No Birthday Party – Part1

Author : Park Jihoon

Cast : Key, Kim Eun Young (Yang selalu ngaku istrinya Key… kusumaningrumdwi98)

Other Cast : Onew, Minho, Jonghyun dan Taemin

Cast Tambahan : Jihoon (Eksis boooo… ^^), Jieun

Genre : Romance Komedi

Lenght : Series (antara 2-3 shot)

$$$

Kim Eun Young POV

Sudah lebih dari enam bulan aku menjalin sebuah hubungan dengan namja yang sangat aku cintai. Namja yang membuat hari-hari ku menjadi hari yang sangat spesial, ibarat martabak, sama dengan martabak spesial pake telor bebek dua. Dia selalu membuatku tersenyum dikala aku dirundung kesedihan, entah lah dia selalu menemukan cara untuk membuatku tertawa. Kemarin, saat aku sedih karena nilai ujian ku jeblok ke kasta terendah, dia berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal dengan cerita yang dikarangnya hingga membuatku mengalami kram perut dan harus dilarikan ke rumah sakit. Yah dia memang tidak ada duanya dengan Kang Hodong kalo urusan ngelawak. Mungkin suatu saat nanti dia bisa melamar jadi pelawak kalo tidak laku lagi sebagai penyanyi. Selain itu, dia juga selalu bisa membuatku melayang dengan gombalan-gombalan cap kadalnya, meskipun aku tahu itu gombalan murahan, tapi anehnya aku sangat menyukainya.

Namanya adalah Kim Kibum alias Key, salah satu dari member Boy Band SHINee  yang sangat terkenal di seantero Korea hingga ke beberapa belahan negara lainnya, termasuk Indonesia. Pertama kali kita jadian, aku sempat menanyakan kepadanya, kenapa dia menggunakan nama panggung Key. Katanya sih sejak sekolah dulu dia sudah terbiasa dipanggil Ki yang diambil dari nama Kibum, dan biar kelihatan agak kebarat-baratan dikit diubah lah menjadi Key.

“Yah, kamu jangan salah paham. Teman-temanmu itu memanggilmu Ki bukan dari nama Kibum, tapi singkatan dari aKi-aKi,” protesku.

“Mwo…? apa tuh aki-aki?” Tanyanya penasaran.

“Aki-aki tuh berasal dari kosa kata bahasa Indonesia yang artinya haraboeji.”

“Sialan, kamu kira-kira aku ini udah kakek-kakek?” sungutnya sambil membuang muka.

“Jiah ngambek, entar kalo ngambek aku akan selingkuh dengan Taemin loh,” ancamku sambil menyengirkan gigi putihku.

“Coba aja kalo berani!”

“Hehehe… enggak jadi deh karena oppa adalah namja terganteng di hatiku, selain itu oppa adalah satu-satunya haraboeji yang bisa menaklukkan hatiku, hati yang selembut sutra ini.”

“Dasar gombal!” Key mengacak-ngacak rambutku.

“Aku kan ketularaan gombal cap kadalnya oppa,” balas ku.

 Meskipun tidak terlalu lama kita menjalin hubungan, tapi kita sangat dekat satu sama lain, seperti hubungan ini telah berjalan bertahun-tahun. Sesibuk apapun dengan kegiatannya, dia selalu menyempatkan untuk menghubungiku. Apa mungkin dia takut kalo aku selingkuh? Padahal aku yang seharusnya takut kalo dia selingkuh dengan Jjong-oppa yang mesumnya tiada tanding itu. Semoga aja Jjong-oppa masih normal, kalo tidak… akan aku sumbat lobang idungnya yang gede itu biar tidak bisa bernafas sekalian.

