Monthly Archives: November 2010

Morning Insiden

Author : Park Jihoon

Cast : SHINee Member

Genre : Comedy (Mian… kalo nggak bisa buat Ngakak)

Lenght : Ficlet

NB : Buat para reader yang telah banyak memberikan komen di FF yang telah aku tulis… Gamsahamnida. Inti cerita dari FF ini berdasarkan kisah nyata, namun ada beberapa penambahan untuk menyesuaikan dengan cast dan genre. Karakter tokohnya masih mirip-mirip dengan yang ada di D’Jelangkung. Happy reading.

Suatu pagi di korea yang begitu Indah. Matahari bersinar dengan lembut dan menghangatkan suasana pagi, sehingga membuat semangat begitu bergelora. Udara segar semilir berhembus mengisi setiap relung paru-paru yang haus akan udara bersih. Embun-embun pagi mulai menghilang meninggalkan jejak-jejak kesuciannya di ujung-ujung dedaunan. Dan burung-burung berloncatan riang dari ranting satu ke ranting yang lainnya, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

“TIIIIIDDDDDAAAAAAAKKKKKKKKK……..”

GUBRAK!!! Jari-jari tangan author langsung kriting, mirip cabe kriting.

Tunggu sebentar, author mau mengecek dulu siapa yang telah merusak pagi ini dengan suara teriakan falsnya itu. Mau tak kemplang tuh orang. Bikin esmosi aja. Kalo esmambo enak kali ya??? Apa lagi espingkanmambo yang seksoy….hehehe. ***author langsung mimisan***

“TIIIIIDDDDDAAAAAAAKKKKKKKKK……..”  teriakannya kembali menggelegar di seantero kota Seoul.

Mendengar suara teriakan itu, suasana pagi langsung suram, muram dan buram . Matahari langsung menyumbat telinganya dengan Cloud buds (kalo manusia, cotton buds). Udara dan embun pagi langsung tercemar nama baiknya, kemudian mereka langsung melaporkan ke mabes POLRI atas tuduhan pencemaran nama baik (maap nggak nyambung, author kebanyakan nonton inpotemen). Burung-burung yang berloncatan tadi itu langsung tersungkur nyungsep di tanah dan langsung wafat dengan damai di tempat.

Aishhh… siapa yang telah merusak suasana pagi ini?

Setelah Author selediki melalui team chek n richek, silet, insert pagi, insert siang, insert petang plus insert investigasi, ternyata suara itu berasal dari sebuah Asrama seorang idol terkenal di korea. Asrama itu punyaknya SHINee. Sayang Auhtor yang cakep ini (penghuni WP langsung muntah darah) dilarang masuk. Jangan tanya alasannya karena author sendiri nggak mengerti. ***author pasang tampol alias tampang polos*** Di pintu asrama itu tertulis “AUTHOR D’JELANGKUNG DILARANG MASUK, BERANI MASUK ? SIAP-SIAP PILIH RUMAH SAKIT ATAU KUBURAN.”

Wiiihhh, sadis. Melihat tulisan itu aku (author) langsung keder. Namun hal itu tidak membuat ku hilang akal. Kemudian aku mencari kembang tujuh rupa, air sumur tujuh sumber dan kemenyan khas arab.

“Doraemon… doraemon… doraemon… datang lah.” Aku melafalkan mantera sambil melemparkan campuran tujuh kembang dan air sumur tujuh sumber itu ke seluruh penjuru.

JREEENNGGGGG.. JREEENNGGGGG..

Tiba-tiba muncul dua mahluk yang aneh

“Berhasil…berhasil…berhasil….,” kata mahluk yang satunya.

“Ehhhhh… masss boooyyyy.” Kata mahluk yang kedua dengan tangan melambai-lambai.

“Aihhh… yang aku panggil bukan DORA dan EMON.” Aku tendang tuh mahluk jadi-jadian jauh ke langit ketujuh. Dan lenyap. CLING.

Kemudian aku mulai lagi ritualnya.

“Doraemon… doraemon… doraemon… datang lah.”

Dan munculnya robot yang menyerupai kucing dari abad ke-21 dengan katong ajaib di perutnya. Akhirnya berhasil.

“Aku kasih satu permintaan!” kata doraemon (ini jin apa doraemon sih?)

“Minta teropong ajaib yang bisa tembus pandang.” Ujarku. Tadinya mau minta wajah ganteng, tapi inget iklan yang di tipi….hehehe nggak usah deh.

Dan akhirnya aku bisa memiliki teropong ajaib. Teropong yang bisa melihat secara jelas meskipun dari jauh. Jadi aku bisa kembali mencari sumber suara yang teriak-teriak cempreng itu plus menceritakan semua kejadiannya secara seutuh.

Ok kita mulai…, ini dia ceritanya.

Ternyata suara yang menggemparkan itu milik sang leader, Onew. Pagi-pagi sudah teriak-teriak mirip mariam mikrolet dipaksa kawin. Pasti ada sesuatu yang menghebohkan.

TIIIIIDDDDDAAAAAKKKKKK….

Onew sangat shock ketika menerima sms dari manajer hyungnya. Isi smsnya, “Maaf Onew-Ssi kemaren lupa mau menyampaikan jadwal dadakan. Hari ini SHINee ada kegiatan amal penggalangan dana untuk anak-anak terlantar. Jam 9.00, aku jemput di asrama jam 8.30. WAJIB HADIR.”

“Aduh gimana nich?” Onew heboh sendirian. Onew nggak mau dibilang sebagai leader yang gagal dalam memimpin para membernya, karena itu aib baginya. Selain itu onew juga takut dipecat sebagai leader, karena menurutnya seorang leader itu adalah orang yang ganteng, jadi kalo dia dipecat jadi leader itu sama artinya dia dipecat jadi golongan orang-orang ganteng.

“Apa yang harus aku lakukan? Manajer hyung seharusnya dah tahu kalo beberapa member susah untuk bangun pagi apalagi tahu kalo hari ini mereka libur. Aisshhh…, tapi aku nggak boleh gagal jadi seorang leader, kegantenganku saat ini dipertaruhkan.” Onew mengepalkan tangannya untuk mengumpulkan kekuatannya.

PRAAAKKKKK…. PRAAAKKKKK….BUKKKKK

Tiba-tiba pintu kamar Onew jebol dan muncul dua sosok mahluk yang sangat dikenalnya. Yang satu memegang spatula plus pengorengannya (bukan spongebob ya…) dan yang satunya lagi sedang mengemut eksrim magnum clasic terbaru (ini juga bukan patrick… temannya spongebob).

“Hyung ada apa? Ada maling…,” kata key sambil memegang spatula plus penggorengan.

“Ada apa Hyung,” Taemin menimpali.

“Aigooo.., kenapa kalian merusak pintu kamarku?” Onew tidak menanggapi pertanyaan key dan taemin.

“Mianhe Hyung, tadi kami terlalu panik. Aku kirain ada maling atau sebangsanya, jadi tanpa pikir panjang lagi pintunya langsung kami dobrak.” Ujar key.

“Adha apha hyung?” tanya kembali taemin, sambil ngemut eskrim.

“Hari ini kita ada jadwal kegiatan amal. Barusan aku di sms manajer hyung.” jawab onew.

“Aish… kenapa si manajer hyung ngasih tahunya mendadak. Bukannya dia kemaren juga kesini?” kata key. “Awas ya, kalo manajer hyung kesini entar aku jadikan lalapan. Tak makan mentah-mentah.”

“Trus gimana nich, waktunya dah mepet. Kita harus siap-siap.”

“Onew hyung bangunin Jjong dan minho, aku akan menyiapkan sarapan dan taemin mandi duluan biar ngantrinya nggak lama.” Key memberikan usulan.

“Sip…,” Taemin langsung angkat jempol.

Kemudian mereka langsung melaksanakan apa yang disarankan key. Onew langsung menuju ke kamar Jjong dan Minho. Key langsung menuju ke dapur, meneruskan kewajibannya. Dan taemin siap-siap untuk mandi, maklum kamar mandi di Asrama SHINee cuman satu.

“Jjong-ie…, bangun!!! Kita ada kegiatan hari ini.” Kata Onew saat membangunkan Jjong. “Jjong-ie… bangun!!!” Onew mengoyang-goyangkan tubuh Jjong.

Namun Jjong masih tidur dengan pulas, mirip kebo tidur. Dia hanya menggeliat sebentar dan kembali terlelap. Suara onew terdengar seperti lagu nina bobok aja di telinga Jjong. Maklum saja, sekarang semua blinger sudah mengerti tetang hubungan Jjong dan Sekyung. Jadi Jjong nggak perlu setress lagi dan kebiasaan tidur kembali seperti semula.

BAKKK… BUKKK…BAKKK…BUKKK….

Empat kali gebukan bantal bersarang telak di tubuh Jjong. Dua kali di badan dan dua kali di wajah. Kemudian Jjong bangun kayak orang kesurupan.

“ADA GEMPA…. ADA GEMPA…. ADA GEMPA….”  Jjong lari tunggang langgang keluar dari kamarnya berusaha menyelamatkan diri. Setidaknya itulah yang ia ketahui mengenai cara menyelamatkan diri kalo ada gempa.

Onew hanya melongo melihat tingkah Jjong. Shock berat setelah beberapa hari sebelumnya terlihat sering melamun sendiri mirip kambing mau disembelih, eh… sekarang sikapnya malah mirip fitri tropika, hiperaktif.

“Ah… hyung ngagetin aja.” kata Jjong setelah sadar nggak ada gempa. “Kenapa hyung bagunin aku sepagi ini. Bukannya sekarang kita nggak ada kegiatan?”

“Itu dia permasalahannya. Sekarang kita ada kegiatan amal, aku baru dikasih tahu sama manajer hyung melalui sms. Dan dia akan menjemput kita satu setengah jam lagi.”

“Manajer hyung sialan. Awas kalo dateng ntar aku gundulin mirip Key.” Umpat Jjong.

(“Hatsssccchhiiiiiii…” Key bersin di dapur.)

“Ya udah kamu siap-siap dulu, kamar mandi masih di pake taemin. Aku mau bangunin si raja molor.” Kata Onew dan meninggalkan Jjong di kamarnya.

Beberapa detik kemudian Onew telah berada di dalam kamar Minho. Dan mendapati Minho masih terbungkus rapat sama selimutnya. Tinggal direbus sebentar, jadilah lontong Minho.

“Minho-ah… Bangun!!! Sampai kapan mau menggambar pulau jae… ju…?” Onew mengakhiri ucapannya dengan tanda tanya besar, heran.

Onew begitu shock ketika melihat ke bantal Minho, tidak seperti biasanya yang ia lihat. Pulau Jaeju hasil karya Minho tidak ada. Lenyap seperti ditelan gempa. Tapi ada sesuatu yang menggantikannya. Dengan konsentrasi tingkat tinggi dia mencerna apa yang tergambar di bantal Minho itu. “ASTAGA… DAEBAK !!! INI PETA DUNIA….” ujar Onew tidak percaya sambil menutup mulutnya.

Namun kekaguman Onew tidah berlangsung lama. Kegantengannya sedang dipertaruhkan saat ini  “Minho-ah… bangun… bangun… bangun… !!!”

Minho masih melungker.

BAKKK… BUKKK…BAKKK…BUKKK….

Onew menyerangkan gebukan bantal seperti yang dilakukan pada Jjong. Namun sia-sia, Minho tak bergeming.

BAKKK… BUKKK…BAKKK…BUKKK….

Onew mengulangi jurus gebukan bantalnya. Dan lagi-lagi gagal total.

“Aigoo… nih anak susah bangunnya…” Onew mulai frustrasi. “Apa aku gebuk aja pake kayu ya? Ani… ntar dia cedera. Kalo itu terjadi, aku pasti dipecat dari golongan orang ganteng.”

Akhirnya Onew harus memutar otaknya untuk membangunkan si raja molor. Dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk menemukan ide yang sangat brilian dan jitu karena Onew sebetulnya memiliki kartu As-nya Minho.

“Psssttttttt…..sssssttttt…pppppsssssttttt…..sssstttt…spssftttttt.” Onew membisikkan sesuatu di telinga Minho.

Dan langsung aja, Minho seperti tersengat listrik sepuluh ribu volt. Dia bangun dengan kesadaran seratus persen.

“Anio…Hyung. Kalo hyung melakukan hal itu, tamatlah riwayatku. Aku takkan akan bisa bertahan di dunia entertain ini lagi.” Minho mengiba dengan kedua tangan ditangkupkan di dadanya.

“Hahahaha…,” Onew tertawa iblis penuh kemenangan. “Makanya bangun…, hari ini kita ada jadwal mendandak. Kita ada acara amal penggalangan dana. Aku baru tadi dikasih informasinya sama manajer hyung.” Onew menjelaskan sebelum Minho sempat menanyakannya.

“Manajer hyung… awas kau kalo dateng!!!” gerutu Minho.

“Jangan tidur lagi!!! Kamar mandi masih dipake taemin. Awas kalo tidur lagi!!!” kata Onew setengah mengancam, sebelum meinggalkan kamar Minho.

Beberapa detik setelah Onew keluar dari kamarnya, Minho kembali molor. Meneruskan usahanya untuk menggambar peta dunia.

***

KKKYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….

Terdengar teriakan Taemin dari arah kamar mandi. Dalam waktu singkat Onew, Jjong dan Key telah berada di samping taemin. Sedangkan Minho masih asyik menggabar peta dunia.

Saat tiba ditempat kejadian, mereka medapati taemin shock berat di depan pintu kamar mandi. Wajahnya yang putih mulus berubah menjadi pucat seperti tidak dialiri darah.

“Ada apa taemin-ah…,” ujar key dengan tangan masih memegang spatula dan penggorengan yang masih panas. ***Ini memang kebiasaan key kalo lagi kaget hehehehe….***

“Taemin-gun… ada apa?” tanya Onew sambil memegangi tubuh Taemin yang hampir ambruk.

“It…. it…. itu….!!!” Kata taemin masih shock dengan telunjuk menunjuk ke arah dalam kamar mandi.

