SHINee Swords – Part2 (Tarian Rembulan)

Author : Park Jihoon

Cast : Onew SHINee  as Prince Onew (North Kingdom), Minho SHINee as Prince Miho (West Kingdom), Key SHINee as Prince Key (South Kingdom), Taemin SHINee as Prince Taemin (East Kingdom), Jonghyun SHINee as Peramal Jonghyun, 5 Jendral Black Murder/Black-M (Jendral GO, Jendral Seungho, Jendral Mir, Jendral Lee Joon dan Jendral Thunder)

Other Cast : Myungie as Putri Myungie; Jaejong as Tetua Jeje

Genre : Fiksi Fantasi

Lenght : Chapter

Note : Nama – nama naga

  1. Dark Sooman : Ra’zac, tergolong Black Dragon.
  2. Peramal Jonghyun : Eragon, Naga jantan dengan sisik berwarna hitam (Bukan Black Dragon)
  3. Prince Onew : Dubu, naga jantan dengan sisik-sisik putih seperti salju.
  4. Price Key : Lucifer, sering dipanggil Luci. Naga betina dengan warna sisik biru safir.
  5. Prince Taemin : Mushoo, naga jantan dengan sisik warna merah ruby.
  6. Prince Minho : Flacha, naga betina dengan sisik merah ruby.

Sebelumnya Jihoon mohon maaf karena SHINee Swords sempat tertunda dalam waktu yang cukup lama, hingga berbulan-bulan. Mianhe…*Bow*

Selamat Membaca…

$$$

Kegelapan semakin menguasai malam, awan jingga yang sempat menggantung di langit sebelah barat Andalus hilang tak berbekas. Nyanyian serangga malam semakin ramai, malafalkan mantra untuk kehadiran sang dewi malam.  Angin malam berhembus semilir membelai lembut dedaunan. Bintang-bintang terlihat bertaburan dengan sinarnya, bagai mata dewa yang mengamati bumi dari sela-sela dedaunan yang menutup sebagian langit hutan Andalus.

Keempat prince dan peramal Jonghyun keluar dari rumah pohonnya dengan jubah hitam yang menyelimuti tubuhnya dan tudung kepala yang menyembunyikan wajah mereka di dalam kegelapan. Peramal Jonghyun memandu mereka dengan menggunakan sebuah lentara kecil menuju ke rumah pohon yang berada di tengah-tengah pemukiman, tampat tetua kelompok pemberontak tinggal. Tidak biasa dengan kegelapan, membuat keempat prince merasa kesulitan saat berjalan di tempat yang belum dikenalnya tanpa penerangan yang cukup. Beberapa kali mereka sempat tersandung akar pohon yang menyeruak di sela-sela dedaunan kering.

Susana camp benar-benar sepi dari aktifitas, seperti desa hantu, tidak ada penghuni yang melakukan aktivitasnya di luar rumah saat matahari terbenam. Hanya beberapa prajurit yang terlihat berpatroli dengan membawa lentera kecil, memastikan keamanan camp. Cahaya yang berasal dari masing-masing rumah pohon tidak bisa mengalahkan kegelapan hutan Andalus. Pegunungan Andalus benar-benar melindungi mereka dengan baik dengan jubah kegelapannya.

Mereka melangkah dalam gelap tanpa ada obrolan yang terjadi. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar berisik saat menginjak dedaunan dan ranting kering. Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat yang mereka tuju. Keempat Prince dan peramal Jonghyun langsung membuka tudung kepalanya. Mereka langsung disambut oleh penjaga dan mengantarkannya masuk kedalam rumah tersebut.

Setibanya di dalam ruangan yang cukup luas, mereka disambut oleh seseorang yang berwajah teduh dan si pengawal langsung pamit meninggalkan mereka. Si orang yang berwajah teduh tersebut kemudian memperkenalkan diri sebagai penasehat tetua. Kemudian dia membimbing peramal Jonghyun dan keempat prince memasuki sebuah ruangan yang telah disediakan berbagai macam hidangan.

“Tetua akan menemui kalian setelah kalian makan malam,” ujar sang penasehat.

Tanpa ada pertanyaan, peramal Jonghyun langsung menghampiri menu-menu makanan yang telah terhidang, begitu juga dengan keempat Prince. Aroma makanan yang tersaji membuat nafsu makan mereka langsung meningkat. Dan rasa lapar yang mereka rasakan sejak dalam perjalanan pun sirna seketika.