Kalo diingat saat pertama kali aku bertemu dengannya, rasanya tidak mungkin hubungan ini bisa berlanjut menjadi hubungan yang sangat spesial seperti sekarang ini. Pertemuan pertama itu membuatku selalu senyam-senyum enggak jelas saat mengingatnya, meskipun hal itu merupakan kenangan yang tidak begitu baik karena kita memulainya dengan sebuah pertengkaran di tempat umum.

$$$

Flash Back

Saat itu, aku sedang ngubek-ngubek sebuah mall untuk mencari sebuah gaun yang akan aku pakai untuk acara ulang tahun salah satu temanku. Aku pergi ke mall tersebut bersama kedua sahabatku, Jieun dan Jihoon, sahabat teraneh yang pernah ada di dunia ini. Jieun, yeoja yang terobsesi dengan maskulinitas alias tomboy. Wajahnya cantik, tapi perawakannya mirip preman pasar. Dijamin, tidak akan ada namja yang berani mendekatinya, berani mendekat bisa berurusan dengan rumah sakit. Sedangkan Jihoon adalah namja yang memiliki pesona seorang yeoja yang cantik, wajah cantik dengan kulit yang mulus mirip pantat bayi. Bahkan aku saja merasa minder dengan kecantikannya saat jalan bareng dengannya. Dulu, aku juga sempat mengiranya sebagai seorang yeoja, hanya saja dia mengenakan seragam namja. Tapi satu yang aku suka dari mereka, rasa setiakawan yang tinggi.

Aku terus mencari yang aku inginkan dari toko satu ke toko yang lainnya. Maklum semenjak aku mengidolakan Key, personel SHINee yang memiliki rasa fashion yang tinggi itu,  selera fashion yang aku milikipun semakin meningkat. Naasnya, selera fashion yang meningkat tidak diikuti dengan buget yang aku miliki, karena aku masih menerima jatah dari orang tua. Jadi gaun yang aku cari, gaun yang harganya murah tapi memiliki selera fashion yang tinggi.

“Young-ie, kamu nyari gaun yang bagus tapi murah?” tanya Jihoon yang mulai kesal mengkutiku.

“Ho oh,” jawabku tanpa mengalihkan konsentrasiku dari gaun-gaun yang dipajang.

“Ya ampun, kamu ini aneh. Manusia yang paling aneh yang ada di dunia ini. Jaman sekarang, mana ada yang kayak gitu. Kalo mau model yang bagus, yah harganya harus sesuai dong, harus lebih mahal.”

“Iya… kamu enak ngomong kayak gitu, uang saku dari urang tua mu unlimited. Sedangkan aku? Buat nonton aja terkadang sangat mengenaskan.”

Jihoon hanya nyengir kuda saat mendengar penjelasanku. Ekspresi yang membuatku ingin menaboknya keliling mall ini, sangat menjengkelkan.

“Kalo gitu, kita istirahat di food court aja yuk! Biarin tuh si miss hemat ngubek-ngubek seluruh toko di mall ini,” ajak Jieun yang kelihatan mulai kecapean juga.

Kemudian Jihoon dan Jieun meninggalkan ku sendirian yang sedang asyik memilah-milah gaun. Sebenarnya ini pekerjaan yang sangat menjengkelkan dan melelahkan, tapi apa boleh buat buget yang ada sangat minimalis. Jadi aku harus pantang menyerah.

Aku terus mencari dari satu pajangan ke pajangan yang lainnya. Sebenarnya  banyak gaun yang membuat mataku berubah jadi hijau, namun begitu aku lihat harganya sungguh menyakitkan, harganya mahal, jauh di atas buget yang aku miliki. Jadi aku putuskan hanya berkonsentrasi pada golongan gaun yang harganya…, harga orang melarat seperti aku ini.

Tiba-tiba, mataku menangkap sebuah gaun dengan warna marah muda yang begitu cantik di depan seorang namja. Namja itu sepertinya juga berminat terhadap gaun tersebut. Potongan dan model gaun itu cukup simpel namun memancarkan sebuah keanggunan dan kecantikan yang luar biasa. Dan yang membuatku semakin tersenyum lebar, gaun itu berada di area harga yang sesuai dengan buget ku. Aku tidak boleh kalah. Jadi dengan secepat kilat aku mengambil gaun merah muda yang berada tepat di depannya sebelum tangan namja itu sempat menjamahnya.

“Maaf…, gaun itu aku yang menemukannya terlebih dahulu,” kata sang namja sesopan mungkin. Namja itu menggunakan topi plus kaca mata besar yang hampir menutupi sebagian wajahnya, mirip alien yang bermata besar.

