-teriakin nama kita loh,” kata Taemin.

“Kamu kayak jadi artis kemaren aja, bukannya hal seperti itu sudah biasa,” ujar Minho.

“Benar juga ya.”

“Sudah ah…, kita harus istirahat buat acara besok karena kita membutuhkan stamina yang lebih supaya semuanya berjalan lancar.” Ujar Onew mengakhiri percakapan mereka.

“Selamat tidur.”

$$$

Sekarang hari kedua SHINee berada di Indondesia. Matahari belum nongol di langit ibu kota, tapi semua member ekspedisi SHINee sudah sibuk bukan main. Inu juga sudah memastikan kalau Angkel Ji sudah bangun dari kasurnya dan sedang menuju ke rumahnya. Karena angkel Ji secara sukarela kembali dipaksa untuk menjadi sopir pribadi mereka.

“Hallo, angkel Ji. Sudah bangun belum…?” Tanya Inu saat tadi menelpon angkel Ji.

“Yah… kamu mengganggu aja, aku baru aja mau kencan dengan GaIn tersayang,” jawab angkel Ji dengan suaranya yang setengah sadar.

“Angkel mau mengantarkan kami kan ke senayan? Kami sudah hampir siap nih, jadi angkel cepatan datang ke rumah.”

“Apa…? tapi sekarang kan masih gelap, matahari aja masih belum nongol. Bukannya acara jumpa pers nya itu jam sembilan?”

“Iya…, tapi angkel tahu sendiri kan kalo Jakarta macet.”

“Semacet-macetnya Jakarta, dari sini ke senayan enggak sampek satu jam kan? Jadi kita bisa berangkat jam tujuh atau jam setengah delapan.”

“Enggak mau, pokoknya angkel harus mengantar kami sekarang. Kalau tidak… aku doakan agar GaIn dan Jo Kwon benar-benar jadian,” ancam Inu.

“Iye… iye… tapi doanya harus dibatalin ya.”

Beberapa menit kemudian angkel Ji tiba di rumah Inu dengan menggunakan jaket kulit hitamnya. Para member ekspedisi SHINee menyambut kedatangan angkel Ji dengan wajah sumringah, karena sopir yang akan mengantar mereka telah datang. Waktu sarapan mereka pun dimajukan beberapa Jam, karena sebelum terjun ke medan ‘tempur’, perut mereka harus telah terisi dengan baik. Jangan sampai mereka pingsan di saat-saat yang genting. Dan orangtua Inu telah mempersiapkan semuanya dengan baik, secara tidak resmi orang tua Inu diangkat sebagai sponsorship mereka dalam ekspedisi kali ini.

“Ayo kita berangkat…!!!” ujar KA saat semuanya telah beres.

“Tunggu dulu,” kata Inu menghentikan langkah semuanya. “Sebelum kita berangkat, mari kita berdoa supaya semua rencana hari ini berjalan dengan lancar.”

Kemudian mereka semuanya langsung berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran kecil. Mereka menundukkan kepala sejanak, meminta pada Yang Maha Kuasa untuk memperlancar semua rencana mereka hari ini. Dan mempertemukan mereka dengan SHINee, salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang selalu dipuja-puja mereka. Setelah itu, mereka langsung menyusuri jalanan Ibu kota yang masih lengang.

“Angkel Ji, seberapa besar cinta angkel pada GaIn onnie? Kalo cintaku pada Jjong-oppa, sebesar daya ledak bom nuklir loh.” Tanya Niku saat di dalam mobil.

“Hehehe…, cintaku pada GaIn sih biasa saja,” jawab angkel Ji sok Jaim.

“Ah… yang bener, padahal kemarena pas Jo Kwon pisah dengan GaIn semua orang sedih, kecuali angkel yang menari-nari kegirangan seperti orang sarap tingkat akut,” ujar Inu.

“Kamu ponakan yang tidak pernah berbakti, seharusnya kamu mendukungku bukan menjatuhkan.”

“Maaf angkel aku hanya ingin menjadi orang yang jujur, hehehe.”

“Jujur kacang ijo.”

