My Life Story – Part1

Cast : Onew dan Umma

Other cast : SHINee

Lenght : 2Part

Genre : Family

Note : Kali ini aku mencoba untuk genre yang belum pernah aku coba sebelumnya, semoga tidak mengecewakan. FF ini hanya hasil karangan otak Jihoon yang sedikit berdasarkan kisah Onew yang sering Jihoon baca di internet (entah benar atah hanya bohongan… hanya tuhan dan yang nulisnya yang tahu, hehehe). Onew dalam FF ini dipanggil sebagai Onew bukan Lee Jinki, coz Jihoon lebih suka dengan nama Onew… hahaha #PLAK.

Selamat membaca…

$$$

Tititit…tititit…tititit…

Suara jam alarm lusuh menyeruak di keheningan pagi, membangunkan sang majikan. Udara di luar berhembus semilir namun terasa menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat siapapun merasa lebih nyaman berada di bawah selimut. Bahkan burung-burung pun masih merasa nyaman berada dalam sarang berkumpul dengan anak-anaknya untuk menghangatkan satu sama lainnya. Embun-embun bergelantungan di ujung dedaunan memancarkan kesucian pagi dan jatuh ketika sang angin melintas.

Onew, sang majikan alarm tersebut, langsung bangun dari kasur lusuhnya. Meskipun beberapa kali menguap, menunjukkan kantuk yang belum tuntas, namun dia memaksa untuk bangun dari tempat tidurnya, bangun dari kenyamanan pagi. Kemudian dia mematikan alarmnya yang terus berbunyi meskipun dia telah bangun dan langsung menuju ke kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan diri, Onew langsung menuju ke sebuah ruangan yang berada di belakang rumahnya. Di sana telah bekerja seorang perempuan paruh baya hingga membuat keningnya berkeringat di pagi yang dingin tersebut. Seutas senyum hangat terlukis di wajahnya saat melihat anak kesayangannya datang dan memberinya pelukan hangat.

“Selamat pagi umma,” sapa Onew.

“Selamat pagi anakku, bagaimana tidurnya?”

“Nyenyak umma,” jawab Onew dengan senyum khasnya yang menyebabkan matanya seakan menghilang.

Sang umma ikut tersenyum meskipun di hatinya merasa sedih saat melihat lingkaran hitam di sekitar mata anak semata wayangnya tersebut. Lingkaran hitam yang mengatakan dengan jelas kalau anaknya tersebut kurang tidur. Bayangkan saja, seharian melakukan aktivitas dan baru pulang kerumah sekitar jam 10malam, kemudian melakukan olahraga rutinnya yaitu skiping 1000kali, dilanjutkan dengan belajar hingga jam satu dini hari, dan setelah itu baru tidur. Namun perempuan tersebut tidak tahu harus berbuat apa selain menyunggingkan sebuah senyum untuk memperlihatkan kebahagian pada anaknya.

“Bagaimana tahu-nya hari ini umma?”

“Seperti biasa, semuanya selalu mendapatkan berkah dari Tuhan. Hari ini umma membuatnya dua kali lipat dari biasanya karena kemaren Nyonya Kim minta tambahan untuk jatah tokonya.”

“Waah, berarti tahu buatan umma semakin banyak pelanggannya, semoga kedepannya semakin banyak lagi,” ujar Onew saat menatap wajah ummanya, wajah yang teduh dan selalu berhias senyuman. “Tapi umma harus menjaga kesehatan. Onew tidak mau umma terlalu mengejar uang dan melupakan kesehatan.”

“Ne… arasseo, umma tidak akan mengabaikan kesehatan, karena kalo umma sakit siapa yang akan merawat anak yang ganteng ini.” Ujar perempuan yang murah senyum itu sambil mengacak-ngacak rambut Onew.

“Baiklah kalo begitu, aku juga akan bekerja lebih giat lagi. Hari ini aku akan mengantarkan semua pesanan tahu, setelah itu aku akan mengantarkan koran dan sekolah. Habis sekolah aku akan latihan dan bekerja di rumah makan Lee ahjussi, hwaiting!!!” kata Onew dengan penuh semangat.

