Monthly Archives: October 2010

Hello (Kencan Pertama-Onew) – Eps. 2/End

Hello (Kencan Pertama-Onew) – Eps. 1

Pagi itu sinar matahari terasa lebih hangat dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Udara pagi berhembus lebih pelan dan terasa lebih segar, membuat setiap jiwa akan lebih bersemangat. Burung-burung berkicaupun terdengar jauh lebih merdu dibandingkan suara Jonghyun. Perasaan Onew benar-benar berbunga-bunga.

Pagi-pagi buta Onew telah bangun dan mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak ingin acara yang telah ditunggunya bertahun-tahun berakhir dengan berantakan karena kurang terorganisir dengan baik. Jiwa leadernya benar-benar tumbuh dengan baik. Padahal para member SHINee yang lain masih bergelut dengan tempat tidurnya bahkan Minho sampe ngeces segala, secara hari ini hari libur.

Kita lupakan member yang lainnya, kita kembali ke Onew.

Onew keluar dari asrama SHINee dengan penuh semangat dan perasaan bahagia yang begitu membuncah. Setiap langkah kakinya seakan diiringi oleh suara harmoni cinta. “Hello…hello…hello….” lirik lagu yang baru dihafalnya terus terngiang-ngiang, sulit bagi Onew untuk tidak mendendangkan sebuah lagu ketika hatinya sedang berbunga. Onew benar-benar tidak menyangka hari yang diimpikannya benar-benar terjadi. Yoona yang telah menolak cintanya berkali-kali akhirnya bisa takluk juga untuk menerima cintanya.

“Yoona Ssi, tunggulah kedatangan pangeranmu.” Onew langsung memamerkan gigi putihnya pada sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah dedaunan.

Semua saran dari para member yang lainnya benar-benar di jalankan dengan baik oleh Onew, tidak ada yang ketinggalan. Baju simpel tapi rapi sesuai dengan apa yang dianjurkan key. Dan seikat bunga mawar putih pun telah berada di genggaman tangannya. Sesekali bunga itu diciummnya dengan membayangkan wajah Yoona dan diikuti dengan senyum nakalnya. Onew benar-benar terlihat seperti orang stress.

Oh ya, satu lagi. Mawar putih yang sedang berada dalam genggaman Onew berjumlah sembilan tangkai. Hal ini dikarenakan ramalan zodiaknya kemaren menyebutkan bahwa angka keberuntungannya untuk minggu ini yaitu sembilan. Sebenarnya Onew tidak pernah percaya dengan ramalah zodiak, tapi cinta telah merubah otaknya seratus delapan puluh derajat. Setelah dipikir-pikir, apa salahnya sekali-kali mengikuti saran orang yang tidak dikenalnya.

Onew terjun ke apartemen Yoona dengan menggunakan mobil asrama, setelah sehari sebelumnya berhasil menyogok supir pribadi SHINee. Onew nekat untuk membawa mobil sendiri untuk menunjukkan cintanya pada Yoona dan membuatnya terpukau, meskipun belum memiliki SIM. Hanya berdasarkan pelajaran menyopirnya yang diperoleh secara gratis dari sopir pribadi SHINee. Padahal sang sopir telah mengingatkan Onew, namun cinta benar-benar telah membuatnya buta.

Setibanya di apartemen Yoona, Onew memarkir mobilnya dan langsung menuju ke apartemen dengan seikat bunga mawar putih yang terus  lengket di tangannya. Diliriknya jam tangannya, masih jam 9.30. Onew datang tiga puluh menit lebih awal dari janji yang telah disepakati. Maklum lah ingin menunjukkan imej yang baik di mata yoona.

Aktifitas di apartemen tersebut begitu ramai, mulai dari petugas apartemen hingga para penghuninya yang hilir mudik keluar masuk. Namun tidak satupun yang memperhatikan Onew dengan berlebihan, seperti saat ia berkunjung ke tampat lainnya. Mereka hanya tersenyum saat berpapasan dengannya, mungkin mereka telah terbiasa dengan kehadiran seorang bintang di sekeliling mereka setiap harinya. Misalnya Yoona dan teman-temannya.

“Selamat pagi,” Onew menyapa seorang cewek pegawai apartemen yang berada di ruang lobi. Privasi dan kemanan apartemen benar-benar sangat diperhatikan.

“Selamat pagi,” Jawab sang pegawai apatemen.

“Eh… bukannya dia Onew, leader SHINee.” Kata salah satu pegawai yang tidak jauh dari Onew. Bisikan itu terdengar jelas oleh Onew namun dia pura-pura tidak mendegarnya.

“Yup…,” temannya menanggapi.

“Ngapain dia ke sini? Bawa bunga segala. Mungkinkah dia sedang menjalin hubungan dengan salah seorang artis penghuni apartemen ini.” Jiwa gosip sang pegawai itu mulai muncul.

“Kalian akan terkejut jika kalian membaca surat kabar besok, hehehe.” Batin Onew menyeringai lebar membayangkan kehebohan yang akan terjadi dikarenakan kepergiannya dengan Yoona. “Alamat ini dimana ya?” Onew menyodorkan sebuah kertas pada pegawai yang berada dihadapannya.

“Alamat ini ya… disini pak,” jawab sang pegawai plus senyum manisnya sebagai bonus.

