My Life Story – Part2

Author : Park Jihoon

Cast : Onew dan Umma

Other cast : SHINee

Lenght : 2Part

Genre : Family and Friendship

Selamat membaca…

$$$

Malam itu, setelah tiba di rumah sakit, umma-onew langsung di bawa ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan. Seorang perawat yang berperawakan cantik melarang Onew untuk ikut masuk ke ruang ICU dan memintanya untuk menunggu berita dari dokter yang telah masuk ke ruangan tersebut. Perasaan gelisah, khawatir, cemas membuat Onew tidak nyaman untuk duduk di kursi yang berada di dekatnya. Jantunganya terus berdetak kencang, dan tidak siap jika dokter memberikan kabar yang diluar harapannya.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar diikuti oleh perawat yang berperawakan cantik itu dan mengajak Onew untuk menuju ke ruangannya. Onew memaksa supaya dokter cepat-cepat memberi tahukannya mengenai kondisi Ummanya, namun dokter hanya bilang “dia akan baik-baik saja,” tanpa informasi yang jelas. Setelah tiba di ruangan sang dokter, Onew dipersilahkan duduk dan terpaksa dia mengiyakan permintaan sang dokter meskipun hatinya sudah tidak sabar, ingin cepat mengetahui kondisi ummanya.

“Beliau adalah wanita yang sangat luar biasa,” ujar sang dokter memulai pembicaraannya.

Pembicaraan dokter yang tidak to the point membuat Onew semakin bingung siapa wanita yang sedang dibicarakan oleh sang dokter. Raut wajahnya semakin tidak sabar, dan akhirnya memutuskan untuk menanyakannya pada sang dokter.

“Bagaimana kondisi umma saya dok?”

“Dasar anak muda,” si dokter itu tersenyum melihat ekpresi muka Onew yang masih diliputi ketegangan. “Bukannya tadi aku sudah bilang, umma mu akan baik-baik saja.”

“Aaahhh… syukurlah,” Onew menghembuskan nafasnya.

Kemudian sang dokter langsung menjelaskan kondisi yang menimpa umma Onew dan mengharuskannya dirawat di rumah sakit selama tujuh hari. Dokter mengatakan kalau penyebabnya adalah kelelahan yang luar biasa. Hati Onew langsung terenyuh, merasa kasihan dengan kondisi wanita yang paling disayangnya.

“Baiklah dok, tolong berikan perawatan dan tempat yang terbaik buat umma. Semua biaya akan aku siapkan. Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpa orang yang paling aku cintai.”

Sang dokter tidak bisa berkata apapun karena terpesona dengan semangat dan cinta yang memancar dari jiwa Onew. Jiwa muda yang indah, dan sekarang telah jarang ditemui. Si dokter memberikan pelukan hangatnya untuk memberikan semangat pada Onew dan berjanji akan memberikan pelayanan kesehatan yang baik sebelum Onew keluar dari ruangan itu.

$$$

Onew POV

Keesokan harinya.

Matahari bersinar sangat cerah, lebih cerah dari biasanya yang aku lihat belakangan ini. Sinarnya pun lebih hangat, dan aku yakin bahwa kehangatan ini akan memberikan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Pagi-pagi sekali aku kembali ke rumah, saat umma masih terlelap dalam tidurnya, untuk mengambil pakaian ganti dan membawakan buku supaya umma tidak merasa jenuh selama berada di rumah sakit.

Di pelataran rumah sakit aku lihat beberapa burung kecil sedang asyik bercanda dengan riangnya. Dan terbang saat beberapa kaki manusia mengganggu wilayahnya, mereka hanya bisa bercicit marah dari dahan pohon. Saat kaki itu menghilang, semua burung-burung kecil itu kembali terbang ke pelataran dan melanjutkan candanya. Membuatku sangat iri dengan kebahagiaan yang mereka rasakan.