Semuanya tertawa ringan mendengar jawaban angkel Ji. Beberapa saat kemudian mereka tiba di senayan. Matahari masih malu-malu untuk memperlihatkan diri ke dunia.  Udara segar masih terasa menyapa kulit. Namun beberapa Shawol telah berkumpul di depan istora senayan. Mungkin mereka Shawol yang berasal dari luar Jakarta. Kemudian Angkel Ji menurukan semua member ekspedisi SHINee di pelataran tempat parkir.

“Nu… kalo butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk telepon aku, tapi kalo cum mau minta ditraktir makan, mendingan nggak usah aja. Kantorku kan dekat dari sini, Ok.”

“Siap angkel.”

 Tidak berselang beberapa menit, mobil angkel Ji sudah hilang dari pandangan. Udara pagi yang segar membuat mereka sangat bersemangat untuk menyambut kedatangan SHINee. Semua peralatan ‘tempur’ mereka pun juga sudah siap, termasuk dengan hadiah-hadiah khusus yang mereka buat untuk setiap bias dari masing-masing mereka.

Dan genderang untuk ‘peperangan’ di hari kedua pun siap ditabuh kembali.

$$$

“Hallo, bagaimana perkembangannya? Apakah ada sesuatu halangan?”

“Semuanya berjalan lancar Kang, tidak ada satu pihak pun yang mencium tindakan kita.”

“Bagaimana dengan anggota yang lainnya?”

“Mereka telah meninggalkan tempat ini tiga hari yang lalu. Dan aku jamin sekarang mereka telah berada di luar kota semuanya, tidak akan ada yang menyadari keberadaan mereka.”

“Bagus…”

“Terimakasih Kang.”

“Entar sore aku akan ke lapangan kembali untuk melihat persiapan terakhir, kita bertemu di tempat yang kemaren.”

“Baik Kang.”

Tut…tut…tut…, sambungan terputus.

“AYO…CEPAT… CEPAT… CEPAT….!!! dalam waktu lima menit SHINee akan datang, tidak boleh ada satu perisiapan yang kurang.” Kata sang ketua panitia dengan suara lantangnya.

“Siaaapppp, semuanya sudah siap,” jawab salah satu panitia. “Maafkan kami, karena telah menggunakan kalian sebagai korban untuk mencapai tujuan kami,” batinnya kemudian.

$$$

Matahari semakin terik bersinar, dan para shawol pun semakin banyak yang berdatangan seperti semut yang mencium adanya aroma gula. Mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia, bahkan ada beberapa wajah yang berasal dari luar Indonesia. Mereka datang hanya untuk melihat perform idola mereka, SHINee.

“Kalian jangan sampai melepas spanduknya agar tidak terpencar.”

KA harus memberi komando pada yang lainnya dengan suara lantang karena harus bersaing dengan teriakan-teriakan para shawol yang lainnya. KA, Inu, Giga, Rani, Dhini, Fefe, Berlian, Niku, Hana, Hanna dan Joanna telah siap menyambut kedatangan SHINee dari deretan terdepan meskipun harus berdesak-desakan dengan petugas kemanan. Beberapa wartawan pun ikut merangsek di kerumunan para shawol.

Beberapa menit kemudian, Bus yang mereka tunggu pun muncul. Para Shawol langsung histeris mendadak seperti kesurupan massal, berteriak tidak tentu arah. Begitu juga dengan member MANJA dan Shailov. Dan ketika Bus tersebut berhenti, para Shawol berubah menjadi orang stress tingkat akut padahal para member SHINee belum menunjukkan batang hidungnya.

LEE JINKI… KIM JONGHYUN…. KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee…

LEE JINKI… KIM JONGHYUN…. KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee…

LEE JINKI… KIM JONGHYUN…. KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee…

‘Lagu wajib’ SHINee kembali menggema.

“Berlian… Inu… jangan lupa ambil foto mereka,” pinta KA.

“SIAAAPP…,” jawab Inu dan Berlian.

“Yang lainnya…, bantu Inu dan Berlian untuk medapatkan foto terbaik.”

“SIAAAPPP…”

Yang dimasuk ‘bantuan’ yaitu semua member diharapkan untuk mengundang perhatian para member SHINee dengan melakukan perbuatan yang aneh bin ajaib, seperti di bandara kemaren. Kesepakatan ini telah disepakati jauh sebelum kedatangan SHINee. Mereka akan melakukan apapun demi SHINee. Termasuk melakukan perbuatan yang dipandang memalukan di depa umum sekalipun.