“Yah aku tahu kalo alamat ini ya disini, tapi dilantai berapa? Trus lift mana yang harus aku naiki?” Onew berusaha menahan kesalnya.

“Bapak langsung aja lewat lorong yang itu, trus naik ke lantai dua dengan lift khusus untuk tamu no.2.”

“Gamsahamnida…,” ujar Onew. Dan langsung meninggalkan si pegewai yang masih berusaha menahan senyumnya semanis mungkin.

GUUUBBBRRRAAAAKKKK….., Si pegawai jatuh pingsan.

Ternyata pesonaku masih memukau….,” batin Onew bersorak gembira. “Ntar Yoona pasti  juga akan terpesona, hehehehe.

Di lantai dua suasananya benar-benar berbeda, sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Onew sedikit bingung dengan suasana yang begitu kontras. Namun kebahagiannya langsung mengambil alih perasaannya kembali. Kabahagiaan ini tidak akan rusak oleh hal-hal yang kecil.

Dag dig dug… “Kenapa jantungku mulai berdetak kencang begini, aneh.” Kaki Onew terasa sangat berat untuk melangkah.

Onew menghentikan langkahnya dan berusaha menenangkan perasaannya. Mengatur perasaan saat bertemu dengan orang yang disukainya ternyata jauh lebih sulit dibandingkan saat berada di atas panggung.

“Hello, Yoona. Hari ini kamu terlihat cantik sekali. Kamu seperti mawar putih ini yang begitu mempesona.” Onew memandangi mawarnya penuh dengan pengahayatan. Seolah-olah yoona yang berada di hadapannya.

Onew berusaha untuk mengendalikan perasaannya dengan mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalanya. Semua ucapan yang ingin disampaikan pada Yoona juga dikeluarkannya tanpa malu-malu, sekalian latihan. Untung tidak ada seorangpun yang melihatnya, jika ada pasti dah menyangkanya sarap tingkat tinggi. Dan langsung menelepon rumah sakit jiwa terdekat.

Dan hal itu ternyata sangat ampuh, dalam waktu sekejab Onew telah bisa menguasai perasaanya kembali. “Perasaan cinta benar-benar sangat luar biasa. Habis ini aku mau minta Jong-hyung untuk membuatkan lagu mengenai rasa cinta ini.” Onew melangkahkan kakinya mendekati pintu apartemen yang ditujunya.

Setibanya di depan pintu yang dituju ternyata jantung Onew kembali berdetak kencang. Ingin dia mengeluarkan jurus yang tadi namun ia urungkan, bisa-bisa kedengaran sama Yoona. Dan akan menurunkan imejnya di mata Yoona. Membayangkan Yoona sedang menunggu di balik pintu itu, Onew kembali tersenyum lebar.

“Aduh gimana nih? Coba kalo ada Key, aku bisa minta saran apa yang harus aku lakukan untuk membuat kesan pertama yang begitu mempesona.” Onew kembali ragu.

Namun akhirnya keberanian Onew tumbuh, tidak ingin membuat Yoona menunggu lebih lama lagi. Tok..tok… tok…

“Hallo…,” Ujar Onew dengan suara yang dibuat semerdu mungkin.

Onew melihat kearah bajunya dan berusaha merapikannya kembali yang terlihat kurang rapi di matanya. Bunga mawar putih yang berada ditangannya dipandangnya penuh dengan perasaan cinta. “Oh Yoona kau membuat hatiku begitu berbunga hari ini.”

Beberapa menit kemudian, belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Namun Onew masih berusaha untuk tetap sabar menunggunya.

Tok…tok…tok…, kesabaran Onew mulai terkikis.

Pintu itu tetap tidak terbuka.

Saat Onew mau mengetok pintu itu lagi, tiba-tiba gagang pintu bergerak. Kleekk. Perasaan Onew terasa seperti sebuah bom yang ingin meledak. Jantungnya terasa seperti ingin melompat keluar. Dan senyumnya secara otomastis terbuka lebar. Kimchie…

“Hallo…,” Onew menyapa dengan penuh nada cinta.

“Hallo… Wah Onew Oppa,” Ujar si pembuka pintu, histeris. “Ini bukan mimpikan? Ini bukan mimpi? Aduh… aduh… mimpi aku semalam hingga aku didatangin Onew Oppa.”

Senyum Onew langsung berubah menjadi kecewa yang bercampur rasa heran. Kecewa karena yang orang yang membukakan pintunya bukan orang yang dimaksud, Yoona. Heran karena yang berada di hadapannya adalah sosok seorang cewek tapi memiliki jakun, jakunnya gede. Hii.. Serem.

“Oppa ayo masuk…,” si cewek berjakun menarik lengan Onew.

“Bukannya ini apartemennya Yoona Ssi?” Onew berusaha melepaskan dari jerat tangan cewek berjakun itu.

“Iiihhh, Oppa gimana sich? Apartemen Yoona kan disebelah situ. Tapi Yoona hari ini kan ke luar kota, katanya ada show gitu. Aku dan yoona temen dekat loh.” Nada suaranya terdengar manja. Tapi hal itu membuat Onew ingin muntah.

