Tag Archives: Horor

Poci Vs Konci

Author : Park Jihoon

Cast : SHINee, Poci

Lenght : One Shot

Genre : Horor, Komedi

Warning !!! tidak dianjurkan buat yang punya penyakit jantung… Kekeke. (Becanda)

Selamat Membaca…. Continue reading

Advertisements

Home Alone (Seng Il Chukkae My Leader)

Title : Home Alone (Seng Il Chukkae My Leader)

Author : Park Jihoon (Fauzi Zoo)

Main Cast : Onew SHINee

Support Cas : Taemin SHINee, Key SHINee dan Jonghyun SHINee

Genre : Comedy, Horor, Friendship

Lenght : OneShot

Rating : G

Ket.: Sekedar berpartisipasi

Selamat Membaca… Continue reading

Toilet Sekolah

Author : Park Jihoon

Main Cast : Suzy Miss A

Other Cast : Taemin (numpang lewat)

Genre : Horor

Lenght : OneShot

Semenjak aku bangun tadi pagi, perutku rasanya diremas-remas. Di rumah, aku sudah lima kali keluar masuk kamar mandi. Rasanya sungguh menyebalkan. Ditambah lagi hari ini ada ujian. Lengkaplah penderitaanku.

“Apa mungkin karena kemaren aku banyak makan sambel?” Aku hanya bisa meringis setiap rasa sakit itu datang.

Kemaren aku memang sempat makan bakso dengan sambel super banyak. Padahal biasanya nggak pernah aku pake sambel. Tapi kemaren aku kalah taruhan, dan sebagai hukumannya harus menghabiskan bakso yang dituangi sambel dua puluh sendok. Dengan terpaksa, aku berhasil menghabiskan bakso itu. Dan akibatnya baru aku rasakan pagi ini.

“Suzy-ah, kamu kenapa?” Tanya Taemin sebelum ujian dimulai.

“Sakit perut.” Jawabku singkat.

“Sudah minum Obat?”

“Sudah.”

Tak beberapa lama kemudian, bel masuk pun berdering.

Ujian pertama untuk hari ini adalah matematika. Meskipun aku tidak terlalu pandai dalam matematika, tapi aku juga nggak bodoh-bodoh amat. Namun sakit perut ini membuatku tidak bisa berkonsentrasi penuh.

Ditambah lagi pengawas ujiannya adalah Park soensengnim yang tergolong disiplin berat. Kalau beliau yang mengawasi, jangan harap ada siswa yang bisa menyontek ataupun saling tukar jawaban. Tatapan matanya bagai tatapan elang yang sangat sensitif terhadap gerakan sekecil apapun.

Cccrrrruuuttttt…., tiba-tiba perutku kembali berkontraksi.

Aku baru mengerjakan lima soal ketika perutku berkontraksi. Namun aku memutuskan untuk menahannya sekuat tenagaku, karena aku tidak ingin waktuku terbuang percuma.

Keringat dingin mulai membasahi keningku. Perutku semakin lama semakin sakit diremas-remas. Kalau begini terus, ujung-ujung pertahananku bisa jebol. Selain itu, aku juga tidak bisa berkonsentrasi penuh pada soal ujian.

Akhirnya, aku menyerah.

“Park Seonsengnim, saya izin kebelakang.” Aku mengacungkan tangan.

Park Seonsengnim melihat jam tangannya sebelum mengizinkaku. “Silahkan! Waktu ujian kurang enam puluh menit lagi. Jangan terlalu lama.” Park Seonsengnim mengingatkanku.

“Baik.” Jawabku.

Tanpa buang waktu lagi aku langsung menuju toilet sekolah yang berada agak jauh dari kelasku. Tepatnya disamping laboratorium biologi. Aku mempercepat langkahku, antara lari dan jalan, karena aku merasa tidak lama lagi pertahananku bisa jebol.

Sesampainya di toilet, aku langsung masuk ke salah satu kamar toilet. Toilet begitu sepi, seperti biasanya, sehingga aku tidak harus mengantri dan memperkuat pertahananku. Rasanya penderitaanku hilang seketika.

Toilet sekolahku memang tergolong toilet yang bersih, karena ada petugas sekolah yang selalu membersihkannya. Memiliki wastafel dari kemarik putih untuk cuci muka atau sekedar untuk cuci tangan yang didepannya terdapat sebuah kaca besar. Tidak jarang kaca itu selalu digunakan para yoeja untuk memperbaiki tampilan mereka. Atau hanya untuk mengecek pertumbuhan jerawatnya.

Tapi, tidak ada seorang yoeja pun di sekolah ini yang berani ke toilet ini sendirian kecuali aku. Karena berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, toilet ini ada penunggunya. Seorang yoeja muda yang berambut panjang dan tidak memiliki muka alias wajanya rata. Bahkan banyak yoeja di sekolah ini yang telah menjadi korbannya.

Namun semua cerita itu bagiku hanyalah sebuah isapan jempol belaka. Aku tidak pernah percaya ada mahluk yang kayak gituan. Aku pikir yoeja di sekolah ini terlalu termakan cerita horor yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan dulu aku disangka hantu penunggu toilet oleh seorang siswa baru karena rambutku yang panjang ini.

Udara toilet ini begitu lembab dan cahaya lampunya sudah mulai memudar, membuat khayalanku jauh melambung kemana-mana. Dan kebersihan toilet ini membuatku sedikit betah berlam-lama, sebelum aku ingat kalo aku lagi sedang mengikuti ujian.

Ssuuuurrrrr…, terdengar suara air dari kran wastafel di luar.

“Mungkin ada seoarang yoeja yang menggunakannya,” pikirku. Tapi aku tidak mendengar adanya suara langkah kaki yang masuk toilet ini sejak aku masuk tadi. Namun pikiran jelek itu tidak bisa menguasaiku. Siapa tahu pas waktu aku melamun tadi aku tidak mendengar adanya orang masuk.

Tidak lama kemudian aku selesai. Perutku rasanya sudah mulai baikan.

Aku keluar kamar toilet dan mendapati ada seorang yoeja yang sedang mencuci tangan. “Tuh kan pasti ada seorang yoeja yang menggunakan kran wastafel, enggak mungkin air kran bisa ngocor sendiri,” batinku.  Kemudian aku juga ikut membersihkan tanganku di samping wastafel yoeja itu.

Yoeja tersebut begitu khusuk membersihkan tangannya tanpa sekalipun menoleh ke arahku. Aku melirik ke arahnya, tapi tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh rambutnya yang panjang menjuntai hingga punggung. Rambutnya lebih panjang dari punyaku. Bahkan lebih hitam.

Mungkin saja dia adalah siswa kelas lain, karena di kelasku nggak ada seorang yoeja yang panjang rambutnya menyaingi rambutku. Berhubung aku orangnya nggak bisa diam kalo bertemu dengan orang, akhirnya aku menyapa yoeja itu. Meskipun masih agak canggung.

“Sudah selesai ujiannya chingu?” tanyaku sambil membersihkan tanganku dengan sabun.

“Sudah.” Jawabnya singkat. Suaranya begitu halus dan lembut hampir tidak terdengar.

“Wah, hebat. Aku baru ngerjakan lima soal soal tadi.” Ujarku.

Tidak ada pertanyaan dari mulutnya yang terlontar. Dia masih khusuk mencuci tangannya. Dan kesunyian kembali hadir diantara kami.