LEE JINKI… KIM JONGHYUN…. KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee…

LEE JINKI… KIM JONGHYUN…. KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee…

LEE JINKI… KIM JONGHYUN…. KIM KIBUM… CHOI MINHO… LEE TAEMIN… SHINee…

Kemudian pintu bus pun terbuka, dan beberapa wajah yang ditunggu para Shawol pun menampakkan diri, yaitu para member SHINee. Onew, sebagai leader, keluar terlebih dahulu kemudian disusul Jjong, Key, Taemin dan Minho. Mereka melambaikan tangan, menyapa para Shawol, diikuti dengan senyuman yang membuat para shawol makin stress.

“KYYYAAAAA… ONEW-OPPA….”

“KYAAAAA… ITU… MINHO-OPPA… GANTHENGNYA…”

“KEY…KEY OPPA… AYO KITA NIKAH KE KUA.”

“TAEMIN OPPA… GODAIN AKU DONG!!!”

“BLING BLING… JJONG-OPPA… KYAAA…. LEBIH SEKSOY ASLINYA….”

Semua shawol medadak histeris tingkat akut, persis seperti orang gila baru masuk rumah sakit jiwa. Mereka terus meneriakkan nama member SHINee untuk memperoleh perhatian mereka, syukur-syukur bisa diajak berjabat tangan. Tapi hal itu seperti punguk merindukan bulan.

Member ekpedisi SHINee (MANJA dan Shailov) pun tidak mau kalah. Posisi mereka lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang lainnya.

“KEY YANG TAMPAN… TOLONG LIHAT KESINI DONG, JEBAL!!!!” Joanna kembali mengatakan kalimat koreanya yang sama dengan kemaren, di bandara.

Mendengar hal tersebut, Key teringat kembali dengan kejadian di bandara. Key melihat ke arah datangnya suara, Joanna, dan melemparkan senyumanya membuat Joanna kembali mendadak lemas. Inu dan Berlian dengan cekatan mengabadikan momen tersebut. Para shawol yang berada di belakang Joanna pun ikut histeris tingkat somplak akut saat mereka dilempari senyuman oleh Key.

Semua member SHINee kemudian digiring oleh pengawal-pengawalnya memasuki ruangan yang telah di sediakan khusus untuk jumpa pers. Penjagaan yang super ketat membuat semua Shawol hanya bisa berteriak tidak karuan. Keinginan mereka untuk bersalaman dengan SHINee maupun untuk mencium SHINee hanya tinggal kenangan saja. Beberapa saat kemudian SHINee menghilang ke dalam ruangan tersebut.

Di acara jumpa pers, semua shawol dilarang masuk dan mereka hanya bisa menunggu di luar ruangan. Untungnya panitia bersikap baik hati dengan menyediakan dua buah LCD yang berukuran besar, sehingga mereka bisa melihat proses jumpa pers di dalam.

Setelah jumpa pers tersebut, SHINee lansung menuju ke tempat konser mereka untuk menggelar latihan dan gladiresik. Dan para shawol pun hanya bisa menunggu dengan setianya di luar gedung, sampai waktu konser digelar.

$$$

Di dalam gedung.

“Hyung, tadi aku melihat yeoja yang kemaren,” ujar Key saat istirahat di sela-sela latihan.

“Iya sih, tadi aku juga sempat melihatnya.”

“Aku juga melihat yeoja yang kemaren jatuh, sepertinya mereka berteman karena aku lihat berada di tempat yang sama.” Jjong ikut nimbrung.

“Yang mana sih hyung?” Taemin penasaran.

“Yeoja yang tadi berteriak ‘KEY YANG TAMPAN… TOLONG LIHAT KESINI DONG, JEBAL!!’.” Jawab Onew.

“Wahh… itu namanya kebohongan publik.” Kata Taemin.

“Kok bisa?”

“Iya… masak Key-hyung dibilang tampan, seharusnya kan cantik. Kalo Minho-hyung dibilang tampan sih aku setuju.”