Rumah sakit terlihat sudah mulai ramai, beberapa dokter dan perawat terlihat keluar masuk ke kamar-kamar pasien. Sangat berbeda dengan kondisi tadi malam saat aku tiba di sini, sepi. Di lorong, aku sempat melihat beberapa orang sedang menangis dan beberapa orang lainnya menunggu dengan wajah cemas di depan sebuah kamar,  membuatku teringat dengan kondisi ku tadi malam. Tapi mereka masih beruntung masih bisa berbagi kesedihan dengan orang lain, sedangkan aku… ah lupakanlah! Aku mempercepat langkahku menuju ke lift, karena aku tidak mau mengingat hal-hal yang menyedihkan lagi.

“Selamat pagi,” sapa ku.

Di dalam ruang rawat, umma masih terlihat berbaring lemas, dan dia berusaha beranjak dari tidurnya saat mendengar suaraku sebelum aku mencegahnya. Aku menaikkan kasur agar umma bisa tiduran dengan lebih nyaman.

“Umma ingin pulang, umma lebih nyaman istirahat di rumah.” Ujar umma saat aku meletakkan baju gantinya di sebuah lemari kecil di dalam kamar rawat tersebut.

“Tapi umma harus menjalani beberapa test kesehatan beberapa hari kedepan untuk memastikan kesehatan umma.”

“Umma sehat kok, aku hanya butuh istirahat sebentar.”

Umma masih saja terus berusaha untuk pulang, sebenarnya aku tahu apa yang sedang dipikirkan umma. Apa lagi kalo bukan biaya pelayanan dan pengobatan di rumah sakit ini. Apa lagi sekarang umma berada di dalam sebuah ruang rawat inap VIP, karena aku tidak ingin membiarkan umma berada di ruangan yang tidak nyaman. Umma berpikir kalau perawatan dan pengobatan ini bakalan menelan biaya yang tidak sedikit.

Sebenarnya aku juga pusing memikirkan biayanya yang tidak sedikit ini. Bayangkan saja, uang yang aku kumpulkan beberapa tahun hanya cukup untuk membiayanya pelayanan kesehatannya selama lima hari, masih kurang dua hari lagi jika sesuai dengan permintaan dokter yaitu tujuh hari. Jika umma di rawat di tempat biasa mungkin tabunganku cukup untuk biaya selama tujuh hari ditambah dengan beberapa tes kesehatannya, tapi aku tidak ingin umma mendapatkan pelayanan kesehatan yang setengah-setengah. Dan aku yakin, bahwa aku bisa memperoleh biaya tambahannya tersebut.

Aku mendekati umma dan duduk di bibir tempat tidurnya, “Umma boleh pulang jika mendapatkan izin dari dokter,” ujarku lembut.

“Tapi…”

“Umma khawatir dengan biayanya?”

Umma menganggkuk pelan, “Dari mana kamu mendapatkan uang untuk biaya semua ini?”

“Umma jangan khawatir, semua biaya sudah bisa aku tangani, kan masih ada tabunganku.”

“Apa? Kamu menggunakan tabungan mu? Tidak…, umma tidak mau dirawat di rumah sakit ini, umma mau pulang.”

Umma mulai berusaha keras untuk turun dari tempat tidurnya, bahkan dia berusaha untuk mencabut jarum infus yang menempel di pergelangan tangannya. Umma terus meronta sebelum aku memeluknya kuat-kuat.

“Umma, tolong jangan memikirkan biaya untuk masuk kuliah disaat seperti ini, di saat  nyama umma sedang dipertaruhkan. Umma mau kelak aku wisuda seorang diri? tidak ada umma disampingku? Aku tidak mau,”kataku lirih saat berusaha menenangkan umma. “Buat apa aku melanjutkan sekolahku, jika umma sudah tidak ada di dunia ini. Aku sudah kehilangan appa dan aku tidak mau kehilangan umma juga,” lanjutku, dan tak terasa pipiku terasa dialiri oleh cairan hangat yang meleleh.

“Tapi…”

“Umma tidak sayang sama Onew?”

“Bagaimana kamu bisa bilang begitu? Kamu adalah anak satu-satunya yang umma paling sayangi di dunia ini,” suara umma mulai melembut kembali.

“Kalau umma memang sayang sama Onew, tolong turuti semua nasehat dari dokter supaya umma bisa cepat sembuh.”

