Because of Jonghyun (Trouble Maker)

Author : Park Jihoon

Cast : Jonghyun, Jihoon

Lenght : OneShot

Genre : Comedy

Note : Kalian pernah dengar tentang seseorang yang gagal dalam ujian untuk mendapatkan SIM karena ulah Jonghyun yang menyanyi di sembarang tempat, bahkan suaranya terdengar ‘cempreng’? Aku sebetulnya tahu saat membaca blog tetangga. Terus bagaimana jika ‘seseorang’ yang gagal ujian tersebut adalah Jihoon, mau tahu ceritanya?

Kita langsung saja… Lee Jinki pake kolor polkadot… CEKIDOT.

$$$

Sekitar jam sembilan pagi, seseorang yang bertampang aneh sedang duduk gelisah menunggu waktu ujian untuk mendapatkan SIM. Dia duduk di ruang ujian dengan memanyunkan bibirnya hingga maju beberapa senti, mirip bibir Tukul Gurame (Artis negara seberang). Sudah beberapa menit dia menunggu di tempat itu, namun petugas memintanya untuk sedikit sabar menunggu karena ada seseorang yang bakalan ujian bareng dengannya.

“Siapa sih yang yang bakalan bareng ujian dengan ku? Sekarang udah jam 9.00, waktu ujian akan segera dimulai tapi orang itu belum datang juga. Dasar orang yang tidak bisa menghargai waktu. Apa dia pikir, dia itu seorang artis terkenal yang sibuk banget, sampek mau ke toiletnya aja enggak bisa? Huh.. dasar.”

Orang itu kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan perasaan ngedumel dari tadi. Matanya terus tertuju ke arah pintu, menunggu orang yang tidak dikenalnya. Wajahnya yang jelek terus ditekuk hingga mirip omlet gosong saat melihat tidak seorang pun yang datang.

Beberapa menit kemudian datang seorang namja dengan setengah berlari hingga membuat nafasnya tidak beraturan. Dia langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan melapor pada petugas ujian, anehnya petugas itu hanya senyum-senyum manis tanpa ada sedikit gurat kemarahan di wajahnya. Sedangkan orang yang disuruh menunggunya tersebut, sudah mirip monyet kena ayan saking kesalnya menunggu kelamaan.

“Oh…, ini toh orang yang di tunggunya. Dasar orang yang tidak menghargai waktu.” Orang itu memandang namja yang baru datang lekat-lekat.

Sedagkan namja yang baru datang tersebut merasa sedikit aneh dilihat dengan tatapan –siapa sih lo?- dari orang yang tidak dikenalnya. Dia kemudian duduk di kursi disamping orang tersebut dengan tatapan –lo enggak pernah lihat orang gantheng ya?-.

“Ih… siapa sih orang ini, melihat orang aja udah kayak fans yang mau pingsan saat melihat ketampanan ku. Mana wajahnya juga mirip odong-odong yang ketabrak mobil sampah.” Batin namja tersebut sambil memasang senyuman menipu di wajahnya.

“Perkenalkan, Jihoon imnida.” Ujarnya dengan sebuah senyuman, meskipun hatinya masih ngedumel.

“Jonghyun imnida, Mianhe karena menunggu kelamaan.” Kata Jjong sambil berusaha menundukkan kepalanya.

“Jalanan macet ya? Kok sampai telat?” Jihoon akhirnya tetap menanyakan alasan keterlambatan Jjong secara implisit.

“Hehehe… iya sedikit macet. Aku berangkat dari tempat syuting setengah jam yang lalu dan seharusnya dari sana hanya membutuhkan waktu 20menit, tapi ada kemacetan sehingga aku terlambat. Tapi aku sudah memberitahukan pada petugasnya kok.”

“Syuting? Berarti kamu seorang artis ya? Tapi kalo aku lihat, tampangmu itu tidak meyakinkan ya untuk jadi seorang artis.”