“Chingu nggak takut ke toilet ini sendirian?” tanyaku kembali. Karena aku tidak melihat ada yoeja lain yang menemaninya.

“Nggak,” jawabanya kembali singakat.

Aku jadi semakin penasaran sama yoeja disampingku itu karena jawabannya selalu singkat dan suaranya halus hampir tidak terdengar. Kemudian aku kembali melirikkan pandanganku ke arah cermin di depan yoeja itu berdiri. Dan aku sangat terkejut karena tidak mendapati bayangannya di dalam cermin.

Sungguh aku baru menyadari kalau di cermin gede itu hanya bayangaku yang terpantul, sedangkan bayangan yoeja di sampingku itu tidak ada. Secara otomatis wajahku menoleh kearahnya. Dan akhirnya aku bisa melihat sebagian wajahnya, karena rambutnya yang panjang itu sedikit tersingkap.

Aku sangat kaget karena yang aku lihat hanya sebuah wajah yang begitu polos, putih pucat dan rata. Tidak ada hidung, tidak ada mulut, dan kedua matanya juga tidak ada. Meskipun rata, namun wajah itu memperlihatkan suatu isarat kemarahan dan keangkuhan.

Kemudian yoeja itu menoleh ke arahku dan kami benar-benar saling bertatapan, ya kami saling menatap satu sama lain. Sungguh, jantungku berdetak sangat cepat hingga rasanya mau berhenti. Mulutku hanya bisa terbuka lebar tanpa bisa megucapkan sepatah kata pun. Kaki dan tangan ku tak bisa digerakkan seperti terbelenggu begitu kuat. Nafasku seperti berhenti di kerongkongan. Aku benar-benar merasa berada diantara dua dunia.

KKYYYYAAAAAAAAAAAA…..

Tiba-tiba suaraku bisa keluar dengan lantang, rasanya urat leherku mau putus. Mulutku terbuka begitu lebar hingga otot-otot pipiku terasa mau putus. Kedua kakiku seakan tidak kuat lagi menopang tubuh ini. Dan mataku secara otomatis memejam sekuat-kuatnya, hingga rasanya bola mataku terjepit begitu kuat. Dan,

BRRRUUUKKKK…

Aku terjatuh, dan kegelapan langsung menguasaiku. Benar-benar gelap.

END.

D’Jelangkung

Author : Park Jihoon

Genre : Horor, Komedi plus Geje (?)

Lenght : OneShot

Cast : All SHINee (Onew, Key, Taemin, Jonghyun dan Minho)

“Huuffftt…, kota Seoul benar-benar panas membara. Seperti neraka saja.” Onew mengempaskan tubuhnya di atas sofa.

Sehabis latihan drama musikal, Onew langsung pulang ke asrama karena tidak ada lagi jadwal yang harus di tunaikannya. Sedangkan para member SHINee yang lainnya sejak dari tadi pagi nungguin asramanya takut kena gusur satpol PP. Maklum belakangan ini penggusuran oleh satpol PP merajalela (ini di korea apa di Indonesia?).

Jonghyun, sejak bangun tidur sampai berita ini diturunkan (?) masih ngulet-ngulet di tempat tidurnya hampir menyerupai ulat bulu. Dia masih tertekan karena akibat ulah skandalnya dengan Sekyung diketahui orang sekampung. Bahkan para blinger mengancam akan memboikot setiap acaranya jika mereka tidak diberi uang dan sembako.

Minho, menghabiskan pagi dengan bersemayam di sarangnya, tempat tidur. Bahkan dia dengan sukses berhasil menggambar pulau Jaeju di atas bantalnya dengan menggunakan ilernya yang menggemaskan. Setelah bangun dia langsung bersemangat untuk olahraga (baca:lari pagi), tanpa cuci muka, tanpa gosok gigi bahkan tanpa celana (baca : calana panjang >>> takutnya reader salah sangka). Namun ketika membuka pintu, ternyata matahari telah memolototinnya dengan garang dan segorombolan burung yang bertengger di depan asrama begitu riuh bergosip ria. Ciut ciiitt  cicicitttcicucicutccit….cicicicictttt (artinya : ada yang mau lari pagi tapi kesiangan…. kasihan dech lo). Akhirnya Minho membatalkan lari paginya dan melanjutkan latihan menggambar pulau Jaeju di atas sofa.

Taemin, member yang paling muda ini banyak digemari kaum hawa karena wajahnya yang imut-imut –padahal masih imutan author. **huuuu…. author diteriakin seluruh penghuni wp** Hobinya makan eskrim hingga blepotan kemana-mana. Sepagi ini dia telah menghabiskan eskrim satu lemari es dua pintu. Untung lemari esnya nggak ikut di emut.

Key, member yang satu ini memang member yang paling rajin, tidak sombong, baik hati dan tidak suka menabung (sukanya belanja sih). Pagi ini, setelah bangun dia langsung bersih-bersih asrama mulai dari nyapu, nyuci piring, ngepel, nguras bak mandi dan nyabutin rumput yang bergoyang. ***ini member SHINee apa pembokat ya?*** Pantaslah kalau Key dipanggil umma sama member yang lainnya. Setelah selesai beres-beres dia langsung menuju dapur dan masak. **kayaknya bener-bener pembokat >>> author dirajam lockets**

“Hyung…, mau eskrim? Kalo panas-panas gini enaknya makan eskrim loh?” Taemin menghampiri Onew dengan membawa semangkok eskrim. Mulutnya masih dipenuhi dengan eskrim.

“Gumawo min-ah,” ujar Onew. “Min-ah, kalo kamu makan eskrim harus sampe blepotan gitu?” Onew menunju-nunjuk ke arah mulut taemin yang blepotan.

“Ne Hyung, itulah seninya makan eskrim.” Taemin nyengir kuda memamerkan giginya yang dipenuhi lapisan eskrim.

“Minho-ah, sampai kapan kamu mau menggambar pulau Jaeju?” Onew menarik kaki minho hingga menggelosor ke lantai. Dan BUK…

“Aaaaa…., Hyung mengganggu aja. Aku lagi mimpi enak nih.” Ssrruuutttt… minho berhasil menyelamatkan ilernya yang hampir menetes. Dan kembali ke atas sofa dengan nyawanya yang belum lengkap.

“Oh ya, Key dan Jjong kemana?” tanya Onew.

“Key-hyung tadi aku lihat di dapur,mungkin sedang masak. Maklumlah bakat pembokatnya lagi menggebu-gebu kalo nggak disalurkan ntar malah ngomel-ngomel mulu. Kalo si Jjong-hyung hampir jadi kepompong tuh di kamarnya. Kayaknya dia semakin tertekan setelah digrebek sama pak RT kemaren.” Jawab taemin.

“MAKANAN TELAH SIAP…!!!” Key berteriak dari dapur.

“Taemin-ah, cepat kau bangunin si Jjong!” pinta Onew Pada Taemin.

Beberapa saat kemudian mereka telah berkumpul di meja makan.

These is it…. menu makan siang ala Cheif Key-SHINee…” kata Key menirukan gaya Faraquin.

Tanpa banyak cincong dan bacong lagi mereka menyantap makan siangnya. Semuanya terlihat makan dengan penuh nafsu seperti orang nggak makan tujuh hari tujuh malam kecuali si Jjong. Dia masih teringat kenangan buruknya digrebek pak RT saat berduaan dengan sekyung.