Onew, Jjong dan Key langsung melayangkan pandangannya pada tempat yang di tunjuk taemin. Tiba-tiba tatapan semuanya berubah menjadi tatapan nanar dan shock tingkat tinggi. Mereka melihat suatu benda keramat, berbentuk segitiga berwarna putih dan bergambar micky mouse nemplok di capstock kamar mandi.

“Itu CD siapa hyung?” Tanya Taemin yang masih shock. “Aku nggak bisa mandi kalo benda itu masih bertengger di situ.”

“Aku nggak tahu…., aku nggak punya barang begituan. Kalo aku ketahuan punya yang kayak gituan pasti kehebohan beritanya melebihi skandalku dengan Sekyung.” Jawab Jjong.

“Aku juga nggak memiliki benda semacam itu, bisa-bisa kegantenganku bisa luntur.” Jawab Onew.

“Bukannya benda itu milikmu Taemin-ah?” Tanya Key.

“Bukan hyung, aku nggak memiliki yang bergambar Micky Mouse. Aku hanya memiliki yang bergambar Spongebob.” Ujar taemin.

“Mmooo….” Ujar yang lainnya semakin shock.

“Milik siapa benda itu? Apa miliki Minho? Tapi nggak mungkin, Minho nggak mungkin memiliki barang begituan. Bisa-bisa Karismanya dia lenyap seketika.” Onew mulai menduga-duga..

“Yup hyung…, aku setuju benda itu pasti bukan punya Minho Hyung.” Taemin menyetujui.

“Apa mungkin benda itu milik Manajer hyung? kemaren kan dia kesini dan sempat menumpang mandi pula. Pasti dia ketinggalan barang itu. Dia kan orangnya tergolong manusia jadi-jadian.” Jjong ikut mengeluarkan pendapatnya. Dan semuanya Setuju.

“Hyung… ambilin dong benda itu dan keluarin dari kamar mandi.” Pinta Taemin.

“Ani…, aku nggak mau. Bisa-bisa aku di pecat jadi pacarnya sama Sekyung kalo dia tahu.” Jjong menolak.

“Jangan aku…, aku disini kan laeder. Masak seorang leader pegang-pegang kayak gituan….” Onew juga menolak.

Sisa Key, semua tatapan penuh harap tertuju padanya. “Anio…, aku nggak mau terkontaminasi bakteri jahat.”

Tiba-tiba keempat orang itu merasakan kehadiran seseorang diantara mereka. Seseorang yang sangat begitu  akrab. Onew, Key, Jjong dan taemin hanya bisa terbengong heran.

“Kenapa sich kalian ribut-ribut hanya karena benda kayak ginian?”orang itu mengambil benda yang neplok di capstock dan membawanya keluar. “Mengganggu tidur orang saja, berisik tahu. Ini punyaku.” Kemudian orang itu langsung menghilang dibalik kamarnya.

“Hahhh…, CD itu punya Minho Hyung??? Di luarnya penuh karisma tapi dalamannya micky mouse? Ani… ini nggak mungkin…” Kata taemin Shock dan langsung pingsan.

“Sekyung benar-benar bakalan memecatku jadi pacarnya karena memiliki teman yang punya barang kayak gituan.” Kata Jjong tak kalah shocknya sama Taemin.

Pleta…Pletak…Pletak…., Key memukulkan penggorengannya ke jidatnya. “Nggak mungkin… ini pasti mimpi… nggak mungkin… ini pasti mimpi… ini pasti mimpi…” akhirnya key juga ikut pingsan, karena terlalu keras memukulkan penggorengan ke jidatnya.

“Yah…  mampuslah nasib ku. habis ini aku pasti di pecat dari golongan orang-orang ganteng…. TIDAAAAAKKKKKKK!!!” Onew bertiriak histeris dan pingsan.

END

Jangan lupa COMMENT….COMMENT….COMMENT…

Advertisements

I Can’t Live Without You

Author : Park Jihoon

Genre : Romance

Lenght : OneShot

Cast : Choi Minho, Lee Hyora

NB : This FF Just For Fai, Thanks To Call Me As Appa (hahahaha… kapan brojolnya???), Fai… Seng Il Chukkae….

Lee Hyora POV

Aku duduk di balkon, memandang langit sore yang sedang merintihkan tetes-tetes gerimis hujan. Suaranya terdengar begitu lembut tak memekakan telinga. Cahaya matahari sore yang menembus awan membuat seluruh isi dunia terlihat berwarna jingga. Sungguh,panorama sore yang begitu indah.

Di lapangan seberang jalan, ada sekumpulan anak kecil yang sedang asik bermian bola di bawah siraman gerimis hujan. Mereka terlihat basah kuyup dan berlumuran lumpur. Sesekali senyuman dan tawa terlukis di wajah mereka, meskipun aku lihat mereka tidak jarang terjatuh karena tanah yang licin.

“Pernah kah aku bermain dan merasakan kebahagian seperti mereka?” tanyaku pada diriku sendiri. Tapi tidak ada bayangan sedikitpun tentang masa kecilku yang terlintas di dalam kepalaku. Bahkan kejadian hari kemaren saja aku tak bisa mengingatnya. Jika aku paksakan untuk mengingatnya, yang ada hanya rasa nyeri yang tak tertahankan.

Yah, aku mengidap penyakit Alzheimer atau dengan kata lainnya penyakit pikun yang disebabkan karena matinya sel-sel otak. Meskipun penelitian dunia menyatakan bahwa Alzheimer hanya di derita oleh orang yang berusia tiga puluh lima tahu ke atas atau orang lanjut usia, tapi tidak pada posisiku. Aku menderita penyakit ini di usia tujuh belas tahun. Menurut umma, aku mendapatkan penyakit ini setelah mengalami kecelakaan. Namun umma tidak mau menceritakan detailnya kecelakaan itu. Ah, mungkin itu juga akan sia-sia karena keesokan harinya aku pasti akan melupakannya.

Sekarang aku hanya mampu mengingat kejadian satu hari saja, aku tidak mampu mengingat semua kejadian yang terjadi pada hari sebelumnya. Menurut perkiraan dokter hal ini kemungkinan akan berlangsung hingga aku berusia empat puluh tahun. Setelah itu, mungkin aku tidak akan mampu lagi mengingat kejadian satu jam sebelumnya atau bahkan satu menit sebelumnya.

Karena penyakit ini, aku harus melepaskan sekolah dan masa remajaku. Bagaimana mungkin aku melanjutkan sekolah, nama diri sendiri, nama orang tua bahkan nama teman-teman aku tidak mampu untuk mengingatnya. Apalagi harus ditambah dengan mengingat pelajaran. Untunglah umma membatuku untuk bisa mengingat semua anggota keluarga dengan manaruh foto mereka di meja dekat tempat tidurku.

Kembali aku lepaskan angan-anganku jauh membumbung ke angkasa menerobos setiap butir gerimis. Udara dingin menyentuh sebagian lengan yang kubiarkan terbuka, hal itu membuat kulitku terasa segar kembali. Aku seperti menemukan semangat untuk terus hidup.

Kemudian pandanganku tertuju pada sebuah foto yang aku genggam dari tadi. Di dalam foto itu terlihat seorang namja yang sedang tersenyum memamerkan giginya yang putih bersih, senyumannya begitu berkarismatik.  Di dalam foto tersebut juga tertulis sebuah kalimat “Choi Minho My Love.” Aku yakin kalo yang ada di dalam foto tersebut adalah namjachingu ku. Entahlah, dengan melihatnya saja aku sangat yakin, karena hatikulah yang mengatakannya. Tapi sayang foto itu kini telah robek.

“Kenapa foto ini robek?” Pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepalaku, namun aku tak bisa menemukan jawabannya.

“Sayang, kenapa duduk di luar. Udara disini sangat dingin.” Kata Umma yang tidak aku sadari kedatangannya. “Ayo kita masuk!”

“Aku masih ingin di sini umma. Aku ingin menikmati semua keindahan ini.” Kataku dengan sedikit merentangkan tangan. “Karena besok…, aku tidak akan mungkin mengingat semua keindahan ini.”

Ummaku sangat mengerti apa yang aku inginkan, sehingga tidak lagi berusaha membujukku untuk masuk. Umma adalah sosok yang selalu ada untukku, kapanpun aku membutuhkannya. Namun hal itu membuatku sangat sedih. Karena aku, dia selalu dilanda kesedihan.

“Umma…?”

“Ne…”

“Apa minho Oppa kemaren datang kesini? Terus… kenapa foto Minho Oppa ini robek ya?”

Umma sedikit terperanjat mendegar pertanyaanku. Wajahnya terlihat bingung mencari sebuah jawaban yang tak aku mengerti.

“Minho…, kemaren datang ke sini kok. Kemaren umma lihat kalian sedang membicarakan sesuatu. Kalau masalah foto itu umma kurang tahu. Mungkin kamu lupa menyobeknya secara tidak sengaja.” Jawab umma. Suaranya terdengar seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin aku ketahui.

“Jinjja…???”

“Ne…” Meskipun suara umma terdengar begitu meyakinkan, namun aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan umma dariku. Bagaimana mungkin aku menyobek foto orang yang begitu aku cintai.

Flasback

Author POV

Di ruang tamu minho terlihat begitu serius berbicara dengan Lee ahjjuma, ummanya Lee Hyora. Minho menceritakan sesuatu diiringi dengan tetesan air matanya yang tak sanggup ia tahan. Raut muka minho terlihat tertekan dan penuh penyesalan. Sesekali dia mengutuk dirinya sendiri karena ketidak berdayaannya.

“Ahjjuma… ku mohon, aku nggak bisa mengatakan hal ini secara langsung pada Hyora. Aku nggak akan sanggup, karena aku masih mencintainya.”

“Minho-ah, Ahjjuma nggak berhak untuk ikut campur dalam urusan kalian berdua. Kalian harus  bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri, kalian kan bukan anak kecil lagi. Aku mengerti perasaanmu dan perasaan ummamu. Ummamu pasti menginginkan yang terbaik buat mu.” Kata Lee ahjjuma dengan penuh kebijaksanaan.

Minho hanya tertunduk semakin dalam mendengar ucapan Lee ahjjuma. Memang benar, Minho yang telah meminta Lee Hyora untuk menjadi yoejachingunya dan dia pulalah yang harus mengakhirinya. Jika tidak, maka ancaman ummanya untuk bunuh diri bisa jadi kenyataan.

“Minho-ah….?”

“Ne… Ahjjuma. Aku yang akan menyelesaikan masalah ini semuanya.” Ujar minho.

“Baiklah kalo begitu aku akan panggilkan Hyora. Tapi minho-ah, ahjjuma minta tolong kamu harus bisa mengendalikan perasaanmu dan usahakan kata-katamu jangan sampai melukai Hyora.” Pinta Lee Ahjjuma sebelum meninggalkan Minho sendirian.

Minho kembali bergelut dengan pikirannya, memikirkan kata-kata yang harus disampaikan pada Hyora. Dan tentunya tanpa harus menyakiti hati Hyora. Namun yang pasti, setiap kata yang terlontar akan menyakiti hatinya sendiri, karena hatinya masih menginginkan Hyora.

Beberapa saat kemudian Hyora datang dengan menggenggam sebuah foto di tangannya. Dia memakai gaun putih dengan rambut yang dibiarkan terurai, sungguh cantik. Secara tampilan fisik dia terlihat seperti tidak mengidap suatu penyakit apapun.

“Minho Oppa…,” kata Hyora membuyarkan pikiran Minho.

Minho begitu tertegun melihat sosok Hyora yang terlihat begitu cantik. “Apakah aku sanggup mengatakan hal itu pada orang yang masih aku sayangi?” Perasaan minho  kembali pesimis. Namun ketika Minho teringat ucapan ummanya, keberaniannya kembali menguat.

“Duduklah dulu! Ada yang ingin aku bicarakan dengannmu.”

Kemudia Hyora duduk di samping Minho. Terasa atmosfir yang begitu canggung antara keduanya. Minho terus berusaha mengumpulkan kekuatannya.

“Aku ingin hubungan kita sampai disini. Aku ingin kita putus.” Ujar Minho langsung pada tujuannya dengan menundukkan kepala, tidak berani untuk menatap wajah Hyora.

Mendengar hal tersebut Hyora terlihat terkejut, namun tak lama kemudian dia telah berhasil menguasai perasaannya. Tidak ada air mata yang menetes.

“Waeyo Oppa? Apakah aku dulu pernah berselingkuh?”

Minho menggeleng.

“Apakah karena oppa tidak lagi mencintaiku?”

Minho kembali menggeleng.

“Apakah karena penyakitku?”

Kini Minho hanya tertunduk diam. Hatinya terasa sangat sakit mendengar pertanyaan Hyora.

“Ne… Oppa. Karena penyakitku ini semua kenangan yang pernah kita lalui bersama hilang tak tersisa. Bahkan kapan dan dimana kita jadian aku sudah tidak ingat. Namun setiap memandang wajah Oppa di foto ini, hatiku lah yang berbicara. Hatiku yang memberitahukanku bahwa Oppa adalah orang yang aku cintai. Namun kini penyakit ini pula yang akan merebut oppa dariku.” Kini butiran air hangat jatuh dari kedua ujung pelupuk mata Hyora.

Minho Semakin dalam tertunduk. “Mianhe Hyora,” bisik Minho dalam hati.

Kemudian Minho mengambil foto yang berada di genggaman Lee Hyora dan merobeknya menjadi dua bagian. “Mulai saat ini kamu tidak lagi butuh ini, karena kamu tidak harus mengingatku lagi kan.” Ujar Minho, dan membuang potongan foto itu ke lantai.

Hyora kaget melihat apa yang dilakukan oleh Minho, tapi dia terlambat untuk mencegahnya. Kini foto Choi Minho itu telah menjadi dua bagian dan tergeletak di lantai. Tapi kemudian Hyora memungutnya kembali.

“Oppa…, kenapa oppa merobeknya? Foto ini sangat berhaga bagiku. Karena foto inilah yang memberiku semangat untuk terus hidup.” Lee Hyora menangkupkan potongan foto itu ke dadanya. Air matanya semakin deras mengalir.