“Ya… ampun, nih orang katrok banget sih. Masak enggak kenal dengan Jonghyun-SHINee si bling-bling ini, jangan-jangan dia adalah mahluk planet yang terdampar di bumi,” batin Jjong. “Iya… pekerjaanku penyanyi, aku tergabung dalam grup SHINee (syaini),” jawab Jjong.

“Sani??? Nama yang aneh….”

“Yang aneh tuh wajahmu,” gerutu Jjong kesal. “Anio…. bukan Sani, tapi SHINee,” ralat Jjong.

“Maaf… ujian akan segera dimulai,” petugas pengawas ujian menyela percakapan mereka dan membagikan lembar soal dan jawabannya. “Waktu kalian hanya 120menit untuk menyelesaikan semua soal tersebut,” kata pengawas tersebut setelah berada di mejanya.

Ujian pun dimulai, kedua namja tersebut, Jihoon dan Jjong, terlihat begitu meyakinkan saat melihat soal-soal di lembar pertama. Mereka terlihat senyum-senyum kemenangan, sedangkan Jjong terdengar mendendangkan sebuah lagu meskipun lirih, lagu kemenangan. Tapi saat membukan lembar-lembar soal berikutnya, wajah Jihoon mulai pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Dia melirik ke arah lembar jawaban Jjong berusaha mencari contekan, sayang tidak terlihat dengan jelas. Sedangkan Jjong masih saja terdengar mendendangkan lagu sambil bersiul-siul ria, tidak terlihat menampakkan kesulitan sedikitpun.

“Maaf ya, aku harus ke toilet sebentar,” ujar si pengawas sebelum meninggalkan ruang ujian.

Ujian pun dilanjutkan tanpa adanya pengawas, membuat Jihoon lebih leluasa untuk melirik ke arah lembar jawaban Jjong, namun usahanya tetap gagal. Jihoon berusaha agar perbuatannya tidak ketahuan Jjong.

Eereol ddaereul bomyeon na
Eorigineun hangabwa
Noon apae dugodo eojji hal jul molla
Eoddeokgaedeul sarangeul shijakhago itneunji
Saranghaneun sarangdeul malhaejweoyo

Suara Jjong semakin kencang, dia mendendangkan lagu sambil mengerjakan soalnya. Suara Jjong yang terdengar cempreng di telinga Jihoon membuatnya semakin tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan ujian tersebut. Dan membuat semua hapalan lenyap dari kepalanya.

“Sssttt…, bisa lebih tenang dikit!” pinta Jihoon dengan suara lirih.

Jjong yang terlalu asyik sehingga tidak mendengarkan suara Jihoon. Dia terus mendendangkan lagu, habis dari lagu satu berlanjut ke lagu berikutnya.

Cinta satu malam oh indahnya
Cinta satu malam buatku melayang…

“Yaaah, kamu bisa diam enggak sih. Suara cempreng mu membuatku tidak bisa konsentrasi.” Jihoon sudah tidak tahan dengan suara Jjong.

Jjong langsung diam dan pura-pura berkonsentrasi dengan ujiannya, “dari pada suara lo kayak traktor butut,” batin Jjong.

Beberapa saat kemudian pengawas kembali dari toilet. Jjong kembali mendendangkan lagunya sambil melanjutkan menjawab setiap soal. Sedangkan Jihoon semakin terbakar telinganya saat mendengarkan suara lirih Jjong, konsentrasinya buyar.

“Sialan nih orang, dari tadi kerjaannya nyanyi mulu. Jangan-jangan dulu pas hamil emaknya nelen pita kaset,” rutuk Jihoon.

Ujian terus belanjut hingga waktu, 120menit, yang diberikan habis. Jjong menyerahkan lembar jawabannya dengan senyum mengembang lebar. Sedangkan Jihoon, wajahnya makin kusut karena tidak bisa konsentrasi mengerjakan soal-soalnya dan tidak nyakin dengan semua jawabannya sendiri. Suara Jjong membuat semua hapalannya melenyap seketika.

Ujian dilanjutkan dengan ujian praktek. Mereka berdua dipandu oleh seorang petugas menuju ke sebuah lapangan yang cukup luas. Disana terlihat lintasan menyerupai jalan raya yang akan digunakan sebagai tempat ujian, lengkap dengan rambu-rambu lalu lintasnya.