“Jjong…, makanannya nggak enak ya?” tanya Key dengan mengeluarkan tatapan lucifernya.

“Eeehhh…., enak kok.” Jawab Jjong ketakutan. Tidak ada satupun member SHINee yang berani bilang tidak enak pada masakan Key, karena jika itu terjadi maka jurus “amukan wedhus gembel” Key akan keluar.

“Oh ya, ntar malem malem jumat kan? Dan kita juga enggak ada kagiatan kan?” tanya Onew.

“Ne.. Hyung.” Jawab  Minho diikuti anggukan kepala yang lainnya.

“Gimana kalo kita main jelangkung?”

“APA… MAININ SEKYUNG? ANDWAEEEE…” teriak Jjong dengan nada setinggi-tingginya membuat yang lainnya kaget dan jantungan. pendengaran Jjong sedikit terganggu, itu adalah tanda-tanda terserang virus cinta.

PLETAK…, Centong nasi melayang dari tangan Key ke wajah Jjong.

“Aigoo…, bukan Sekyung tapi Jelangkung,” Ujar key. “Makanya otak tuh jangan diisi Sekyung melulu.” Jjong hanya cengengesan mendengar penjelasan Key.

“Jelangkung? Apanya eyang kakung?” tanya Taemin.

“Jelangkung itu sodaraan sama eyang kakung dan sepupuan sama kangkung,” jawab Minho sotoy.

Taemin manggut-manggut dah kayak orang ngerti aja.

PLETAAAKKK…, tangan Onew mendarat di kepala minho membuat minho meringis menahan sakit dan derita.

“Sotoy…, Jelangkung itu permainan yang melibatkan mahluk halus dengan menggunakan media semacam boneka dan berasal dari Indonesia.” Onew meralat jawaban Minho yang sangat amat ngaur sekali.

“Omo… mahluk halus,” ujar Jonghyun lirih.

Tiba-tiba Jonghyun dan Key mengarahkan pandangannya ke atas.

Jjong+Key : thor…, boleh nggak kita nggak ikutan?

Author : Emang kenapa?

Key : Entar pasti ada pocongnya sama kuntilanaknya kan? Aku sama Jjong dah sering ketemu gituan di fanfic-fanfic yang tidak bertanggung jawab. Kita nggak mau sengsara dan menderita lagi. Sudah cukup kita terkencing-kencing di celana, menjerit hingga mirip kuda binal, pingsan berulang-ulang dan lari terbirit-birit mirip bencong dikejar satpol PP.

Author : Kalian trauma ya?

Jjong : Bukan trauma lagi…

Author : Tenang aja disini kalian nggak akan bertemu pocong maupun kuntilanak kok. Author jamin pake KTP. Tapi lain kali maukan ketemu sama pocong dan kuntilnak lagi

JjongKey : Author sarap…!!!

Back to cerita…

“Wah… kayaknya seru nih,” Ujar minho. “Aku ikutan hyung.”

“Taemin-ah kamu ikut kan?” tanya Onew

Taemin hanya mengankat jempolnya, tanda setuju. Karena mulutnya masih dipenuhi makanan.

“Jjong, Key…?” Onew mungalihkan pandangan pada JongKey.

“Ya dech, kita ikutan coz authornya yang sarap itu sudah janji nggak akan munculin pocong dan kuntilanak.” Key mengiyakan. Jjong pun setuju.

“Siiipp… kalian memang member yang tidak pernah mengecewakan.” Onew terlihat senang dengan jawaban membernya.

“Tempatnya dimana hyung? bukannya kalo main jelangkung itu harus di tempat yang menyeramkan?” tanya Minho.

“Di asarama ini aja. Bukannya Asrama ini terlihat menyeramkan?” jawab Onew. Dan yang lainnya langsung menyetujuinnya sebelum Onew berubah pikiran.

“Terus…, Taemin-ah kamu yang bikin jelangkungnya ya!” Pinta Onew.

“Mo… aku kan nggak tahu jelangkung. Minho-hyung aja… dia kan akrab dengan jelangkung dan sodara-sodaranya.” Taemin sedikit keberatan.

Onew mengarahkan pandangannya pada Minho. Minho dengan mata genitnya memberikan tanda penolakan pada Onew. Kemudian Onew melihat kearah Key, namun sayang tatapan lucifer key membuat Onew mengkerut. Jjong…?? mukanya sudah penuh derita, makanya Onew enggak tega melihat membernya yang satu ini.

“Taemin-ah, kamu ingat peraturan SHINee nomer tiga? Keputusan Leader tidak bisa diganggu gugat.” Ujar Onew.

“Tapi…,”

“Enggak ada tapi, kalo kamu belum tahu Jelangkung kan bisa cari refrensi dari internet. Cari aja di mbah google.” Kata Onew sebelum Taemin sempat mengajukan alasannya.

“Baiklah hyung…,” akhirnya taemin pun menyerah.

Kemudian mereka melanjutkan acara makan siangnya sebelum Key mengamuk dan mengeluarkan jurus ‘wedhus gembelnya’ karena makan sambil ngobrol. Sebuah permaian yang memerlukan nyali yang sangat besar telah ditetapkan oleh para member SHINee padahal mereka tidak tahu permainan apa sebenarnya yang telah menanti mereka.

***

Taemin POV

Aish.. onew hyung memang selalu pilih kasih. Kalo masalah kayak ginian aja, pasti aku yang kena. Coba kalo acara makan-makan maupun minum-minum, pasti aku yang dihubunginnya paling akhir. Alasannya klasik, umurku yang selalu dijadikan alasan. “Teamin-ah kamu kan masih dibawah umur,” itulah salah satu senjatanya. Aku sempat berpikir, apa mungkin Onew-Hyung mau balas dendam karena kekalahannya pada polling yang dulu. Saat kita bikin polling ‘siapa diantar member SHINee yang paling cute?’ dan akulah sebagai  pemenangnya dan yang paling bontot nilainya adalah Onew-Hyung. Akhirnya Jadilah Onew-hyung sebagai pembokat kami selama satu minggu. Masa-masa yang menyenangkan.

Sesuai dengan instruksi Onew-Hyung, akhirnya aku datang ke mbah google. Meskipun awalnya hatiku masih dongkol pada Onew-hyung. Tapi anehnya aku nggak bisa dongkol sama Onew hyung lama-lama, mungkin dia pake pelet pengasih. Ah.., ntar aku tanya sama Ki Joko Pabo ah…( berhubung di korea jadinya Ki Joko Pabo, bukan Ki Joko Bodo).

Setelah aku memasukkan kata ‘jelangkung’ ternyata muncul berbagai banyak pilihan. Aku bingung, aku kan nggak ngerti bahasanya. Akhirnya aku putuskan untuk melihat gambarnya saja, mengambil gambar foto yang paling menyeramkan.

Melihat foto-fotonya malah membuatku semakin bingung, bukan karena jelangkungnya. Tapi bahan-bahan untuk membuatnya, karena yang aku lihat tadi di internet jelangkung itu menggunakan batok kelapa. Sedangkan disini, di asrama SHINee, mana ada barang kayak gituan.

Tapi, akhirnya aku menemukan barang yang bisa aku gunakan untuk membuat jelangkung. Sedikit inovasi disana-sini pasti lebih bagus. Di tempat cucian kan banyak barang-barang yang bisa dipakai ulang. Yah sekalian menyelamatkan bumi dari pencemaran, sekarangkan banyak yang go green untuk mengurangi pemanasan global.