“Wah, makanan ini lezat banget,” ujar Prince Minho dengan mulut setengah penuh.

“Ho oh,” Prince Onew setuju.

Beberapa saat kemudian mereka selesai makan, mereka makan tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Kemudian sang penasehat kembali masuk ke dalam ruang tersebut, meminta peramal Jonghyun dan keempat perince untuk mengikutinya karena sang tetua telah menunggu mereka.

“Bagaimana hidangan kami?” tanya sang penasehat saat keluar ruang makan.

“Enak banget,” jawab Prince Key.

“Syukurlah kalau kalian suka.”

Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, di dalamnya hanya terdapat sebuah meja persegi dengan dikelilingi kursi sekitar sepuluh buah dan di ujung meja telah berdiri sesosok laki-laki yang terlihat seperti berperawakan sekitar tiga puluh tahunan, dengan kulit wajah mulus. Wajah lelaki tersebut memancarkan sebuah senyuman yang begitu lembut.

“Tetua…,” kata sang penasehat sambil membungkuk memberi salam.

Peramal Jonghyun dan keempat prince ikut memberi salam. Wajah muda tetua tidak seperti yang dibayangkan oleh keempat prince, namun hal tersebut tidak membuat mereka kaget karena kekuatan sihir yang tetua miliki pasti melebihi peramal Jonghyun.

“Silahkan duduk,” ujar sang tetua mempersilahkan.

Keempat prince dan peramal Jonghyun langsung menempati kursi yang telah tersedia. Sedangkan sang penasehat langsung menempati posisinya, berdiri di samping tetua. Tiba-tiba muncul seorang yeoja yang masih muda dengan membawakan minuman. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih membuat keempat Prince terpesona.

“Dia adalah putri Myungie, anak angkat tetua,” bisik peramal Jonghyun di telinga Prince Onew yang berada di sebelahnya.

Setelah menghidangkan minuman, sang Putri kembali menghilang di balik pintu. Kecantikan putri tersebut benar-benar membuat keempat prince terpesona, meskipun hanya melihatnya sekejap.

“Permal Jonghyun, bagaimana keadaanmu?” tanya sang Tetua membuka pembicaraan.

“Baik tetua,” jawab peramal Jonghyun.

“Mereka… keempat prince yang kamu ceritakan tadi?” tanya sang tetua sambil melihat keempat namja itu lekat-lekat.

“Iya tetua, mereka adalah calon pewaris keempat Kingdom yang telah dihancurkan oleh Dark Sooman.”

Keempat Prince langsung tertunduk, kenangan seakan kembali terusik dalam pikiran mereka. Air muka mereka seakan langsung menceritakan semuanya pada sang tetua, betapa sedih dan hancurnya perasaan mereka atas kehancuran keempat kingdom. Sang tetua memperhatikan wajah tertunduk mereka satu persatu.

“Kalian jangan terlalu larut dengan kesedihan. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang sangat menyakitkan. Tapi, alangkah lebih menyakitkannya lagi jika kalian sampai kehilangan masa depan,” ujar sang Tetua.

Keempat prince langsung mengangkat kepalanya. Kalimat yang diucapkan sang tetua seperti kalimat sihir yang mampu menembus ke dalam hati. Sebuah senyuman kemudian terukir di wajah tetua saat melihat sebuah gelora semangat yang terpancar dari mata keempat prince.

“Nah, begitulah seharusnya anak muda hidup, penuh dengan semangat. Jangan biarkan sebuah kesedihan di masa lalu merampas masa depan kalian. Bersedih itu manusiawi, tapi jangan lah berlebihan karena kesedihan bisa mengikis habis seluruh hatimu hingga kamu tak sanggup untuk hidup.”

Kalimat nasehat terus meluncur dari mulut sang tetua, dan membuat keempat prince patuh mendengar tanpa mampu mendebat. Karena semua yang diucapkannya adalah sari kehidupan yang belum mereka peroleh sebelumnya.

“Hahaha… maaf, karena saya banyak berbicara malah lupa memperkenalkan diri. Beginilah kalo usia sudah menggerogoti jasad.” Sang tetua menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalian pasti sudah tahu dari peramal Jonghyun bahwa saya adalah tetua dari camp ini dan semua orang disini memanggil saya tetua. Padahal saya juga punya nama seperti kalian, nama saya adalah Jeje, jadi kalian boleh memanggilku dengan sebutan tetua Jeje.”