“Kamu memang anak yang luar biasa,” puji sang umma. “Oh ya, bagaimana training kamu di SM?”

“Sangat menyenangkan, meskipun sedikit melelahkan. Di sana aku berlatih vocal dan tari, dan yang membuat ku sangat senang disana, aku bertemu dengan teman-teman yang memiliki semangat tinggi untuk bekerja keras. Hal itu membuatku termotivasi untuk bekerja semakin keras.”

“Bagus lah, umma juga ikut senang.”

Kemudian Onew mengeluarkan sepeda yang selalu membantunya mengatarkan semua tahu-tahunya. Sepeda yang telah menemaninya melewati kehidupannya yang tergolong tidak mudah. Semua tahu pesanan disusun dengan rapi di atas sepedanya sesuai dengan rute perjalanannya, mulai dari pesanan nyonya Kim yang paling jauh berada di susunan paling bawah sampai pesanan nyonya Lee paling atas karena jaraknya paling dekat. Semuanya dipikirkan secara matang oleh Onew untuk mempermudah pekerjaannya.

“Umma, aku berangkat dulu.”

“Hati-hati.”

Onew menuntun sepedanya hingga tiba di jalan depan rumahnya. Dinginnya angin pagi mulai terasa menyelusup lewat sela-sela jaket yang dikenakannya. Bahkan wajahnya terasa seperti dibekap dengan handuk yang dicelupkan ke dalam air es, dingin. Namun gelora semangat di dalam dadanya bisa mengatasi dinginnya udara pagi dan membuat tubuhnya hangat penuh semangat.

“Onew, ayo semangat! Hari ini memang terasa melelahkan tapi di masa mendatang kamu pasti akan mendapatkan sesuatu yang sangat manis,” ujar Onew pada dirinya sendiri untuk membakar semangatnya.

Kemudian Onew mulai menaiki sepedanya dan mulai mengayuh, menerobos jalan yang masih sepi. Udara dingin semakin kencang menampar wajahnya yang tak terlindungi. Semburat sinar cahaya matahari mulai menampakkan diri, membuat langit di ufuk timur tampak terang. Bulir-bulir keringat mulai membasahi kening Onew setelah beberapa menit berlalu, muatan tahu yang masih penuh membuatnya harus lebih kuat mengayuh sepedanya.

$$$

Setelah selesai mengantarkan tahu, Onew kembali ke rumahnya dan langsung membersihkan keringat yang membuat tubuhnya terasa lengket. Saat itu matahari mulai menunjukkan sinarnya, meskipun cahayanya belum mampu mengusir dinginnya pagi. Kemudian Onew mengenakan seragam sekolah dan kembali mengeluarkan sepedanya.

“Onew-ah, sarapan dan bekalnya ada di atas meja,” ujar umma sambil melayani pembeli tahunya.

“Ne, sudah aku bawa,” jawab Onew. “Aku berangkat dulu.”

Onew kembali menyusuri jalanan yang masih sepi, meskipun sudah terlihat beberapa orang melintas dengan kedaraannya. Tujuannya kali ini adalah tempat mengambil koran yang akan dikirimkan pada pelanggannya, sekitar 50 pelanggan. Sambil mengayuh sepeda, dia juga menyantap sarapannya, roti panggang dengan isi daging dan sayur. Ini termasuk efesiensi waktu yang telah dipikirkannya, karena waktunya tidak memungkinkan untuk sarapan dengan santai, setelah mengantarkan koran dia harus cepat-cepat menuju sekolahnya supaya tidak terlambat.

“Koran pagi…, selamat mambaca.”

Onew selalu mengatakan kalimat tersebut sebelum melemparkan korannya ke pekarangan rumah pelanggannya. Meskipun terlihat sia-sia, namun hal itu membuat para pelanggannya setia dan tidak mau berlangganan ke tempat lain. Bahkan dari waktu ke waktu pelanggannya selalu bertambah.