Tanpa menunda-nunda lagi aku pun langsung membuat jelangkung. Dan permainannya akan segera dimulai

***

Sekitar jam 23.30 waktu setempat, sesuai dengan waktu yang telah disepakati, para member SHINee telah berkumpul di ruang tengah asrama. Semua lampu telah dimatikan untuk menciptakan suasana semakin angker dan hanya sebatang lilin di atas meja yang masih dibiarkan menyala.

Kemudian Onew membawa lilin tersebut dan meletakkannya di lantai. “Oke, semuanya duduk mengelilingi lilin ini,” pinta Onew sambil membenarkan posisi lilin.

Semuanya langsung duduk melingkar mengelilingi lilin yang berada di tengah-tengah. Wajah Onew dan Minho begitu antusias menunggu permainan ini. Sedangkan wajah Jjong dan Key masih menyiratkan sebuah ketidak percayaan pada author, JongKey was-was akan adanya kemunculan si ponci (pocong) dan si Kunti (kuntilanak). Sedangkan Taemin tak menunjukkan ekspresi apapun, dia malah sedang asik ngemut eskrim yang terakhir untuk hari ini.

“Ohya… ini mantra jelangkungnya.” Onew menyerahkan sepotong kertas yang tertuliskan sebuah mantra. “Entar kalian ikutin aku aja ya! Oh ya… Taemin-ah mana jelangkung nya?”

“Hehehe… maaf hyung ketinggalan di sana. Entar aku ambil dulu ya.”

Kemudian taemin beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil hasil karyanya. Taemin begitu antusias dan telah siap menerima pujian dari para hyungnya karena hasil karyanya yang terlihat begitu menyeramkan. “Pasti hyung akan memujiku atas karya yang luar biasa ini,” gumam Taemin saat memegang hasil karyanya.

JRENGGG…. JRENGGG….JRENGGG… ***suara instrumen dari dunia gaib***

These is it…, jelangkung tumis kangkung ala cheif Taemin-SHINee.” Ujar Taemin menirukan gaya Faraquin, lebih tepatnya meniru gaya umma Key.

Semuanya langsung terpesona melihat jelangkung hasil karya Taemin. Onew melihatnya tanpa berkedip sedikitpun. Jjong yang dari awalnya bermuka masam tiba-tiba aura positifnya bertaburan, membuat wajahnya berbling-bling ria. Key mengalami hal yang sama, tiba-tiba bakat pembokatnya langsung mengebu-gebu ingin secepatnya disalurkan. Sedangkan wajah Minho yang sudah kusut berubah tambah kusut.

Mereka semuanya tertuju pada tulisan yang berada di kain yang berbentuk segitiga di tubuh jelangkung. Onew medekatkan boneka jelangkung tersebut ke arah lilin untuk memastikan tulisannya. JjongKey juga mendekatkan pandangannya pada boneka jelangkung tersebut tidak ingin ketinggalan, keculi minho. Setelah benar-benar telihat dengan jelas, tulisan itu C H O I – M I N H O.

WAKAKAKAKAKAKAKAKAKA…, semuanya tertawa terguling-guling bahkan Onew sampe menungging-nungging segala. Jjong bahkan bisa melupakan masalah mengenai penggerebekan dirinya. Key langsung lari ke dapur dan langsung menyalurkan bakat pembokatnya, karena sudah tidak bisa ditahan lagi.

Taemin tidak menyangka reaksi yang begitu heboh dari hyung-hyungnya, padahal dia hanya menggunakan bahan daur ulang. Dia menggunakan kain-kain yang tidak dipakai kemudian dikumpulkan dan dibuat bulat dengan kain yang lebih lebar. Kepalanya itu kemudian disambungkan dengan sebuah spidol hitam. Sedangkan badan dari jailangkung itu menggunakan kain yang berbentuk segitiga (Baca : CD alias Celana Dalam).

PLETAAAKKKK…., tangan minho mendarat di kepala Taemin.

“Taemin-ah, kenapa kamu menggunakan CDku?”

“Lah, aku kirain sudah enggak dipake lagi sama minho-hyung. Sayang kan kalau tidak dimanfaatkan. Soalnya aku nyari kain yang nggak kepake, nggak ada.” Jawab taemin sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“Mana jelangkunya onew-hyung, aku ganti dengan kain yang lain!”

“Pake ini juga nggak apa-apa, kita dah enggak ada waktu lagi.” Ujar Onew sambil menahan tawanya.

“Tapi hyung…,”

“Ingat peraturan SHINee nomer tiga, Keputusan leader nggak bisa diganggu gugat.” Kata Taemin tersenyum penuh kemenangan mutlak. Minho menyerah dan menerima dengan hati yang tidak ikhlas.

“Gimana hyung kalo hantunya ntar menyukai aromanya…, pasti dia bakalan menghantuiku untuk selamanya.” Minho menggerutu nggak jelas.

“Oke semuanya kembali ke posisinya masing-masing, kita akan mulai permainannya.” Kata Onew.

Dalam waktu singkat mereka telah kembali ke posisinya masing-masing. Tangan kiri mereka megang kertas yang berisi mantera sedangkan tangan kanan mereka memegangi badan teman yang ada di sampingnya, kecuali Onew yang memegang jelangkung. Di bawah jelangkung telah disiapkan papan putih.

“Semuanya dah siap? Jika ada reaksi jangan ada satupun dari tangan kalian yang melepaskan pegangannya. Jika tidak makan hantu tersebut tidak akan bisa kembali ke alamnya dan akan menghantui kita untuk selamanya.” Onew mengingatkan.

“Ya… kami siap Hyung?” jawab mereka bersamaan.

Meskipun ada sedikit kekhawatiran yang tertangkap di wajah mereka, namun mereka tetap melanjutkan permainanya. Dan dengan kompak mereka melafalkan manteranya.

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

Tidak ada reaksi, jelangkung masih diam.

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

“ Jelangkung jelangkung disini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar.”

Tiba-tiba jelangkung mulai bergerak. Onew merasakan adanya kehadiran arwah yang menempati boneka yang dipegangnya itu. Sedangkan tangan-tangan yang lainnya merasakan adanya sebuah hawa hangat yang mengaliri tubuhnya.

“Oke aku akan memulainya,” ujar Onew. “Nama kamu siapa?”

Jelangkung itu menuliskan sesuatu… H….O…..E….K….S….

Taemin, Jjong, Key, Minho dan Onew saling melemparkan pandangan satu sama lain. Tidak mengerti apa yang dimaksud si jelangkung.

“Nama anda H O E K S,” onew melafalkan dengan perlahan.

Jelangkung itu menulis kembali, H….O…..E….K….S….

Onew dan teman-temannya semakin bingung. “Maksud anda….?”

Kemudian si Jelangkung menulis dengan cepat membuat Onew kewalahan. Tenaga Onew benar-benar terkuras dan mengeluarkan banyak keringat. Beberapa saat kemudian si Jelangkung itu berhenti bergerak. Onew tidak lagi merasakan kehadiran si mahluk halus itu. Kemudian Onew membaca apa yang tertulis di papan.

Dasar bodoh…, kalian menggunakan media apa ini baunya busuk buangggeeetttt membuatku muntah-muntah. Untuk kali ini kalian aku maafkan tapi jika kalian mengulangi seperti hal ini lagi, kalian akan aku bunuh. Sampai jumpa… HOEKS”

WAKAKAKAKAKAKA…, mereka kembali tertawa sampe terjungkal-jungkal menyadari apa yang simaksud si hantu.