“Ne.. tetua,” ucap keempat prince lirih.

Kemudian keempat prince memperkenalkan diri mereka masing-masing. Sambutan hangat yang diperlihatkan tetua Jeje membuat keempat prince merasa aman dan nyaman berada di camp tersebut.

“Tetua…,” kata Peramal Jonghyun dengan nada serius.

“Ya…”

“Minggu depan kami berencana untuk pergi ke pulau naga.”

Keempat prince terkejut dengan rencana peramal Jonghyun yang belum pernah didiskusikan sebelumnya. Bahkan Peramal Jonghyun dengan sangat yakin menyebutkan nama pulau naga. Pulau yang telah dikabarkan lenyap beberapa ratus tahun yang lalu, bahkan tidak meninggalkan jejak sama sekali kecuali keberadaan naga itu sendiri.

“Bukannya kalian baru sampai disini.”

“Tapi kita tidak memiliki banyak waktu, karena kegelapan semakin menguasai dunia.”

“Pulau naga? Bukankah pulau itu sudah lenyap? Bagaimana kita pergi ke pulau yang tidak pernah kita ketahui keberadaannya?” tanya prince Minho.

Ketiga prince lainnya ikut menatap ke arah peramal Jonghyun, penasaran.

“Tim peneliti yang di pimpin putri Myungie dari camp ini telah menemukan letak pulau naga beberapa waktu yang lalu. Dan kemungkinan besar mereka juga mengetahui letak pedang SHINee di pulau tersebut. Akan tetapi, Dark Kingdom juga telah mengetahui letak pulau tersebut, makanya kita tidak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang.”

“Putri Myungie…?” gumam prince Onew.

“Dan latihan untuk Prince Taemin dan Prince Minho bisa kita lakukan dalam perjalanan, aku yakin kalian mampu menguasai ilmu dasar pedang dalam waktu singkat, apalagi di sini ada si raja pedang,” kata Peramal Jonghyun sambil melirik ke arah Prince Onew.

“Latihan dasar pedang?” tanya prince Taemin.

“Yup, karena diantara keempat prince hanya kalian berdua yang tidak terbiasa dengan pedang. Sedangkan untuk menguasai pedang SHINee kalian harus menguasai ilmu dasar pedang, jika tidak kalian bisa terbunuh.”

“Baiklah, jika itu memang keputusan peramal Jonghyun saya akan mempersiapkan semua keperluan yang akan kalian butuhkan selama dalam perjalanan.” Tetua Jeje merestui.

“Kami juga mau minta bantuan putri Myungie,” ujar peramal Jonghyun memohon.

“Putri Myungie…, perjalanan ini sangat beresiko. Apalagi kemungkinan untuk bertemu dengan tentara Dark Kingdom  sangat besar…,” ujar Prince Key.

“Hehehe…, kamu jangan meremehkan kemampuan putri Myungie. Dia adalah ahli strategi perang yang handal dan juga salah satu ahli pedang yang ada di camp ini.”

Perkataan peramal Jonghyun membuat keempat prince semakin penasaran. Paras wajahnya yang cantik seakan tidak memperlihatkan sebuah keahlian dalam pertempuran. Dan wajah cantiknya memang tidak pantas untuk berada di medan pertempuran.

“Baiklah akan saya ijinkan,” jawab sang tetua.

Kemudian peramal Jonghyun memaparkan rencana-rencana yang telah disusunnya untuk menuju ke pulau naga. Keempat prince hanya bisa menyimak penjelasan yang disampaikan peramal Jonghyun tanpa bisa berkata apapun selain bertanya tentang sesuatu yang tak pernah diketahuiinya. Pulau naga yang mereka anggap telah hilang, menurut cerita yang mereka dengar, kini muncul bagai kepingan fiksi yang menjelma menjadi kenyataan.

Tong… Tong… Tong…

Tiba-tiba sebuah tanda bahaya terdengar dari wilayah selatan, memecah kesunyian hutan Andalus. Tetua Jeje menatap ke penasehatnya penuh tanda tanya dengan air muka penuh kehawatiran. Sang penasehat langsung menuju ke luar hendak mencari informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun seorang prajurit tiba-tiba datang dengan nafas tersengal-sengal.