“Anio, aku yang mendapatkannya terlebih dahulu, buktinya sekarang ini ada di tanganku,” protesku.

Namja itu sepertinya tidak mau menyerah, dia kemudian melepaskan kacamatanya, mungkin mulai kesal dengan penolakan yang aku lakukan. Melihat wajahnya, sekilas membuatku teringat dengan wajah seorang namja yang sangat aku kenal, wajah idola ku-Key SHINee. Tapi rasanya tidak mungkin, mana mungkin  Key SHINee yang memiliki selera fashion tinggi dan duit yang banyak mau belanja di tempat seperti ini. Mungkin saja dia hanya orang yang mirip.

“Aihh…, kamu tuh yeoja yang enggak punya malu ya? Main ambil aja barang orang, ayo kembalikan!”

Namja itu berusaha untuk merebut gaun yang ada di tanganku. Namun tanganku lebih cepat darinya.

“Aisshhhh…, kamu ini namja yang aneh. Namja yang suka dengan gaun… ya?” ujar ku dengan nada suara menyelidik.

Dia terlihat malu dengan kalimat yang aku lontarkan. Beberapa kali pandangannya mengitari sekelilingnya, berharap tidak ada orang yang menaruh perhatian padanya. Dan hal itu malah membuatku seperti mendapat angin segar.

“Jangan macam-macam, ayo kembalikan gaun itu. Aku yang menemukannya terlebih dahulu.” Dia kembali menjulurkan tangannya untuk meminta gaun yang ada di tanganku.

“Kamu mau gaun ini, untuk apa seorang namja membeli sebuah gaun?”

“Apa urusanmu? Terserah aku dong,” nadanya mulai ketus.

“Oh… aku tahu, jangan-jangan kamu termasuk golongan namja yang sering mangkal di lampu merah itu ya. Namja yang berpakaian yeoja dan selalu memamer kemolekan tubuh pada ahjussi-ahjussi jablai…,” kata ku dengan nada suara meninggi.

“Anio…, aku bukan namja yang seperti itu.”

“Tapi muka mu kok merah?”

Kini beberapa pasang mata pengunjung yang lainnya tertuju pada kami. Aku semakin mendapat angin segar, aku tidak akan melepaskan gaun yang telah aku dapat ini. Pantang untuk menyerahkan mangsa yang sudah ada di tangan. Sedangkan si namja itu terlihat semakin terpojok.

“Aku beritahu ya, aku ini Key-SHINee,” katanya setengah berbisik. “Aku mau membeli gaun itu untuk adik sepupuku yang akan berulang tahun.”

“Hahaha…,” tawaku mulai meledak. “Sekarang kamu ngaku sebagai Key, SHINee? Apa tidak salah tuh. Hey… ingat ya, Key itu memiliki selera fashion yang tinggi, jadi enggak mungkin dia bakalan belanja di tempat seperti ini.”

Akhirnya, namja yang mengaku sebagai Key itu menyerah juga, dia pergi meninggalkan ku. Dan sebagai hadiahnya, karena memenangi adu ‘bacot’, aku mendapatkan gaun merah muda yang cantik itu. Senang banget rasanya mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun harus melalui ‘peperangan’ yang cukup menguras tenaga. Aku perhatikan dari belakang, namja itu terus ngedumel sambil mengenakan kembali kacamatanya dan membenarkan posisi topinya.

“Aishh… dasar yeoja bodoh,” gumamnya sebelum meninggalkanku.

“Biarin dibilang bodoh, yang penting aku bisa mendapatkan barang yang aku inginkan.”

Aku langsung menuju ke kasir untuk membayar gaun tersebut, dan langsung menuju ke foodcourt, tempat Jihoon dan Jieun. Senyumku tiba-tiba  mengembang lebar, karena dibenakku terlintas ide untuk memamerkan gaun yang cantik itu di hadapan mereka berdua. Dan membuktikan bahwa dengan uang minimalis bisa membeli gaun yang bagus.

“Dapat gaunnya?” tanya Jihoon.

“Dapat dong,” ujarku sambil meletakkan pantatku diatas kursi. Rasanya kakiku mau copot.

“Jinjja?” Jieun tak percaya.