Onew langsung berkeringat dingin. Jantungnya berdetak sangat kencang, namun ini bukan cinta seperti yang tadi melainkan ketakutan yang mencengkram jantungnya. Jangan sampe besok tertulis berita Onew, leader SHINee, terlihat masuk ke sebuah apartemen wanita berjakun. “Apa yang harus aku lakukan??? Apa kata dunia???” Otak Onew berputar cepat untuk mencari solusi.

“Ayo oppa…. masuk!!!” cengkramannya semakin kuat.

Otak Onew akhirnya menemukan solusi yang dirasanya sangat masuk akal dan akan berhasil seratus persen, dijamin. Ketika cengkraman si cewek berjakun melemah, Onew berhasil melapaskan diri dari cengkramannya. Dan langsung mengambil langkah seribu….KABUUUURRRR.

“Oppaa……,” teriak si cewek berjakun.

Jurus langkah seribu Onew benar-benar luar biasa. Teriakan si cewek berjakun itu membuat lari Onew semakin kencang. Seperti orang yang dikejar anjing gila.

Hooss..hooss…hooss…, nafas Onew hampir mau putus. Setelah merasa aman dari cewek berjakun itu, Onew duduk di salah satu kursi di lobi berusaha untuk mengatur kembali nafasnya.  Kebahagiaannya yang tadi dirasakannya lenyap seketika, yang terbayang dibenaknya hanyalah gadis berjakun gede.

“Kenapa hari ini aku begitu sial? Apa mungkin karena mengikuti ramalan Zodiak itu. Ah…” Onew merogoh HP dari dalam sakunya, berniat menelepon Yoona.

Namun ketika Onew ingin menelpon Yoona, mau minta konfirmasi mengenai janji yang dibatalkan secara sepihak, ternyata ada sebuah SMS yang masuk. SMS dari Yoona, dan membuat Onew tersenyum kembali. Kebahagiaannya yang hilang seakan kembali mengisi hatinya.

“Rencana yang akan datang pasti akan lebih baik…., HAHAHAHAHA” Onew mengembangkan senyumnya yang tersisa.

END.

Advertisements

Irreversible (fanficzoo vers.)

Cast : GaIn, Jo Kwon

Pagi itu kota Seoul diselimuti kabut, matahari enggan menunjukkan sinarnya dan asyik bersembunyi dibalik awan. Suara gemericik aliran sungai yang membelah kota terdengar begitu jelas dari kejahuan. Tidak ada aktivitas manusia yang bisa ditangkap mata, semua orang seakan lenyap ditelan kabut.

GaIn terus melangkahkan kakinya menuju jembatan yang terlihat angkuh berselimut kabut. Baju dengan bulu tebal yang dikenaknnya sedikit membantu melindunginya dari udara dingin dan angin yang bertiup kencang dari arah sungai. Ekspresi wajahnya terlihat begitu kaku dan dingin.

Jantungnya terus berdetak kencang mengikuti langkah kakinya yang terus melangkah semakin cepat. Ketika tiba di ujung jembatan dia sempat berhenti sejenak, berusaha menenangkan perasaannya yang membuatnya tidak bisa meneruskan langkahnya. Kemudian dia kembali melanjutkan langkah kakinya menyusuri badan jembatan. Ketika melihat tali yang terikat pada pagar jembatan, GaIn kembali mempercepat langkahnya.

Saat tangannya menyentuh tali yang dituju, GaIn kembali teringat dengan isi sebuah surat yang diterimanya kemarin. “Aku dan Jo Kwon telah menjalin hubungan jauh sebelum denganmu dan hal itu berlangsung hingga sekarang. Jo Kwon mengaku merasa tertekan sejak menjalani program televisi yang mengharuskan berpura-pura menjadi suamimu. Jadi lepaskanlah Jo Kwon. Kamu pasti mengira aku berbohong? Untuk itu datanglah ke jembatan besar besok pagi dan carilah tali yang terikat pada pagar pembatasnya. Kamu akan menemukan koper yang berisi semua bukti hubungan aku dan Jo Kwon. Di dalam itu juga terdapat surat Jo Kwon yang menyatakan ketertekanannya saat harus pura-pura menjadi suamimu.”

Isi surat itu seakan memberitahukan GaIn kenapa beberapa bulan belakangan ini sikap Jo Kwon berubah drastis. Canda tawa yang selalu menghias kebersamaan mereka terasa sangat hambar dan aneh.  Saat syuting pun sama, canda tawanya terlihat dipaksakan. “Apakah benar Kwonie begitu tersiksa saat bersamaku? Kenapa hal ini terjadi saat hatiku benar-benar berharap pada Kwonie?” batin GaIn mempertanyakan. Untuk membuktikan semuanya itu, GaIn memutuskan untuk datang dan melihat semua bukti yang disebutkan di dalam surat itu.

Jantung GaIn berdetak semakin kencang, darahnya terasa begitu deras mengalir. Perasaannya kacau balau, berharap semua yang tertulis di surat itu hanya sebuah kebohongan belaka. Kemudian tali itu ditariknya perlahan-lahan naik ke atas.Tali itu terasa sangat berat hingga membuat GaIn mengerahkan semua kekuatannya untuk mengangkat barang yang terikat di ujung tali.