Selesai dengan pekerjaan mengantar korannya, Onew langsung mengayuh sepedanya ke sekolah. Keringat yang kembali bergulir di keningnya tak membuatnya merasa lelah, dia menganggapnya sebagai hasil dari olahraga pagi. Selama di sekolah, Onew menjalaninya seperti layaknya siswa lainnya, belajar, bercanda dengan teman-temannya bahkan menghabiskan makan siang berasama beberapa teman dekatnya.

Selesai dengan pelajaran di sekolah, Onew melanjutkan kegiatannya dipusat pelatihan SM, untuk latihan dengan beberapa trainee lainnya. Mulai dari latihan nari, vokal bahkan berlatih acting. Dari tempat itu, Onew kemudian mengenal beberapa orang yang kemudian hari menjadi anggota dalam kelompoknya. Mereka itu adalah Jonghyun, Key, Minho dan Taemin. Mereka melewati masa-masa latihan yang berat dengan saling memberi semangat.

“Hyung, kita makan bareng yuk!” ajak Key setelah latihan.

“Mianhe… aku masih ada pekerjaan,” tolak Onew dengan nada menyesal.

“Onew-hyung masih kerja part time? Apa enggak capek hyung?” tanya Minho.

“Capek sih, tapi ini semuanya demi cita-cita ku. Kalian tahukan kalo keadaan ekonomi keluargaku tidak terlalu bagus, dan aku bercita-cita ingin melanjutkan ke sekolah sampai ke Universitas. Jadi aku harus nabung dari sekarang.”

“Bukannya entar kalo kita debut dan sukses, pendapatan kita akan lumayan. Bahkan kita bisa melanjutkan kuliah.” Ujar Taemin ikut memberikan pandangannya.

“Iya kalo sukses, kalo tidak?” Onew menepuk pundak Taemin. “Sudah ah, sampai bertemu besok ya. Aku harus buru-buru nih, annyeong.”

“Annyeong.”

$$$

“Selamat malam, aku pulang.”

Jam sepuluh malam, Onew tiba di rumahnya. Dia meletakkan sepedanya dan melepaskan semua pakaian yang dikenankannya dan hanya mengenakan celana pendeknya yang membuatnya lebih nyaman. Setelah istirahat sebentar, dia kemudian melanjutkan dengan skiping 1.000kali sebagai latihan untuk menjaga staminanya. Keringat mulai mengucur dari setiap pori-pori kulitnya membuat tubuhnya basah oleh keringat. Bahkan beberapa bulir keringat tersebut sempat jatuh dan membuat lantai basah.

“Onew-ah, air panas telah umma siapkan. Cepatlah mandi dan setelah itu kita makan bersama.”

Wanita paruh baya itu selalu menyediakan air panas untuk anak tercintanya, setiap hari. Karena ia tahu bahwa aktivitas yang dilakukan oleh anaknya sangat melelahkan, dan air panas bisa membantu menjaga staminanya supaya tidak terserang flu. Bahkan dia selalu menunggu Onew untuk makan malam bareng bersama, karena hanya saat itulah waktu yang dimiliki mereka untuk saling bertukar cerita.

Selesai mandi, Onew langsung menuju ke meja makan. Wajahnya terlihat begitu segar dengan sisa-sisa air yang masih menempel di wajahnya.

“Bagaimana hari ini?” tanya umma sambil menyerahkan semangkok nasi pada Onew.

Onew kemudian menceritakan semua yang dialami hari ini, tak ada satu pun yang dirahasiakan terhadap ummanya. Mereka menyantap makanan diselingi dengan cerita yang membuat waktu mereka terasa sangat berarti, waktu yang tak bisa diganti dengan apapun.

“Umma, terimakasih atas semua kasih sayang yang umma berikan buatku selama ini. Maaf, karena sampai saat ini aku belum bisa membalasnya dan membuat umma masih harus bekerja keras,” ujar Onew sambil menatap wajah wanita paruh baya di depannya itu lekat-lekat “Suatu saat nanti, aku pasti akan memberikan kebahagian buat umma.”

“Tidak usah nanti, saat ini pun kamu sudah memberikan umma berjuta-juta kebahagiaan. Melihat senyumanmu saja, membuat umma sudah bahagia. Seharusnya umma yang harus minta maaf karena umma tidak bisa memberimu kehidupan yang lebih layak.”