Minho semakin merasa bersalah, hatinya semakin sakit. Dia merobek foto itu supaya Hyora cepat melupakannya, namun ia salah.

“Hyora…mian..”

Sebelum minho sempat mengucapkan permintaan maafnya, Hyora melanjutkan ucapannya.

“Aku ikhlas kalo hubungan kita putus. Aku juga ikhlas kalo Oppa tidak lagi mencintaiku. Tapi…, jangan paksa aku untuk menghilangkan perasaan cinta yang ada di hatiku untuk Oppa. Karena hanya cinta itulah satu-satunya yang aku miliki sekarang dan satu-satunya alasan yang membuatku bertahan untuk terus hidup.”

Hati Minho kembali terennyuh seperti di hantam batu godam secara mutlak. Tak terasa air matanya deras mengalir tanpa mampu ia tahan. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu meskipun hanya untuk mengatakan “mianhe”. Kemudian kembali tercipta keheningan yang terasa sangat aneh diantara mereka berdua.

Tanpa disadari mereka, Lee Ahjjuma mendengarkan pembicaraan mereka dengan perasaan hancur. Air matanya tak henti-hentinya terus mengalir. Namun ada semacam rasa bangga pada anaknya, Lee Hyora, karena ketabahan hatinya dan kedewasannya dalam memahami suatu masalah.

***

Minho POV

Ketika memasuki kamarku, aku langsung membantingkan tubuhku di atas kasur. Rasanya tubuhku seperti membawa beban berton-ton, entahlah. Beberapa hari belakangan ini semangat ku untuk menjalani hidup ini rasanya nol persen. Apa lagi setelah aku memutuskan hubunganku dengan Hyora.

“Lee Hyora, bagaimana kabarmu hari ini?” tanyaku pada foto yang berada di meja kecil disebelah tempat tidurku. Kemudian foto itu aku ambil dan membekapkannya di dadaku. Rasa cinta ini rasanya semakin hari bukannya semakin memudar malah semakin tak bisa aku tahan. “Hyora, aku ingin bertemu dengan mu meskipun hanya sebentar.”

Tapi enggak mungkin aku bertemu dengan Lee Hyora, apa lagi setelah aku memutuskannya. Selain itu, jika hal itu ketahuan umma masalahnya akan semakin rumit. Aku mencintai keduanya baik umma maupun Hyora, tapi aku terpaksa, lebih tepatnya dipaksa, untuk memilih satu diantara mereka.

Umma adalah wanita yang sangat aku sayangi. Aku enggak ingin menyakiti hatinya, karena selama ini dialah yang membesarkanku seorang diri setelah kematian appa. Dia telah banyak mengorbankan kebahagiannya untuk membesarkanku, jadi saatnyalah aku membahagiakannya meskipun harus mengorbankan kebahagianku. Aku rela.

Tapi, beberapa hari yang lalu aku telah berkata kasar padanya. Aku sangat menyesal. Membayangkan kejadian itu membuatku merasa bersalah.

Kemudian kejadian itu kembali terlintas di benakku seperti video yang diputar ulang.

Saat itu aku baru pulang dari rumah Hyora, setelah menemaninya seharian. Badanku basah kuyup karena diluar hujan deras sedang mengguyur kota seoul. Aku membuka pintu dengan hati-hati, takut membangunkan umma.

Namun aku enggak nyangka ternyata umma sedang menungguku di ruang tamu. Aku lihat sepintas wajah umma lain dari hari biasanya, senyum yang selalu menempel diwajahnya saat itu hilang entah kemana.

“Selamat malam, tumben umma belum tidur.” Tanyaku dengan menyunggingkan seutas senyum.

Tapi reaksi umma tidak seperti biasanya. Senyumannya tak kunjung muncul. Umma menatapku seperti saat dulu aku sering membuatnya marah. Yah, aku bisa menyimpulkan bahwa umma sedang marah. Tapi ke siapa?

“Kamu baru pulang dari rumah Lee Hyora?” Umma mulai angkat bicara. Namun nada suaranya membuatku merinding.

“Iya… umma. Aku enggak kemana-mana lagi setelah dari rumah Hyora.”

“Apa kamu tidak bosan setiap hari harus menemaninya? Bahkan umma lihat kamu terlalu banyak mengorbankan waktumu untuk menjaga Lee Hyora.”

Aku tidak menjawab pertanyaan umma, karena aku yakin umma sudah pasti mengetahui jawabannya. Aku semakin enggak ngerti kemana arah pembicaraan umma. Pakaianku yang basah dan udara dingin membuatku tidak bisa berpikir secara jernih.

“Umma ingin kamu mengakhiri hubunganmu dengan Lee Hyora.” Umma melanjutkan ucapnnya.

Hatiku seperti terkena sambaran halilintar. Bahkan ekspresi umma masih dingin saat mengatakan kalimat itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Bukannya dulu umma yang paling senang saat aku memperkenalkan Lee Hyora padanya.

“Umma ngomong apas sih?”

“Umma ingin kamu mengakhiri hubungan dengan Lee hyora.” Umma mengulangi ucapannya masih dengan ekspresi dingin.

“Memutuskan hubungan dengan Hyora? Umma tahukan kalo aku sangat mencintainya. Nggak mungkin aku memutuskan hubungan dengan Hyora” nada suaraka mulai meninggi tanpa aku sadari.

“Karena umma sangat mengerti sebesar apa cintamu pada Lee Hyora, makanya umma ingin kamu mengakhiri hubungan kalian. Umma tidak tahan lagi melihat kamu berkorban terlalu banyak buat Lee Hyora. Ingat Minho-ah, kamu masih muda dan masa depanmu masih panjang.” Kata umma dengan nada suaranya meninggi.

“Tapi Umma…”

“Nggak ada tapi-tapi. Apa kamu mau mengorbankan masa depanmu demi gadis yang mengidap Alzeimer itu. Ingat itu Minho-ah!”

“Tapi umma, Hyora mengidap Alzeimer itu gara-gara aku. Gara-gara aku tidak menepati janji untuk menjemputnya dia mengalami kecelakaan.Dan membuatnya mengidap Alzeimer.” Ujarku. Tak terasa setetes air hangat mengalir di pipiku.

“Minho-ah, sampai kapan kamu akan terus-terusan merasa bersalah. Kecelakaan itu bukan gara-gara kamu.”

“Seandainya aku menepati janji untuk menjemputnya maka dia tidak akan mengalami kecelakaan itu.” Air mataku semakin derasa mengalir.

“Sudah cukup! Umma tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Pokoknya kamu harus mengakhiri hubunganmu dengan Lee Hyora…”

“UMMA….!!!” Ujarku  dengan penuh emosi sebelum umma sempat menyelesaikan ucapannya.

“Kamu pilih antara umma atau Lee Hyora. Jika kamu terus melangsungkan hubungan dengannya maka umma tidak akan ada lagi di dunia ini. Lebih baik umma mati.” Kata umma sebelum pergi meninggalkanku.

DEEEGGG…

Jantungku tiba-tiba terasa ingin berhenti berdetak mendengar kalimat terakhir yang umma katakan. Seluruh darahku terasa berhenti mengalir. Dada ku terasa sesak seketika. Udara dingin dan pakaian basah yang membalut tubuhku membuat dadaku semakin sesak.

***

TOK… TOK… TOK…

Tiba-tiba terdengar seseorang mengetok pintu kamarku dari luar, membuyarkan semua lamunanku. Aku kembali pada waktu yang seharusnya, terbaring di tempat tidur dengan membekap foto Lee Hyora.

“Minho-ah, kamu masih belum tidur? Ada yang ingin umma bicarakan denganmu.” Suara umma terdengar dari balik pintu.

“Ne umma, sebentar.” Jawabku.

Kemudian aku meletakkan kembali foto Lee Hyora pada tempatnya. Kulangkahkan kaki ku meskipun terasa sangat berat.

Setelah kubukakan pintu, umma masuk dan duduk di tepi tempat tidur. Kemudian aku juga duduk di sebelahnya. Atmosfir di dalam kamarku tiba-tiba berubah, tidak seperti biasanya, penuh rasa canggung.

“Umma…,” ujarku. “Mianhe, karena Minho kemaren telah berkata kasar dan sempat membentak umma. Dan beberapa hari ini tidak pernah menyapa umma.” Aku merebahkan wajahku ke pangkuan umma.

“Umma juga minta maaf karena umma seharusnya tidak bersikap seperti itu.” Ujarnya penuh dengan rasa keibuan. Ini dia umma yang selama ini aku kenal.

“Ada yang ingin umma bicarakan denganmu.”

“Aku telah memutuskan hubungan ku dengan Lee Hyora.” Kataku pada umma, karena aku menduga itulah arah pembicaraan umma.

Tapi umma tidak menanggapi ucapanku. Wajah umma menunjukkan ekspresi yang tidak senang, membuatku sedikit bingung. Bukankah umma yang meminta aku putus dengan Hyora.

“Umma ingin membicarakan sesuatu dan umma berharap kamu bisa memikirkannya dengan kepala dingin dan penuh pertimbangan.”

Aku benar-benar semakin bingung.

“Mianhe…, umma telah banyak ikut campur untuk masa depanmu termasuk dalam urusan cinta kamu. Hal itu umma lakukan karena umma ingin kamu mendapatkan masa depan yang cerah dan tentunya kebahagiaan. Umma tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama dengan umma. Umma juga minta maaf karena telah mengukur kebahagian cinta hanya berdasarkan fisik saja.”

Umma berhenti sejenak untuk menghirup udara segar. Aku semakin tidak sabar menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan umma.

“Umma tidak akan lagi melarang kamu untuk meraih kebahagiaanmu terutama dalam urusan cinta. Baik kamu mau melanjutkan hubunganmu dengan Lee Hyora maupun tidak. Namun ada dua hal yang umma minta padamu. Pertama, dengan siapapun kamu akan menjalin hubungan kamu harus bahagia. Jika kamu tidak bahagia maka umma tidak akan pernah ikhlas. Dan yang kedua, kamu harus menjaga yoeja yang kamu cintai dengan sepenuh hatimu. Jika kamu berani menyianyiakannya maka kamu akan berhadapan dengan umma.”

Mendengar ucapan umma, hatiku seperti disiram air dingin dari surga. Aku merasa sangat bahagia sampai-sampai aku tidak tahu harus mengatakan apa.

“Gumawo…umma.” ujarku. Hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan.

Setelah mengatakan itu umma pamit dan memintaku untuk memikirkannya baik-baik. Hatiku benar-benar bahagia, dan bayangan wajah Lee Hyora kembali memenuhi kepalaku.

Kemudian aku kembali dalam kesendirian, memikirkan semua yang telah umma ucapkan. Haruskah aku meminta hyora untuk menjadi yoejachinguku lagi. Bukankah dia telah mengikhlaskan putusnya hubungan kita. Apakah benar yang aku rasakan ini perasaan cinta, rasa iba ataukah hanya rasa bersalah pada Hyora. Entahlah, perkataan umma benar-benar membuatku bisa berpikir dengan logika.

Aku semakin bingung, apakah aku akan menjalin hubungan lagi dengan Hyora sebagai yoejachinguku ataukan sebatas hubungan biasa saja. Tiba-tiba rasa letih tubuhku membuatku terlelap dengan membawa keputusan yang tak pasti.

***

Lee Hyora POV

Seperti biasa, setiap sore aku banyak menghabiskan waktu di balkon rumah dengan menikmati suasana sore yang sangat indah. Hari ini langit sore bagitu cerah, tak ada setitik awan pun di langit. Membuat sinar mata hari sore berwarna jingga sempurna.

Di saat seperti ini biasanya hayalanku berjalan kemana-mana. Misalnya menghayal untuk menghabiskan waktu sore seperti ini dengan Minho Oppa, pasti sangat menyenangkan. “Apakah aku pernah menikmati indahnya sore seperti ini dengan minho Oppa ya?” bisikku dalam hati. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Ahjjuma…, izinkan aku untuk bertemu dengan Hyora!”

Tiba-tiba aku mendengar seseorang meminta ummaku untuk mengizinkannya bertemu denganku. Aku tidak begitu ingat dengan suara itu tapi ditelingaku suara itu juga tidak terasa asing. Namun aku tidak mau kehilangan suasana sore seperti ini, jadi aku tidak menghiraukannya.

“Hyora…,” tiba-tiba seseorang memanggil namaku dan merusak kesenanganku.

Aku menoleh ke arah datangnya suara, dan aku melihat seorang namja berdiri dengan ekspresi wajah yang sulit aku ungkapkan. Dia terlihat seperti habis berlari karena nafasnya yang ngos-ngosan dan terputus-putus.

Wajahnya tidak asing lagi, namun aku masih belum bisa mengenalinya dengan baik. Namun sebuah memori tiba-tiba muncul dalam otakku tanpa aku sadari.

“Minho Oppa…,” Kata ku. Wajah namja itu adalah wajah minho Oppa, wajah yang selalu aku lihat setiap pagi melalui foto yang telah robek.

“Hyora…, Mianhe.” Tiba-tiba oppa memelukku dengan erat.

Aku tidak terlalu mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Namun yang aku rasakan oppa meneteskan air mata di pundakku.

“Oppa… ada apa? Apa yang telah terjadi?” tanyaku.

“Mianhe Hyora… Minahe karena telah membuat Hyora menangis. Mianhe karena telah membuat Hyora bersedih. Mianhe kerena telah…  ”

Oppa tidak kuasa melanjutkan ucapannya, air matanya telah menghalanginya. Kemudian oppa mengatur nafanya kembali. Hembusan nafasnya sempat aku rasakan mengalir di leherku.

“Hyora… aku tak perduli meskipun kamu akan melupakan semua kenangan indah kita, karena aku yang akan selalu menceritakannya untukmu. i can’t live without you. Saranghe Lee Hyora…,” suara Oppa terdengar begitu lembut di telingaku.

“Saranghe Oppa….,” Balasku.