“Nih…,” aku memamerkan gaun itu tepat di hadapan kedua sahabatku itu. Ekspresi wajah mereka membuatku semakin tertawa kegirangan.

“Wuiiiihhhh… keren, pasti ini cocok denganmu. Apalagi warna pinknya lembut,” komentar Jihoon.

“Tapi kalo Jihoon yang pakai pasti lebih cocok,” ujar Jieun.

“Sialan lu, emang aku ini namja apaan. Seharusnya kamu yang make gaun kayak gitu.”

“Iiihhh… amit-amit deh pakai baju kayak gitu. Bisa-bisa aku kena gatal-gatal seumur hidup.”

“Dasar preman pasar.”

“Suda-sudah…, malah berantem,” leraiku. “Wah, sepertinya ekrim di sini enak nih.” Air liurku mulai tak terbendung saat melihat eskrim yang ada di meja.

Akhirnya Jihoon memanggil pelayan dan memesanku eskrim yang sama.

“Oh ya…, sepertinya tadi aku melihat Key-SHINee datang ke sini,” ujar Jieun.

“Iya… tadi aku juga melihatnya.” Jihoon mengiyakan.

“Benar kah?”

Pikiranku tiba-tiba kembali ke beberapa menit yang lalu, ke waktu dimana aku bertengkar dengan seorang namja untuk memperebutkan sebuah gaun. Secara perlahan dan pasti jantungku mulai berdegup kencang, apalagi saat membayangkan namja yang ada di hadapanku tadi itu benar-benar Key, namja yang sangat aku idolakan.

“Jangan-jangan…,” gumamku lirih.

“Jangan-jangan apa?” tanya Jihoon dengan tatapan aneh.

“Anio…,” jawabku.

Jihoon dan Jieun melahap eskrim dengan begitu nikmatnya. Sedangkan pikiranku masih tertuju pada namja yang sempat beradu argumentasi denganku dan membuat seleraku terhadap eskrim yang ada di depan ku hilang tak berbekas. “Ya ampu apa yang harus aku lakukan jika dia benar-benar Key. Bisa-bisa aku dipecat dari golongan Lockets,” pikiranku makin kacau.

Sepulang dari mall, pikiranku masih kacau. Seharusnya aku bisa mengenalinya dengan baik sebagai lockets sejati. Ditambah lagi aku sering mengaku sebagai istrinya Key, tapi bagaimana mungkin seorang istri tidak bisa mengenali suaminya sendiri, sungguh bodoh. Waktu itu aku berharap bisa memutar waktu kembali, ke waktu saat aku sedang melihatnya memperhatikan gaun warna pink itu.

“Tapi…, rasanya enggak mungkin Key pergi ke tempat seperti itu dan mencari barang yang harganya termasuk harga rakyat jelata. Pasti dia bukan Key,” pikirku untuk menenangkan jiwa yang mulai tidak beres.

$$$

Aku pergi ke pesta ulang tahun Kim Yura bersama kedua sahabat ku itu, kami terlihat seperti trio yang tak bisa terpisahkan. Kemana-mana selalu bertiga, kecuali ke toilet. Untungnya lagi, Jihoon bisa menyetir mobil dan telah mengantongi SIM, meskipun SIMnya diperoleh secara ilegal. Dan Jihoon  telah kami nobatkan sebagai supir pribadi saat kita jalan-jalan. Mengenai gaun itu, Jihoon dan Jieun begitu terpesona saat melihatku, lebih tepatnya saat melihat perpaduan antara gaun yang cantik dengan yeoja yang cantik. Beberapa pujian terlontar dari mulut mereka, membuatku seperti terbang melayang.

Saat tiba di tempat pesta, mataku dibuat tak berkedip sama sekali karena aku melihat sesosok namja yang sedang perform diatas panggung dengan membawakan sebuah lagu balada, dia adalah Key SHINee. Suaranya yang menggema di dalam gedung tersebut membuat gendang telingaku seperti dibelai oleh suara-suara malaikat dari surga. Tanpa aku sadari tubuhku secara perlahan mendekat ke panggung, Jieun dan Jihoon  telah membaur dengan teman-teman yang lainnya. Aku benar-benar seperti terhipnotis.