“Maaf tetua, ratusan kaum chaebol berhasil menemukan wilayah ini dan menurusak pelindung sihir wilayah selatan,” lapor sang prajurit dengan suara lantang penuh penyesalan.

Tetua Jeje terperanjat kaget, dan dengan cepat strategi dengan  berbagai kemungkinan yang akan terjadi hadir dalam kepalanya.

“Penasehat, tolong kerahkan semua prajurit yang handal untuk memusnahkan semua kaum chaebol yang telah berhasil sampai ke wilayah ini. Jangan biarkan salah satu mereka lolos, terutama sang pemimpin dari mereka, atau letak camp ini akan diketahui oleh Dark Sooman,” perintah tetua Jeje.

Sang penasehat langsung ke luar ruangan untuk menjalankan semua perintah. Keempat prince saling mengarahkan pandangan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Tetua, izinkan kami ikut membantu mereka,” usul peramal Jonghyun.

Tetua Jeje hendak menolak usulan peramal Jonghyun, tapi kemudian ia berkata “Baiklah, tapi kalian harus hati-hati. Kaum chaebol adalah kaum terkuat di pengunungan Andalus ini, mereka tidak akan mempan dengan sihir.”

Peramal Jonghyun langsung bergerak setelah mendapat persetujuan tetua Jeje bersama keempat Prince dipandu oleh seorang prajurit. Tanda bahaya terus berbunyi nyaring. Dari wilayah selatan terlihat kilatan cahaya dan bunyi dentingan pedang yang menunjukkan terjadinya sebuah pertarungan yang sengit.

“Peramal Jonghyun, kekuatan kaum Chaebol itu seperti apa?” tanya prince Onew.

“Di pengunungan Andalus ini, mereka terkenal karena kekuatan dan keberingasannya. Mereka akan menghancurkan setiap pemukiman yang mereka lalui. Tapi sejak beberapa puluh tahun yang lalu mereka dikuasai oleh Dark Sooman dan menjadi kaki tangannya untuk mencari dan menghancukan pemukinan pemberontak yang yang bersembunyi di wilayah pengunungan Andalus ini.”

“Sekuat itukah mereka?” tanya prince Minho penasaran.

“Mereka sangat kuat karena mereka selalu bergerak dalam sebuah kelompok yang cukup besar, cukup untuk menghancurkan sebuah pemukiman dalam hitungan menit.”

Baru kali ini keempat prince mengetahui tentang kaum Chaebol, kaum penghuni pegunungan Andalus. Informasi yang di dapat dari peramal Jonghyung menunjukkan betapa kuatnya kaum yang satu ini, bahkan disebut sebagai kaum terkuat. Dan yang tidak menguntungkan, mereka berada di bawah kekuasaan Dark Sooman.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di lokasi dan pertempuran sengit sedang terjadi. Suara dentingan pedang dan percikan api dari dua pedang yang beradu membuat kegelapan malam terusik. Ratusan kaum chaebol mengamuk dengan bringas tanpa ada rasa takut sedikit pun. Mereka melayani setiap perlawanan dari prajurit-prajurit camp yang berusaha menghabisi mereka. Peramal Jonghyun dan keempat prince langsung ikut membantu para prajurit.

Keempat prince dan peramal Jonghyun langsung berpencar dan larut dalam pertempuran. Mereka terus menebaskan pedang pada musuh yang terus melawan tanpa rasa takut. Keempat prince terlihat kaget saat mereka mengetahui sosok kaum Chaebol dengan mata kepala mereka sendiri. Kaum chaebol memiliki tinggi tubuh separuh dari manusia normal, namun dengan wajah yang sangat menakutkan dan tubuh yang sangat berotot. Gigi putihnya keluar dari mulut mereka bagai taring hewan liar yang siap merobek daging mangsanya, kontras dengan warna kulitnya yang gelap. Senjata yang mereka gunakan beraneka ragam mulai dari pedang hingga gada berduri yang siap meremukkan tengkorak manusia dengan sekali pukul. Selain itu, mata merah mereka yang menyeramkan menyala terang seperti darah segar.