Oppa semakin mengeratkan pelukannya seperti tak akan membiarkanku untuk lepas dari hidupnya. Aku sangat bahagia sekali. Aku sempat melihat umma dari balik punggung oppa berdiri mematung di balik pintu dengan meneteskan airmata. Aku yakin air mata itu bukan airmata kesedian melainkan air mata kebahagiaan.

Terimakasih tuhan karena Kamu telah memberiku sore yang sangat indah…. Terimakasih untuk kenangan ini yang tak mungkin aku ingat esok hari.

End

NB: Buat yang telah baca FF ini, Author minta tolong dengan mengiba-ngiba untuk mengucapkan selamat ulang tahun buat Fai a.k.a Seung Minra.


D’Jelangkung

Author : Park Jihoon

Genre : Horor, Komedi plus Geje (?)

Lenght : OneShot

Cast : All SHINee (Onew, Key, Taemin, Jonghyun dan Minho)

“Huuffftt…, kota Seoul benar-benar panas membara. Seperti neraka saja.” Onew mengempaskan tubuhnya di atas sofa.

Sehabis latihan drama musikal, Onew langsung pulang ke asrama karena tidak ada lagi jadwal yang harus di tunaikannya. Sedangkan para member SHINee yang lainnya sejak dari tadi pagi nungguin asramanya takut kena gusur satpol PP. Maklum belakangan ini penggusuran oleh satpol PP merajalela (ini di korea apa di Indonesia?).

Jonghyun, sejak bangun tidur sampai berita ini diturunkan (?) masih ngulet-ngulet di tempat tidurnya hampir menyerupai ulat bulu. Dia masih tertekan karena akibat ulah skandalnya dengan Sekyung diketahui orang sekampung. Bahkan para blinger mengancam akan memboikot setiap acaranya jika mereka tidak diberi uang dan sembako.

Minho, menghabiskan pagi dengan bersemayam di sarangnya, tempat tidur. Bahkan dia dengan sukses berhasil menggambar pulau Jaeju di atas bantalnya dengan menggunakan ilernya yang menggemaskan. Setelah bangun dia langsung bersemangat untuk olahraga (baca:lari pagi), tanpa cuci muka, tanpa gosok gigi bahkan tanpa celana (baca : calana panjang >>> takutnya reader salah sangka). Namun ketika membuka pintu, ternyata matahari telah memolototinnya dengan garang dan segorombolan burung yang bertengger di depan asrama begitu riuh bergosip ria. Ciut ciiitt  cicicitttcicucicutccit….cicicicictttt (artinya : ada yang mau lari pagi tapi kesiangan…. kasihan dech lo). Akhirnya Minho membatalkan lari paginya dan melanjutkan latihan menggambar pulau Jaeju di atas sofa.

Taemin, member yang paling muda ini banyak digemari kaum hawa karena wajahnya yang imut-imut –padahal masih imutan author. **huuuu…. author diteriakin seluruh penghuni wp** Hobinya makan eskrim hingga blepotan kemana-mana. Sepagi ini dia telah menghabiskan eskrim satu lemari es dua pintu. Untung lemari esnya nggak ikut di emut.

Key, member yang satu ini memang member yang paling rajin, tidak sombong, baik hati dan tidak suka menabung (sukanya belanja sih). Pagi ini, setelah bangun dia langsung bersih-bersih asrama mulai dari nyapu, nyuci piring, ngepel, nguras bak mandi dan nyabutin rumput yang bergoyang. ***ini member SHINee apa pembokat ya?*** Pantaslah kalau Key dipanggil umma sama member yang lainnya. Setelah selesai beres-beres dia langsung menuju dapur dan masak. **kayaknya bener-bener pembokat >>> author dirajam lockets**

“Hyung…, mau eskrim? Kalo panas-panas gini enaknya makan eskrim loh?” Taemin menghampiri Onew dengan membawa semangkok eskrim. Mulutnya masih dipenuhi dengan eskrim.

“Gumawo min-ah,” ujar Onew. “Min-ah, kalo kamu makan eskrim harus sampe blepotan gitu?” Onew menunju-nunjuk ke arah mulut taemin yang blepotan.

“Ne Hyung, itulah seninya makan eskrim.” Taemin nyengir kuda memamerkan giginya yang dipenuhi lapisan eskrim.

“Minho-ah, sampai kapan kamu mau menggambar pulau Jaeju?” Onew menarik kaki minho hingga menggelosor ke lantai. Dan BUK…

“Aaaaa…., Hyung mengganggu aja. Aku lagi mimpi enak nih.” Ssrruuutttt… minho berhasil menyelamatkan ilernya yang hampir menetes. Dan kembali ke atas sofa dengan nyawanya yang belum lengkap.

“Oh ya, Key dan Jjong kemana?” tanya Onew.

“Key-hyung tadi aku lihat di dapur,mungkin sedang masak. Maklumlah bakat pembokatnya lagi menggebu-gebu kalo nggak disalurkan ntar malah ngomel-ngomel mulu. Kalo si Jjong-hyung hampir jadi kepompong tuh di kamarnya. Kayaknya dia semakin tertekan setelah digrebek sama pak RT kemaren.” Jawab taemin.

“MAKANAN TELAH SIAP…!!!” Key berteriak dari dapur.

“Taemin-ah, cepat kau bangunin si Jjong!” pinta Onew Pada Taemin.

Beberapa saat kemudian mereka telah berkumpul di meja makan.

These is it…. menu makan siang ala Cheif Key-SHINee…” kata Key menirukan gaya Faraquin.

Tanpa banyak cincong dan bacong lagi mereka menyantap makan siangnya. Semuanya terlihat makan dengan penuh nafsu seperti orang nggak makan tujuh hari tujuh malam kecuali si Jjong. Dia masih teringat kenangan buruknya digrebek pak RT saat berduaan dengan sekyung.

“Jjong…, makanannya nggak enak ya?” tanya Key dengan mengeluarkan tatapan lucifernya.

“Eeehhh…., enak kok.” Jawab Jjong ketakutan. Tidak ada satupun member SHINee yang berani bilang tidak enak pada masakan Key, karena jika itu terjadi maka jurus “amukan wedhus gembel” Key akan keluar.

“Oh ya, ntar malem malem jumat kan? Dan kita juga enggak ada kagiatan kan?” tanya Onew.

“Ne.. Hyung.” Jawab  Minho diikuti anggukan kepala yang lainnya.

“Gimana kalo kita main jelangkung?”

“APA… MAININ SEKYUNG? ANDWAEEEE…” teriak Jjong dengan nada setinggi-tingginya membuat yang lainnya kaget dan jantungan. pendengaran Jjong sedikit terganggu, itu adalah tanda-tanda terserang virus cinta.

PLETAK…, Centong nasi melayang dari tangan Key ke wajah Jjong.

“Aigoo…, bukan Sekyung tapi Jelangkung,” Ujar key. “Makanya otak tuh jangan diisi Sekyung melulu.” Jjong hanya cengengesan mendengar penjelasan Key.

“Jelangkung? Apanya eyang kakung?” tanya Taemin.

“Jelangkung itu sodaraan sama eyang kakung dan sepupuan sama kangkung,” jawab Minho sotoy.

Taemin manggut-manggut dah kayak orang ngerti aja.

PLETAAAKKK…, tangan Onew mendarat di kepala minho membuat minho meringis menahan sakit dan derita.

“Sotoy…, Jelangkung itu permainan yang melibatkan mahluk halus dengan menggunakan media semacam boneka dan berasal dari Indonesia.” Onew meralat jawaban Minho yang sangat amat ngaur sekali.

“Omo… mahluk halus,” ujar Jonghyun lirih.

Tiba-tiba Jonghyun dan Key mengarahkan pandangannya ke atas.

Jjong+Key : thor…, boleh nggak kita nggak ikutan?

Author : Emang kenapa?

Key : Entar pasti ada pocongnya sama kuntilanaknya kan? Aku sama Jjong dah sering ketemu gituan di fanfic-fanfic yang tidak bertanggung jawab. Kita nggak mau sengsara dan menderita lagi. Sudah cukup kita terkencing-kencing di celana, menjerit hingga mirip kuda binal, pingsan berulang-ulang dan lari terbirit-birit mirip bencong dikejar satpol PP.

Author : Kalian trauma ya?

Jjong : Bukan trauma lagi…

Author : Tenang aja disini kalian nggak akan bertemu pocong maupun kuntilanak kok. Author jamin pake KTP. Tapi lain kali maukan ketemu sama pocong dan kuntilnak lagi

JjongKey : Author sarap…!!!

Back to cerita…

“Wah… kayaknya seru nih,” Ujar minho. “Aku ikutan hyung.”

“Taemin-ah kamu ikut kan?” tanya Onew

Taemin hanya mengankat jempolnya, tanda setuju. Karena mulutnya masih dipenuhi makanan.

“Jjong, Key…?” Onew mungalihkan pandangan pada JongKey.

“Ya dech, kita ikutan coz authornya yang sarap itu sudah janji nggak akan munculin pocong dan kuntilanak.” Key mengiyakan. Jjong pun setuju.

“Siiipp… kalian memang member yang tidak pernah mengecewakan.” Onew terlihat senang dengan jawaban membernya.

“Tempatnya dimana hyung? bukannya kalo main jelangkung itu harus di tempat yang menyeramkan?” tanya Minho.

“Di asarama ini aja. Bukannya Asrama ini terlihat menyeramkan?” jawab Onew. Dan yang lainnya langsung menyetujuinnya sebelum Onew berubah pikiran.

“Terus…, Taemin-ah kamu yang bikin jelangkungnya ya!” Pinta Onew.

“Mo… aku kan nggak tahu jelangkung. Minho-hyung aja… dia kan akrab dengan jelangkung dan sodara-sodaranya.” Taemin sedikit keberatan.

Onew mengarahkan pandangannya pada Minho. Minho dengan mata genitnya memberikan tanda penolakan pada Onew. Kemudian Onew melihat kearah Key, namun sayang tatapan lucifer key membuat Onew mengkerut. Jjong…?? mukanya sudah penuh derita, makanya Onew enggak tega melihat membernya yang satu ini.

“Taemin-ah, kamu ingat peraturan SHINee nomer tiga? Keputusan Leader tidak bisa diganggu gugat.” Ujar Onew.

“Tapi…,”

“Enggak ada tapi, kalo kamu belum tahu Jelangkung kan bisa cari refrensi dari internet. Cari aja di mbah google.” Kata Onew sebelum Taemin sempat mengajukan alasannya.

“Baiklah hyung…,” akhirnya taemin pun menyerah.

Kemudian mereka melanjutkan acara makan siangnya sebelum Key mengamuk dan mengeluarkan jurus ‘wedhus gembelnya’ karena makan sambil ngobrol. Sebuah permaian yang memerlukan nyali yang sangat besar telah ditetapkan oleh para member SHINee padahal mereka tidak tahu permainan apa sebenarnya yang telah menanti mereka.

***

Taemin POV

Aish.. onew hyung memang selalu pilih kasih. Kalo masalah kayak ginian aja, pasti aku yang kena. Coba kalo acara makan-makan maupun minum-minum, pasti aku yang dihubunginnya paling akhir. Alasannya klasik, umurku yang selalu dijadikan alasan. “Teamin-ah kamu kan masih dibawah umur,” itulah salah satu senjatanya. Aku sempat berpikir, apa mungkin Onew-Hyung mau balas dendam karena kekalahannya pada polling yang dulu. Saat kita bikin polling ‘siapa diantar member SHINee yang paling cute?’ dan akulah sebagai  pemenangnya dan yang paling bontot nilainya adalah Onew-Hyung. Akhirnya Jadilah Onew-hyung sebagai pembokat kami selama satu minggu. Masa-masa yang menyenangkan.

Sesuai dengan instruksi Onew-Hyung, akhirnya aku datang ke mbah google. Meskipun awalnya hatiku masih dongkol pada Onew-hyung. Tapi anehnya aku nggak bisa dongkol sama Onew hyung lama-lama, mungkin dia pake pelet pengasih. Ah.., ntar aku tanya sama Ki Joko Pabo ah…( berhubung di korea jadinya Ki Joko Pabo, bukan Ki Joko Bodo).

Setelah aku memasukkan kata ‘jelangkung’ ternyata muncul berbagai banyak pilihan. Aku bingung, aku kan nggak ngerti bahasanya. Akhirnya aku putuskan untuk melihat gambarnya saja, mengambil gambar foto yang paling menyeramkan.

Melihat foto-fotonya malah membuatku semakin bingung, bukan karena jelangkungnya. Tapi bahan-bahan untuk membuatnya, karena yang aku lihat tadi di internet jelangkung itu menggunakan batok kelapa. Sedangkan disini, di asrama SHINee, mana ada barang kayak gituan.

Tapi, akhirnya aku menemukan barang yang bisa aku gunakan untuk membuat jelangkung. Sedikit inovasi disana-sini pasti lebih bagus. Di tempat cucian kan banyak barang-barang yang bisa dipakai ulang. Yah sekalian menyelamatkan bumi dari pencemaran, sekarangkan banyak yang go green untuk mengurangi pemanasan global.

Tanpa menunda-nunda lagi aku pun langsung membuat jelangkung. Dan permainannya akan segera dimulai

***

Sekitar jam 23.30 waktu setempat, sesuai dengan waktu yang telah disepakati, para member SHINee telah berkumpul di ruang tengah asrama. Semua lampu telah dimatikan untuk menciptakan suasana semakin angker dan hanya sebatang lilin di atas meja yang masih dibiarkan menyala.

Kemudian Onew membawa lilin tersebut dan meletakkannya di lantai. “Oke, semuanya duduk mengelilingi lilin ini,” pinta Onew sambil membenarkan posisi lilin.

Semuanya langsung duduk melingkar mengelilingi lilin yang berada di tengah-tengah. Wajah Onew dan Minho begitu antusias menunggu permainan ini. Sedangkan wajah Jjong dan Key masih menyiratkan sebuah ketidak percayaan pada author, JongKey was-was akan adanya kemunculan si ponci (pocong) dan si Kunti (kuntilanak). Sedangkan Taemin tak menunjukkan ekspresi apapun, dia malah sedang asik ngemut eskrim yang terakhir untuk hari ini.