“Tapi…”

“Tidak ada kata tapi lagi. Semua tabunganku sudah aku siapkan untuk biaya pengobatan umma selama dirumah sakit. Mengenai uang kuliahku kelak, kan masih ada waktu untuk menabung kembali. Aku akan lebih giat lagi untuk bekerja supaya aku tetap bisa melanjutkan kuliah.”

“Mianhe… Onew, umma… hanya merepotkan kamu,” ujar umma dalam tangisnya.

Umma kembali tenang, dan membaringkan tubuhnya kembali. Aku kemudian masuk ke kamar kecir untuk menghapus semua air mataku yang sempat tidak bisa aku tahan tadi. Aku tidak ingin menunjukkan air mata di depan umma, karena itu sama saja dengan menunjukkan kesedihan ku.

“Untuk beberapa hari ke depan, aku akan lebih sibuk karena jadwal latihanku di SM semakin padat untuk mempersiapkan debut kami. Jadi aku tidak bisa mengunjungi umma sesering mungkin, tapi aku janji akan mengunjungi umma jika ada waktu luang,” ujar ku saat keluar dari kamar kecil.

“Umma mengerti, kamu jaga kesehatan ya!”

“Aku juga mau umma berjanjji bakalan mengikuti semua anjuran dari dokter!”

“Iya… umma janji, ternyata anak umma ini lebih cerewet dari seorang dokter ya, hehehe.”

Senyuman yang muncul di wajah umma membuat hatiku kembali tenang. Mulai detik ini aku harus berkonsentrasi untuk bekerja, mencari kekurangan uang pengobatan umma. Sebenarnya latihan di SM tidak ada yang berubah sama sekali, aku akan lebih sibuk karena harus bekerja. Dan aku mengatakan hal tersebut sebagai alasan karena tidak mau membuat umma semakin khawatir. Semoga aku bisa mendapatkan semua kekurangan biayanya.

$$$

Hari-hari berjalan seperti biasanya, hanya saja tidak ada umma di rumah dan secara otomatis produksi tahu juga berhenti. Semua pelanggan umma mengatakan keperihatinan atas kondisi umma saat aku memberitahukan  mengenai pesanan mereka yang tak mungkin bisa aku penuhi. Dan yang membuatku lega, mereka akan kembali menjadi pelanggan umma jika kelak umma kembali memproduksi tahunya.

Waktu luang di pagi hari, karena tidak ada tahu yang harus diantarkan, aku gunakan untuk mengurusi rumah, menjaganya agar tetap bersih. Dan hal itu juga memberiku kesempatan untuk bisa menikmati sarapan dengan santai sebelum berangkat mengantarkan koran pagi, kesempatan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya.

Mengenai gaji di rumah makan Lee Ahjussi, ternyata beliau mengijinkanku untuk memintanya di muka setelah aku menceritakan kondisi umma. Aku sangat berterimakasih padanya. Padahal pertamanya aku sedikit sangsi, karena Lee Ahjussi termasuk orang yang selalu perhitungan jika berhubungan dengan yang namanya uang.

“Terimakasih ahjussi, aku akan bekerja lebih keras lagi dan tidak akan mengecewakan ahjussi,” ucapku saat menerima gaji ku.

Tapi gaji yang aku terima dari Lee ahjussi juga masih kurang, dan hal tersebut membuatku sempat pusing. Tapi untunglah saat latihan di SM aku mendengar dari manajer-hyung mengenai project yang akan SM lakukan untuk tiga hari kedepan selama dua hari di pulau Jeju. Dan aku langsung mengajukan diri, jadi pengangkut barang pun tidak jadi masalah. Pada awalnya manajer-hyung juga menolaknya.

“Tidak boleh, kamu harus berkonsentrasi dengan latihanmu karena sebentar lagi kamu akan debut,” ujarnya saat menolak permintaanku.

Kemudian aku menjelaskan kondisi yang aku alami, dan manajer-hyung pun mulai mengerti.

“Bukannya lebih baik kamu meminjam uang ke perusahaan,” sarannya.

“Tidak bisa, umma mengajarkanku untuk tidak pernah meminjam uang ke siapa pun karena kami belum tentu bisa mengembalikannya. Dan jika umma tahu aku memperoleh uang untuk biayanya di rumah sakit, dia pasti akan marah besar.”