Peramal Jonghyun mengeluarkan pedang Blinger dari sarungnya, dan tanpa kesulitan memotong leher kaum Chaebol yang dihadapinya. Prince Key dengan pedang blue dragonnya tidak segan-segan merobek daging Chaebol yang berani melawannya. Prince Taemin dan Prince Minho juga tidak mau ketinggalan, beberapa kaum Chaebol berhasil dikalahkannya. Tapi, jumlah kaum chaebol yang terus bertambah membuat mereka sedikit kewalahan.

“FIRE BLADE,” Prince Taemin kembali memenggal leher salah satu kaum Chaebol.

Prince Onew, sang raja Pedang, tanpa kesulitan sedikitpun melayangkan pedang tiruan blue dragon yang berada di tangannya ke leher Chaebol yang dihadapannya. Jurus-jurus pedang yang dikuasainya membantu gerakannya lebih efisien dalam suasana gelap dan ruang gerak yang sempit.

“PUTRI MYUNGIE, PIMPINAN KAUM CHAEBOL MELARIKAN DIRI,” teriak salah satu prajurit.

Pandangan Prince Onew langsung tertuju ke arah datangnya suara, lebih tepanya Prince Onew penasaran dengan putri Myungie, Penasaran dengan kemampuan pedang putri Myungie. Dari tempat Prince Onew, dia hanya bisa melihat seorang yeoja memainkan jurus pedang dengan gerakan yang begitu anggun dan lembut seperti angin. Rambutnya yang terurai dan terbawa angin membuat gerakannya terlihat begitu sempurna.

“Tunggu, gerakan jurus itu…,” tiba-tiba Prince Onew teringat sesuatu. “Bukankah itu jurus pedang yang telah punah. Jurus pedang tarian rembulan. Siapa yang telah menguasai jurus pedang legendaris itu?”

Penasaran Prince Onew semakin memuncak dan berusaha mendekati yeoja tersebut, sang pemilik jurus pedang legendaris, tapi yeoja itu terus bergerak menjahui prince Onew. Dia terlihat mengejar sesuatu, bergerak sambil melompat menghindari setiap serangan, ringan seperti mengendarai angin. Prince Onew terus menerobos kerumunan kaum Chaebol yang terus menyerangnya.

“Putri Myungie,” teriak Prince Onew tidak yakin.

Yeoja yang berada di depan Prince Onew menoleh dan memperlihatkan paras wajahnya yang cantik diterpa sinar lentera yang dibawa para prajurit. Putri Myungie. Senyum sempat mengembang di bibir putri Myungie, namun tidak lama karena dia terus mengejar pimpinan kaum Chaebol yang melarikan diri. Prince Onew terus mengerjar putri Myungie, dengan jantung  yang mendadak berdegup kencang.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya putri Myungie berhasil menyusul pimpinan kaum Chaebol yang melarikan diri. Jika dibiarkan lolos, pimpinan ini akan memberikan informasi tentang letak camp. pada pimpinan tertinggi kaum chebol dan akan diteruskan ke Dark Sooman. Pimpinan Chaebol langsung menyerang putri Myungie dengan gada berdurinya, namun putri Myungie dengan cepat menyarangkan pedangnya di leher pimpinan kaum chaebol dan membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya. Darahnya langsung muncrat dan membasahi tanah hutan pegunungan Andalus.

“Jurus pedang tarian rembulan,” ujar Prince Onew.

Putri Myungie hanya menyunggingkan sebuah senyuman sambil menyarungkan kembali pedangnya. Prince Onew menghampiri putri Myungie, ingin memastikan sendiri jurus pedang yang dilihatnya tadi.

“Pengamatan anda memang sangat jeli,” kata Putri Myungie.

“Aku hafal semua jurusnya, tapi tak bisa menguasainya.”

“Jika anda ingin menguasainya, maka anda harus berubah menjadi yeoja terlebih dahulu, hehehe.” Putri Myungie tertawa renyah.

Jurus pedang tarian rembulan merupakan jurus pedang yang telah melegenda, hanya orang-orang terpilih yang dapat menguasainya. Dan jurus tersebut hanya bisa dikuasai oleh kaum yeoja, dengan kata lain tidak ada satupun kaum namja yang bisa menguasai jurus tersebut. Gerakannya yang lembut dan ringan seperti angin, tapi memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Sebelumnya, jurus pedang itu dinyatakan telah punah dan hilang karena tidak ada satupun orang yang menguasai jurus tersebut.