“Ohya… ini mantra jelangkungnya.” Onew menyerahkan sepotong kertas yang tertuliskan sebuah mantra. “Entar kalian ikutin aku aja ya! Oh ya… Taemin-ah mana jelangkung nya?”

“Hehehe… maaf hyung ketinggalan di sana. Entar aku ambil dulu ya.”

Kemudian taemin beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil hasil karyanya. Taemin begitu antusias dan telah siap menerima pujian dari para hyungnya karena hasil karyanya yang terlihat begitu menyeramkan. “Pasti hyung akan memujiku atas karya yang luar biasa ini,” gumam Taemin saat memegang hasil karyanya.

JRENGGG…. JRENGGG….JRENGGG… ***suara instrumen dari dunia gaib***

These is it…, jelangkung tumis kangkung ala cheif Taemin-SHINee.” Ujar Taemin menirukan gaya Faraquin, lebih tepatnya meniru gaya umma Key.

Semuanya langsung terpesona melihat jelangkung hasil karya Taemin. Onew melihatnya tanpa berkedip sedikitpun. Jjong yang dari awalnya bermuka masam tiba-tiba aura positifnya bertaburan, membuat wajahnya berbling-bling ria. Key mengalami hal yang sama, tiba-tiba bakat pembokatnya langsung mengebu-gebu ingin secepatnya disalurkan. Sedangkan wajah Minho yang sudah kusut berubah tambah kusut.

Mereka semuanya tertuju pada tulisan yang berada di kain yang berbentuk segitiga di tubuh jelangkung. Onew medekatkan boneka jelangkung tersebut ke arah lilin untuk memastikan tulisannya. JjongKey juga mendekatkan pandangannya pada boneka jelangkung tersebut tidak ingin ketinggalan, keculi minho. Setelah benar-benar telihat dengan jelas, tulisan itu C H O I – M I N H O.

WAKAKAKAKAKAKAKAKAKA…, semuanya tertawa terguling-guling bahkan Onew sampe menungging-nungging segala. Jjong bahkan bisa melupakan masalah mengenai penggerebekan dirinya. Key langsung lari ke dapur dan langsung menyalurkan bakat pembokatnya, karena sudah tidak bisa ditahan lagi.

Taemin tidak menyangka reaksi yang begitu heboh dari hyung-hyungnya, padahal dia hanya menggunakan bahan daur ulang. Dia menggunakan kain-kain yang tidak dipakai kemudian dikumpulkan dan dibuat bulat dengan kain yang lebih lebar. Kepalanya itu kemudian disambungkan dengan sebuah spidol hitam. Sedangkan badan dari jailangkung itu menggunakan kain yang berbentuk segitiga (Baca : CD alias Celana Dalam).

PLETAAAKKKK…., tangan minho mendarat di kepala Taemin.

“Taemin-ah, kenapa kamu menggunakan CDku?”

“Lah, aku kirain sudah enggak dipake lagi sama minho-hyung. Sayang kan kalau tidak dimanfaatkan. Soalnya aku nyari kain yang nggak kepake, nggak ada.” Jawab taemin sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“Mana jelangkunya onew-hyung, aku ganti dengan kain yang lain!”

“Pake ini juga nggak apa-apa, kita dah enggak ada waktu lagi.” Ujar Onew sambil menahan tawanya.

“Tapi hyung…,”

“Ingat peraturan SHINee nomer tiga, Keputusan leader nggak bisa diganggu gugat.” Kata Taemin tersenyum penuh kemenangan mutlak. Minho menyerah dan menerima dengan hati yang tidak ikhlas.

“Gimana hyung kalo hantunya ntar menyukai aromanya…, pasti dia bakalan menghantuiku untuk selamanya.” Minho menggerutu nggak jelas.

“Oke semuanya kembali ke posisinya masing-masing, kita akan mulai permainannya.” Kata Onew.

Dalam waktu singkat mereka telah kembali ke posisinya masing-masing. Tangan kiri mereka megang kertas yang berisi mantera sedangkan tangan kanan mereka memegangi badan teman yang ada di sampingnya, kecuali Onew yang memegang jelangkung. Di bawah jelangkung telah disiapkan papan putih.

“Semuanya dah siap? Jika ada reaksi jangan ada satupun dari tangan kalian yang melepaskan pegangannya. Jika tidak makan hantu tersebut tidak akan bisa kembali ke alamnya dan akan menghantui kita untuk selamanya.” Onew mengingatkan.

“Ya… kami siap Hyung?” jawab mereka bersamaan.

Meskipun ada sedikit kekhawatiran yang tertangkap di wajah mereka, namun mereka tetap melanjutkan permainanya. Dan dengan kompak mereka melafalkan manteranya.

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

Tidak ada reaksi, jelangkung masih diam.

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

Tiba-tiba jelangkung mulai bergerak. Onew merasakan adanya kehadiran arwah yang menempati boneka yang dipegangnya itu. Sedangkan tangan-tangan yang lainnya merasakan adanya sebuah hawa hangat yang mengaliri tubuhnya.

“Oke aku akan memulainya,” ujar Onew. “Nama kamu siapa?”

Jelangkung itu menuliskan sesuatu… H….O…..E….K….S….

Taemin, Jjong, Key, Minho dan Onew saling melemparkan pandangan satu sama lain. Tidak mengerti apa yang dimaksud si jelangkung.

“Nama anda H O E K S,” onew melafalkan dengan perlahan.

Jelangkung itu menulis kembali, H….O…..E….K….S….

Onew dan teman-temannya semakin bingung. “Maksud anda….?”

Kemudian si Jelangkung menulis dengan cepat membuat Onew kewalahan. Tenaga Onew benar-benar terkuras dan mengeluarkan banyak keringat. Beberapa saat kemudian si Jelangkung itu berhenti bergerak. Onew tidak lagi merasakan kehadiran si mahluk halus itu. Kemudian Onew membaca apa yang tertulis di papan.

Dasar bodoh…, kalian menggunakan media apa ini baunya busuk buangggeeetttt membuatku muntah-muntah. Untuk kali ini kalian aku maafkan tapi jika kalian mengulangi seperti hal ini lagi, kalian akan aku bunuh. Sampai jumpa… HOEKS”

WAKAKAKAKAKAKA…, mereka kembali tertawa sampe terjungkal-jungkal menyadari apa yang simaksud si hantu.

“Hahaha… Choi Minho, CD mu ternyata busuk banget. Hantu saja dibuatnya muntah-muntah.” Ujar Onew diikuti dengan tawa yang lainnya.

“Minho-Hyung…. keren Hantu aja sampe muntah-muntah nggak ketulungan.” Kata taemin sambil memegangi perutnya.

Sedagkan JjongKey masih terguling-guling, sampai tulisan ini berakhir (?) mereka masih juga terguling-guling. Tinggal ditusuk aja trus dibakar, jadilah JjongKey guling.

“Mimpi apa aku semalam sampe teraniaya begini…, dasar hantu sialan pake acara muntah segala.” Wajah Minho semakin kusut.

END.

So… jangan lupa komen… bukan Komeng ya apa lagi ditambah Adul.

Lost

Author : Fauzi Zoo/Park Jihoon

Genre : Horor (Mianhe kalo kurang menyeramkan)

Rating : PG15

Lenght : OneShot

Cast : FT Island (Lee Hongki, Lee Jaejin, Choi Junghun, Choi Minhwa, dan Song Seunghyun)

NB : Ini adalah fanfic hororku yang pertama, so… semoga kalian pada suka. Saran dan Komennya tetap ditunggu…. kalo jelek.. .bilang aja, jangan sungkan2 OK!!!!

Matahari telah masuk ke peraduannya meninggalkan berkas sinar jingga yang menghias langit di salah satu daerah bagian korea selatan. Perlahan namun pasti cahaya jingga itu semakin menggelap dan menghilang. Awan jingga kembali kewujud awalnya yaitu putih. Suara burung-burung hutan lenyap ditelan gaduhnya suara serangga malam yang mulai berisik.

Sinar bulan mulai menggantikan sinar matahari, sinarnya begitu lembut. Bulan menunjukkan bentuknya yang  begitu sempurna, bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan mengelilingi sang rembulan. Pemandangan yang terlihat begitu sempurna, tak akan ada yang bisa menandinginya. Keindahan di malam hari itu terkadang seperti fatamorgana di gurun pasir, memperlihatkan keindahan namun tersirat suatu kengerian yang begitu menakutkan.

“Hyung, gimana nih?. Hari sudah gelap tapi mobil brengsek ini tetep nggak mau jalan.” Tanya Jaejin pada Hongki yang mulai kesal. “HP juga nggak bisa digunakan, nggak ada sinyal. Kenapa hari ini aku begitu sial.”

Mobil yang dikendarain anggota FT Island, Hongki, Jaejin, Jonghun, Minhwa dan Seunghyun tiba-tiba mogok di tengah hutan saat perjalanan pulang menuju seoul. Berhubung tidak ada satupun dari mereka yang mengerti mengenai mesin mobil, akhirnya mereka membiarkannya begitu saja. Mereka menunggu orang yang lewat untuk dimintai bantuannya, namun hingga malam tiba tak ada satupun kendaraan yang lewat.

“Aku juga bingung.” Jawab Hongki. “Mungkin kita harus menunggu seseorang, siapa tahu ada mobil yang lewat jalan ini.”

“Kalo nggak ada yang lewat gimana hyung? Masak kita harus menunggu semalaman ditengah hutan gini.” Jonghun mulai khawatir.

“Coba aku lihat, siapa tahu aku bisa memperbaikinnya.” Minhwa mengusulkan diri, meskipun belum pernah sekalipun ia berurusan dengan mesin mobil.

Beberapa saat kemudian

“Coba hyung hidupkan mobilnya!” Pinta Minhwa pada Hongki.

Brreeetttttt…brrreeettttt…..bbbreeeetttt…, mobil tetap tidak mau hidup.

“Min-ah, tetap nggak mau hidup. Sudahlah, kita nunggu orang lewat saja. Dari pada setres. Kalaupun malam ini nggak ada mobil yang lewat, besok pagi pasti ada yang lewat.” Ujar Hongki.

“Hong-hyung, kok kamu bisa ngomong seperti itu seakan kita tidak masalah menginap di sini. Ini hutan… hyung. Coba kalo ada hantu atau hewan buas, bisa-bisa nyawa kita melayang.” Seunghyun yang dari tadi diam mengungkapkan kehawatirannya.

“Tanang aja Seung-ah, tidak mungkin ada binatang buas di tempat beginian.” Ujar Hongki berusaha menenangkan meskipun di dalam lubuk hatinya mulai merasakan suatu kecemasan.

“Kalau tahu akan jadi seperti ini mendingan aku ikut manajer-hyung tadi naik pesawat ke seoul.” Seunghyun merebahkan tubuhnya di kursi mobil.

Suasana kembali hening. Wajah mereka mengisyaratkan kekesalan dan kecemasan, tapi kemudian larut dalam pikirannya masing-masing.

5 jam sebelumnya…

Setelah syuting terakhir video clip selesai semuanya terlihat sibuk membereskan peralatan. Termasuk juga dengan sang bintang, FT Island. Mereka terlihat sangat puas terhadap hasil yang telah mereka lakukan.

“Hyung, tiga hari kedepan kita libur kan?” Tanya Hongki pada sang manajer.

“Yup libur.” Sang menajer manganggukkan kepala.

“Siiipp… berarti kita jadi pulang pake mobil dong, ne… hyung?” Ucap Jaejin.

“Apa??? Kalian pulang naik mobil? Bukannya kita akan pulang bersama naik pewasat. Nih tiketnya dah aku pesankan.” Sang menajer terkejut dengan rencana Hongki dan Jaejin.

“Ne hyung, kita rencananya akan pulang bareng naik mobil. Ini kuncinya.” Hongki memperlihatkan sebuah kunci mobil pada manajernya.

“Memang kalian tahu jalan? Trus… perjalanan dari sini ke Seoul melewati sebuah hutan, yang kata orang sedikit angker. Apa kalian tidak takut?”

Jaejin sempat menatap kearah Hongki, tatapannya menyiratkan keraguan. “Ah hyung, sekarangkan dah ada GPS jadi kita nggak mungkin tersesat. Trus jaman sekarang masih percaya dengan cerita begituan?? Dah nggak jamannya.” Hongki meyakinkan manajernya.

“Hongki yung, kita juga ikut dong!!” ujar Junghun, mewakili Minhwa dan Seunghyun. “Sekali-kali kita juga mau bersenang-senang bersama Hyung.”

“Baiklah kalo begitu. Tapi ingat tiga hari lagi kita ada jumpa pers dan lounching video clip.” Ujar sang manajer.

“Siap Hyung, manajer hyung memang baik deh.” Ujar Hongki dengan gaya Jeremi.

***

Malam semakin larut, udara semakin dingin dan lebab membawa uap-uap air hasil respirasi penghuni hutan. Rembulan bersinar tepat di atas kepala, sinarnya begitu lembut menerpa setiap inchi dedaunan, bebatuan dan tanah lapang. Suara-suara serangga malam semakin asyik mendendangkan lagu kengerian.

AAAUUUUUUUU………

“Hyung…, suara apa itu?” Jaejin terperanjat dari tempat duduknya.

“Bukannya itu lolongan serigala,” ujar Seunghyun.

Sebuah lolongan suara serigala membangunkan semua member FT Island dari pikirannya masing-masing. Rasa kecemasan dan kehawatiran tiba-tiba menyelimuti wajah mereka. Dan secara naluriah meraka berusaha untuk mencari tempat yang paling aman di dalam mobil.

“Hong-hyung… jangan diam dong. Gimana nich kalo serigala itu datang kesini? Mobil ini nggak bisa melindungi kita. Bisa-bisa kita menjadi santapan serigala-serigala itu.” Minhwa semakin diliputi kehawatiran.

“Tenang…, dalam kondisi seperti ini kita harus tenang.” Ujar Jonghun sebagai leader berusaha menenangkan para membernya.