Ketika Koper yang terbungkus bahan anti air itu terangkat, GaIn cepat-cepat membukanya dengan merobek bahan pelindung koper itu. Perasaannya benar-benar bercampur aduk. Saat jarinya menyentuh retsleting koper, GaIn sudah tidak bisa menguasai hatinya lagi. Dia langsung membukanya dan tiba-tiba jantungnya seakan mau berhenti berdetak ketika melihat ke dalam koper. Isinya sama dengan apa yang dikatakan di dalam surat itu. Isinya berupa foto-foto Jo Kwon dengan seorang cewek yang terlihat begitu bahagia, beberapa CD video kenangan Jo Kwon dan juga beberapa surat yang ujung aplopnya telah dirobek.

Hati GaIn benar-benar luluh lantak. Perasaan yang mulai ia bangun untuk Jo Kwon hilang ditelan sunami yang barusan telah melanda hatinya. Hatinya terasa sangat sakit seperti diiris dengan pisau yang berkarat.  Namun akhirnya GaIn berusaha menguatkan hatinya dengan mengatakan bahwa apa yang dilihatnya ini tidak benar, sebelum ia menanyakan langsung pada Jo Kwon. Kemudian dia kembali menutup koper itu dan membawanya pulang.

Matahari mulai menunjukkan sinarnya dan mengusir kabut yang perlahan mulai menghilang. Namun udara dingin masih terasa menggigit.

Tanpa di sadari GaIn, ada sesosok pria yang memperhatikannya dari dalam sebuah mobil. Pria itu sudah lama memperhatikan GaIn. Ketika senyuman GaIn mengembang di bawah sinar matahari yang begitu hangat, pria itu ikut tersenyum. Tapi pria itu langsung menjalankan mobilnya sebelum GaIn sempat menyadarinya.

GaIn begitu kaget ketika melihat mobil Jo Kwon melintas di hadapannya. Tanpa pikir panjang GaIn langsung mengejar mobil  itu.

“YOEBO…,” teriak GaIn memanggil pria yang berada di dalam mobil. Namun mobil itu terus melaju kencang.

GaIn terus mengejar mobil itu dengan koper masih melekat di tangannya hingga koper itu terlepas dari tangannya. Sepatu dengan hak tinggi yang dikenakannya terus menimbulkan suara gaduh saat beradu dengan kerasnya jalanan. Kaki lecet yang semakin perih saat ia mempercepat langkahnya ia abaikan.

“YOEBO…!!!”

Jo Kwon terus mempercepat laju mobilnya hingga hilang di perempatan jalan. Suara GaIn tidak bisa menghentikan laju mobil Jo Kwon. GaIn tidak bisa mengejar dan memutuskan untuk langsung menuju ke rumahnya, tempat ia dan Jo Kwon tinggal.

Saat tiba di rumah, GaIn melihat mobil Jo Kwon telah terparkir di depan rumah. GaIn langsung menuju ke dalam rumahnya dengan perasaan kacau. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya yang ingin ia tanyakan pada Jo Kwon, termasuk tentang persaannya.

GaIn tidak menemukan Jo Kwon di lantai bawah dan langsung menuju ke lantai atas, ruang kerja Jo Kwon. Langkah GaIn terdengar ragu untuk menyusuri anak tangga, namun perasaannya memberinya kekutan lebih.

Ketika GaIn membuka pintu ia mendapati Jo Kwon minun segelas Wine. Jo Kwon hanya melemparkan pandangan yang begitu dingin, tidak seperti biasanya. Hal itu membuat GaIn susah untuk mengerluarkan semua pertanyaan yang berada di benaknya. Jo Kwon berusaha menghindar dari GaIn dan langsung menuju kamarnya.

GaIn mengikuti langkah Jo Kwon dan terus memperhatikannya dari belakang. Menunggunya di depan pintu. Namun Jo Kwon masih bersikap seola-olah GaIn tidak ada. Setelah mengambil sebuah tas koper kecil, Jo Kwon langsung keluar. Buukkk, Sempat menubruk bahu GaIn yang masih tidak bisa berkata apapun malihat sikap Jo Kwon yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Jo Kwon mengenakan Jas yang tadinya di gantung dan langsung menuju tangga dengan tas kopernya. Namun GaIn menghentikan langhkah Jo Kwon dengan mencengkram lengannya.

“Yoebo…, kita perlu bicara. Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ujar GaIn setelah Jo Kwon menghentikan langkahnya.

Jo Kwon tidak bergeming, diam, menunggu GaIn melanjutkan ucapannya.

“Yoebo…, kamu sudah tahu dengan isi surat dan koper itu?”

Jo Kwon tetap membisu.

“Katakanlah sesuatu Yoebo! Katakanlah bahwa semua itu bohong. Isi surat itu dan semua isi koper itu hanya bohong belaka. Bahwa semua ini hanyalah permainan.”

Namun penjelasan yang diminta GaIn tak kunjung keluar dari bibir Jo Kwon.

“Jadi…, semua ini benar.” GaIn menarik kesimpulan sendiri dari sikap yang ditunjukkan Jo Kwon. “Jadi selama satu tahun ini kamu merasa tertekan saat bersamaku? Semua canda, tawa dan cinta yang pernah kau ucapkan hanya kebohongan belaka? Terus semua kisah yang kita jalanin selama satu tahun ini hanya berupa kebohongan belaka?” air mata GaIn mulai jatuh dari kedua ujung mata indahnya.