“Kita harus kembali ke camp, dan memastikan tidak ada kaum Chaebol yang berhasil melarikan diri.” Kata putri Myungie.

“Putri….”

“Kita tidak punya banyak waktu,” kata putri Myungie, memotong kalimat yang ingin disampaikan Prince Onew.

Prince Onew masih penasaran, kenapa putri Myungie bisa menguasai jurus pedang yang legendaris tersebut, tapi keadaan tak memungkinkan untuk bertanya lebih. Keselamatan Camp menjadi taruhannya.

Putri Myungie langsung melesat meninggalkan Prince Onew yang masih tertegun dengan kalimat yang tersendat di kerongkongannya. Gerakan putri Myungie sangat ringan, sehingga dalam waktu singkat sudah meninggalkan prince Onew dalam jarak yang cukup jauh. Prince Onew kemudian berusaha menyusul putri Myungie.

Setibanya di camp, semua kaum Chaebol telah berhasil dimusnahkan. Jasad-jasadnya mulai dikumpulkan oleh para prajurit, untuk kemudian dilenyapkan. Di sisi lain, terlihat beberapa prajurit pelindung, dengan kemampuan sihirnya mencoba memperbaiki pelindung sihir yang rusak. Sedangkan peramal Jonghyun terlihat sedang berdiiskusi dengan ketiga prince lainnya.

“Kamu dari mana saja?” tanya peramal Jonghyun pada Prince Onew.

“Anu…,” Prince Onew berusaha mencari penjelasan yang tepat.

“Tadi, Prince Onew membantu saya mengejar pimpinan kelompok kaum chaebol yang sempat melarikan diri.” Putri Myungie menjawab pertanyaan peramal Jonghyun.

Prince Onew terlihat kaget dengan jawaban yang terlontar dari putri Myungie. Seperti mendapatkan sebuah pertolongan gratis. Dan anehnya, jantung prince Onew kembali berdegup kencang. Peramal Jonghyun tersenyum penuh arti saat melihat reaksi Prince Onew. Sedangkan ketiga prince lainnya hanya saling tatap muka penuh pertannyaan.

“Maaf Peramal Jonghyun, saya harus menemui tetua dan melaporkan semua kondisi dari kekacauan ini.” Putri Myungie membungkukkan badan, memberi hormat, sebelum meninggalkan Peramal Jonghyun dan keempat Prince.

Putri Myungie hilang ditelan kegelapan malam hanya dalam beberapa langkah. Prince Onew tak bisa mengelak tatapan penuh pertanyaan dari prince lainnya dan peramal Jonghyun. Namun semua itu hanya dijawab dengan sebuah senyuman.

“Kenapa jantungku kembali berdegup kencang?” batin Prince Onew.

$$$

Di Dark Kingdom.

Setelah menghadap Dark Sooman, kelima jendral Black Murder (Balck-M) langsung menuju ke sebuah ruang rahasia bawah tanah melalui sebuah terowongan yang dijaga ketat. Pintu masuk dijaga oleh sepasang penjaga dengan level tingkat tinggi, dinding-dinging lorong terbuat dari batu hitam yang tak mungkin bisa ditembus oleh kekuatan sihir sekalipun.

“Sudah aku sarankan pada yang mulia Dark Sooman untuk membunuh si peramal Jonghyun itu saat dia takluk pada pemberontakannya dulu, tapi saranku tidak dihiraukannya. Sekarang…, si peramal sialan itu malah berhasil melarikan diri,” kata ketua dari kelima Jendral Black-M, Jendral Seungho.

“Sekarang malah kita yang diminta untuk memburunya, sungguh menyebalkan,” imbuh Jendral yang memiliki kumis dan jenggot tebal, Jendral GO.

Kelima Jendral terus melangkah menyusuri terowongan gelap, suara langkahnya menimbulkan gema.

“Yah…, setidaknya kita memiliki kesempatan untuk memenggal kepala si peramal itu dengan tangan kita sendiri.” Kata Jendral yang memiliki wajah paling cute, tapi paling kejam, Jendral thunder.

“Aku yang akan memotong kepalanya,” ujar jendral yang bertampang pabo, Jendral Joon.

“Terus aku memotong apanya dong?” tanya Jendral yang paling muda, Jendral Mir.

“Terserah,” jawab Jendral Seungho acuh.

“Asyik…..”