“Kita hanya memiliki dua pilihan,” Ujar Hongki setelah lama berpikir. “kita tetap tinggal disini dan menjadi santapan serigala, atau kita jalan kaki menyusuri jalan hingga keluar dari hutan ini.”

“APA…? jalan kaki keluar dari hutan ini? Hyung jangan bercanda.” Minhwa mulai emosi. “Ini semua gara-gara hyung.” Gerutunya kemudian.

“AHH… salah aku?” Hongki tidak terima. “Min-gun, aku nggak pernah ngajak kamu untuk ikut, tapi kamu sendiri yang minta. Ingat itu! Jadi jangan sampai mengatakan kalo ini semua salahku. Sekali lagi kamu mengatakan itu, jangan salahkan aku jika ini mendarat di wajahmu.” Kata Hongki dengan menunjukkan kepalan tangannya tepat di depan wajah Minwah.

“Hyung, tenanglah. Jangan terpancing emosi gitu. Kita disini memiliki kondisi yang sama. Mungkin mihnwa tadi sedikit tertekan.” Jaejin berusaha menenangkan Hongki.

AAAUUUUU…….

Lolongan serigala kembali terdengar dan suaranya semakin mendekat. Kehawatiran terlihat di wajah mereka. Sinar rembulan yang jatuh menerpa wajah mereka membuatnnya terlihat begitu pucat ketakutan. Jantung bertedetak semakin cepat memompa darah ke ujung-ujung kapiler pembuluh darah. Keringat dingin mulai mengalir jatuh dari pelipis.

Mereka menggeliat dari tempat duduknya berusaha untuk mendekatkan diri satu sama lainnya, mencari perlindungan. Secara spontan mereka mengarahkan pandangannya kesetiap penjuru bibir hutan. Memperhatikan setiap gerakan yang mencurigakan. Di dalam hutan terlihat begitu gelap, sinar rembulan tidak mempu menerobos dedaunan yang begitu pekat.

“Kita harus cepat-cepat pergi dari sini, jika tidak bisa-bisa serigala itu akan menghampiri kita disini dan hal itu akan membahayakan keselamatan kita. Dan yang membuatku khawatir, serigala itu biasanya berburu secara berkelompok.” Jonghun menyarankan pada semua member. Suaranya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam.

“Aku setuju,” Ujar Jaejin.

“Minhwa…?” tanya Jonghun.

“Aku juga setuju. Aku enggak mau menjadi santapan serigala liar.”

Dan semuanya sepakat untuk meninggalkan mobil mereka dan berjalan kaki menyusuri jalan hingga keluar dari hutan. Mereka langsung membereskan barang-barang mereka masing-masing dan membawa semua bekal makanan dan minuman yang terdapat di mobil. Karena mereka tidak tahu seberapa jauh jarak yang harus mereka tempuh. Barang yang tidak terlalu penting mereka tinggalkan di mobil untuk mengurangi beban selama perjalanan.

Ketika mereka sedang asyik membereskan barang-barang yang akan dibawanya, terlihat beberapa pasang mata yang mengawasi mereka dari dalam hutan. Mata itu besinar terang, seperti mata kucing di malam hari, namun penuh dengan nafsu ingin membunuh. Tapi para member FT Island tidak menyadarinya kalau mereka sedang diawasi.

Kresek…kresek…kresek…

Jaejin menyadari adanya suara dari dalam semak hutan dan melihat ke arah datangnya suara itu. Alangkah terkejutnya saat Jaejin melihat beberapa pasang mata yang begitu terang penuh dengan nafsu ingin membunuh menatap kearahnya. Tiba-tiba tubuhnya langsung tidak mampu ia gerakkan beberapa saat.

“Hyung, kayaknya kita sudah terlambat. Mereka datang.” Jaejin menarik-narik baju Jonghun dengan tatapan masih mengarah jauh ke dalam hutan dimana mata-mata itu memperhatikannya. Suaranya terdengar seperti orang putus asa.

Mendengar perkataan Jonghun lantas membuat semua member menghentikan aktifitasnya dan memandang aneh kearah Jonghun. Melihat Jonghun masih menatap lurus jauh ke dalam hutan, otomatis yang lainnya juga mengikutinya. Dan semuanya langsung mengalami reaksi yang sama dengan Jaejin, terkejut, terpaku dan ketakutan yang sangat luar biasa sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya ketika melihat beberapa pasang mata itu.

Wajah mereka seketika itu berubah seperti tidak dialiri darah sedikitpun, terlihat begitu pucat. Ketakutan yang dikhawatikan sebelumnya seakan menjelma seperti malaikat maut yang siap untuk merenggut nyawanya.

Beberapa pasang mata itu mulai mendekat kearah mereka, keluar dari hutan. Ketika mereka sampai dibibir hutan, sinar rembulan memperlihatkan sosok pemilik mata yang mengerikan itu dengan jelas yaitu serigala liar. Warna bulu serigala itu gelap hampir hitam, tubuhnya besar, taringnya telihat putih mengancam dan sangat menakutkan.

“Satu, dua, tiga,…. dua puluh, dua satu, dua dua…, hah sialan… lebih dari tiga puluh.” Ujar Jonghun dengan memperkecil suaranya.

“Hyung… gimana nich? Aku nggak mau mati.” Kata Minhwa penuh keputusasaan.

“Kita harus cepat pergi dari sini.” Ujar Seunghyun.

“Tunggu…!” Hongki menarik lengan Seunghyun. “Kita jangan melakukan gerakan sembarang, bisa-bisa mereka akan langsung menyerang kita secara brutal dan mecabik-cabik tubuh kita sebelum kita sempat menyelamatkan diri. Kita harus hati-hati dalam mengambil tindakan.”

“Benar, kalo kita bertindak  gegabah, mampuslah kita.” Jonghun menyetujui pendapat Hongki.

Dengan perlahan-lahan mereka mengambil bekal yang telah dimasukkan ke dalam tas dan mencangklongkan tas tersebut ke pundaknya masing-masing. Mereka mulai menjahui mobil mereka dengan gerakan hati-hati dan diusahakan tidak menimbulkan suara yang dapat mengundang agresifitas serigala itu. Suasananya benar-benar terasa sangat mencekam.

Sedangkan serigala itu tetap mengawasi mereka dengan tatapan matanya yang tajam dari bibir hutan. Seakan mereka mempelajari gerak-gerik segerombolan manusia itu. Serigala itu  juga tidak mau mengambil resiko yang terlalu besar dalam setiap perburuannya dan menyebabkan kematian para anggotanya. Semakin lama semua serigala yang berada di dalam hutan itu keluar dan menunjukkan wujudnya di bawah sinar rembulan

Perlahan namun pasti Hongki dan yang lainnya menjahui sekelompok serigala itu. Kaki mereka seakan sulit untuk dilangkahkan karena terlalu dilanda oleh ketakutan yang tidak tanggung-tanggung. Minhwa terus menggigit-gigit ujung kukunya untuk menghilangkan kecemasannya yang telah menguasai setiap sel tubuhnya.

“LAAARRRRRIIIIIIIII……!!!”

“LAAARRRRRIIIIIIIII……,” Teriak Hongki saat mereka merasa aman untuk menyelamatkan diri.

Semuanya langsung mengambil langkah seribu setelah mendengar komando dari Hongki. Mereka mengerahkan semua kekuatan dan stamina yang mereka miliki untuk menjahui maut. Tas di punggung mereka sedikit membebaninya, tapi mereka tidak akan pernah melepaskannya karena di dalam tas itulah kehidupan mereka pertaruhkan.

Serigala-serigala yang tadinya hanya diam mengawasi, langsung beraksi dan mengejar buruannya. Mereka mengejar dengan diikuti salakan suaranya yang memecah keheningan malam. Air liurnya menetes melalui sela-sela gigi taringnnya.

Seunghyun terus mempercepat langkah kakinya, karena dia berada di posisi paling akhir. Dan serigala-serigala itu tepat menyalak dari arah belakangnya. Dan hal itu akan mempermudah bagi serigala-serigala itu untuk menerkam Seunghyun dari arah belakang. “Sialan…, aku nggak mau mati disini.” Bisik Seunghyun untuk menyemangati dirinya sendiri. Senghyun kembali mempercepat langkahnya.

BUUUUKKKK…

Sial bagi Seunghyun, dia tersandung oleh kakinya sendiri dan jatuh tersungkur. Aspal jalan menggerus beberapa bagian kulitnya dibagian mukanya hingga mengeluarkan darah segar. Tapi Seunghyun tidak mengubrisnya dan berusaha untuk kembali bangkit karena salakan serigala itu semakin mendekat. Namun sebelum sempat bangkit kembali, tiba-tiba Seunghyun merasakan ada benda tajam yang merobek daging di daerah tungkainya.

“Aaawwwwww……,” Seunghyun menjerit kesakitan.

Seunghyun berusaha untuk menghajar serigala yang telah merobek kakinya dengan melemparkan tasnya, namun serigala itu berhasil menghindar dan melepaskan gigitannya. Seunghyun masih berusaha lari meskipun dengan kaki terpincang-pincang. Setiap kakinya digerakkan, rasa perih seperti tertusuk benda tajam ia rasakan.

“Minhwaa….., Hyung…. toloooonnggg.” Seunghyun mengelurkan semua kekuatanya untuk minta pertolong. Namun jarak dia dengan yang lainnya sudah terlalu jauh dan salakan serigala yang begitu memekakan telinga membuat teriakannya sia-sia.

Hanya beberapa langkah saja kakinya digerakkan, kressskkk, taring srigala yang tadi kembali merobek kakinya. Seunghyun berusaha melawan dengan mengarahkan tendangan kakinya yang satunya, tapi serigala yang lainnya telah terlebih dahulu menancapkan taringnya. Dalam waktu sekejab Seunghyun telah dikerubutin oleh segerombolan serigala dari berbagai penjuru. Kaki, tangan dan anggota tubuh yang lainnya menjadi sasaran taring-taring serigala yang buas itu.

“Minggir kau serigala busuk….!!!” Seunghyun tetap berusaha melawan.

Seunghyun tetap berusaha mewalan dengan memukulkan tangan kosongnya, namun hal itu malah membuat daging di sebagian tubuhnya terlepas. Darah mengair disetiap bekas taring-taring itu menancap. Dan tidak diperlukan waktu yang cukup lama bagi serigala-serigala itu untuk melumpuhkan Seunghyun.

“AAAAAAAAAAAAA….,” teriak Seunghyun meluapkan sisa kekuatannya menahan rasa sakit yang tak terperikan. Dan setelah itu suaranya lenyap ditelan salakan serigala yang tetap menghujamkan taringnya ke tubuh Seunghyun.

***

Sebagian serigala berusaha melumpuhkan Seunghyun yang terjatuh dan sebagian lagi tetap mengejar buruannya. Serigala-serigala itu semakin buas mengejar mereka.

Minhwa yang berada di posisi paling belakang sempat mendengar teriakan minta tolong Seunghyun. Namun ketika menoleh ke arah belakang ia mendapati Seunghyun telah dikerubutin beberapa serigala, sedangkan serigala yang lainnya tetap mengejarnya. “Maafkan aku hyung,” ujar Minhwa dalam hatinya sambil berusaha mempercepat langkahnya.

Namun tak berselang berapa lama dari lenyapnya suara Seunghyung, serigala yang paling depan dalam pengejarannya berhasil menancapkan taringnya di kaki Minhwa. Minhwa hilang keseimbangannya dan jatuh.

“Aaaaaaaa…..,” teriak Minhwa sebelum tubuhnya jatuh menyentuh aspal jalan.

Serigala yang lainnya langsung menyerang tubuh Minhwa yang telah terjatuh, namun Minhwa berusaha melawan serigala itu dengan tangan kosong. Dia terus meninjukan pukulannya namun tak pernah mengenai sasaran. Bahkan lengannya menjadi incaran taring-taring serigala lainnya. Dan akhirnya Minhwa menyerah, tenaganya tidak lagi mampu untuk melawan segerombolan serigala itu. Dia menyerahkan tubuhnya menjadi sasaran taring-taring buas serigala.

Darah segar terus mengalir dari dalam tubuh Minhwa melalui bekas-bekas gigitan serigala liar itu. Darah segar Minhwa juga menempel pada taring-taring itu setiap tercabut dari kulit mulus Minhwa. Dalam waktu sekejab Minhwa telah banyak kehilangan darah dan menemui ajalnya. Akhirnya serigala-serigala liar itu dengan leluasa mengoyak-ngoyak tubuh Minhwa.

Sementara itu Hongki, Jaejin dan Junghun terus berlari tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Mereka terus berlari dan berlari menghindari kejaran serigala itu. Mereka tidak menyadari kalau dua temannya teringgal dan telah menjadi santapan serigala liar itu.

Hosh..hosh…hosh…, mereka berhenti setelah mereka mengetahui kumpulan serigala itu tidak lagi mengejarnya. Nafasnya terus memburu tak beraturan. Keringat mengalir deras dari pori-pori kulitnya berpacu dengan aliran darahnya. Kemudian mereka menuju ke sebuah pohon besar yang berada di bibir hutan, bersembunyi dari kejaran serigala.

“Junghun-hyung, Minhwa dan Seunghyun mana?” Tanya Jaejin saat tidak melihat keberadaan kedua temannya itu.

Junghun kaget karena baru menyadari kalau mereka ternyata hanya tinggal bertiga yaitu Jaejin, Hongki dan dirinya sendiri. Sebagai leader dia seharusnya memperhatikan membernya. Kemudian Junghun kembali ke jalan raya untuk memastikan keberadaan dua temannya itu, namun yang di dapatinya hanya jalan yang sepi dan hanya terdengar lolongan serigala dari jauh.

“Hongki-hyung tadi melihat Minhwa dan Seunghyun?” tanya Junghun yang mulai panik pada Hongki saat duduk dibalik pohon.

“Aku nggak tahu. Hyung tahu sendirikan gimana situasinya tadi, mana mungkin aku bisa memperhatikan yang lainnya saat kita diburu maut seperti tadi.”