Manajer-hyung meminta waktu sebentar untuk mendiskusikan dengan pihak manajemen, karena dia tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu di masa yang akan datang. Dan tidak berselang lama, manajer-hyung kembali menemuiku.

“Pihak manajemen akan mengizinkanmu tapi dengan satu syarat,” kata manajer-hyung dengan suara dipelankan.

“Syaratnya apa?” tanya penasaran.

“Syaratnya, kamu harus mau dijadikan leader saat kamu debut nanti.”

“Siap, aku mau.” Jawabku langsung tanpa berpikir lagi, yang ada di kepalaku saat ini adalah mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit umma.

Setelah pekerjaan itu kau dapatkan, aku langsung meminta izin pada umma dengan alasan latihan dari SM, bukan untuk bekerja. Dan umma mengijinkan. Aku lihat kondisinya pun semakin lama semakin membaik dan wajahnya kembali memancarkan kebahagiaan. Pada hari H-nya aku langsung menuju ke pulau Jeju berasama para rombongan kru lainnya tanpa memberitahukan pada teman-teman trainee yang lainnya, yang sudah akrab dengan ku. Aku ditempatkan di bagian produksi, dan bayarannya ternyata bisa menutupi semua kebutuhan biaya rumah sakit yang aku perlukan. Syukurlah.

End Onew POV

$$$

Selama Onew berkerja di pulau Jeju, ruang latihan di SM terlihat lebih sepi dari biasanya karena Onew lah yang sering bertingkah konyol untuk menghibur teman-teman yang lainnya. Jjong, Key, Minho dan Taemin juga merasakan kejanggalan tersebut.

“Kemana ya Onew-hyung? sudah tiga hari dia tidak latihan,” ujar Key saat istirahat.

“Enggak tahu, dia tidak pernah mengatakannya,” jawab Minho.

“Apa mungkin Onew-hyung menyerah dengan semua latihan ini dan memutuskan keluar dari SM ya?” tanya Taemin dengan tatapannya menerawang ke langit-langit.

“Enggak mungkin, Onew-hyung adalah orang yang pekerja keras. Tidak mungkin dia menyerah begitu mudahnya. Bukankah saat kita patah semangat, justru dia yang memberikan semangat buat kita.” Minho berusaha melontarkan apa yang ada di benakknya.

“Benar juga,” gumam yang lainnya.

“Tapi sekarang dia ada dimana ya? Apa dia sakit?” Key masih penasaran.

“Bagaimana kalo kita tanya sama manajer-hyung, aku yakin dia pasti tahu,” usul Taemin.

“Wah, kamu cerdas sekali,” puji Key. “Kenapa hal itu tidak terlintas di benak ku.”

Key dan yang lainnya langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung mencari sang manajer. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencarinya, karena sang manajernya selalu berada di deka mereka.

“Loh, kalian belum tahu ya,” sang manajer terlihat heran saat keempat namja itu menanyakan keberadaan Onew. “Onew-ssi sekarang berada di pulau jeju karena ada pekerjaan.”

“Pekerjaan?” Key meminta penjelasan lebih lengkap.

Kemudian sang manejer menjelaskan semua yang dialami oleh Onew sehingga memaksanya untuk mencari pekerjaan tambahan. Keempat namja tersebut kaget, sedih dan kecewa bercampur aduk. Kaget karena masalah yang dialami oleh Onew cukup besar. Sedih karena mereka seperti bisa merasakan apa yang sedang dialami teman baiknya tersebut. Dan kecewa karena mereka tidak tahu masalah tersebut dari onew langsung.

“Kenapa onew-hyung tidak membicarakan masalahnya dengan kita?” tanya Jjong.

“Aku tahu,” ujar Key berusaha memahami pemikiran Onew. “Mungkin Onew hyung memikirkan kondisi kita yang juga masih berada di bawah masalah latihan yang telah membebani pikiran dan semangat kita selama ini. Bukannya kita sering mengeluh pada Onew-hyung mengenai latihan ini. Dan Onew-hyung tidak ingin membuat pikiran kita semakin bertambah dengan menceritakan masalahnya tersebut. Jadi dia menanggungnya sendiri.”