Jo Kwon tetap membisu dan menghempaskan cengkraman GaIn dari lengannya. GaIn mengejarnya dan berusaha mencegah langkah Jo Kwon.

PLAAAKKKK…, tangan GaIn mendarat di pipi Jo Kwon.

GaIn diam terpaku, merasa bersalah karena telah medaratkan tamparan di pipi laki-laki yang dicintainya.  Jo Kwon kaget dengan yang di lakukan GaIn, namun ia tetap membisu. Tidak ada rasa untuk membalas perlakuan GaIn. Kemudian Jo Kwon melangkah pergi meninggalkan GaIn yang masih diam terpaku.

GaIn mengajar Jo Kwon yang telah menghilang dari hadapannya. GaIn terus berusaha menghentikan langkah Jo Kwon hingga ia terjatuh tersungkur menggelayut di kaki Jo Kwon.

“Yoebo, jangan pergi!” pinta GaIn.

Jo Kwon tetap melangkahkan kakinya hingga membuat GaIn terseret. GaIn Semakin memperkuat lingkaran tangannya.

“Yoebo… jangan pergi! Tolong katakan sesuatu? Jangan membisu begini. Kalo seperti ini kau membuatku gila!” Jo Kwon menghentikan langkahnya. GaIn berusaha bangkit tanpa melepaskan pelukannya hingga ia memeluk tubuh Jo Kwon dari belakang dengan sekuat mungkin.

“Yoebo… katakanlah bahwa semua ini bohong! Saranghe.” Air mata GaIn mengalir deras membasahi punggung Jo Kwon.

Semua yang dilakukan GaIn seakan tidak berpengaruh apapun pada Jo Kwon. Dia berusaha melepaskan pelukan GaIn dan menghempaskan tubuh GaIn. GaIn terjatuh dengan bersimbah air mata.

GaIn mengejar Jo Kwon dan melompat ke punggung Jo Kwon hingga mereka terjatuh.  Melihat tubuh Jo Kwon jatuh tak berdaya, GaIn menaiki tubuh Jo Kwon dan mengamuk sejadi-jadinya.

“KAU JAHAT…JAHAT… JAHAT…,” Jo Kwon berusaha melindungi wajahnya dari amukan GaIn.

“Kenapa kau lakukan ini?, saat aku benar-benar mencintaimu. Bukankah kau berjanji akan selalu menjagaku?”ujar GaIn saat emosinya menurun.

Entah setan apa yang merasuki tubuh Jo Kwon, dia tetap membisu. Kemudian dia mendorong tubuh GaIn dari atas tubuhnya dan menjambak rambut GaIn. Jo Kwon seakan mau mengucapkan sesuatu namun ia urungkan. Ia hanya memandang wajah GaIn dengan tatapan dingin dan meninggalkannya.

GaIn tersungkur dengan air mata yang terus mengalir, tidak percaya dengan sikap Jo Kwon. Jiwanya seakan merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Sedangkan Jo Kwon dengan langkah mantap menurunin tangga meninggalkan GaIn yang masih tersungkur.

“Yoebo…, pergilah!” Ujar GaIn dengan mengerahkan kekuatan terakhirnya. Jo Kwon menghentikan langkahnya. Kemudian GaIn melanjutkan, “Jika memang selama satu tahu ini kamu merasa tertekan saat bersamaku, mianhe. Mulai saat ini aku akan melepaskanmu. Dan satu hal yang perlu kau katahui, bahwa kebahagiaan, kesenangan, dan cinta yang aku rasakan saat bersamamu bukanlah sebuah kebohongan. Semua itu benar-benar dari dalam hatiku. Aku sangat mencintai mu, Saranghe. Tetaplah kamu membisu, jika itu yang kamu inginkan. Tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Karena saat kamu pergi dari sini, aku sudah tidak akan ada di dunia ini lagi.”

Hati Jo Kwon benar-benar telah membatu. Dia membuka pintu dan meninggalkan GaIn.

GaIn benar-benar putus asa, dia langsung berlari menuju kamarnya di lantai atas dan naik ke jendala, bersiap-siap untuk melompat. Air matanya terus mengalir. Namun Jo Kwon tidak mengubris apa yang akan dilakukan GaIn, hatinya telah mengeras sekeras batu. GaIn hanya bisa melihat pria yang dicintainya masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya. Tidak ada lagi cinta yang selama ini membuatnya bersemangat dalam menjalani hidup.

Jo Kwon telah hilang dari pandangannya. Dengan rasa putus asa, GaIn memajamkan matanya. Dan melepaskan pegangan tangannya. Dan…

BUUUUKKKKK…., Suara tubuh yang menghantam tanah.

Tiba-tiba dunia menjadi gelap….

***

“Aawww….,” GaIn Memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“WAKAKAKAKAKAKAKAKA……!@#$%^”

GaIn mendengar seseorang tertawa penuh nafsu. Rasanya dia kenal dengan suara itu, suara Jo Kwon. Setelah sadar seratus persen, GaIn mendapatkan dirinya tertelungkup di bawah samping sofa.

“Syukurlah hanya mimpi,” gumamnya.