“Jangan bilang kalo mereka telah menjadi santapan serigala liar itu.” Kata Jaejin mengungkapkan kehawatirannya.

“Jaejin-ah, Jaga mulutmu.” Junghun mulai tersulut emosinya.” Aku harus kembali untuk mencari Minhwa dan Seunghyun.”

Sebelum Junghun sempat melangkahkan kakinya, Hongki berhasil mencegahnya. “Hyung sudah gila. Kalau Hyung kembali kesana itu artinya sama saja dengan mengantarkan nyawa. Bukannya kita menemukan Minhwa dan Seunghyun, malahan nyawa kita yang akan melayang.”

“Tapi…, aku nggak bisa berdiri disini dengan santai saat teman-temanku mungkin membutuhkan pertolongan. Aku… aku…,” Junghun akhirnya tidak kuasa menahan air matanya.

“Aku dan Jaejin juga mengerti perasaan Hyung. Aku juga nggak mau hal buruk menimpa Minhwa dan Seunghyun. Kita berharap mereka masih selamat. Untuk itu kita harus secepatnya keluar dari hutan ini dan mencari pertolongan untuk mencari mereka berdua.” Ujar Hongki berusaha menenangkan Junghun.

“Hyung, kita nggak boleh terlalu lama istirahat disini. Bisa-bisa para serigala sialan itu bisa menemukan kita disini.” Kata Jaejin.

Kemudian mereka langsung mengemasi barang-banrangnya. Istirahat tadi telah mengembalikan stamina mereka untuk melanjutkan perjalan yang tidak pernah mereka harapkan sebelumnya. Junghun sudah kembali bisa melanjutkan perjalanan, meskipun hatinya masih diliputi kesedihan.

Mereka kembali menyusuri jalan raya, karena itulah satu-satunya petunjuk arah untuk keluar dari hutan. Mereka menghindari berjalan di dalam hutan karena sinar rembulan tidak bisa menembus lebatnya hutan. Dan juga di dalam hutan masih banyak mahluk mengerikan yang bisa-bisa membahayakan nyawa mereka. Namu alasan yang paling utama, mereka berharap ada mobil yang melewati jalan itu sehingga bisa dimintai bantuannya.

Hanya beberapa meter mereka berjalan, puluhan pasang mata kembali mengintai mereka dari dalam hutan. Sinar mata itu tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, penuh dengan nafsu ingin membunuh, hanya saja tatapannya lebih beringas. Serigala-serigal itu langsung menghampiri  Junghun, Jaejin dan Hongki, dan mengelilingi mereka.

Kini Junghun, Jeajin dan Hongki terjebak di dalam lingkaran serigala-serigala buas yang siap-siap mencabik-cabik  tubuh mereka.  Mereka memunggungi satu sama lain berusaha untuk saling melindungi.

“Hyung bagaimana ini?” tanya Jaejin katakutan.

“Pokoknya kita tidak boleh terpisah.” Ujar Junghun dengan memegang pisau lipatnya kuat-kuat.

Jaejin dan Hongki hanya bersenjatakan batang pohon yang ujungnya dibuat lancip. Mereka membuatnya saat istirahat tadi dengan menggunakan pisau lipat yang dipegang Junghun. Pisau lipat itu biasanya hanya digunkan untuk memotong buah.

“Jika mereka menyerang, kita langsung babat habis mereka. Jangan beri ampun.” Ujar Hongki.

Serigala-serigala itu terus bermunculan dari dalam hutan. Dan serigala-serigala itu terus melancarkan salakannya yang memekakan telinga, mereka sepertinya mencari celah kelemahan Hongki, Jaejin dan Junghun yang terus terdesak. Tiba-tiba seekor serigala berusaha menyerang Junghun, namun dengan sikap Junghun bisa menghalang nya dengan kibasan pisaunya. Serigala itu berhasil menghindar.

Kemudian beberapa serigala menyerang secara bersamaan membuat Junghun, Hongki dan Jaejin kelabakan. Junghun mengibaskan pisaunya secara brutal untuk mengahalangi serangan serigala itu. Dan, Jleb. Pisau itu berhasil menusuk seekor srigala yang berasil menancapkan giginya di kaki Junghun. Kemudian serigala itu langsung melepaskan gigitannya, membuat kaki Junghun mengelurakan darah segar. Serigala itu langsung terkulai tak berdaya, karena tusukan Junghun  tepat mengenai jantungnya.

Mendapatkan serang yang begitu brutalnya menyebabkan pertahanan mereka hancur. Mereka terpisah satu sama lain dan bergelut dengan beberapa serigala yang terus menyerang mereka.

Saat Junghun mau mencabut pisaunya, tiba-tiba seekor serigala berhasil menyarangkan taringnya di pergelangan tangan Junghun. “Awww…,” Junghun berteriak kesakitan. Namun tidak berhenti disitu, serigala yang lainnya juga bershasil menacapkan taringnya di tubuh Junghun. Dan akhirnya Junghun jatuh tersungkur. Tubuhnya mengeluarkan darah segar dari setiap bekas gigitan.

“HYUNGGGGG…..,” Hongki semakin beringan mengibaskas senjatanya ketika melihat Jonghun jatuh tersungkur.

Hongki berhasil memukul mundur serigala-serigala itu dari tubuh Junghun. Tubuh Junghun bersimbah darah, sebagian tubuhnya terkoyak-koyak. “HYUNGGG….,” teriakan Hongki membuat serigala-serigala itu mundur,  mengambil jarak dengannya.

Sedangkan tubuh Jaejin juga telah tergelatak ditanah dengan bersimbah darah. Tubuhnya terkoyak-koyak, bahkan sebagian telah masuk ke perut serigala itu. Hongki hanya bisa menatap tubuh Jaejin di jadikan mainan oleh segerombolan serigala yang lainnya.

“AKAN KUBUNUH KALIANN…,” Hongki meletakkan kembali jasad Junghun dan kembali mengibaskan senjatanya, batang kayu, dengan brutal.

Serigala-serigala itu berhasil mengelak dari satiap pukulan Hongki. Emosinya telah meningkatkan kekuatan dan keberaniannya berkali-kali lipat. Ketakutan dan kehawatirannya berubah menjadi keberingasan dan kebrutalan. Namun akhirnya Lee Hongki kehabisan tenaga, pukulannya mulai melemah dan Hongki terjatuh karena kurang keseimbangan. Serigala-serigala yang tadinya menjauh, langsung menyerang Lee Hongki secara bersamaan dan mereka berhasil menyarangkan taringnya disetiap inci tubuh Hongki.

“AAAAAAAAAAAAAA…….”

Beberapa saat kemudian hutan kembali sunyi, hanya suara-suara serangga malam yang terdengar. Hembusan angin semilir membawa aroma darah yang begitu pekat. Sesekali terdengar lolongan panjang serigala.

AAAUUUUU……..

***

Dua hari berkutnya.

Potongan berita di koran Korean News

“…Ditemukan lima jasad manusia dalam kondisi yang mengenaskan. Seluruh tubuhnya tercabi-cabik sehingga sulit untuk dikenali. Diduga kelima jasad tersebut merupakan korban dari kebuasan serigala liar. Sampai berita ini diturunkan, masih di lakukan otopsi untuk mengenali kelima jasad tersebut…”

END

Good Bye..

Title : Good Bye..

Cast : Choi Minho-SHINee as Park Ji Hoon, Suzy-MissA as Park Kyungjin, Lee Taemin-SHINee (Cameo)

Lenght : Maunya Drabble tapi kepanjangan…, Ficlet

Genre : Romance

Rating : Buat semuanya yang mengerti cinta.

NB : Buat yang telah mengusulkan dan ngasih nama namkorku…. This FF just 4U

Park Jihoon POV

Malam semakin pekat, tak ada secercah sinar pun yang menyelinap ke dalam kamarku. Duniaku benar-benar gelap. Sempat terlintas dibenakku, “seperti inikah keadaan di alam kubur sana?” Namun hal itu tak berlangsung lama karena pikiranku terus di rundung penyesalan yang tiada tara. Hatiku sakit, jiwaku merana tapi untunglah pikiranku masih bisa diajak untuk berlogika.

Dunia ini terdengar begitu sunyi, tak ada suara kehidupan. Pendengaranku tidak bisa menangkap suara apapun kecuali detak jarum jam dinding yang tergantung di atas meja. Entah sekarang sudah jam berapa? aku tidak tahu dan tidak mau mengetahuinya, aku takut untuk melihat jam. Lebih tepatnya takut melihat waktu terus berjalan, takut berjumpa dengan matahari pagi, takut dengan kata “besok”. Bahkan aku memohon pada Tuhan agar seluruh jam di dunia ini berhenti berdetak. Aku juga rela jika jantungku pun ikut berhenti berdetak.

Besok…, orang yang  sangat aku cintai akan melangsungkan pernikahan. Dia adalah teman masa kecilku. Kita telah merajut kebersamaan hampir dua puluh tahun dan telah banyak pula kisah diantara kita yang tak mungkin bisa aku lupakan begitu saja. Sejak aku mengenalnya di sekolah dasar dulu, aku merasa duniaku seakan penuh warna. Hatiku merasakan suatu kebahagiaan saat aku bersama dengannya. Tapi saat aku bersamanya mulutku seakan kelu untuk mengatakan “Aku mencintaimu.”

Mengingat hal itu, penyesalan kembali menggelayuti hatiku. Air mata yang dari tadi terus mengalir kini bertambah deras mengalir. Kegelapan dan kesunyian ini benar-benar membuatku bisa mengingat semua kenangan indah itu dengan begitu sangat jelas. Kenangan itu satu demi satu terlintas di dalam kepalaku seperti tanyangan sebuah film.

Kejadian dua tahun yang lalu adalah saat-saat yang paling aku sesalkan di dunia ini. Pada saat itu aku berencana untuk mengungkapkan cintaku padanya.

Saat itu…,

“Ada yang ingin aku bicarakan.” Ujar aku dan dia berasamaan, dan saat itu kecanggungan langsung menghampiri kita.

“Silahkan kamu duluan,” kataku setelah sekian detik kita terlibat dalam bisu.

“Oppa…, Lee Taemin akan melamarku besok.”

Mendengar ucapannya sontak hatiku bagai disambar petir, seluruh tubuhku mati rasa, aku diam terpaku. Meskipun aku tahu siapa Lee Taemin itu, seorang pria baik yang dikenalnya saat kuliah dulu, tapi aku tidak bisa menerima semua ini. Kamu adalah milikku.

“Oppa…???” Dia menyadarkanku dari keterpakuanku.

Dia menatapku dengan senyuman penuh kebahagiaan menunggu sesuatu dariku. Senyuman itu membuat hatiku tidak tega untuk mengatakan sesuatu yang akan membuatnya lenyap dari wajahnya.

“Ehh…, Lee Taemin itu orangnya baik. Jadi Oppa yakin kamu pasti akan bahagia dengannya. Oppa kan dulu pernah mengatakan padamu bahwa oppa akan menjadi orang yang paling bahagia saat kamu menikah kelak.” Jawabku. Jawaban itu jelas-jelas bertentangan dengan apa yang ada di hatiku.

Setelah mendengar berita itu, hatiku tidak yakin apakah aku benar-benar menjadi orang yang paling berbahagia saat dia menikah. Aku mengatakan itu dulu karena aku berharap akulah yang akan bersanding dengannya di pelaminan. Tapi sekarang semuanya berbeda, aku merasa menjadi manusia yang paling menyedihkan.

“Oppa, tadi mau ngomong apa?”

“Ahh… enggak kok.” Jawabku.

“AAARRRGGGHHHH…,” teriakku untuk mengusir semua kenangan yang semakin membuat hatiku semakin sakit. Air mataku seakan tidak pernah mau berhenti mengalir.

Hati, persaan dan pikiranku terus bergumul membuatku semakin lelah. Mereka seakan tidak mau kalah satu sama lain, terus mengeluarkan argumen-argumen yang tak bisa disanggah oleh yang lainnya. Namun akhirnya harus ada satu yang menang, pikaranku dengan logikanyalah yang memenakan pertarungan itu. Meskipun hatiku dan perasaanku tidak bisa menerimanya, namun logika itu telah bisa menguasainya.

Air mataku masih terus mengalir hingga aku jatuh tertidur karena kelelahan. Yang aku rasakan, hati dan perasaanku perlahan mulai tenang dan membaik.

Park Kyungjin POV

Aku duduk di depan meja terus memandang ke arah sebuah boneka beruang kecil berwana coklat. Boneka itu diberikan oleh seorang teman yang telah mengambil hatiku sejak pertama kali aku mengenalnya. Dia selalu baik dan selalu melindungiku. Pria yang dulu aku harapkan untuk menjadi pasangan hidupku.

Namun semua harapanku padanya seakan sia-sia, dia tidak pernah mencintaiku lebih dari seorang teman masa kacilnya. Memang saat bersama dengannya aku selalu merasakan sebuah kebahagian yang tidak bisa aku rasakan saat bersama dengan teman yang lainnya. Semua tindakannya selalu membuat hatiku bahagia.

Saat aku mengatakan, “Oppa, Lee Taemin akan melamarku besok.” Aku berharap dia akan marah dan menunjukkan sikap atau perasaan cemburu. Bahkan aku akan sangat senang jika dia marah dan mengatakan aku bodoh seperti yang sering dilakukannya. Namun semua yang di ucapkan jauh dari harapanku, dia menyarankanku untuk menerima lamaran Lee Taemin.

“Oppa,” kataku pada boneka itu. “Besok aku akan menikah dengan Lee Taemin, aku akan berusaha untuk mencintainya seperti yang disarankan oppa. Tapi sampai detik ini cinta yang ada di hati ini  masih berharap oppalah yang akan menjadi pendampingku besok di pelaminan. Oppa… kenapa kamu tidak seditikpun melihatku sebagai seorang wanita dan bukan sebagai teman kecilmu.” Tiba-tiba air mataku mulai kembali mengalir. Sejak saat dia mengijinkanku menerima lamaran Lee Taemin, air mataku dengan mudahnya keluar dari pelupuk mataku.