Kesempatan pertama diberikan pada Jjong. Jjong kemudian duduk di belakang kemudi, di sampinya ada seorang petugas dengan membawa sebuah kertas untuk penilaiannya. Dan Jihoon duduk di kursi belakang supaya bisa memperhatikan ‘temannya’ saat ujian praktek.

“Kalo nyetir jangan sambil nyanyi, entar malah nabrak,” Jihoon memperingati.

“Hehehe…” Jjong hanya cengengesan. “Sialan nih orang dari tadi ngelarang aku nyanyi mulu,” batinnya.

Jjong kemudian memulai ujian prakteknya. Dia menyalakan mobilnya dan berjalan dengan baik. Semua rambu lalu lintas yang ada di tempat praktek tersebut di taati Jjong dengan baik hingga tiba di tempat finish. Kemudian kemudi di ganti oleh Jihoon. Jihoon terlihat antusias saat berada di belakang mobil. Latihan yang dilakukan selama dua minggu membuat percaya dirinya meningkat.

“Kali ini aku bakalan lulus,” batin Jihoon.

Mobil kemudian dijalankan oleh Jihoon, sang petugas yang berada di sampingnya mencatat sesuatu yang akan menentukan lulus atau tidaknya Jihoon. Jjong duduk manis di kursi belakang sambil memperhatikan Jihoon. Merasa bosan dengan situasinya, Jjong kemudian mulai mendendangkan lagu.

“Nuna neomu yeppeoseo, Namjadeuri gaman an dwo, Heundeullineun geunyeoui mam sasir algo isseo, Geunyeoege sarangeun hansunganui neukkimir ppun, Mwora haedo naegen salmui everything.” Suara Jjong langsung memenuhi seluruh ruangan di dalam mobil.

Telinga Jihoon mulai kembali gatal saat mendengar suara Jjong, tapi dia berusaha menahan  diri supaya konsentrasinya tidak buyar. Suara Jjong membuatnya mengingat kenangan beberapa menit yang lalu saat hapalannya lenyap seketika. Sekuat apapun Jihoon melawannya, akhirnya konsentrasinya pun buyar.

“Yaaah, kamu bisa diam enggak sih. Aku lagi nyetir nih, kalo kamu nyanyi terus konsentrasiku bisa buyar,” kata Jihoon dengan nada tinggi.

“Awaaaassss…!!!” teriak sang pengawas.

BRRAAAKKKKKK

Mobil yang dikendarai Jihoon menambrak sebuah tiang lampu lalulintas.

“YAH… INI SEMUA GARA-GARA KAMU,” Jihoon langsung memarahi Jjong, tapi Jjong sudah lenyap dari kursi belakang, kabur.

“Enggak tahu nyetir aja nyalahin aku,” gerutu Jjong sambil lari menyelamatkan diri.

Hasil ujiannya, Jjong dinyatakan lulus dengan baik sedangkan Jihoon gagal total. Dan hal itu membuat Jihoon frustasi dan stress, apalagi setiap mendengar suara Jjong. Dia trauma dengan suara cemprengnya Jjong.

“EMAAAAAKKKKKK…. aku gagal,” ratap Jihoon.

$$$ END $$$

66 responses to “Because of Jonghyun (Trouble Maker)

  1. Sumpah ngakak!!
    Ni author nya berbakat banget ya bikin FF Komedi, saya sampai ngakak bacanya!!

    Daebak, thor…
    Saya pengunjung baru-komen =D

  2. kyahahahahaha, saya pernah baca berita ini di soompi, sumpah ngakak bacanya! jjong thu seperti biasa, lucu😄
    tapi di sini dia lebih lucu lagi, hihihi, untung dia ngga nyanyi ring ding dong, bisa2 jihoon langsung nari kejang hiahaha *ditimpug

  3. hahahahhaha😄
    daebakk!!! om ahjussi udah bikin saya ngakak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s