Key terus memberikan sebuah perform yang sangat luar biasa. Tiba-tiba di tengah-tengah lagu, dia mengarahkan pandangannya padaku yang membuat tulang-tulangku terasa meleleh, tubuhku terasa lemas. Saat itu rasanya aku ingin jingkrak-jingkrak, namun pikiran warasku mencegahnya “Ingat Eun Young-ah, kamu ini diacara ulang tahun temanmu, bukan diacara gerebek pasar.” Key kembali melesatkan pandangannya ke arah ku. Lama kelamaan pandangan matanya mengingatkanku pada tatapan mata seorang namja yang sempat bertengkar denganku gara-gara gaun yang aku pakai saat ini. “Anio…, tidak mungkin. Namja itu tidak mungkin Key, aku hanya salah lihat aja,” batin ku menguatkan diriku.

Setelah key menyelesaikan lagunya, ada dorongan liar yang kuat dalam diriku untuk segera mendekatinya dan minta tanda tangan, foto bareng, bahkan kalo bisa mengajaknya untuk langsung menikah. Tapi otak warasku kembali mencegahnya, apalagi saat itu semua undangan bersifat seperti biasa. Tidak ada seorangpun yang bersikap seperti seorang fans terhadap idolanya. Tiba-tiba, Key turun dari panggung dan mendekat ke arah ku. Jantungku berdetak sangat kencang saat menyadari kedatangannya, meskipun aku tidak tahu secara pasti yang dia tuju aku atau orang lain yang mungkin ada di belakangku, seperti di film-film komedi gitu. Senyumku mulai mengembang lebar tanpa aku sadari. Aroma wangi tubunya secara perlahan mulai mengisi relung hidungku dan membuatku tambah mabuk kepayang.

“Hai… yeoja bodoh, kembalikan gaun ku,” sapanya dengan nada sinis.

GUBRAK!!! Senyuman termanisku tiba-tiba hilang tak berbekas. Suaranya langsung membawaku kembali ke memori saat aku bertengkar dengan seorang namja di mall tempo hari yang lalu. Bahkan secara sadis aku telah menuduhnya sebagai namja abal-abal yang sering mangkal di lampu merah hanya untuk mempertahankan gaun yang sedang aku pakai saat ini. “Sialan ternyata namja itu benar-benar Key, kenapa aku bisa begitu bodoh tidak mengenalinya,” umpatku. Aku tertunduk tanpa bisa membalas sepatah kata pun. Muka ku rasanya mulai panas dan memerah karena malu tiada tara.

“Yah… kenapa sekarang diam? Tidak seperti waktu kemaren, pandai beradu mulut.”

Aku masih diam membisu, mulut rasanya seperti di lem.

“Untung saja gaun itu cocok di tubuhmu,” ujarnya sambil melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku tidak bisa membedakan ini sebuah pujian atau sebuah sindiran.

Tiba-tiba Kim Yura datang menghampiriku, maksudku menghampiri kami. Secara aku tidak terlalu dekat dengannya, kami hanya teman sekelas biasa. Aku seperti mendapatkan sebuah pertolongan untuk keluar dari kondisi yang membuatku mulai berkeringat dingin ini.

“Eun Young-ssi…, terimakasih telah datang. Oh ya perkenalkan ini Key, kamu pasti tahukan? Dia adalah sepupuku,” kata Kim Yura.

“HAAA….” Aku kembali dibuat kaget setengah mati.

“Oh ya oppa, perkenalkan ini temanku Kim Eunyoung. Dia cantik kan?” ujar Yura memperkenalkan aku.

Key menjulurkan tangannya, seperti tidak pernah melihatku sebelumnya. Dengan malu-malu aku menerima tangan itu.

“Senang berkenalan denganmu,” katanya dengan senyum mengembang dibibir manisnya. “Dasar yeoja pabo,” umpatnya kemudian.

Untung lah Kim Yura langsung membawa Key jauh-jauh dari ku, katanya dia dipanggil ummanya untuk suatu urusan. Rasanya aku benar-benar terselamatkan dari sebuah bencana yang jauh lebih besar. Aku langsung mencari Jihoon dan Jieun. Aku mengutuk kedua orang itu, kenapa mereka selalu tidak ada saat aku mengalami kejadian seperti itu.