“WAKAKAKAKAKAKAK…. Yoebo, kamu membuatku kaget. Aku kirain ada kompor meleduk, soalnya suaranya kenceng banget. Ternyata kamu yang jatuh, yoebo. BUUUKKKK…” Jo Kwon menirukan suara saat GaIn jatuh.

GaIn hanya bisa bersungut-sungut, malu. Tapi dalam hatinya dia bersyukur karena semua yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi.

“Yoebo… mianhe. Telah membuatmu menunggu kelamaan hingga kamu ketiduran. Ayo kita makan.” Jo Kwon memberikan semangkok nasi pada GaIn.

“Yoebo, selama satu tahun ini apakah kamu bahagia saat bersamaku?” tanya GaIn.

“kenapa kamu tanyakan itu?”

“Jawab saja! Jangan tanya balik.” GaIn membentak, dan diikuti senyum manisnya.

Dengan tersenyum penuh makna Jo Kwon menjawab “Saat bersamamu aku pasti bahagia. Untuk itu aku ingin bersamamu untuk selama-lamanya.”

GaIn tersenyum. Nasi yang dikunyahnya terasa sangat manis, luar biasa.

END.

Buat Adam Couple…. Happy anniversary. Luv U so much GaIn Nuna…

Hello (Kencan Pertama-Onew) – Eps. 1

Prolog : Sebelumnya aku mengucapkan syukur karena pada akhirnya aku bisa meresmikan blog ini, hehehe. Mau potong pita, nggak ada pitanya. Mau potong tumpeng, nggak punya duit untuk membelinya. Jadi pake tepuk tangan aja ya…plok..plok…plok. (Terimakasih buat yang ikut tepuk tangan). Oke kalo gitu… SELAMAT MENIKMATI…

Cast : SHINee, Yoona.

***Sehari sebelumnya***

“Sehabis latihan semuanya kumpul di ruang meeting seperti biasa ya, ada satu hal yang harus aku omongin dengan kalian semuanya.” Kata sang leader di sela-sela latihan untuk come back stage album mereka, Hello.

“Tapi hyung berdasarkan jadwal, habis latihan ini kita bebas, nggak ada meeting.” Teamin mengingatkan sang leader, mungkin dia lupa dengan jadwalnya. Dan jaga-jaga kalo sang leader lagi ada niatan untuk mengerjainnya seperti yang sudah-sudah.

“Yup… bener hyung,” Ujar JongKey kompak. Key menyodorkan sebuah buku kecil yang berisi jadwal kegiatan SHINee.

Onew hanya melirik buku kecil itu, tidak ada niat untuk memperhatikannya lebih karena dia telah hapal semua kegiatan SHINee di luar kepala, sang leader gitu loh. Kemudian Onew mengarahkan pandangannya ke Minho yang masih asyik menyeka keringat dengan handuk kecilnya. Minho membalas tatapan Onew dengan sebuah tatapan penuh dengan makna diikuti kedua jempolnya yang teracung tegak. Dan Onew langsung tersenyum puas.

Aku akan selalu ikut dengan apa yang dikatakan Onew hyung, coz leader SHINee deabak.” Kira-kira bergitulah arti tatapan Minho.

“Memang… setelah latihan ini kita nggak ada jadwal alias bebas, tapi…,” Onew mengambil nafas dalam-dalam berharap mendapatkan sebuah kekuatan lebih. “Aku mau minta bantuan kalian.”

“Kalo mau minta bantuan aja hyung ngajak aku, kalo makan-makan hyung nggak pernah ngajak.” Teamin protes.

“Teamin Ssi…, mau ikut kita makan-makan?” Onew menatap Teamin penuh dengan intimidasi. Hal yang sering dilakukannya untuk mempermainkan Teamin yang polos.

“Iiii….ya….,” Teamin menghindari tatapan tajam Onew.

“Maka bantuin dulu leadermu ini ya?” pinta Onew dengan suara mengiba. Tatapan tajamnya langsung berubah menjadi tatapan penuh mengiba. *Sepertinya Onew lagi latihan untuk dramanya terbarunya*

“Bener hyung?” mata Teamin langsung berbinar. Senyumannya langsung mengembang lebar.

Onew mengangukkan kepalanya.

“Buat kita apa hyung?” ujar Jonghyun.

“Bukannya kalian dah sering melorotin aku?”

“Aih… itu tidak adil, hyung.” Key ikut protes, kedua tangannya memegang kepalanya ,style key mode on. “Pokoknya Onew hyung harus menyediakan kita Pizza di ruang meeting dan lengkap dengan minumannya, titik.”

Onew tidak berkutik. “Oke, setuju.” Onew tidak lagi berani berdebat dengan Key, sudah kapok. Soalnya ujung-ujungnya pasti kalah. “Habis mandi kita ngumpul lagi di ruang meeting.”

Setelah menerima instruksi, semua member SHINee langsung meninggalkan ruangan latihan setelah membereskan barang-barang mereka. Keputusan yang telah disetujuin bersama harus dilaksanakan meskipun hanya urusan pribadi, jika tidak hukuman siap menanti. Itulah aturan SHINee.

Sebelum keluar ruang latihan Minho kembali mengangkat kedua jempolnya, “leader Onew memang deabak.”

“Gumawo…,” jawab sang leader.

“Leader hyung, aku minta Pizza tuna ya!” Minho langsung kabur sebelum Onew sempat mengucapakan sesuatu.