“Ahhrrggg…, apa yang aku pikirkan.” Gerutuku pada perasaan yang selalu menguasaiku. “Maafkan aku Oppa, jika oppa selalu ada disitu aku tidak akan memiliki kekuatan untuk mencintai Lee Taemin.” Kemudian boneka beruang kecil itu aku ambil dari tempatnya dan aku masukkan ke dalam sebuah kardus bersama dengan kenangan yang lainnya.

“Park Jihoon oppa… Selamat tinggal.”

Park Jihoon POV

Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamarku dan jatuh diwajahku. Udara dingin menyelinap di sela-sela jendela kamar yang setengah terbuka. Aku terbangun dengan perasaan yang begitu lelah dan capek. Mataku seakan membesar dua kali lipat. Bantal dan kasurku masih basah dengan air mataku yang terus mengalir semalaman.

Kemudian aku beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela lebar-lebar. Kini sinar matari pagi benar-benar menerpa tubuhku, sinarnya begitu hangat. Dan kehangatan itu menelusup hingga kedalam hatiku, benar-benar hangat. Udara pagi  juga leluasa masuk dan menyapa setiap inci kulitku dan menyuntikkan kesegaran yang belum pernah aku rasakan.

“Hari ini…, kebahagiaan akan menghampiri dirimu. Dan aku tidak akan merusaknya dengan perasaanku yang bodoh ini. Seperti yang telah aku katakan, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di saat pernikahanmu. Aku pasti akan bahagia jika kamu bahagia. Jinie… semoga kamu bahagia dengan Lee Taemin.” Sekarang perasaanku benar-benar bisa menerimanya.

“Park Kyungjin-ah… Selamat tinggal. Kau akan selalu menjadi teman masa kecilku.”

END

COMMENT..COMMENT… AYO COMMENTTTT…..

 

 

Behind The Stage (SHINee)

Author : Fauzi Zoo

Cast : SHINee

Lenght : OneShot

Genre : Maunya sich Comedy… Tapi kalo nggak bisa bikin katawa, Mianhe.

Di ruang tunggu SHINee.

Para member SHINee terlihat seperti kangkung habis ditumis,  letoy, karena kelamaan menunggu untuk perform. Meskipun sebetulnya mereka telah dimake-up dan telah siap dengan kostumnya. Taemin tidur-tiduran di atas sofa, tidak memiliki kekuatan sama sekali meskipun hanya untuk duduk. Key dan Minho duduk bersenderan di sofa dekat Taemin seperti tidak memiliki pantat. Jonghyun duduk di depan cermin sambil memandang ke arah bayangannya dengan muka dilipat seratus tujuh puluh sembilan derajat (kurang satu derajat lagi untuk sampe seratus delapan puluh derajat). Sedangkan sang leader, Onew sudah menggelosor tengkurap di lantai di bawah Taemin.

“Hyung, kapan kita tampil? Aku dah capek nich, mau cepat-cepat pulang dan tidur.” Kaki Taemin mengoyang-goyang pantat Onew. **Dasar tidak sopan***

“Hhmmmm…, nggak tahu.” Onew mengelap ilernya yang mulai menetes. Cesss. “Manajer Hyung masih mencari informasi. Kita tunggu aja.”

PLAK…PLAK…PLAK…, “perhatian semuanya!!!” Sang menajer membangunkan SHINee dari keletoyannya.

“Hyung, kapan kita akan perform?” tanya Onew sambil mengucek-ngucek matanya. Sruuuttt… Ilernya yang hampir jatuh berhasil diselamatkannya dengan sempurna.

“HEY…HEY…HEY… AYO BANGUN…!!!” sang manajer menaikkan volume suaranya. Mau tidak mau member yang lainnya juga bangung dan menghampiri sang manajer. Jika tidak, sang manajer bisa-bisa berteriak sampe sepuluh oktav, menyaingi suara charice pempengco.

“Hyung, kami capek.” Ujar Key.

“Tapi kalo kalian dengar informasi yang akan aku sampaikan ini dijamin semangat kalian akan kembali seratus persen.”

“Bukannya hyung selalu ngomong kayak gitu. Aku dah dengarnya dua puluh satu kali dalam seminggu ini.” Kata Taemin sambil menghitung dengan jari tangannya.

“Kali ini aku jamin,” sang menajer memberi jaminan. “Lagu Hello kalian jadi juara pertama minggu ini.”

“Jinja… hyung?” Ujar Onew, Taemin, Minho dan Key kompak. Jonghyun terlihat melamun, mirip orang autis.

“Jinja…”

“YEEIIII…….YEEIIIII…..” Mereka bertiriak sambil melompat-lompat kegirangan.

“Hyung ada apa?” Tanya Jonghyun pada Onew.

Tiba-tiba tatapan tajam menusuk terarah pada Jonghyun. Jjong langsung mengkerut.

“Kamu nggak dengar tadi apa yang dikatakan manajer hyung? Hello kita jadi juara minggu ini.” Suara Onew terdengar kesal karena Jonghyun telah merusak kesenangannya dengan pertanyaan yang tidak berkualitas, kalah sama kecap yang kualitasnya selalu nomer satu.

“Jinja…..?”

One mengangguk.

“YEEIII… YEEEIII….YES..YES..YES…YES…” Jonghyum melompat-lompat seperti kuda birahi, heboh sendiri.

~~~~ sing ~~~~~

Tatapan yang lainnya semakin menusuk. Jleb. Jonghyun dengan perlahan dan teratur menurunkan tingkat kehebohannya.

“Tapi kalian akan perform sekitar satu jam lagi. Dan perform kali ini harus lebih semangat. Kalian nggak mau kan perform di hari spesial ini dengan perform yang abal-abal?” sang menajer mengingatkan.

“SIAP HYUNG…,” ujar semuanya kompak.

“Makanya kalian harus mempersiapkan diri dari sekarang. Onew ssi, kamu harus cuci muka dan membersihkan ilermu setelah itu make-up ulang. Taemin gun, rambutmu harus ditata lagi, itu dah mirip sarang kecoa. Key dan Minho, bajunya harus dirapikan lagi. Dan kamu Jonghyun ssi, mukamu harus disetrika lagi biar nggak kusut gitu.” Sang manajer memberi arahan.

Kemudian semuanya langsung sibuk menjalankan perintah sang menajer dengan dibantu beberapa orang bagian make-up dan wadrop. Sedangkan sang manajer kembali keluar ruangan untuk mencari informasi tambahan, tugasnya mirip intel. Wajah mereka benar-benar memancarkan kebahagiaan. Meskipun sedikit aneh karena tumben manajernya telah mengetahui hasilnya.

Lima belas menit kemudian mereka telah kembali rapi. Bekas iler di muka Onew telah hilang. Muka Junghyun telah rapi kembali, tidak kusut. Rambut taemin juga telah rapi. Begitu juga dengan baju Minho dan Key. Dan mereka kembali duduk-duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.

“Hyung, masih kurang empat puluh lima menit lagi. Mendingan main PS yuk!” Minho memberi usulan.

“Sip aku setuju Hyung,” ujar Taemin setuju. Key dan Jonghyun juga setuju.

“Main PS? Disini mana ada PS.” Ujar Onew. Minho dan yang lainnya memperhatikan kesekelilingnya dan baru sadar kalo memang nggak ada PS yang tergeletak. “Meskipun ada, aku nggak bakalan ikut. Karena sudah bisa kebaca siapa yang akan kalah dan yang menjadi korban.”

“Ah Onew hyung, baru kalah tiga kali aja dah kapok.” Ujar key.

“Iya hyung, aku baru ditraktir satu kali.” Taemin menimpali.

“Trus kita ngapain hyung? Kalo gini terusan bisa-bisa Onew Hyung kembali ngiler, hehehe.” Kata Minho sambil menunjuk ke arah pinggir bibir Onew. Dengan cekatan tangan Onew menuju tempat yang ditunjukkan Minho tapi tidak merasakan keberadaan ilernya yang licin menggemaskan.

“Biaklah kalo gitu kita main tebak-tebakan saja,” usul Onew.

“Boleh… boleh… boleh….,” Taemin sangat antusias.

“Yah… boleh lah,” Minho juga menyetujui.

“Dari pada ngobrol sendirian, aku juga setuju.” Key dan Jonghyun juga sepakat.

“Oke, mulai dari kamu taemin gun…!” Onew mempersilahkan Taemin untuk memberikan tebak-tebakannya.

Taemin kemudian memusatkan konsentrasinya, menguras semua isi otaknnya. Mencari dan memilah mana yang pernah didengarnya sebagai tebak-tebakan mana yang bukan.

“Oke hyung,” Kata Taemin setelah lama berpikir. “Dua tambah dua berapa?”

DDDOOOONNNNGGGGGG….

Onew, Key, Minho dan Jonghyun saling menatap heran, tidak percaya terhadap apa yang barusan mereka dengar.

“Terlalu gampang ya, kalo begitu empat tambah empat berapa?”

DING DONG…..

“Lima tambah lima?” Taemin masih semangat memberi pertanyaan.

PLETAK… PLETAK… PLETEK… PLETOK…

Kepala taemin menjadi sasaran jitakan para member yang lainnya.

“AUUU…. sakit hyung! Emang aku salah apa?” Seru Taemin sok polos.

“Kamu salah karena telah lahir.” Ujar Key kesal. ***Key di lempar sandal sama Taemins***

“Taemin gun, tebakan itu cocoknya buat anak-anak sekolah dasar.” Onew menjelaskan.

“Ooooo begitu ya, Mianhe.” Ujar taemin.

“Minho-ah…,” Onew memberikan giliran pada Minho.

Tanpa berpikir terlalu lama Minho langsung melontarkan tebakannya, “siapa diatara member SHINee yang paling kharismatik?”

BAG…BIG… BUG… PLETAK…., empat sandal langsung meleyang kearah Minho. ***jangan tanya sandalnya dari mana?***

“Lanjut… Key!” pinta Onew tanpa menghiraukan pertanyaan Minho.

“Aku nggak punya tebak-tebakan hyung, lagi males untuk berpikir.” Kata Key.

“Tumbeh umma males? Biasanya kan yang paling rajin, ngepel, masak, nyuci, membersihkan kamar mandi, nyapu.” Taemin angkat bicara.

“Nggak ada hubungannya.” Ujar key memonyongkan bibirnya tiga centi meter.

“Jonghyun…???” kata Onew.

“Mianhe hyung. Memikirkan masalah Sekyung aja udah susah apa lagi harus memikirkan tebak-tebakan.”

“Aigooo… kalian semuanya  tidak berkualitas.” Onew mulai kesal.

“Kalo hyung punya tebak-tebakan apa?” tanya minho.

“Oke, dengar ya baik-baik. Yang kayak gini nih namanya tebak-tebakan. Makanan apa yang bisa membuat orang selalu tersenyum?” Ujar Onew dengan senyuman kemenangannya yang terkembang lebar.

“Ah, itu sih gampang.” Kata Taemin.

“Jawabannya apa?” tantang Onew.

“Coklat…!”

“Salah…”

“Kok salah sih hyung? Aku kalo makan coklat pasti tersenyum.”

“Pokoknya salah.”

“Eskrim…” Taemin masih pantang menyerah.

“Salah…”

“Terus apa dong?” tanya taemin menyerah.

“Key… Minho…. Jonghyun…?” tanya Onew

Yang ditanya malah mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Menyerah…., jawabannya….. K I M C H I….!!” Onew tersenyum lebar memamerkan giginya.

“Bener juga…,” bisik Key.

“Hoeks… Hoeks… Hoeks…,” tiba-tiba Jonghyun mual-mual.

“Jong hyung hamil? Siapa yang menghamilin? Sekyung nuna?” Ujar Taemin seenak udelnya.

PLETAK… kepala taemin jadi sasaran tangan Minho.

“Auuuu…!!” seru taemin kesakitan.

“Taemin-ah, Jong hyung nggak mungkin hamil. Mana ada laki-laki hamil?” Minho menjelaskan.

“Ada kok, kemaren aku lihat di film.” Taemin berusaha membela diri.

“Kenapa Jong?” tanya Key, sifat keibuannya mulai keluar.

“… nggak tahu. Setiap melihat wajah Onew hyung kayak tadi bawaannya aku  mual.” Jawab Jonghyun.

“Jadi…, Onew hyung yang menghamili Jong hyung. OH… TIDAAAAKKK!!!” Ujar Taemin histeris hampir pingsan.

“Nih anak… sudah dibilangin laki-laki tidak munkin hamil.” Kata Minho.

“Benar Jong hyung nggak hamil?” Taemin berusaha memastikan.

“IYA…, DIA NGGAK HAMIL.” Key mulai menunjukkan kekesalannya pada Taemin.

“Hey..hey..hey…, kenapa kalian pada berkelamin… eh berkelahi?” tiba-tiba sang manajer datang. “Ayo cepat… waktunya kalian akan perform sebentar lagi.”

Semuanya langsung bergegas kecuali Jonghyun yang kelihatan masih mual-mual.

“Jonghyun ssi, kenapa muka kamu masih dilipat? Bukannya sudah aku bilang tadi untuk disetrika. Cepat sekarang setrika sana…,” sang manajer mulai mengomel.

“Baik hyung,” Ujar Jjong lemas tak berdaya.

***

END

NB : Komentarnya jangan ketinggalan oke!!!!!!

My Hero (You Are My Wonder Girl)

My Hero

Title       : My Hero (You Are My Wonder Girl)

Author   : Fauzi Zoo

Cast       : SHINee-Lee Taemin, Park Kyung Jin,

Other     : SHINee-Onew, SHINee-Key, SHINee-Minho, SHINee-Jonghyun, Leeteuk dan Kyuhun

Length   : OneShot

Genre    : Campuran (gado-gado)

NB        :  Fanfic ini aku persembahkan untuk seseorang yang telah rela dan ikhlas mau menjadi teman pertamaku di “dunia” fanfic. Dia telah memberikanku semangat untuk lebih banyak lagi menulis fanfic. Park Kyung Jin Ssi.. Gamsahamnida.

 Selamat membaca… Continue reading