“Yahhh…, kalian kemana aja sih?” kataku saat menemukan mereka.

“Ya ampunnn, kenapa muka kamu merah begitu?” tanya Jihoon.

“Biasa… kebanyakan memandangi Key, kekeke,” Jieun terkekeh menggodaku.

“Kebanyakan memandangi Key dari hongkong??? Aku hampir mau mati gara-gara malu tahu.”

“Kok bisa?”

Aku kemudian menceritakan semuanya, mulai dari awal saat aku bertengkar dengan seorang namja di mall tempo hari sampai kejadian barusan, saat bertemu dengan namja itu di sini sebagai sosok yang sangat aku idolakan yaitu Key-SHINee. Jihoon dan Jiuen setengah tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan, itu terlihat dari ekpresi wajah mereka. Jieun melongo dengan mulut mangap sempurna, persis preman pasar. Sedangkan Jihoon menutup mulutnya yang mangap dengan kedua tangannya, sangat feminim.

“Masak sih bisa terjadi seperti itu, mirip kejadian di film-film aja,” kata Jihoon.

“Kamu kira aku tukang bohong,” sungut ku.

“Iya… iya, tapi enggak usah marah gitu dong. Entar kecantikanmu bisa luntur, tidak matching lagi dengan gaun yang kamu rebut dari Key ini.”

“Aisshh, kamu masih bisa menggodaku,” rasanya aku ingin menggetok kepala Jieun yang terus terkekeh menggodaku.

“Dari pada kamu marah-marah mulu, mendingan ngambil minuman dingin sana gih. Supaya lebih adem dikit.” Saran Jihoon.

Akhirnya aku mengikuti saran Jihoon. Rasanya aku ingin cepat pulang ke rumah, dan bersembunyi dibawah selimutku yang hangat. Aku berjalan lunglai ke tempat makanan dan minuman terpajang, tanpa nafsu sedikit pun. Aku mengumpati diriku sendiri, kenapa tidak bisa mengenali namja yang selalu aku sebut sebagai suamiku itu. “Pabo… pabo… pabo…”

Semangat hidup ku benar-benar berada di titik nadir, karena harapan untuk jadi istrinya Key benar-benar lenyap. Jangan kan berharap jadi istrinya, jadi locket pun rasanya susah. Setelah mengambil segelas minuman yang dingin, aku langsung balik untuk bergabung dengan kedua sahabatku itu, siapa tahu kelakuan mereka yang terkadang diluar akal sehat itu bisa membuatku sedikit bisa tersenyum kembali. Setiap melangkah, kakiku terasa sangat berat dan kepala ku juga tidak bisa berdiri tegak. Tiba-tiba…

BRAAAKKKK…

Aku menabrak tubuh seorang namja dan membuatku jatuh meringkuk di atas lantai. Kepala terasa sedikit pusing. Rasanya aku benar-benar dirundung kesialan yang beruntun. Tubuh namja itu masih berdiri di depanku, tidak ada niat sedikit pun untuk membantu ku berdiri. Namun saat aku berusaha untuk berdiri,  aku kaget setengah mati. Jantung rasanya mau copot dan bola mata juga rasanya mau keluar. Namja yang berdiri di depanku adalah namja yang pernah berebut gaun dengan ku, Key.

Key bediri dengan wajah dan tatapan mata yang menakutkan, sepertinya marah besar. Kepalanya seperti kereta api jaman dulu yang mengeluarkan asap tebal, siap untuk meledak. Baju jas putihnya, berubah sempurna agak kekuningan karena ketumpahan minuman yang aku ambil tadi.

“Mi…an…he..,” ujar ku gugup.

Tanpa ngomong sepatah kata pun, Key menarik pergelangan tanganku untuk mengikutinya. Seharusnya saat momen seperti itu aku berjingkrak-jingkrak kegirangan karena tangan ku dipegang Key, namun yang ada jangtungku semakin kencang dilanda kegalauan. Saat tiba ti tempat yang agak sepi, Key melepas jasnya dan melemparkan ke arah ku.