Kini wanita paruh baya tersebut menundukkan kepala, karena ia merasakan ada bulir-bulir hangat mulai jatuh dari ujung pelupuk matanya. Pembicaraan tersebut mengingatkannya pada mendiang suaminya, ayah Onew, yang telah meninggal beberapa tahun silam. Namun hatinya selalu menguatkan hatinya untuk terus berjuang dan mmbesarkan anak semata wayangnya itu.

“Maaf umma, Onew tidak berniat untuk membuat umma sedih,” Onew merangkul pundak ummanya dengan perasaan bersalah.

“Tidak apa-apa, umma hanya teringat mendiang ayahmu. Seandainya dia masih hidup, dia pasti bangga memiliki anak seperti mu.”

“Umma…,”

Onew semakin erat merangkul ummanya. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca, namun dengan sekuat tenaga dia berusaha mencegahnya supaya tidak tumpah di depan wanita yang disayanginya tersebut dan membuatnya semakin sedih.

“Sudah malam, bukannya kamu harus belajar.”

“Ne…,” Onew melepaskan rangkulannya.

“Jangan terlalu malam, supaya kamu punya waktu tidur yang cukup.”

“Ne, umma juga harus istirahat.”

Kemudian Onew meninggalkan Ummanya setelah membereskan meja makannya. Onew langsung larut dengan buku-buku pelajarannya, menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan mempersiapkan pelajaran yang akan diterimanya besok. Membaca setiap buku pelajaran membuat semangatnya semakin tumbuh untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Dia percaya, dengan kerja keras dia bisa mengubah masa depannya dan memberikan kehidupan yang lebih layak buat ummanya.

$$$

Setiap hari, Onew selalu melewati rutinitas kehidupannya dengan senyuman yang selalu terkembang dan tidak membiarkan kesedihan sekecil apapun ikut mewarnainya. Uang hasil kerja kerasnya selalu dikumpulkan dan ditabung sedikit demi sedikit untuk menyambut masa depan yang jauh lebih baik. Bahkan ummanya juga ikut membantu dengan menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk persiapan Onew melanjutkan pendidikannya.

Namun suatu ketika Umma Onew jatuh sakit saat onew sedang menjalankan latihannya di SM dengan para trainee yang lainnya. Suhu tubuhnya mendadak naik dan membuatnya tidak bisa berdiri. Dan saat hendak mau masuk ke kamarnya untuk istirahat, ia jatuh pingsan.

“Mianhe, aku harus pulang cepat-cepat ke rumah, firasatku tidak enak. Maaf karena aku tidak bisa ikut makan bersama kalian lagi, maaf.” Ujar Onew dengan membungkuk beberapa kali hingga membuat yang lainnya, key, Jonghyun, Mino dan Taemin tidak kuasa untuk menahannya lebih lama lagi.

Onew kemudian langsung pulang menuju rumahnya, sebelumnya dia telah minta izin pada Lee Ahjussi untuk tidak masuk kerja. Tidak biasanya dia merindukan ummanya hingga membuat dadanya terasa sesak. “Kenapa dengan perasaanku ini, semoga tidak terjadi apa-apa dengan umma,” harap Onew dalam hatinya. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat lama, bahkan jalannya kereta terasa sangat lambat baginya.

“Umma aku pulang.”

Ujar Onew saat tiba di rumhnya, tapi tidak ada yang menjawabnya. Susana rumahnya terlihat begitu sepi, tidak seperti biasanya. Onew kemudian meletakkan sepedanya dan langsung menuju ke dalam rumahnya.

“Umma…,” panggil Onew.

Tidak ada yang menyahut.

“Astaga, UMMA…!!!”

Onew begitu terperanjat saat melihat tubuh wanita yang disayanginya melebihi apapun di dunia itu meringkuk tidak berdaya di dekat pintu kamarnya. Dengan cekatan Onew berusaha memberi pertolongan pada Ummanya, dia mengangkat tubuh tersebut dan membawanya ke tempat tidur.

“Umma…,” Onew berusaha memanggil, tapi belum ada respon dari Ummanya.