“Onew-hyung, dia ternyata orang yang luar biasa. Di saat dalam masalah besar, dia masih memikirkan orang lain,” ujar Minho lirih.

“Bagaimana kalo kita ke rumah sakit besok untuk mejenguk ahjumma, mungkin besok Onew hyung juga kembali dari pulau Jeju.” Usul Key.

“Setuju.”

$$$

Keesokan harinya setelah latihan, keempat namja itu, Key, Jonghyun, Minho dan Taemin langsung menuju ke rumah sakit tempat umma-Onew dirawat. Mereka hanya butuh satu jam untuk mencapai rumah sakit dari tempat mereka latihan. Dan saat tiba di rumah sakit, keempat namja tersebut langsung menanyakan kamar umma-Onew dirawat pada seorang petugas. Dengan mudah, mereka akhirnya tiba di kamar yang dituju.

“Selamat malam,” sapa keempat namja tersebut bersamaan.

Saat masuk, mereka mendapati seorang wanita paruh baya tengah berbaring sambil membaca buku. Wajahnya terlihat sangat keibuan.

“Selamat malam, kalian siapa?”

“Kami adalah temannya Onew-hyung,” jawab Jjong.

“Oh…, silahkan duduk. Maaf Ahjumma tidak bisa memberi kalian jamuan yang terbaik, karena sekarang Ahjuma juga sedang dijamu oleh pihak rumah sakit, hehehe.” Kata umma-onew dengan kalimat bercanda. “Suatu saat nanti kalian harus datang ke rumah, ahjumma pasti akan menyediakan makanan yang enak buat kalian.”

“Ne, ahjumma. Terimakasih.” Ujar Key sambil meletakkan buah yang dibawanya di sebuah meja kecil.

“Ahjumma, ternyata anda masih terihat muda, jauh dari perkiraanku,” ujar Taemin.

“Hahahaha… kamu bisa aja,” senyum wanita itu mengembang dan terlihat hangat.

“Benar,” Jjong menyetujui. “Aku kira Onew-Ahjumma itu sudah tua, dan banyak keriputannya.”

“Hahahaha… kalian benar-benar membuat ahjumma merasa sangat muda sekali.” Wanita itu kembali tersenyum. “Oh ya, kalian jangan pulang dulu karena sebentar lagi Onew akan datang ke sini. Temani Ahjumma ya!”

“Siap, bersama ahjumma disini membuatku merasa senang sekali. Aku jadi teringat dengan umma di rumah,” ujar Key sambil pura-pura mengusap air matanya yang tak keluar.

Perbincangan hangat terus mengalir antara keempat namja dengan wanita paruh baya tersebut. Sesekali tawa ringan pecah diantara mereka ketika Key berhasil membawakan lawakannya. Mereka berempat telah sepakat bahwa mereka tidak akan pernah mau menanyakan kondisi kesehatannya atau jenis penyakit yang dialami umma-Onew karena hal tersebut bisa membuat semakin lama sembuhnya, menurut buku yang pernah di baca Key.

Di tengah-tengah pembicaraan yang hangat, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.

“Selamat malam,” sapa Onew.

“Selamat malam,” jawab keempat namja tersebut, membuat Onew kaget.

Onew pulang dari pulau Jeju dan langsung menjenguk ummanya di rumah sakit, karena dia membawakan oleh-oleh kesukaan ummanya. Kekagetan Onew saat melihat keempat temannya tersebut, membuatnya lupa untuk memberikan hadiah kejutan yang telah dirancangnya selama perjalanan.

“Kalian,” kata Onew.

“Hehehe… wah hyung bawa makanan banyak,” ujar Taemin. “Boleh dong aku minta.”

“Anio… ini buat umma.”

“Kalo buat umma, mana… jangan dipegang terus!” umma-Onew menjulurkan kedua tangannya.

“Hehehe, mianhe umma.” Onew menyerahkan bungkusan pada ummanya.

“Nah, Taeminie… ayo kita makan sama-sama, yang lainnya juga boleh ikut. Ini makanan enak loh.”