“Kenapa setiap ketemu dengan mu aku selalu sial?” umpatnya.

“Mianhe… aku tidak sengaja,” ujar ku dengan kepala tertunduk.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus ganti jas itu dengan yang baru.”

“Apa?”

“Kamu budek ya? Kamu harus mengganti jas itu. Oh ya, kamu punya HP?”

“Punya…,” jawabku.

“Mana?”

“Buat apa?”

“Jangan banyak tanya? Mana HP nya!”

“Nih…,” kataku sambil menyodorkan HP ku.

“HP ini aku sita sebagai jaminan,” ujar Key setelah HP ku pindah tangan.

“Apa…? Tapi…,”

“Pokoknya kamu harus ganti jas ku itu kalo mau HP ini kembali,” ujar Key dan meninggalkan ku yang masih terbengong tanpa bisa berkata apa-apa.

“Sial… sial… sial…, kenapa aku bisa sial begini. Oh… HP ku…,” seruku. “Setibanya di rumah aku harus mandi kembang tujuh rupa, supaya kesialan ini menjauh dari ku.”

Dengan langkah yang semakin gontai aku menghampiri Jihoon dan Jieun yang sedang asyik bercengkrama dengan teman-teman yang lainnya. Jas Key yang berlumuran minuman aku lipat digenggamanku.

“Itu jas siapa?” tanya Jihoon. “Ya ampun…, kenapa wajah mu cemberut gitu, mirip mak lampir datang bulan.”

Jieun pun berhasil ngakak mendengar perkataan Jihoon.

“Yah…, kalian seneng kalo sahabatnya sendiri menderita? Sahabat macam apa kalian?” emosi ku tiba-tiba langsung meledak.

Jihoon dan Jieun langsung membisu, suara tawa Jieun langsung lenyap.

“Mianhe…, kami tidak tahu kalo kamu bener-bener marah. Sebetulnya apa yang terjadi? Itu jasnya siapa?” tanya Jieun.

“Jas… Key,” jawabku.

Kemudian aku menjelaskan kronologis kejadiannya secara detail, kenapa Jas ini sampai ada di tanganku. Jieun memperhatikan ceritaku dengan serius. Sedangkan Jihoon mengambil jas yang ada di tangaku dan membolak-baliknya, melihat kondisi Jasnya.

“Euyoung-ah…, omo.. ini kan jas mahal. Lihat aja nih mereknya!”

“Jinjja…?” aku dan Jieun mendekatkan kepala untuk melihat label merek yang titunjukkan Jihoon. Rasanya kepalaku mulai mau meledak.

“Aku rasa dengan uang sakumu tidak akan bisa mengganti jas ini, meskipun kamu menabungnya selama satu tahun.”

“Terus bagaimana dong?” tanyaku pasrah. “Kalo aku tidak mengganti Jas ini, HP ku juga tidak akan kembali.”

Jihoon dan Jieun mendadak diam, berusaha memikirkan jalan keluarnya. Sedangkan aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, bayangan wajah dan tatapan Key yang menyeramkan selalu terlintas dalam benakku. Kalo Key marah bener-bener mirip dengan mak lampir, super duper menyeramkan.

“Tidak ada cara lain, kamu harus minta maaf pada Key dan mengatakan dengan jujur kondisi keuangan yang kamu miliki. Siapa tahu dia akan memaafkanmu dan mengembalikan HP mu,” ujar Jihoon setelah bertapa beberapa menit dalam diamnya.

“Tapi.. Key tadi kelihatannya bener-bener marah,” ujar ku dengan bulu kuduk langsung berdiri.

“Mau bagaimana lagi?” ujar Jieun. “Meskipun kamu kerja part-time pun belum tentu bisa membeli jas itu.”

“Baiklah akan aku coba…,” ujar ku lemas.

Akhirnya aku menuruti nasehat Jihoon, aku mencari Key meskipun dengan perasaan super galau. Kaki ku terasa sangat tak bertenaga untuk melangkah. Aku menghampiri Kim Yura dan menanyakan keberadaan Key.

“Dia di dalam ruangan sana, sepertinya dia lagi marah-marah enggak jelas gitu. Kenapa kamu mau ketemu Key-oppa? Mau minta tanda tangan ya?”