Saat tiba di depan sebuah pintu kayu besar, para penjaga pintu tersebut langsung membukakan pintu untuk ke lima Jendral tanpa diminta. Sang prajurit kemudian membungkuk dalam, memberi hormat.

Di dalam ruang tersebut, terdapat beberapa orang tua dengan jengot putih panjang menghias wajahnya. Mereka terlihat sibuk di sebuah meja batu panjang yang berada di tengah-tengah ruangan tersebut. Kesepuluh orang tersebut adalah penyihir yang dikumpulkan Dark Sooman untuk menemukan keberadaan pulau naga, para penyihir mapping.

Saat menyadari kedatangan kelima Jendral, pimpinan dari kesepuluh penyihir itu langsung menggulung kertas yang berada di atas meja dan menghampirinya.

“Jendral, ini peta pulau naga,”  kata sang pimpinan pada Jendral Seungho.

Jendral Seungho mengambil peta tersebut dan membukanya lebar-lebar untuk melihatnya. Keempat jendral lainnya ikut melihat ke dalam peta yang dipegang Jendral Seungho.

“Dan ini adalah kompas sihir…,” kata sang pimpinan, melanjutkan. “Kompas ini akan membantu anda untuk menemukan pulau tersebut.”

“Waaaww… keren,” gumam Jendral Mir sambil mengambil kompas sihir tersebut.

Jendral Seungho kembali menggulung petanya dan memberikan pada Jendral GO.

“Bagus,” gumam Jendral Seungho.

“Eung…, kami telah menyelesaikan permintaan jendral untuk membuat peta pulau naga. Sekarang kami meminta kebebasan kami, seperti yang telah anda janjikan sebelumnya.” Kata si pimpinan penyihir dengan suara bergetar. Sedangkan penyihir yang lainnya menatap sang pimpinan penuh harapan untuk bebas.

“Baiklah, aku akan memenuhi janjiku,” ujar Jendral Seungho dengan smirk menakutkan. “Mireu…, bebaskan mereka sekarang, tanpa rasa sakit sedikit pun.”

Jendral Seungho langsung meninggalkan ruangan tersebut diikuti ketiga jendral lainnya. Jendral Mir menatap ke sepuluh penyihir tersebut dengan senyum iblisnya yang dapat membangkitkan ketakutan yang mendalam bagi siapapun yang melihatnya.

“Tidak… tidak… tidak…,” Si pemimpim para penyihir melangkah mundur, ketakutan.

“Tenanglah… rasanya tidak akan sakit,” ujar Jendral Mir.

Jendral Mir langsung bergerak dengan mencabut pedang yang menggantung di pinggangnya. Wajah para penyihir pucat pasi seperti wajah-wajah mayat yang ketakutan akan kedatangan malaikat pencabut nyawa.  Mereka tidak bisa lari, seperti tikus yang terperangkap dan hanya menunggu ajal. Jendral Mir langsung mengayunkan pedangnya dan dalam hitungan detik para penyihir tersebut kehilangan kepalanya, meskipun para penyihir tersebut sempat memberikan sedikit perlawan dengan kekuatan sihirnya. Tapi sihir yang mereka gunakan bukalah sihir untuk berperang, sihir yang mereka gunakan hanya untuk membela diri, dan sihir tersebut hanya memiliki kekuatan menyerang level bawah. Di sisi lain, tubuh Jendral Mir memiliki kekuatan yang bisa menyerap semua sihir yang digunakan lawannya.

“Sekarang kalian sudah bebas,” ujar Jendral Mir sambil menyarungkan kembali pedangnya.

Setelah menghabisi seluruh penyihir, Jendral Mir mengejar keempat jendral lainnya. Mereka berjalan dalam diam, tidak ada satu kata pun yang terucap.

“Saatnya kita memenggal kepala si penghianat, peramal Jonghyun, dan keempat Prince.”

$$$

TBC >>>

26 responses to “SHINee Swords – Part2 (Tarian Rembulan)

  1. Minta SHINee Swords yang part 1 boleh? : DD

  2. oppa! huaaa.. >.<
    ak ska bgt sma ff ini.. ak udh bca dri yg 5 prisoners looh😀 *ga tanya
    keren bgt oppa.. ditunggu part.3 nya yaa.. jgn lama" tapi.. hehe :p

  3. ceritanya keren!! sudah ada part 3 nya?

  4. oppa… Jebal, lanjut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s