PLAK

“Emang aku yeoja?” Key tidak terima.

“Hehehe… Minahe, aku kan cuma becanda.” Ujar Taemin sambil mengelus-ngelus bekas tangan Key.

“Ayo kita latihan lagi,” ujar Onew.

Semua member SHINee kembali melanjutkan latihannya karena mereka tidak ingin mengecewakan para shawol yang datang. Semua kekurangan-kekurangan selama latihan langsung dilengkapi oleh para panitia dengan sigap.

$$$

Tanpa terasa waktu terus bergulir, pelataran istora senayan berubah menjadi lautan manusia. Hampir seluruh Shawol Indonesia berkumpul di sana, menunggu sang idola perform di depan mereka secara langsung. Kebanyakan dari shawol adalah kalangan cewek-cewek di bawah umur, dan membuat senayan lebih sedap dipandang mata (menurut Jihoon#PLAK). Beberapa penjual poster SHINee pun ikut mondar-mandir menjajakan jualannya. Dan dari dalam gedung terdengar sayup-sayup suara SHINee sedang latihan.

Tepat jam 16.00 WIB, pintu gedung istora senayan di buka dan langsung diserbu oleh para shawol yang telah lama menunggu. Mereka ingin cepat-cepat melihat SHINee lebih dekat, meskipun di tiket mereka jelas-jelas tertera kalau konser SHINee dimulai jam 19.00, mungkin ini juga tergolong sebagai cinta buta. Tapi ada juga beberapa shawol yang masih asyik ngobrol dengan beberapa temannya dan tidak terpengaruh dengan dibukanya gedung konser. Mungkin mereka salah satu pemilik tiket VIP yang telah mendapatkan nomer kursi.

“Ayo kita masuk,” komando KA

“KA, aku mau ke toilet dulu udah enggak tahan nih.” Kata Dhini.

“Ya udah kita tunggu disini, sekalian kalo ada yang mau ke toilet juga. Jangan sampai pas kita di dalam gedung malah kebelet.”

“Aku ikut.”

“Fe… barangnya ditinggal di sini aja, ngapapin dibawa ke toilet.” Ujar Hana.

“Hehehe… lupa, maaf ya.”

Giga, Niku dan Fefe pun ikut bersama Dhini ke toilet, sedangkan yang lainnya dengan setia menunggui barang-barang bawaan mereka. Sambil menunggu, pikiran mereka telah melayang masuk ke dalam gedung konser dan menerobos ke dalam ruang ganti SHINee, bercengkrama dengan SHINee. Bayangan-bayangan wajah namja SHINee telah merasuki pikiran mereka.

Di toilet yang berada di luar gedung, susananya tampak sepi dan terlihat satu orang yang keluar dari dari toliet pria. Dhini, Giga, Niku dan Fefe langsung masuk ke toilet cewek.

“Jangan sampek deh malam-malam masuk ke toilet kayak ginian. Bisa-bisa aku mati berdiri,” ujar Niku.

“Emang kenapa? Toiletnya bersih kok,” tanya Giga.

“Sepiii…, kalo mbak kunti muncul terus numpang pipis juga, gimana?”

“Jiah… masak ahli pembuat petasan bisa takut ama yang kayak begituan,” Kata Fefe dan membuat yang lainnya kontan tertawa.

Beberapa saat kemudian Niku keluar dari toilet. “Lama amat sih,” batinnya saat melihat belum ada satu temannya pun yang keluar. Tiba-tiba…

“Semua persiapan telah selesa Kang, semua barang telah diletakkan ditempatnya dan kami yakin tidak akan ada yang menemukannya hingga barang tersebut meledak jam sembilan nanti.”

“Bagus.”

Terdengar sebuah percakapan dua laki-laki dari luar toilet. Susana yang sepi membut pembicaraan itu terdengar sangat jelas. Mendengar ada kata ‘meledak’ membuat Niku sangat penasaran. Kemudian dia berusaha untuk mengitip dari pintu toilet yang tidak tertutup rapat. Niku melihat seorang pria dengan muka tampan dan menggunakan kalung bertuliskan panita sedang berbicara dengan seorang pria yang tak terlihat wajahnya karena membelakangi Niku. Pria yang bekalung tanda panitia itu terlihat sangat bersikap sopan.