“Hahaha… Choi Minho, CD mu ternyata busuk banget. Hantu saja dibuatnya muntah-muntah.” Ujar Onew diikuti dengan tawa yang lainnya.

“Minho-Hyung…. keren Hantu aja sampe muntah-muntah nggak ketulungan.” Kata taemin sambil memegangi perutnya.

Sedagkan JjongKey masih terguling-guling, sampai tulisan ini berakhir (?) mereka masih juga terguling-guling. Tinggal ditusuk aja trus dibakar, jadilah JjongKey guling.

“Mimpi apa aku semalam sampe teraniaya begini…, dasar hantu sialan pake acara muntah segala.” Wajah Minho semakin kusut.

END.

So… jangan lupa komen… bukan Komeng ya apa lagi ditambah Adul.

Lost

Author : Fauzi Zoo/Park Jihoon

Genre : Horor (Mianhe kalo kurang menyeramkan)

Rating : PG15

Lenght : OneShot

Cast : FT Island (Lee Hongki, Lee Jaejin, Choi Junghun, Choi Minhwa, dan Song Seunghyun)

NB : Ini adalah fanfic hororku yang pertama, so… semoga kalian pada suka. Saran dan Komennya tetap ditunggu…. kalo jelek.. .bilang aja, jangan sungkan2 OK!!!!

Matahari telah masuk ke peraduannya meninggalkan berkas sinar jingga yang menghias langit di salah satu daerah bagian korea selatan. Perlahan namun pasti cahaya jingga itu semakin menggelap dan menghilang. Awan jingga kembali kewujud awalnya yaitu putih. Suara burung-burung hutan lenyap ditelan gaduhnya suara serangga malam yang mulai berisik.

Sinar bulan mulai menggantikan sinar matahari, sinarnya begitu lembut. Bulan menunjukkan bentuknya yang  begitu sempurna, bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan mengelilingi sang rembulan. Pemandangan yang terlihat begitu sempurna, tak akan ada yang bisa menandinginya. Keindahan di malam hari itu terkadang seperti fatamorgana di gurun pasir, memperlihatkan keindahan namun tersirat suatu kengerian yang begitu menakutkan.

“Hyung, gimana nih?. Hari sudah gelap tapi mobil brengsek ini tetep nggak mau jalan.” Tanya Jaejin pada Hongki yang mulai kesal. “HP juga nggak bisa digunakan, nggak ada sinyal. Kenapa hari ini aku begitu sial.”

Mobil yang dikendarain anggota FT Island, Hongki, Jaejin, Jonghun, Minhwa dan Seunghyun tiba-tiba mogok di tengah hutan saat perjalanan pulang menuju seoul. Berhubung tidak ada satupun dari mereka yang mengerti mengenai mesin mobil, akhirnya mereka membiarkannya begitu saja. Mereka menunggu orang yang lewat untuk dimintai bantuannya, namun hingga malam tiba tak ada satupun kendaraan yang lewat.

“Aku juga bingung.” Jawab Hongki. “Mungkin kita harus menunggu seseorang, siapa tahu ada mobil yang lewat jalan ini.”

“Kalo nggak ada yang lewat gimana hyung? Masak kita harus menunggu semalaman ditengah hutan gini.” Jonghun mulai khawatir.

“Coba aku lihat, siapa tahu aku bisa memperbaikinnya.” Minhwa mengusulkan diri, meskipun belum pernah sekalipun ia berurusan dengan mesin mobil.

Beberapa saat kemudian

“Coba hyung hidupkan mobilnya!” Pinta Minhwa pada Hongki.

Brreeetttttt…brrreeettttt…..bbbreeeetttt…, mobil tetap tidak mau hidup.

“Min-ah, tetap nggak mau hidup. Sudahlah, kita nunggu orang lewat saja. Dari pada setres. Kalaupun malam ini nggak ada mobil yang lewat, besok pagi pasti ada yang lewat.” Ujar Hongki.

“Hong-hyung, kok kamu bisa ngomong seperti itu seakan kita tidak masalah menginap di sini. Ini hutan… hyung. Coba kalo ada hantu atau hewan buas, bisa-bisa nyawa kita melayang.” Seunghyun yang dari tadi diam mengungkapkan kehawatirannya.

“Tanang aja Seung-ah, tidak mungkin ada binatang buas di tempat beginian.” Ujar Hongki berusaha menenangkan meskipun di dalam lubuk hatinya mulai merasakan suatu kecemasan.

“Kalau tahu akan jadi seperti ini mendingan aku ikut manajer-hyung tadi naik pesawat ke seoul.” Seunghyun merebahkan tubuhnya di kursi mobil.

Suasana kembali hening. Wajah mereka mengisyaratkan kekesalan dan kecemasan, tapi kemudian larut dalam pikirannya masing-masing.

5 jam sebelumnya…

Setelah syuting terakhir video clip selesai semuanya terlihat sibuk membereskan peralatan. Termasuk juga dengan sang bintang, FT Island. Mereka terlihat sangat puas terhadap hasil yang telah mereka lakukan.

“Hyung, tiga hari kedepan kita libur kan?” Tanya Hongki pada sang manajer.

“Yup libur.” Sang menajer manganggukkan kepala.

“Siiipp… berarti kita jadi pulang pake mobil dong, ne… hyung?” Ucap Jaejin.

“Apa??? Kalian pulang naik mobil? Bukannya kita akan pulang bersama naik pewasat. Nih tiketnya dah aku pesankan.” Sang menajer terkejut dengan rencana Hongki dan Jaejin.

“Ne hyung, kita rencananya akan pulang bareng naik mobil. Ini kuncinya.” Hongki memperlihatkan sebuah kunci mobil pada manajernya.

“Memang kalian tahu jalan? Trus… perjalanan dari sini ke Seoul melewati sebuah hutan, yang kata orang sedikit angker. Apa kalian tidak takut?”

Jaejin sempat menatap kearah Hongki, tatapannya menyiratkan keraguan. “Ah hyung, sekarangkan dah ada GPS jadi kita nggak mungkin tersesat. Trus jaman sekarang masih percaya dengan cerita begituan?? Dah nggak jamannya.” Hongki meyakinkan manajernya.

“Hongki yung, kita juga ikut dong!!” ujar Junghun, mewakili Minhwa dan Seunghyun. “Sekali-kali kita juga mau bersenang-senang bersama Hyung.”

“Baiklah kalo begitu. Tapi ingat tiga hari lagi kita ada jumpa pers dan lounching video clip.” Ujar sang manajer.

“Siap Hyung, manajer hyung memang baik deh.” Ujar Hongki dengan gaya Jeremi.

***

Malam semakin larut, udara semakin dingin dan lebab membawa uap-uap air hasil respirasi penghuni hutan. Rembulan bersinar tepat di atas kepala, sinarnya begitu lembut menerpa setiap inchi dedaunan, bebatuan dan tanah lapang. Suara-suara serangga malam semakin asyik mendendangkan lagu kengerian.

AAAUUUUUUUU………

“Hyung…, suara apa itu?” Jaejin terperanjat dari tempat duduknya.

“Bukannya itu lolongan serigala,” ujar Seunghyun.