Onew hanya tertegun mendengar permintaan Minho. “Dasar kharismatik Minho, penampilan aja yang kharismatik tapi kelakuannya sama dengan JONGKEY.” Suara batin Onew mengemuka.

Sekitar satu jam kemudian, semuanya telah berkumpul di ruangan meeting seperti yang telah diinstruksikan sang leader. Tiga box pizza, termasuk pizza tuna, lengkap dengan minumannya telah menunggu di atas meja untuk di santap. Tumpukan pizza itu membuat air liur JongKey dah pada netes termasuk Teamin dan Minho, tapi mereka belum ada yang berani menyantapnya. Demi menghormati sang leader.

“Oke, kita meeting sambil makan pizza. Ini kan meeting informal.” Onew tidak tega melihat anggotanya yang sudah mirip anjing kelaparan. Mungkin latihan tadi telah banyak menguras energi mereka.

“Hyung emang baik hati,” kata teamin sambil menunggu giliran untuk mengambil potongan pizza.

“Onew hyung, sering-sering ada meeting kayak gini. Kita pasti senang,” kata Jonghyun dengan mulut dipenuhi pizza.

“Hyung, emang deabak.” Kedua jempol Minho kembali terangkat.

“Sebetulnya hyung mau kita membantu apa?” Key langsung menanyakan pokok permasalahannya.

“Oke, kalian duduk dulu.” Onew mengambil tempat duduk yang berada di ujung meja, singgasananya. Setelah semuanya duduk pada posisinya, Onew kembali melanjutkan. “Kalian tahu Yoona Ssi kan?” semuanya mengangguk kompak. “Kemaren dia mengundang aku untuk kencan, jadi aku diminta menjemputnya di apartemennya. Masalahnya, kalian tahukan kalo aku belum pernah kencan. Jadi aku…”

Perhatian semuanya langsung tertuju pada sang leader Onew, Pizza yang ada di hadapan mereka tidak lagi menggoda selera makan mereka. Jonghyun, Key dan Teamin menunjukkan raut wajah yang heran, tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Hanya Minho yang terlihat senang mendengar berita itu.

“Kalian kenapa sih?”

“Wow…, leader SHINee benar-benar Deabak.” Jempol minho hanya satu yang terangkat, satunya lagi tidak rela melepaskan pizza tunanya.

“Bentar Hyung, sebelum kita membahas lebih jauh lagi. Kami ingin memastikan sesuatu yang barusan kami dengar. Bukannya kami tidak percaya sama leader kami, sekali lagi hanya untuk memastikan bahwa kami tidak salah dengar. Apa benar Yoona Ssi ngajak Onew hyung untuk kencan?” Key mewakili suara hati Teamin dan Jonghyun.

Onew tersenyum lebar menandakan sebuah kemenangan yang tak bisa dipungkiri lagi. Gigi putihnya tampak begitu sempurna dipamerkan. “Siapa yang berani menolak pesona dari leader SHINee ini, Onew?” Onew menyerahkan selembar kertas yang berisi sebuah alamat.

Semuanya langsung terlihat menahan rasa mual yang tiba-tiba datang. “Hyung, mendengar kalimat hyung barusan rasanya kami mau muntah.” Key adalah member yang paling tidak bisa menahan segala unek-unek di hatinya.

Jonghyun dan Key kaget ketika melihat kertas tersebut karena tulisan tangan itu memang milik Yoona. Akhirnya perasaan heran tersebut berubah menjadi perasaan bangga pada sang leader.

“Maaf Onew hyung, bukannya dah berkali-kali Onew hyung ditolak sama Yoona Ssi? Kalo tidak salah sudah lima kali.” Teamin begitu polosnya membongkar kenangan yang telah dikubur Onew dalam-dalam.

“Itu kan dulu.” Minho mewakili Onew memberikan jawaban pada teamin. “Yang lalu biarlah berlalu, sekarang buktinya Yoona Ssi ngajak leader kita untuk kencan. Mungkin Yoona Ssi dulu mau menguji kegigihan Onew hyung saja. Memang, manajer kita tidak salah pilih memilih Onew sebagai leader kita. Onew Hyung emang Deabak. Pantang menyerah”

Onew puas dengan apa yang dikatakan Minho. Meskipun terkadang kelakuannya mirip JongKey tapi Minho lebih banyak berpihak padanya.

“Jadi…?” Jonghyun mengarahkan pertanyaannya pada Onew.

“Aku mau minta saran dari kalian. Apa yang harus aku lakukan supaya kencan partama ini begitu membekas di hati Yoona.”

“Hyung memang tidak salah memilih kita dalam urusan ini. Kami tidak akan mengecewakan hyung.” Key terlihat bersemangat seratus persen. Meskipun berawal dari keraguan.

“Hyung, bukannya kita sama-sama belum pernah ngedate sama sekali?” Teamin berkata apa adanya. Dasar polos.

“Meskipun kita belum pernah ngedate sama sekali, tapi kan setidaknya kita pernah berakting. Selain itu kita juga sering nonton drama kan? Dan juga ada pepatah yang mengatakan bahwa pendapat yang banyak itu lebih baik dari pada satu pendapat.” Jonghyun membatu Onew menjelaskan pada Teamin.