“Jangan sampai ada seorang pun yang mengetahui keberadaan bom itu, meskipun nyawamu sebagai taruhannya,” kata si pria satunya yang disebut Akang.

“APA… BOM???” batin Niku.

Niku langsung lemas saat mendengar kata ‘bom’, kakinya seakan tidak memiliki tulang penyangga sama sekali. Jantungnya semakin berdetak tidak karuan dan keringat dingin langsung mengucur deras. “Jangan-jangan mereka adalah kelompok teroris yang ingin meledakkan tempat ini?” batin Niku.

“Niku… ada apa?”

“SSssttt…”

Niku langsung memberi kode pada Dhini yang baru keluar dari kamar toilet untuk diam. Dhini pun mengikuti permintaan Niku meskipun hatinya penuh dengan tanda tanya. Kemudian dia juga ikut menyimak pembicaraan dua orang pria di luar.

“Baiklah, semoga berhasil dan aku harap jam sembilan nanti akan ada berita tentang bom yang meledak di sebuah konser, hehehe. Aku akan langsung terbang ke surabaya supaya polisi-polisi edan itu tidak dapat mencium keberadaan dan keterlibatan kelompok kita.”

“Baik Kang.”

Niku cepat-cepat menarik Dhini dari depan pintu toilet supaya tidak diketahui oleh pria yang berkalung panitia tersebut. Keringat dingin masih terus membanjiri tubuh Niku hingga bajunya basah. Baru kali ini dia merasakan ketakukan yang amat sangat.

“Niku ada apa? Apa maksud mereka ada bom yang meledak di sebuah konser?” desak Dhini.

“Kalian kenapa?” tanya Giga yang baru keluar sama Fefe.

 “Ada apa sih?” tanya Fefe.

“NIKU… CEPAT KATAKAN!!! APA MAKSUDNYA ADA BOM YANG BAKALAN MELEDAK DI SEBUAH KONSER? JANGAN BILANG MEREKA MAU MELEDAKKAN BOM DI KONSER INI”

Dhini semakin tidak sabar karena mulut Niku seakan sulit untuk berbicara. Namun perkataan Dhini membuat jantung Fefe dan Giga terasa lepas dari tempatnya. Mereka berdua menatap Dhini dan Niku penuh tanda tanya besar dan gugup.

“Dhin, apa yang kamu maksudkan tadi? Ada bom yang akan meledak?” Fefe mencoba untuk menenangkan dirinya.

“Aku tidak terlalu jelas. Tadi aku dengar ada dua yang yang mengobrol di luar dan mereka bilang akan ada bom yang meledak di sebuah konser dan aku yakin Niku menyimak semua pembicaraan itu dari awal.”

Semua tatapan langsung terarah pada Niku dan membuatnya semakin tertekan. Desakan dari teman-temannya akhirnya membuat Niku angkat bicara.

“Mereka… mereka…mereka ingin meledakkan konser SHINee,” papar Niku terbata-bata.

“APA… MELEDAKKAN KONSER SHINEE???”

“Kamu jangan becanda!” kata Fefe tidak percaya. “Kalo mau bercanda jangan seperti itu, itu sudah keterlaluan namanya.”

“Bom yang mereka pasang akan meledak jam sembilan pas,” lanjut Niku.

“NIKU…, HENTIKAN!!!” bentak Fefe.

“Hentikan, tolong kalian jangan berantem di sini. Kita kasih tahu KA, sebagai leader kita, dulu agar kita bisa berpikir secara dingin.” Usul Giga.

Kemudian mereka langsung keluar toilet dengan langkah buru-buru. Wajah Niku masih pucat pasi dengan keringat yang terus mengalir tak mau berhenti. Setelah tiba di tempat member yang lainnya, Giga, Dhini dan Fefe langsung menarik mereka ke tempat yang sepi, jauh dari pengunjung yang lainnya.

“Ada apa ini?” Tanya KA penasaran.

“Bukannya kita harus masuk, kalo tidak segera masuk kita tidak akan mendapatkan tempat yang strategis,” imbuh Inu.

“Tapi…,” ujar Giga ragu.