Sebuah lolongan suara serigala membangunkan semua member FT Island dari pikirannya masing-masing. Rasa kecemasan dan kehawatiran tiba-tiba menyelimuti wajah mereka. Dan secara naluriah meraka berusaha untuk mencari tempat yang paling aman di dalam mobil.

“Hong-hyung… jangan diam dong. Gimana nich kalo serigala itu datang kesini? Mobil ini nggak bisa melindungi kita. Bisa-bisa kita menjadi santapan serigala-serigala itu.” Minhwa semakin diliputi kehawatiran.

“Tenang…, dalam kondisi seperti ini kita harus tenang.” Ujar Jonghun sebagai leader berusaha menenangkan para membernya.

“Kita hanya memiliki dua pilihan,” Ujar Hongki setelah lama berpikir. “kita tetap tinggal disini dan menjadi santapan serigala, atau kita jalan kaki menyusuri jalan hingga keluar dari hutan ini.”

“APA…? jalan kaki keluar dari hutan ini? Hyung jangan bercanda.” Minhwa mulai emosi. “Ini semua gara-gara hyung.” Gerutunya kemudian.

“AHH… salah aku?” Hongki tidak terima. “Min-gun, aku nggak pernah ngajak kamu untuk ikut, tapi kamu sendiri yang minta. Ingat itu! Jadi jangan sampai mengatakan kalo ini semua salahku. Sekali lagi kamu mengatakan itu, jangan salahkan aku jika ini mendarat di wajahmu.” Kata Hongki dengan menunjukkan kepalan tangannya tepat di depan wajah Minwah.

“Hyung, tenanglah. Jangan terpancing emosi gitu. Kita disini memiliki kondisi yang sama. Mungkin mihnwa tadi sedikit tertekan.” Jaejin berusaha menenangkan Hongki.

AAAUUUUU…….

Lolongan serigala kembali terdengar dan suaranya semakin mendekat. Kehawatiran terlihat di wajah mereka. Sinar rembulan yang jatuh menerpa wajah mereka membuatnnya terlihat begitu pucat ketakutan. Jantung bertedetak semakin cepat memompa darah ke ujung-ujung kapiler pembuluh darah. Keringat dingin mulai mengalir jatuh dari pelipis.

Mereka menggeliat dari tempat duduknya berusaha untuk mendekatkan diri satu sama lainnya, mencari perlindungan. Secara spontan mereka mengarahkan pandangannya kesetiap penjuru bibir hutan. Memperhatikan setiap gerakan yang mencurigakan. Di dalam hutan terlihat begitu gelap, sinar rembulan tidak mempu menerobos dedaunan yang begitu pekat.

“Kita harus cepat-cepat pergi dari sini, jika tidak bisa-bisa serigala itu akan menghampiri kita disini dan hal itu akan membahayakan keselamatan kita. Dan yang membuatku khawatir, serigala itu biasanya berburu secara berkelompok.” Jonghun menyarankan pada semua member. Suaranya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam.

“Aku setuju,” Ujar Jaejin.

“Minhwa…?” tanya Jonghun.

“Aku juga setuju. Aku enggak mau menjadi santapan serigala liar.”

Dan semuanya sepakat untuk meninggalkan mobil mereka dan berjalan kaki menyusuri jalan hingga keluar dari hutan. Mereka langsung membereskan barang-barang mereka masing-masing dan membawa semua bekal makanan dan minuman yang terdapat di mobil. Karena mereka tidak tahu seberapa jauh jarak yang harus mereka tempuh. Barang yang tidak terlalu penting mereka tinggalkan di mobil untuk mengurangi beban selama perjalanan.

Ketika mereka sedang asyik membereskan barang-barang yang akan dibawanya, terlihat beberapa pasang mata yang mengawasi mereka dari dalam hutan. Mata itu besinar terang, seperti mata kucing di malam hari, namun penuh dengan nafsu ingin membunuh. Tapi para member FT Island tidak menyadarinya kalau mereka sedang diawasi.

Kresek…kresek…kresek…

Jaejin menyadari adanya suara dari dalam semak hutan dan melihat ke arah datangnya suara itu. Alangkah terkejutnya saat Jaejin melihat beberapa pasang mata yang begitu terang penuh dengan nafsu ingin membunuh menatap kearahnya. Tiba-tiba tubuhnya langsung tidak mampu ia gerakkan beberapa saat.

“Hyung, kayaknya kita sudah terlambat. Mereka datang.” Jaejin menarik-narik baju Jonghun dengan tatapan masih mengarah jauh ke dalam hutan dimana mata-mata itu memperhatikannya. Suaranya terdengar seperti orang putus asa.

Mendengar perkataan Jonghun lantas membuat semua member menghentikan aktifitasnya dan memandang aneh kearah Jonghun. Melihat Jonghun masih menatap lurus jauh ke dalam hutan, otomatis yang lainnya juga mengikutinya. Dan semuanya langsung mengalami reaksi yang sama dengan Jaejin, terkejut, terpaku dan ketakutan yang sangat luar biasa sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya ketika melihat beberapa pasang mata itu.

Wajah mereka seketika itu berubah seperti tidak dialiri darah sedikitpun, terlihat begitu pucat. Ketakutan yang dikhawatikan sebelumnya seakan menjelma seperti malaikat maut yang siap untuk merenggut nyawanya.

Beberapa pasang mata itu mulai mendekat kearah mereka, keluar dari hutan. Ketika mereka sampai dibibir hutan, sinar rembulan memperlihatkan sosok pemilik mata yang mengerikan itu dengan jelas yaitu serigala liar. Warna bulu serigala itu gelap hampir hitam, tubuhnya besar, taringnya telihat putih mengancam dan sangat menakutkan.

“Satu, dua, tiga,…. dua puluh, dua satu, dua dua…, hah sialan… lebih dari tiga puluh.” Ujar Jonghun dengan memperkecil suaranya.

“Hyung… gimana nich? Aku nggak mau mati.” Kata Minhwa penuh keputusasaan.

“Kita harus cepat pergi dari sini.” Ujar Seunghyun.

“Tunggu…!” Hongki menarik lengan Seunghyun. “Kita jangan melakukan gerakan sembarang, bisa-bisa mereka akan langsung menyerang kita secara brutal dan mecabik-cabik tubuh kita sebelum kita sempat menyelamatkan diri. Kita harus hati-hati dalam mengambil tindakan.”

“Benar, kalo kita bertindak  gegabah, mampuslah kita.” Jonghun menyetujui pendapat Hongki.

Dengan perlahan-lahan mereka mengambil bekal yang telah dimasukkan ke dalam tas dan mencangklongkan tas tersebut ke pundaknya masing-masing. Mereka mulai menjahui mobil mereka dengan gerakan hati-hati dan diusahakan tidak menimbulkan suara yang dapat mengundang agresifitas serigala itu. Suasananya benar-benar terasa sangat mencekam.

Sedangkan serigala itu tetap mengawasi mereka dengan tatapan matanya yang tajam dari bibir hutan. Seakan mereka mempelajari gerak-gerik segerombolan manusia itu. Serigala itu  juga tidak mau mengambil resiko yang terlalu besar dalam setiap perburuannya dan menyebabkan kematian para anggotanya. Semakin lama semua serigala yang berada di dalam hutan itu keluar dan menunjukkan wujudnya di bawah sinar rembulan

Perlahan namun pasti Hongki dan yang lainnya menjahui sekelompok serigala itu. Kaki mereka seakan sulit untuk dilangkahkan karena terlalu dilanda oleh ketakutan yang tidak tanggung-tanggung. Minhwa terus menggigit-gigit ujung kukunya untuk menghilangkan kecemasannya yang telah menguasai setiap sel tubuhnya.