Suhu tubuhnya tinggi, sehingga Onew memutuskan untuk mengompresnya dengan handuk basah. Onew terus berusaha memanggil nama ummanya, hingga tak terasa buliran air matanya yang ditahan dari tadi jatuh juga.

“Umma, ku mohon bertahanlah,” ujarnya.

Beberapa saat kemudia umma siuman, kemudian dia menggenggam tangan Onew erat-erat dan berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Namun onew mencegahnya, karena melihat kondisinya yang memprihatinkan. Suhu tubuhnya juga tidak kunjung turun.

“Onew-ah…,” panggilnya dengan suara berat.

“Ne umma”

“Mianhe…, umma merepotkanmu.”

“Apa yang umma bicarakan? Umma tidak membuatku repot kok.”

“Tapi…,”

“Umma janggan banyak bicara dulu. Aku akan menelepon rumah sakit.”

“Jangan…, sebentar lagi umma juga akan sembuh kok. Umma hanya butuh istirahat sebentar.”

Namun setelah mengatakan kalimat tersebut, perempuan yang telah mencurahkan cintanya buat Onew kembali jatuh pingsan. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Onew langsung menelepon pihak rumah sakit. Wajah putihnya membuatnya semakin pucat. Beberapa menit kemudian, sebuah ambulan dengan bunyi sirine yang meraung-raung tiba di depan rumah Onew. Dan Ambulan tersebut membawa wanita paruh baya tersebut ke rumah sakit ditemani oleh anaknya, Onew.

Selama perjalanan, Onew terus memanggil nama ummanya, namun wanita itu tetap lelap dalam pingsannya. Suara sirene, terdengar sangat kencang hingga membuat gendang telinga hampir pecah.

“Umma bertahanlah, jangan tinggalkan Onew sendirian di dunia ini.”

Bersambung…

34 responses to “My Life Story – Part1

  1. hmm, benar juga ya,,,
    kalo gitu kenapa oppa bisa somplak? #minta ditabok nich, XDD
    hooo, oppa takut juga ya ama polisi? XDD
    cheon oppa🙂

  2. Aigooo~ nangis aku bacanya…
    Kebetulan banget malam ni lagi melankolis euy, baca FF ini lagi tambah deres deh…
    Inget nae Umma…
    Ummaaa… saranghae…
    eh betewe, emang Appa-nya Onew Oppa udah meninggal????
    Aigo. Onew Oppa…

    • hehehehe… emang melankolis nih malem ya… apa karena besok tidak libur…hehehehe
      gumawo ya…
      kalo di FF ini appanya udah meninggal… tapi kenyataannya aku belum tahu… belum dapat infonya…

  3. kkk~
    oppa , itu gambarnya bagus ^^ boleh minta ga ??
    *apaan coba ?* –‘

  4. oppa numpang nangis yawh….
    ingat sama eomma ku dirumah,,,walau beliau sibuk dan kurang perhatian sama aku,,*(lah,,,lah..lah,,kok curhat sich??)..
    pokoknya aku pengen nangis…..
    hiks..hiks..hiks…..*(nyanderin kepala di bahu ojong,,,,)….

  5. lama nggak buka blog oppa , huhuhu
    oppa, ternyata multi talent
    aku bacanya sampe nangis T.T
    croottt *narik ingus

  6. annyeong saya datang~~~
    adakah yang kangen dengan saya? wkwkwk *gakadayangkangenmaelo*
    hehehe🙂
    aigo, onew anak berbakti banget >.<
    ikut terharu deh…
    moga aja eomma nya gak kenapa2…

  7. ssooo touching,,
    tak ku sangka jihoon oppa yg somplak ini,
    bisa buat ff yg touching banget,

  8. AIGO,, ONEW OPPA memang namja yg baik!!!!!!

  9. Nae yeobo onew oppa,,,menyentuh sekali,,,aku mau nangis jadinya #meluk onew-dikejar MVP sedunia
    Itu mertuaku ga bakal kenapa-napa kan ahjussi??? #croot-narik ingus
    Nice ff, kebetulan lagi galau SMTown, #ga ada sambungannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s