“Asyiikkk…,” sambut keempat namja tersebut dengan suara riang.

“Kok… aku tidak ditawari,” kata Onew dengan suara memelas.

“Loh, bukannya ini oleh-oleh kamu buat umma. Jadi yang bawa oleh-oleh enggak boleh ikut makan, masak oleh-oleh dimakan oleh yang membawakannya,” Ujar Umma-onew dengan mengedipkan mata pada yang lainnya.

“Hahahaha.”

Tawa ringan seketika pecah, membuat ruangan tersebut dipenuhi dengan kebahagian. Onew kemudian juga ikut berbaur mencicipi oleh-oleh yang dibawanya.

“Onew-hyung, sebenarnya kami sempat kecewa sama kamu. Karena hyung enggak mau berbagi cerita pada kami tentang masalah yang hyung alami. Bukannya hyung selalu ada saat kita membutuhkan bantuan. Tapi saat hyung ada masalah, kita seolah-olah tidak berguna sama sekali,” kata Key saat mereka sedang asyik duduk-duduk sehabis menyantap makanan.

“Ne…,” yang lainnya mengiyakan.

Onew terkejut dengan perkataan Key, “mianhe…, bukannya aku tidak mau bercerita pada kalian. Tapi aku tidak ingin menambah beban yang telah ada di pundak kalian.”

“Terus Onew hyung ingin memikulnya sendirian?” tanya Minho. “Onew-hyung lupa dengan perkataan hyung sendiri, bahwa masalah akan terasa lebih ringan saat dipikul bersama-sama.”

“Kami ingin menjadi teman Onew-hyung baik di saat bahagia maupun di saat susah,” Taemin menimpali.

“Mianhe…,” Onew makin tertunduk.

“Onew-ah, seharusnya kamu harus merasa bangga karena memiliki teman-teman seperti mereka. Teman yang bisa melebihi dari seorang saudara.” Umma-Onew ikut nimbrung percakapan mereka. “Jadi kamu harus minta maaf pada mereka dan jadilah teman yang sejati.”

Onew dan keempat namja lainnya saling berpelukan dan berjanji untuk menjadi teman yang baik. Teman yang ada di kala susah maupun senang.

$$$

Dua hari kemudian Umma-Onew pulang ke rumah, dan dokter menyatakan kondisi kesehatannya telah seratus persen pulih. Key, Jjong, Minho dan Taemin ikut mengantar ahjumma, sekaligus memenuhi janji mereka untuk berkunjung ke rumah Onew. Dan membuat persahabatan mereka juga semakin akrab.

Beberapa bulan kemudian mereka, Onew, Jjong, Key, Minho dan Taemin debut sebagai penyanyi, SHINee dan mendapatkan perhatian yang luar biasa. Kerja keras yang mereka lakukan selama beberapa tahun terakhir rasanya terbayar dengan harga yang luar biasa. Keberhasilan tersebut membuat Onew semakin sibuk sehingga membuatnya jauh dari wanita yang amat disayanginya, sang umma. Meskipun raganya berada di tempat yang terpisah, namun cinta dan doanya akan selalu menyertai setiap langkah anak semata wayangnya, Onew.

$$$ END $$$

32 responses to “My Life Story – Part2

  1. wah parah suzy and Uee eonni dilupain .. ckckckckckck

  2. Huhuhu..
    Sedih baca ceritany..
    Ternyata perjalanan karir onew sblm debut sungguh berat..
    Ternyata umma onew mewariskan sikap yg suka melucu kpd org lain..

  3. Eee oppa, commentny ada yg slh..
    Mksdny umma onew mewariskan sikap melucu kpd onew..

    Owh y ad bbrp ksalahan pengetikan n kata2ny krg huruf..

  4. Lumayan sedih lh..
    Hehe..*d tambah waktu baca n comment suasana hati lg sedih jg*..

    Wajar kq, klu ada kesalahan pengetikan.. Tak ada manusia yg sempurna..

  5. Soooo Sweeeeeeeeettttttt…….

    haduhh tk bisa brkata apa2 lgi..
    Onew Emang anak yg brbakti dn Lider yg The best..

    DAEBAK..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s