“LAAARRRRRIIIIIIIII……!!!”

“LAAARRRRRIIIIIIIII……,” Teriak Hongki saat mereka merasa aman untuk menyelamatkan diri.

Semuanya langsung mengambil langkah seribu setelah mendengar komando dari Hongki. Mereka mengerahkan semua kekuatan dan stamina yang mereka miliki untuk menjahui maut. Tas di punggung mereka sedikit membebaninya, tapi mereka tidak akan pernah melepaskannya karena di dalam tas itulah kehidupan mereka pertaruhkan.

Serigala-serigala yang tadinya hanya diam mengawasi, langsung beraksi dan mengejar buruannya. Mereka mengejar dengan diikuti salakan suaranya yang memecah keheningan malam. Air liurnya menetes melalui sela-sela gigi taringnnya.

Seunghyun terus mempercepat langkah kakinya, karena dia berada di posisi paling akhir. Dan serigala-serigala itu tepat menyalak dari arah belakangnya. Dan hal itu akan mempermudah bagi serigala-serigala itu untuk menerkam Seunghyun dari arah belakang. “Sialan…, aku nggak mau mati disini.” Bisik Seunghyun untuk menyemangati dirinya sendiri. Senghyun kembali mempercepat langkahnya.

BUUUUKKKK…

Sial bagi Seunghyun, dia tersandung oleh kakinya sendiri dan jatuh tersungkur. Aspal jalan menggerus beberapa bagian kulitnya dibagian mukanya hingga mengeluarkan darah segar. Tapi Seunghyun tidak mengubrisnya dan berusaha untuk kembali bangkit karena salakan serigala itu semakin mendekat. Namun sebelum sempat bangkit kembali, tiba-tiba Seunghyun merasakan ada benda tajam yang merobek daging di daerah tungkainya.

“Aaawwwwww……,” Seunghyun menjerit kesakitan.

Seunghyun berusaha untuk menghajar serigala yang telah merobek kakinya dengan melemparkan tasnya, namun serigala itu berhasil menghindar dan melepaskan gigitannya. Seunghyun masih berusaha lari meskipun dengan kaki terpincang-pincang. Setiap kakinya digerakkan, rasa perih seperti tertusuk benda tajam ia rasakan.

“Minhwaa….., Hyung…. toloooonnggg.” Seunghyun mengelurkan semua kekuatanya untuk minta pertolong. Namun jarak dia dengan yang lainnya sudah terlalu jauh dan salakan serigala yang begitu memekakan telinga membuat teriakannya sia-sia.

Hanya beberapa langkah saja kakinya digerakkan, kressskkk, taring srigala yang tadi kembali merobek kakinya. Seunghyun berusaha melawan dengan mengarahkan tendangan kakinya yang satunya, tapi serigala yang lainnya telah terlebih dahulu menancapkan taringnya. Dalam waktu sekejab Seunghyun telah dikerubutin oleh segerombolan serigala dari berbagai penjuru. Kaki, tangan dan anggota tubuh yang lainnya menjadi sasaran taring-taring serigala yang buas itu.

“Minggir kau serigala busuk….!!!” Seunghyun tetap berusaha melawan.

Seunghyun tetap berusaha mewalan dengan memukulkan tangan kosongnya, namun hal itu malah membuat daging di sebagian tubuhnya terlepas. Darah mengair disetiap bekas taring-taring itu menancap. Dan tidak diperlukan waktu yang cukup lama bagi serigala-serigala itu untuk melumpuhkan Seunghyun.

“AAAAAAAAAAAAA….,” teriak Seunghyun meluapkan sisa kekuatannya menahan rasa sakit yang tak terperikan. Dan setelah itu suaranya lenyap ditelan salakan serigala yang tetap menghujamkan taringnya ke tubuh Seunghyun.

***

Sebagian serigala berusaha melumpuhkan Seunghyun yang terjatuh dan sebagian lagi tetap mengejar buruannya. Serigala-serigala itu semakin buas mengejar mereka.

Minhwa yang berada di posisi paling belakang sempat mendengar teriakan minta tolong Seunghyun. Namun ketika menoleh ke arah belakang ia mendapati Seunghyun telah dikerubutin beberapa serigala, sedangkan serigala yang lainnya tetap mengejarnya. “Maafkan aku hyung,” ujar Minhwa dalam hatinya sambil berusaha mempercepat langkahnya.

Namun tak berselang berapa lama dari lenyapnya suara Seunghyung, serigala yang paling depan dalam pengejarannya berhasil menancapkan taringnya di kaki Minhwa. Minhwa hilang keseimbangannya dan jatuh.

“Aaaaaaaa…..,” teriak Minhwa sebelum tubuhnya jatuh menyentuh aspal jalan.

Serigala yang lainnya langsung menyerang tubuh Minhwa yang telah terjatuh, namun Minhwa berusaha melawan serigala itu dengan tangan kosong. Dia terus meninjukan pukulannya namun tak pernah mengenai sasaran. Bahkan lengannya menjadi incaran taring-taring serigala lainnya. Dan akhirnya Minhwa menyerah, tenaganya tidak lagi mampu untuk melawan segerombolan serigala itu. Dia menyerahkan tubuhnya menjadi sasaran taring-taring buas serigala.

Darah segar terus mengalir dari dalam tubuh Minhwa melalui bekas-bekas gigitan serigala liar itu. Darah segar Minhwa juga menempel pada taring-taring itu setiap tercabut dari kulit mulus Minhwa. Dalam waktu sekejab Minhwa telah banyak kehilangan darah dan menemui ajalnya. Akhirnya serigala-serigala liar itu dengan leluasa mengoyak-ngoyak tubuh Minhwa.

Sementara itu Hongki, Jaejin dan Junghun terus berlari tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Mereka terus berlari dan berlari menghindari kejaran serigala itu. Mereka tidak menyadari kalau dua temannya teringgal dan telah menjadi santapan serigala liar itu.

Hosh..hosh…hosh…, mereka berhenti setelah mereka mengetahui kumpulan serigala itu tidak lagi mengejarnya. Nafasnya terus memburu tak beraturan. Keringat mengalir deras dari pori-pori kulitnya berpacu dengan aliran darahnya. Kemudian mereka menuju ke sebuah pohon besar yang berada di bibir hutan, bersembunyi dari kejaran serigala.

“Junghun-hyung, Minhwa dan Seunghyun mana?” Tanya Jaejin saat tidak melihat keberadaan kedua temannya itu.

Junghun kaget karena baru menyadari kalau mereka ternyata hanya tinggal bertiga yaitu Jaejin, Hongki dan dirinya sendiri. Sebagai leader dia seharusnya memperhatikan membernya. Kemudian Junghun kembali ke jalan raya untuk memastikan keberadaan dua temannya itu, namun yang di dapatinya hanya jalan yang sepi dan hanya terdengar lolongan serigala dari jauh.

“Hongki-hyung tadi melihat Minhwa dan Seunghyun?” tanya Junghun yang mulai panik pada Hongki saat duduk dibalik pohon.