“Ooo gitu ya?” Teamin mengangguk-angguk tanda setuju dengan penjelasan yang diberikan Jonghyun.

“Hyung, dapat dari mana tuch pepatah? Perasaan aku belum pernah mendengar pepatah seperti itu.” Minho berusaha mengingat-ngingat semua pelajaran yang pernah di dapatnya selama sekolah.

“Makanya jangan menggunakan perasaan, sekali-kali pake lah otakmu.” PLAAKK… tangan Jonghyun mendarat sempurna di kepala Minho. “Barusan kan kamu dah dengar tuh pepatah? Jangan bilang belum pernah. Hehehe…” Key, Onew dan Teamin ikut cekikan melihat Minho begitu polos dikerjain Jonghyun.

“Selamat….,” batin teamin berujar penuh syukur. Tadi sebetulnya dia ingin menanyakan asal-usul pepatah itu juga namun Minho telah mendahuluinya.

“Gimana nich, apa yang harus aku lakukan?” Onew berusaha mengembalikan pembicaraan pada relnya.

“Hyung mau ngadate kemana?” tanya Key.

“Yoona bilang sih mau nonton.”

“Kalo yang aku tahu sich Yoona itu gadis yang simple nggak suka dengan hal yang ribet-ribet. Jadi aku sarankan hyung menggunakan pakaian yang casual aja tapi harus rapi. Soalnya cewek sesimpel apapun pasti lebih menyukai cowok yang rapi, tidak berantakan.” Key memberi masukan.

“Trus bawa eskrim atau coklat. Karena aku suka eskrim dan coklat… hemmm. Pasti romantis.” Teamin ikut memberikan saran.

“Huuuu…. dasar anak dibawah umur.” Ujar Minho yang diaminin seratus persen sama JongKey. Teamin langsung silent mode on.

“Bentar, aku pikir saran Teamin tidak ada salahnya. Masak aku datang ke apartemen Yoona tidak membawa hadiah? Bukannya hadiah itu perekat jiwa?” Ujar Onew dengan mempertimbangkan semua saran yang diterimanya.

“Perekat jiwa? Emang lem aibon…,” ujar key.

“Benar juga sih, tapi kalo bawa eskrim atau coklat? Kok kayaknya kekanak-kanakan. Oh ya, gimana kalo bawa bunga mawar? Mawar kan melambangkan cinta.” Jonghyun ikut mengeluarkan isi otaknya.

“Benar tuh apa yang dikatakan Jong hyung.” Key setuju.

Teamin diam tidak ikut menyetujui saran JongKey. “Mawar? Emang bisa dimakan? Mendingan coklat atau eskrim bisa dimakan.”

“Wow… pasti hyung akan terlihat makin deabak aja. Apa lagi kalo bawa mawar putih.” Ujar Minho.

“Bukannya mawar merah lebih bagus?” tanya Onew.

“Jangan hyung, lebih baik putih. Kita kan belum tahu warna kesukaan Yoona Ssi, soalnya ada cewek yang nggak suka dengan mawar merah. Mendingan pake warna putih aja, warna netral tapi bisa melambangkan kesucian cinta.” Key menjelaskan.

“Sip aku setuju,” Jonghyun mengangkat jempolnya.

Tanpa diminta pun jempol Minho telah teracung tanda setuju. Jarang-jarang juga idenya diaminkan oleh Key. Coba kalo dia tahu sujud syukur, dah pasti dia jungkir balik karena ideanya didukung penuh oleh member yang lainnya, terutama oleh Key.

“Teamin gun?” tanya Onew.

“Aku setuju aja dech. Kayaknya ntar hyung akan mirip dengan pemain utama sebuah drama yang lagi menjemput ceweknya. Pasti romantis banget.” Teamin terpaksa menyetujuinya takut Onew membatalkan janjinya untuk mengajaknya makan bareng.

“Oke deh kalo gitu. Sudah diputuskan, besok aku akan menjadikan kencan pertama ini tidak akan pernah dilupakan Yoona Ssi. Yoona Ssi yang cantik bergandengan dengan Onew yang gantheng plus bunga mawar putih… pasti seluruh dunia akan iri melihat kita. Hahahahaha….” Imajinasi Onew langsung menuju ke tingkat tujuh.

“Hoeekkksss…,” Jonghyun, Key dan Teamin langsung kabur, tidak ingin muntah lebih parah lagi.

“Yoona Ssi… Pangeranmu besok akan datang menjemputmu… hahahaha.” Penyakit Onew mulai kambuh, stress.

Minho yang awalnya ingin bilang Deabak, tapi tidak tahan dengan penyakitnya sang leader. “Hooeeekkksss..,” Minho kena jekpot dan langsung kabur menyusul ketiga temannya yang sudah menyelamatkan diri duluan.

“Yoona Ssi…. hahahaha.” Onew makin stress.

>>> Bersambung…

Jangan lupa komentarnya ya… supaya kedepannya lebih baik lagi, Terimakasih.

Annyeong…

Banyak hal yang berada di dalam benakku yang ingin aku kerjakan untuk blog ini. Dan aku berharap banyak Fanfic yang akan aku post di Blog ini, dan hal itu semoga membuat orang lain (banyak orang) terhibur, dan kita akan sama-sama tersenyum… “say Kimchie..”

So… Tunggulah…