“Ne… gumawo,” ujar ku dan langsung menuju ke ruangan yang ditunjukkan Kim Yura.

Jantungku makin enggak karuan, kaki rasanya mau mati rasa. Namun tekad karena tidak punya uang untuk beli jas jauh lebih besar, akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk. Saat aku masuk, aku lihat Key telah berganti jas dan pesonanya pun membuatku sedikit lupa dengan tujuanku datang menghampirinya.

“Yah… kamu lagi? Ada apa?” ujarnya ketus.

“Anu…mianhe,” suaraku tercekat, rasanya susah untuk keluar.

“Ada apa? Biasanya kamu kan kalo ngomong… cas cis cus, kenapa sekarang malah gagap?”

“Anu… minahe, aku tidak bisa mengganti jas ini,” ujarku sambil menyodorkan jasnya. “Aku tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membelinya.”

“Aku tidak mau tahu, kamu harus menggantinya.”

“Tapi aku tidak punya uang, aku masih berstatus pelajar dan hanya menerima jatah uang saku dari orang tua,” papar ku.

“Yah… susah kalo berurusan dengan pelajar,” gerutu Key.

“Jiaaahhh, mentang-mentang punya duit banyak,” gumamku.

“Kamu bilang apa?”

“Anio…,” ujarku gelagapan, untung Key rada budi alias budek dikit.

Key diam sebentar.

“Baik lah kalo gitu, sebagai gantinya kamu bekerja sebagai asisten ku selama satu tahun,” ujarnya tanpa minta pertimbanganku.

Sebenarnya saat Key mengatakan hal itu, hatiku sangat berbunga-bunga karena kesempatan untuk bertemu dengan Key setiap hati terbuka lebar. Tapi di sisi lain, ada semacam perasaan aneh yang mengganjal di hatiku. Aku tidak mau mengalami nasib yang sama dengan TKW-TKW negara seberang.

“Tapi aku masih pelajar, selain itu…,”

“Semuanya bisa diatur,” ujarnya memotong penjelasanku. “Besok datanglah ke asrama SHINee untuk menanda tangani kontrak kita. Dan HP ini masih aku sita sebagai jaminan, agar kamu tidak melarikan diri.”

“Ne…,” ujarku patuh.

“Selain itu, kamu cuci jas ini dan bawa sebagai alat tukar dengan HP ini,” ujarnya sebelum pergi.

“Ne…,” ujarku mirip anjing penjaga yang patuh.

Key pergi meninggalkanku di ruangan itu sendirian dan bergabung dangan para tamu lainnya. Perasaanku bercampur aduk antara senang, takut, cemas bahagia dan entah apa lagi. Cita-cita untuk selalu bersama Key akan segera terwujud, tapi rasa cemas dan takut mendapatkan perlakuan yang tidak baik juga membuncah. Aku juga takut jika kontrak yang besok diajukan akan memperngaruhi prestasi di sekolahku, bisa-bisa aku di gorok hidup-hidup oleh appa.

>>> TBC

Hehehe… mianhe kalo romancenya belum dapat, atau komedinya juga belum dapat. Lagi mencoba nih… kekeke, HWAITING!!!

35 responses to “No Birthday Party – Part1

  1. waaa… >< emang jodoh kali yaaa..dah gitu tnyata si Key sepupuan ma temen sendiri! aigoooo…enaknya…*walopun Key jutek abis*

  2. waaa… beruntungnyaaaa…
    bisa ngepas banget! dri sekian banyak mal n gaun yg ada d Korea, kenapa bisa Key juga ngincer yg di situ?? emang jodoh kali yaaa..dah gitu tnyata si Key sepupuan ma temen sendiri! aigoooo…enaknya…*walopun Key jutek abis*

  3. kelanjutannya donk….

  4. seru bngt.
    aku suka sm crt.a . . .
    oya,
    anyeong aku reader br disini ,
    .😉

  5. Huaaaa,,,jihoon ahjussi fitnah sekaleee ttg karakter jihoon di ff ini!!!! O.o
    Peaceee!!! #ditendang jihoon ahjussi

  6. Wkwkwk kocak nih ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s