“Aku nggak tahu. Hyung tahu sendirikan gimana situasinya tadi, mana mungkin aku bisa memperhatikan yang lainnya saat kita diburu maut seperti tadi.”

“Jangan bilang kalo mereka telah menjadi santapan serigala liar itu.” Kata Jaejin mengungkapkan kehawatirannya.

“Jaejin-ah, Jaga mulutmu.” Junghun mulai tersulut emosinya.” Aku harus kembali untuk mencari Minhwa dan Seunghyun.”

Sebelum Junghun sempat melangkahkan kakinya, Hongki berhasil mencegahnya. “Hyung sudah gila. Kalau Hyung kembali kesana itu artinya sama saja dengan mengantarkan nyawa. Bukannya kita menemukan Minhwa dan Seunghyun, malahan nyawa kita yang akan melayang.”

“Tapi…, aku nggak bisa berdiri disini dengan santai saat teman-temanku mungkin membutuhkan pertolongan. Aku… aku…,” Junghun akhirnya tidak kuasa menahan air matanya.

“Aku dan Jaejin juga mengerti perasaan Hyung. Aku juga nggak mau hal buruk menimpa Minhwa dan Seunghyun. Kita berharap mereka masih selamat. Untuk itu kita harus secepatnya keluar dari hutan ini dan mencari pertolongan untuk mencari mereka berdua.” Ujar Hongki berusaha menenangkan Junghun.

“Hyung, kita nggak boleh terlalu lama istirahat disini. Bisa-bisa para serigala sialan itu bisa menemukan kita disini.” Kata Jaejin.

Kemudian mereka langsung mengemasi barang-banrangnya. Istirahat tadi telah mengembalikan stamina mereka untuk melanjutkan perjalan yang tidak pernah mereka harapkan sebelumnya. Junghun sudah kembali bisa melanjutkan perjalanan, meskipun hatinya masih diliputi kesedihan.

Mereka kembali menyusuri jalan raya, karena itulah satu-satunya petunjuk arah untuk keluar dari hutan. Mereka menghindari berjalan di dalam hutan karena sinar rembulan tidak bisa menembus lebatnya hutan. Dan juga di dalam hutan masih banyak mahluk mengerikan yang bisa-bisa membahayakan nyawa mereka. Namu alasan yang paling utama, mereka berharap ada mobil yang melewati jalan itu sehingga bisa dimintai bantuannya.

Hanya beberapa meter mereka berjalan, puluhan pasang mata kembali mengintai mereka dari dalam hutan. Sinar mata itu tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, penuh dengan nafsu ingin membunuh, hanya saja tatapannya lebih beringas. Serigala-serigal itu langsung menghampiri  Junghun, Jaejin dan Hongki, dan mengelilingi mereka.

Kini Junghun, Jeajin dan Hongki terjebak di dalam lingkaran serigala-serigala buas yang siap-siap mencabik-cabik  tubuh mereka.  Mereka memunggungi satu sama lain berusaha untuk saling melindungi.

“Hyung bagaimana ini?” tanya Jaejin katakutan.

“Pokoknya kita tidak boleh terpisah.” Ujar Junghun dengan memegang pisau lipatnya kuat-kuat.

Jaejin dan Hongki hanya bersenjatakan batang pohon yang ujungnya dibuat lancip. Mereka membuatnya saat istirahat tadi dengan menggunakan pisau lipat yang dipegang Junghun. Pisau lipat itu biasanya hanya digunkan untuk memotong buah.

“Jika mereka menyerang, kita langsung babat habis mereka. Jangan beri ampun.” Ujar Hongki.

Serigala-serigala itu terus bermunculan dari dalam hutan. Dan serigala-serigala itu terus melancarkan salakannya yang memekakan telinga, mereka sepertinya mencari celah kelemahan Hongki, Jaejin dan Junghun yang terus terdesak. Tiba-tiba seekor serigala berusaha menyerang Junghun, namun dengan sikap Junghun bisa menghalang nya dengan kibasan pisaunya. Serigala itu berhasil menghindar.

Kemudian beberapa serigala menyerang secara bersamaan membuat Junghun, Hongki dan Jaejin kelabakan. Junghun mengibaskan pisaunya secara brutal untuk mengahalangi serangan serigala itu. Dan, Jleb. Pisau itu berhasil menusuk seekor srigala yang berasil menancapkan giginya di kaki Junghun. Kemudian serigala itu langsung melepaskan gigitannya, membuat kaki Junghun mengelurakan darah segar. Serigala itu langsung terkulai tak berdaya, karena tusukan Junghun  tepat mengenai jantungnya.

Mendapatkan serang yang begitu brutalnya menyebabkan pertahanan mereka hancur. Mereka terpisah satu sama lain dan bergelut dengan beberapa serigala yang terus menyerang mereka.

Saat Junghun mau mencabut pisaunya, tiba-tiba seekor serigala berhasil menyarangkan taringnya di pergelangan tangan Junghun. “Awww…,” Junghun berteriak kesakitan. Namun tidak berhenti disitu, serigala yang lainnya juga bershasil menacapkan taringnya di tubuh Junghun. Dan akhirnya Junghun jatuh tersungkur. Tubuhnya mengeluarkan darah segar dari setiap bekas gigitan.

“HYUNGGGGG…..,” Hongki semakin beringan mengibaskas senjatanya ketika melihat Jonghun jatuh tersungkur.

Hongki berhasil memukul mundur serigala-serigala itu dari tubuh Junghun. Tubuh Junghun bersimbah darah, sebagian tubuhnya terkoyak-koyak. “HYUNGGG….,” teriakan Hongki membuat serigala-serigala itu mundur,  mengambil jarak dengannya.

Sedangkan tubuh Jaejin juga telah tergelatak ditanah dengan bersimbah darah. Tubuhnya terkoyak-koyak, bahkan sebagian telah masuk ke perut serigala itu. Hongki hanya bisa menatap tubuh Jaejin di jadikan mainan oleh segerombolan serigala yang lainnya.

“AKAN KUBUNUH KALIANN…,” Hongki meletakkan kembali jasad Junghun dan kembali mengibaskan senjatanya, batang kayu, dengan brutal.

Serigala-serigala itu berhasil mengelak dari satiap pukulan Hongki. Emosinya telah meningkatkan kekuatan dan keberaniannya berkali-kali lipat. Ketakutan dan kehawatirannya berubah menjadi keberingasan dan kebrutalan. Namun akhirnya Lee Hongki kehabisan tenaga, pukulannya mulai melemah dan Hongki terjatuh karena kurang keseimbangan. Serigala-serigala yang tadinya menjauh, langsung menyerang Lee Hongki secara bersamaan dan mereka berhasil menyarangkan taringnya disetiap inci tubuh Hongki.

“AAAAAAAAAAAAAA…….”

Beberapa saat kemudian hutan kembali sunyi, hanya suara-suara serangga malam yang terdengar. Hembusan angin semilir membawa aroma darah yang begitu pekat. Sesekali terdengar lolongan panjang serigala.

AAAUUUUU……..

***

Dua hari berkutnya.

Potongan berita di koran Korean News

“…Ditemukan lima jasad manusia dalam kondisi yang mengenaskan. Seluruh tubuhnya tercabi-cabik sehingga sulit untuk dikenali. Diduga kelima jasad tersebut merupakan korban dari kebuasan serigala liar. Sampai berita ini diturunkan, masih di lakukan otopsi untuk mengenali kelima jasad tersebut…”

END