Niku, Fefe dan Dhini membisu. Mereka hanya saling pandang satu sama lain, berharap ada yang mau menjelaskannya.

“Tapi apa?” Tanya Rani.

“Ada sekelompok orang yang berencana mengebom tempat konser ini tepat jam sembilan, dan mereka telah meletakkan bomnya,” papar Giga.

“APA BOM…???”

Semua member yang lainnya langsung Shock mendengar kata ‘bom’. Jantung mereka seakan telah meledak saat mendengar kata bom tersebut. Kepanikan dan kebingungan langsung menyelimuti wajah semuanya.

“ONEW OPPA…,” ujar Hanna dan Hana barengan.

“SHINee oppa akan di bom…?” ujar berlian tidak percaya.

“Sebentar, kalian jangan panik dulu.”KA berusaha menangkan member yang lainnya. “Giga, kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?”

“Aku tidak tahu karena aku tidak mendengarnya secara langsung. Tapi Niku dan Dhini yang mendengarnya,” jawab Giga.

Semua mata langsung tertuju pada Niku dan Dhini.

“Aku hanya mendengar kalo ada bom yang meledak di sebuah konser, tapi tidak tahu di konser mana. Yang mendengar percakapan tersebut dari awal adalah Niku,” ujar Dhini.

Dengan suara terbata-bata, Niku berusaha menjelaskan semua yang didengarnya secara runut. Semua member yang lainnya mendengarkan cerita Niku dengan jantung yang terus bedegup kencang. Keringat dingin langsung membanjiri pelipis mereka. Cerita yang sebenarnya tidak ingin mereka dengar untuk saat ini.

“Tidak mungkin, SHINee oppa… akan… akan… mati… HUAAAAA…”

Tangis si kembar Hana dan Hanna langsung pecah.

“Kalian ngomong apa? SHINee oppa tidak akan mati,” ujar Fefe ketus.

“Tapi… kata Niku..,” ujar Hana.

“Kita harus telepon polisi,” usul KA.

“Apa polisi? Terus mereka akan membubarkan konser ini? TIDAK BISA.” Kata Fefe marah.

“Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak. Kita masih memiliki waktu empat jam sebelum bom itu meledak.”

“Terus kalau polisi itu tidak menemukan bomnya bagaimana? Konsernya terlanjur batal.”

“Bener juga apa yang dikatakan Fefe,” ujar Joanna.

“Tapi kalo bom itu benar-benar ada, bagaimana?” kata Joanna. “Terus, mereka benar-benar berhasil meledakkan tempat ini. Berarti secara tidak langsung kita lah yang membunuh SHINee-oppa karena tidak memperingati mereka tentang adanya bom ini.”

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Niku. Perasaan takutnya mulai sedikit berkurang, karena ada teman-teman yang siap memikul beban bersama-sama.

“Kita lapor pada panitia,” usul Rani.

“Jangan! Bukannya kata Niku salah satu dari mereka adalah bagian dari panitia,” ujar KA.

“Terus kita harus bagaimana? Kita harus bertindak cepat, kalau tidak… ” ujar Hana. Dan air matanya kembali tumpah saat membayangkan apa yang akan terjadi dengan SHINee.

Bersambung >>> Part 5 (Jam 17 : 00)

35 responses to “Save SHINee – Part4

  1. @inu: hbs mau ktemu jjong jd nya deg2an gmana geto!

  2. dari yeppopo ama asianfansclub😀

  3. hahaha😀
    di part ini aku lumayan banyak ngomong. wkwkwk >.>>

  4. huaaa….. aku telat baca TT_TT
    ya ampun…. aku deg2an baca ni FF .. brasa bakal nonton SHINee beneran!
    anak2 shinee kayanya kepincut tuh ama anak2 MANJA+Shailov.. kekeke
    shinee mau di bom… huaaaaa… *nangis*
    jangan donk… apa yg akan kami(?) lakukan?
    baca part berikutnya ah…..

  5. lanjut yang ke 5 ~~

  6. huaaaa…
    telat baca-telat baca *heboh ndiri
    Konser Shinee oppa ada bom’y? o.O
    huaaa…
    jgn sampe meledak *langsung ngadain doa sukuran

  7. keknya ak gak ngomong sama skali ya d part ini??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s